Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

EPISODE 1: Lembar Tagihan di Meja Makan

...HALO SAHABAT SEMUA KALAU BACA NOVEL AKU INI JANGAN LUPA LIKE YA GUYS, COMENT JUGA GUYS,BANTU AKU YA GUYS SUPAYA NOVEL INI BISA TERPILIH DALAM 80 BAB TERBAIK,CARANYA DENGAN LIKE DAN JANGAN LUPA VOTE. TERIMAKASIH...

...SELAMAT MEMBACA...

Suara gemerincing sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal menjadi satu-satunya pembatas keheningan di ruang makan kediaman keluarga sitorus malam itu. Aldi Pratama duduk di kursi ujung, perlahan mengunyah nasi goreng buatan istrinya, Kirana. Di lengannya yang tergulung sebatas siku, tampak jam tangan kasual yang sederhana—jauh dari kesan mewah, namun selalu bersih dan terawat.

Di seberang meja, Ibu Rahma, ibu mertuanya, sedang sibuk mengusap layar ponsel pintarnya. Wajah wanita paruh baya itu tampak masam, sesekali mendengus pelan seolah sengaja memancing perhatian semua orang di ruangan itu.

"Kirana," panggil Ibu Rahma dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, matanya tetap tertuju pada ponsel.

"Teman-teman arisan Mama di geng High Class tadi sore sudah pada bayar iuran bulanan untuk arisan emas batangan besok. Cuma Mama yang belum setor. Malu Mama tadi di grup WhatsApp ditagih-tagih sama Bu Broto."

Kirana yang sedang menuangkan air putih untuk Aldi menghentikan gerakannya sejenak. Dia melirik suaminya dengan tatapan sungkan. "Ma, kan arisan bulan ini jadwalnya minggu depan? Kok di maju in lagi?"

"Ya mana Mama tahu! Namanya juga orang-orang kaya, uang segitu mah tinggal jentik kan jari langsung ada. Gak pakai mikir bulanan," sindir Ibu Rahma, kini matanya melirik tajam ke arah Aldi yang masih tenang mengunyah makanannya.

"Makanya, kalau punya menantu itu yang posisinya mapan, jadi mertua gak perlu nahan malu tiap kali ada urusan uang."

Aldi meletakkan sendoknya perlahan. Tidak ada guratan amarah di wajah tampannya. Sebagai pria yang sengaja menanggalkan seluruh fasilitas Pratama Group demi membuktikan cinta tulusnya pada Kirana, hinaan verbal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya selama dua tahun terakhir. Bagi Aldi, selama Kirana tetap berada di sisinya, semua ini hanyalah riak kecil.

"Berapa nominal arisan bulan ini, Ma?" tanya Aldi lembut, memotong kecanggungan yang mulai menyelimuti istrinya.

Ibu Rahma mendongak, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh. "Sepuluh juta. Itu belum termasuk uang arisan berlian yang dua minggu lagi. Tapi yang emas ini harus ditransfer malam ini juga. Mama gak mau ya besok dicap miskin pas kumpul di kafe."

"Sepuluh juta, Ma? Bulan lalu kan baru naik?" Kirana membelalakkan matanya, merasa keberatan. "Gaji Mas Aldi bulan ini kan banyak kepotong buat—"

"Gak apa-apa, Kirana," potong Aldi sambil tersenyum menenangkan, lalu menggenggam jemari istrinya di atas meja.

Dia merogoh saku celana kainnya dan mengeluarkan ponselnya sendiri. "Biar Mas yang urus malam ini. Kirana gak usah pusing, ya?"

Sebelum Ibu Rahma sempat menimpali dengan cibiran baru, Riko—adik ipar Aldi yang baru masuk semester awal perkuliahan—berjalan masuk ke ruang makan dengan langkah kaki yang dihentak-hentak kan sengaja. Wajahnya ditekuk masam. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi di sebelah ibunya.

"Ada apa lagi, Riko? Pulang-pulang kok mukanya ditekuk begitu?" tanya Ibu Rahma, mendadak suaranya berubah lembut dan penuh perhatian pada anak bungsunya itu.

"Gimana gak ditekuk, Ma! Riko malu banget tadi di kampus.

Teman-teman satu tongkrongan Riko semuanya sudah ganti laptop baru yang bisa buat gaming dan editing kelas berat.

Sedangkan laptop Riko? Lemotnya minta ampun!" Riko menggebrak meja makan pelan, lalu menoleh pada Aldi dengan tatapan menuntut. "Lagian, Mas Aldi gimana sih? Cicilan rumah baru aku yang di perumahan kluster itu katanya mau langsung di debit otomatis? Kok tadi sore aku dapet SMS peringatan dari bank kalau belum dibayar bulan ini? Mana denda keterlambatannya lumayan lagi!"

