Episode 4 Pernikahan

"Zena, katakan kepada saya? Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Samudra cukup lama menunggu Zena yang sampai saat ini masih gugup dan belum mengeluarkan sesuatu hal yang penting ia harus sampaikan.

"Kak Zena....."

Mata Samudra menoleh ke arah sebelah kirinya ketika asisten rumah tangga menghampirinya.

"Maaf, den. Bapak menunggu di dalam mobil," asisten rumah tangga paruh baya itu menyampaikan keinginannya.

"Baiklah kalau begitu, saya akan segera menemui Papa," sahut Samudra.

Wanita itu kemudian langsung berlalu dari hadapan Zena dan Samudra.

"Zena, saya ada janji dengan Papa, nanti kita bicara lagi ya," ucap Samudra tersenyum dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Zena.

"Kak....." Zena bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memanggil Samudra.

Zena menghela nafas, sepertinya ada kepuasan dalam dirinya jika tidak menyampaikan apa yang ingin disampaikan, Zena melihat kepergian Samudra yang perlahan punggung itu sudah tidak terlihat lagi.

"Ya Allah, saya akan menikah dengan Kakak angkat saya sendiri. Saya tidak bisa menolak pernikahan ini, bagaimanapun Bunda dan Ayah sudah menjaga saya dengan baik, mereka selalu memperlakukan saya seperti anak sendiri, mencintai saya dan tidak pernah tidak peduli kepada saya, apakah saya pantas menolak permintaan mereka dan apalagi mereka melakukan semuanya demi kebaikan saya," batin Zena di saat yang tersulit dalam dirinya ketika dia tidak bisa menolak permintaan orang yang menjadi keluarganya selama ini.

******

Mentari pagi memancarkan cahaya keemasan yang menembus jendela masjid, menyelimuti setiap sudut ruangan dengan kehangatan yang menenangkan.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema lembut, membuat hati setiap tamu yang hadir dipenuhi rasa syukur.

Tidak ada gemerlap yang berlebihan, hanya rangkaian bunga-bunga putih, aroma kayu gaharu yang samar, serta senyum bahagia dari keluarga kedua mempelai.

Di saf paling depan, Samudra duduk dengan pakaian Melayu, tampak sopan dan begitu tampan. Bahunya tegap, wajahnya tenang, namun jemari yang saling menggenggam sesekali memperlihatkan kegugupan yang berusaha ia sembunyikan.

Hari itu bukan medan tugas yang akan ia hadapi, melainkan sebuah amanah terbesar dalam hidupnya, menjadi seorang suami.

Di hadapannya, wali nikah telah bersiap. Seorang tokoh agama yang dituakan memimpin jalannya akad dengan suara lembut dan penuh wibawa.

Nasihat tentang rumah tangga disampaikan terlebih dahulu bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan ibadah yang dibangun di atas ketakwaan, kasih sayang, kesabaran, dan saling menjaga hingga akhir hayat.

Suasana menjadi semakin hening ketika ijab mulai diucapkan.

"Saya terima nikahnya Zayna Putri Kharisma bint Hartono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,"

"Sah"

"Sah,"

"Sah,"

Dengan suara lantang Samudra berhasil mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas, ijab kabul ditutup dengan doa yang khusuk, beberapa kali Samudera mengatur nafasnya tidak percaya ijab kabul itu benar-benar lancar dia ucapkan.

Pintu di sisi ruangan perlahan terbuka.

Zena melangkah masuk dengan anggun, didampingi oleh dua wanita yang juga memakai hijab mendampingi Zena melangkah masuk menghampiri pria yang sudah menjadi suaminya itu.

Zena mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading yang longgar dan menjuntai indah hingga menyentuh lantai. Hijabnya tersusun rapi, sementara cadar putih lembut menutupi wajahnya, menyisakan sorot mata yang teduh dan berkaca-kaca karena haru.

Setiap langkahnya begitu tenang, penuh rasa malu yang terjaga. Ruangan seakan terdiam.

Bukan karena kemewahan busana yang dikenakannya, melainkan karena kesederhanaan yang memancarkan keindahan.

Zena datang dengan menjaga kehormatan dirinya, sementara setiap orang yang hadir mendoakan keberkahan bagi kedua mempelai.

Samudra menghela nafas dan kemudian berdiri ketika Zena mendekat. Tatapan matanya dipenuhi rasa syukur. Samudra tidak pernah menyangka jika wanita yang menjadi bagian keluarga mereka saat ini adalah adik angkatnya.

Samudra mungkin dipaksa menikah dengan adik angkatnya, tetapi sebagai laki-laki, Samudra menyadari tidak punya alasan untuk menolak perjodohan itu karena wanita di hadapannya, wanita sempurna yang taat pada agamanya, pendidikannya yang baik, sopan santun dan tutur katanya yang lembut.

Samudra justru merasa bahwa dia adalah laki-laki yang paling beruntung mendapat kesempatan itu dan mungkinkah karena Zena juga sudah bagian dari hidup keluarganya.

Ketika pasangan pengantin baru itu saling berhadapan, Zena tampak gugup dan tertunduk malu, tangan Samudra bergetar memegang kepala Zena dan bibirnya tampak bergerak membaca beberapa ayat.

Zena kemudian perlahan mencium punggung tangan suaminya. Untuk pertama kali Samudera juga mencium lembut kening Zena, benar-benar baru bersentuhan secara intens dengan adik angkatnya itu saat ini ketika mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.

Suasa pernikahan benar-benar haru, Amelia dan Faisal saling melihat, tampak senyum lebar di wajah mereka akhirnya bisa menyatukan orang-orang yang mereka sayangi dan lagi-lagi mereka tidak menginginkan Zena pergi dari hidup mereka

Setelah acara ijab kabul yang dilakukan dengan hikmat dan dilanjutkan dengan proses resepsi.

Sore itu, halaman gedung resepsi telah dipenuhi para tamu undangan. Lampu-lampu kristal berkilauan, rangkaian bunga putih menghiasi setiap sudut ruangan, sementara alunan selawat berpadu dengan musik orkestra yang lembut, menciptakan suasana mewah namun tetap teduh.

Di depan pintu utama, dua baris prajurit Angkatan Laut berdiri tegap mengenakan seragam putih lengkap dengan pedang terhunus. Begitu komandan memberi aba-aba, pedang-pedang itu terangkat serempak, membentuk sebuah lorong kehormatan yang megah.

"Pedang... pora!"

Suara komandan menggema tegas.

Samudra melangkah memasuki lorong pedang dengan langkah mantap. Seragam putih kebesarannya membuat sosoknya tampak semakin gagah dan berwibawa.

Di sampingnya berjalan Zena, anggun dalam gaun pengantin putih yang menjuntai indah. Hijab dan cadar putih yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat sederhana, namun memancarkan kehormatan dan kelembutan yang memikat.

Di sepanjang lorong, para prajurit memberi penghormatan kepada kedua mempelai. Kilauan pedang di atas kepala mereka seakan menjadi saksi perjalanan baru yang akan mereka tempuh bersama.

Tepuk tangan para tamu bergemuruh ketika keduanya tiba di ujung lorong. Samudra sesekali menoleh kepada Zena, memastikan langkah istrinya tetap nyaman.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, perhatian kecil itu membuat Zena tersenyum di balik cadarnya.

Memasuki ballroom, keduanya disambut keluarga besar yang berdiri penuh haru. Doa dan ucapan selamat mengalir silih berganti. Setelah itu, Samudra dan Zena naik ke atas pelaminan yang dihiasi bunga-bunga putih dan emas, lalu berdiri berdampingan menyambut setiap tamu yang datang.

Satu per satu keluarga, sahabat, dan rekan dinas Angkatan Laut memberikan ucapan selamat. Suasana dipenuhi senyum, doa, dan rasa syukur.

Di tengah kemegahan itu kembali Samudra menoleh kearah Zena.

"Kamu capek?" tanya Samudra.

"Lumayan, kak," jawabnya tidak bisa bohong.

Betisnya terasa begitu sakit karena sejak tadi berdiri bersalaman dengan tamu undangan yang begitu banyak.

Maklum saja keluarga Samudra adalah keluarga terpandang, Faisal memiliki pergaulan yang sangat banyak dari tokoh agama politik sampai pengusaha-pengusaha dan begitu juga dengan ibunya.

"Sebentar lagi acaranya akan selesai, kamu yang sabar ya," ucap Samudra memberi semangat membuat Zena menganggukkan kepala.

Tiba-tiba saja perhatian Zena fokus pada seseorang yang membuat Samudra menyadari perhatian istrinya dan menoleh ke sebelahnya.

"Samudra!" sapa seorang wanita cantik menggunakan dress berwarna merah, terlihat sopan dan elegan tersenyum lebar pada Samudera.

"Ariana," sahut Samudra.

"Maaf, aku datang terlambat, aku baru saja dari luar kota, selamat untuk pernikahan kamu," ucapnya dengan mengeluarkan tangan dan matanya berkaca-kaca.

Bersambung....