Kirana langsung meletakkan gelas dengan keras ke meja.

"Riko! Jaga sopan santun kamu. Rumah itu dibeli atas nama kamu, dan Mas Aldi yang berbaik hati mau bayar cicilannya setiap bulan. Harusnya kamu berterima kasih, bukan malah membentak suamiku!"

"Halah, Kak Kirana selalu aja belain Mas Aldi," cibir Riko sambil memutar bola matanya. "Dia kan kerja sebagai Manajer Keuangan di perusahaan besar, masa bayar cicilan rumah lima juta per bulan aja telat? Jangan-jangan sengaja ditahan-tahan uangnya."

"Riko, cukup," ucap Aldi dengan nada suara yang tetap tenang namun memiliki wibawa tersembunyi yang membuat Riko terdiam sesaat. Aldi membuka aplikasi mobile banking-nya dengan cekatan. "Soal cicilan rumahmu, bukan sengaja ditahan. Mas baru saja mengalokasikan dana untuk biaya les bahasamu dan uang semesteran mu minggu lalu. Sistem auto-debit bank biasanya butuh waktu satu sampai dua hari kerja jika jatuh temponya bertepatan dengan hari libur."

Aldi menekan beberapa tombol di layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, sebuah bunyi notifikasi tanda transaksi berhasil terdengar.

"Sudah Mas transfer ya, Riko. Cicilan rumah bulan ini beserta dendanya sudah lunas. Dan untuk Mama..." Aldi mengalihkan pandangannya pada Ibu Rahma yang sedang pura-pura sibuk memeriksa kukunya. "Uang arisan sepuluh juta rupiah sudah masuk ke rekening Mama. Silakan dicek."

Ibu Rahma langsung menyambar ponselnya. Begitu melihat mutasi rekeningnya bertambah, senyum tipis kepuasan muncul di wajahnya, meski sedetik kemudian dia kembali memasang wajah dingin. "Ya, sudah masuk. Lagian memang sudah kewajiban kamu sebagai menantu di rumah ini. Kamu menumpang di rumah peninggalan almarhum suami Mama, jadi wajar kalau kamu yang menanggung operasional keluarga ini."

Rumah besar ini memang peninggalan ayah Kirana, namun Ibu Rahma sengaja melupakan fakta bahwa sertifikat rumah ini hampir saja disita bank dua tahun lalu karena utang bisnis almarhum suaminya, dan Aldi lah yang melunasinya secara diam-diam melalui jalur belakang tanpa memamerkan kekayaannya.

"Terima kasih ya, Mas," bisik Kirana lirih, matanya berkaca-kaca menatap Aldi. Dia tahu betul betapa beratnya beban yang dipikul suaminya secara finansial, tanpa tahu bahwa bagi seorang Aldi Pratama, uang puluhan juta itu tak lebih dari sekadar remah-remah tabungan pribadinya yang sengaja dia pisahkan dari aset raksasa keluarganya.

Aldi membalas genggaman tangan Kirana, tersenyum dengan ketulusan yang murni. "Sama-sama, sayang. Selagi Mas bisa, Mas pasti penuhi semua kebutuhan keluarga kita."

Di sudut meja, Ibu Rahma dan Riko saling berpandangan, tersenyum sinis seolah merasa telah berhasil memeras sang

"Manajer Biasa" itu sekali lagi untuk menopang gengsi mereka di luar rumah. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa kesabaran pria yang mereka anggap remeh ini memiliki batasnya, dan badai besar yang akan menjungkirbalikkan dunia mereka sedang mulai bergerak mendekat.

Untuk saudara/i ku yang baca novelku ini, tolong diberikan rating lima bintang

Episodes
1 EPISODE 1: Lembar Tagihan di Meja Makan
2 EPISODE 2: Bayang-Bayang Masa Lalu
3 EPISODE 3: Percikan Pertama
4 EPISODE 4: Bisikan Racun di Telinga Kirana
5 EPISODE 5: Tekanan di Ruang Rapat
6 EPISODE 6: Jarak yang Mulai Terbentang
7 EPISODE 7: Tamu Mewah di Halaman Rumah
8 EPISODE 8: Kepulangan yang Dingin
9 EPISODE 9: Retakan yang Mulai Membesar
10 EPISODE 10: Siasat Busuk sang CEO
11 EPISODE 11: Sidang Sebelah Pihak
12 EPISODE 12: Hancurnya Sisa Kehormatan
13 EPISODE 13: Jaring yang Mulai Menutup
14 EPISODE 14: Di Balik Tirai Panggung
15 EPISODE 15: Pidato sang Pendusta
16 EPISODE 16: Kedatangan Para Penguasa
17 EPISODE 17: Langkah Kaki di Kegelapan
18 EPISODE 18: Runtuhnya Panggung Sandiwara
19 EPISODE 19: Bayaran untuk Sebuah Keangkuhan
20 EPISODE 20: Realitas Pahit di Pagi Hari
21 EPISODE 21: Ketukan di Pintu yang Berbeda
22 EPISODE 22: Panggilan dari Meja Hukum
23 EPISODE 23: Batas Akhir Sebuah Tempat Tinggal
24 EPISODE 24: Menatap dari Balik Kaca Gelap
25 EPISODE 25: Tekanan di Toko Sembako
26 EPISODE 26: Jebakan di Malam Kelam
27 EPISODE 27: Kata Akhir sang Penguasa
28 EPISODE 28: Lembar Baru di Sudut Kota
29 EPISODE 29: Kemandirian dari Balik Kedai Kecil
30 EPISODE 30: Keringat dan Ketulusan
31 EPISODE 31: Pertemuan kembali selama dua tahun
32 EPISODE 32: Rahasia di Balik Ruang Kerja
33 EPISODE 33: Batas Rapuh Tubuh yang Lelah
34 EPISODE 34: Laporan Darurat di Tengah Malam
35 EPISODE 35: Kejujuran di Balik Tirai Hijau
36 EPISODE 36: Pengakuan yang Terlambat
37 EPISODE 37: Batas Dingin sang Penguasa
38 EPISODE 38: Keringat Murni di Gang Senggol
39 EPISODE 39: Ujian Waktu dan Laporan Rahasia
40 EPISODE 40: Kunjungan Singkat Di Penghujung Hari
41 EPISODE 41: Dialog Hati di Bawah Temaram Lampu
42 EPISODE 42 : Olivia Dan Rencana Perjodohan sang Matriark
43 EPISODE 43: Sindiran di Meja Perjamuan
44 EPISODE 44 Penolakan atas Nama Efisiensi Dan Tekanan sang Matriark
45 EPISODE 45 : Hari Pertama sang Penyusup
46 EPISODE 46: Siasat Telepon Manja
47 EPISODE 47: Kesalahan Fatal Olivia
48 EPISODE 48:Air Mata Buaya Olivia
49 EPISODE 49: Labrakan Pagi di Lantai Eksekutif
50 EPISODE 50: Tempat Bersandar Yang Teduh
51 EPISODE 51: Rencana Rahasia di Balik Layar
52 EPISODE 52: Ledakan Pengunduran Diri di Lantai Utama
53 EPISODE 53: Siasat Gelap di Balik Kemeja Penguasa
54 EPISODE 54: Kebencian yang Mengakar
55 EPISODE 55: Tangisan di Balik Jeruji Besi
56 EPISODE 56 : Jejak Gelap dan Amarah sang Penguasa
57 EPISODE 57: Panggilan dari London dan Runtuhnya Kesombongan
58 EPISODE 58: Pemulihan dan Hukum yang Adil
59 EPISODE 59: Gelombang Hasrat dan Kepasrahan Cinta
60 EPISODE 60: Interupsi dan Persembunyian di Bawah Meja
61 EPISODE 61: Tangisan Kesadaran di Puncak Kerajaan
62 EPISODE 62: Kebahagiaan Baru di Lembaran Yang Suci
63 EPISODE 63: Percakapan di Dalam Mobil dan Kunjungan Kirana
64 EPISODE 64: Pengampunan dan Janji Masa Depan
65 EPISODE 65:Sikap manja
66 EPISODE 66: Ngidam Aneh sang Ratu dan Pria yang Terbucin
67 EPISODE 67: Kembalinya Bayangan Dendam
68 EPISODE 68 : Siksaan Kekejaman dan Tong Kaca
69 EPISODE 69: Strategi Penguasa dan Jebakan di Gudang Tua
70 EPISODE 70 : Sisi Sadis Edi dan Keselamatan Kirana
71 EPISODE 71: Balasan Keburukan dan Kelahiran Ezra
72 EPISODE 72: Bisikan Malam di Kamar Rawat dan Keputusan Tak Terduga
73 EPISODE 73: Penolakan Sang Matriark dan Perjalanan Menuju Rumah Baru
Episodes

Updated 73 Episodes

1
EPISODE 1: Lembar Tagihan di Meja Makan
2
EPISODE 2: Bayang-Bayang Masa Lalu
3
EPISODE 3: Percikan Pertama
4
EPISODE 4: Bisikan Racun di Telinga Kirana
5
EPISODE 5: Tekanan di Ruang Rapat
6
EPISODE 6: Jarak yang Mulai Terbentang
7
EPISODE 7: Tamu Mewah di Halaman Rumah
8
EPISODE 8: Kepulangan yang Dingin
9
EPISODE 9: Retakan yang Mulai Membesar
10
EPISODE 10: Siasat Busuk sang CEO
11
EPISODE 11: Sidang Sebelah Pihak
12
EPISODE 12: Hancurnya Sisa Kehormatan
13
EPISODE 13: Jaring yang Mulai Menutup
14
EPISODE 14: Di Balik Tirai Panggung
15
EPISODE 15: Pidato sang Pendusta
16
EPISODE 16: Kedatangan Para Penguasa
17
EPISODE 17: Langkah Kaki di Kegelapan
18
EPISODE 18: Runtuhnya Panggung Sandiwara
19
EPISODE 19: Bayaran untuk Sebuah Keangkuhan
20
EPISODE 20: Realitas Pahit di Pagi Hari
21
EPISODE 21: Ketukan di Pintu yang Berbeda
22
EPISODE 22: Panggilan dari Meja Hukum
23
EPISODE 23: Batas Akhir Sebuah Tempat Tinggal
24
EPISODE 24: Menatap dari Balik Kaca Gelap
25
EPISODE 25: Tekanan di Toko Sembako
26
EPISODE 26: Jebakan di Malam Kelam
27
EPISODE 27: Kata Akhir sang Penguasa
28
EPISODE 28: Lembar Baru di Sudut Kota
29
EPISODE 29: Kemandirian dari Balik Kedai Kecil
30
EPISODE 30: Keringat dan Ketulusan
31
EPISODE 31: Pertemuan kembali selama dua tahun
32
EPISODE 32: Rahasia di Balik Ruang Kerja
33
EPISODE 33: Batas Rapuh Tubuh yang Lelah
34
EPISODE 34: Laporan Darurat di Tengah Malam
35
EPISODE 35: Kejujuran di Balik Tirai Hijau
36
EPISODE 36: Pengakuan yang Terlambat
37
EPISODE 37: Batas Dingin sang Penguasa
38
EPISODE 38: Keringat Murni di Gang Senggol
39
EPISODE 39: Ujian Waktu dan Laporan Rahasia
40
EPISODE 40: Kunjungan Singkat Di Penghujung Hari
41
EPISODE 41: Dialog Hati di Bawah Temaram Lampu
42
EPISODE 42 : Olivia Dan Rencana Perjodohan sang Matriark
43
EPISODE 43: Sindiran di Meja Perjamuan
44
EPISODE 44 Penolakan atas Nama Efisiensi Dan Tekanan sang Matriark
45
EPISODE 45 : Hari Pertama sang Penyusup
46
EPISODE 46: Siasat Telepon Manja
47
EPISODE 47: Kesalahan Fatal Olivia
48
EPISODE 48:Air Mata Buaya Olivia
49
EPISODE 49: Labrakan Pagi di Lantai Eksekutif
50
EPISODE 50: Tempat Bersandar Yang Teduh
51
EPISODE 51: Rencana Rahasia di Balik Layar
52
EPISODE 52: Ledakan Pengunduran Diri di Lantai Utama
53
EPISODE 53: Siasat Gelap di Balik Kemeja Penguasa
54
EPISODE 54: Kebencian yang Mengakar
55
EPISODE 55: Tangisan di Balik Jeruji Besi
56
EPISODE 56 : Jejak Gelap dan Amarah sang Penguasa
57
EPISODE 57: Panggilan dari London dan Runtuhnya Kesombongan
58
EPISODE 58: Pemulihan dan Hukum yang Adil
59
EPISODE 59: Gelombang Hasrat dan Kepasrahan Cinta
60
EPISODE 60: Interupsi dan Persembunyian di Bawah Meja
61
EPISODE 61: Tangisan Kesadaran di Puncak Kerajaan
62
EPISODE 62: Kebahagiaan Baru di Lembaran Yang Suci
63
EPISODE 63: Percakapan di Dalam Mobil dan Kunjungan Kirana
64
EPISODE 64: Pengampunan dan Janji Masa Depan
65
EPISODE 65:Sikap manja
66
EPISODE 66: Ngidam Aneh sang Ratu dan Pria yang Terbucin
67
EPISODE 67: Kembalinya Bayangan Dendam
68
EPISODE 68 : Siksaan Kekejaman dan Tong Kaca
69
EPISODE 69: Strategi Penguasa dan Jebakan di Gudang Tua
70
EPISODE 70 : Sisi Sadis Edi dan Keselamatan Kirana
71
EPISODE 71: Balasan Keburukan dan Kelahiran Ezra
72
EPISODE 72: Bisikan Malam di Kamar Rawat dan Keputusan Tak Terduga
73
EPISODE 73: Penolakan Sang Matriark dan Perjalanan Menuju Rumah Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!