Episodes
1 Episode 1 Malam Petaka
2 Episode 2 Permintaan Pulang
3 Episode 3 Permintaan Membuat Kaget
4 Episode 4 Pernikahan
5 Episode 5 Malam Pertama
6 Episode 6 Harus LDR
7 Episode 7 Kejujuran Membawa Luka
8 Episode 9 Kebencian
9 Episode 9 Kembali
10 Episode 9 Hambar
11 Episode 11 Mungkin Cemburu
12 Episode 12 Meminta Berpisah
13 Episode 13 Suami Laknat
14 Episode 14 Panas
15 Episode 15 Tertangkap
16 Episode 16 Ulah Anggi
17 Episode 17 Keberanian Zena
18 Episode 18 Ada Apa Dengan Tempat Itu
19 Episode 19 Melawannya
20 Episode 20 Sama-sama Di Tempat Itu
21 Episode 21 Cemburu
22 Episode 22 Seperti Ada Rahasia
23 Episode 23 Mati Rasa
24 Episode 24 Ariana Mengamuk
25 Episode 25 Istri Pemberani
26 Episode 26 Akhirnya Dia Tahu
27 Episode 27 Rahasia Masa Lalu
28 Episode 28 Gebrakan
29 Episode 29 Apa Masih Bisa Bersatu
30 Episode 30 Seketika Dia Berubah
31 Episode 31 Baru Tahu Dia Siapa
32 Episode 32 Apa Mungkin Dia Pelakunya
33 Episode 33 Mari Memperbaiki Pernikahan
34 Episode 34 Memastikan Pelakunya
35 Episode 35 Memang Dia Wanita Itu
36 Episode 36 Dapat Memastikan
37 Episode 37 Apa Itu
38 Episode 38 Terbongkar
39 Episode 39 Yang Sebenarnya Terjadi
40 Episode 40 Zena akhirnya Tahu
41 Episode 41 Jatuhkan Talak
42 Episode 42 Putrinya
43 Episode 43 Lagi-lagi 1 Fakta Terbongkar
44 Episode 44 Tidak Mungkin Mengakui
45 Episode 45 Pertengkaran Yang Manis
46 Episode 46 Di Bukan Anakmu
47 Episode 47 Melihatnya Pertama Kali
48 Episode 48 Dia Ada
49 Episode 49 Ya Saya Memiliki Anak
50 Episode 50 Cemburu
51 Episode 51 Darurat
52 Episode 52 Khaira Kritis
53 Episode 53 Kondisi Parah
54 Episode 54 Pengampunan
55 Episode 55 Permohonan
56 Episode 56 Positif
57 Episode 57 Hilangkan Ego
58 Episode 58 Jujur Pada Anka
59 Episode 59 Oprasi Selesai
60 Episode 60 Penuh curiga
61 Episode 61 Fitnah Terhadap Istri
62 Episode 62 Ariana Berulah
63 Episode 63 Ungkapan Perasaan.
64 Episode 64 Peran Orang Tua
65 Episode 65 Kebersamaan
66 Episode 66 Faisal Turun Tangan
67 Episode 67 Panik
68 Episode 68 Pertanyaan Menyayat hati
69 Episode 69 Ariana Kualat
70 Episode 70 Edisi Kondangan
71 Episode 71 Acara Yang Melelahkan
72 Episode 72 Suami Istri Lucu
73 Episode 73 Anak Menjadi Penengah
74 Episode 74 Cukup Manis
75 Episode 75 Insiden
76 Episode 76 Kondisi Terburuk
77 Episode 77 Tidak Mungkin
78 Episode 78 Duka Kehilangan
79 Episode 79 Perceraian
80 Episode Siapa Yang Harus Bersamaku
81 Episode 81 Masih Takut
82 Episode 82 Ini Bukan Perpisahan
83 Episode 83 Di Tunda
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Episode 1 Malam Petaka
2
Episode 2 Permintaan Pulang
3
Episode 3 Permintaan Membuat Kaget
4
Episode 4 Pernikahan
5
Episode 5 Malam Pertama
6
Episode 6 Harus LDR
7
Episode 7 Kejujuran Membawa Luka
8
Episode 9 Kebencian
9
Episode 9 Kembali
10
Episode 9 Hambar
11
Episode 11 Mungkin Cemburu
12
Episode 12 Meminta Berpisah
13
Episode 13 Suami Laknat
14
Episode 14 Panas
15
Episode 15 Tertangkap
16
Episode 16 Ulah Anggi
17
Episode 17 Keberanian Zena
18
Episode 18 Ada Apa Dengan Tempat Itu
19
Episode 19 Melawannya
20
Episode 20 Sama-sama Di Tempat Itu
21
Episode 21 Cemburu
22
Episode 22 Seperti Ada Rahasia
23
Episode 23 Mati Rasa
24
Episode 24 Ariana Mengamuk
25
Episode 25 Istri Pemberani
26
Episode 26 Akhirnya Dia Tahu
27
Episode 27 Rahasia Masa Lalu
28
Episode 28 Gebrakan
29
Episode 29 Apa Masih Bisa Bersatu
30
Episode 30 Seketika Dia Berubah
31
Episode 31 Baru Tahu Dia Siapa
32
Episode 32 Apa Mungkin Dia Pelakunya
33
Episode 33 Mari Memperbaiki Pernikahan
34
Episode 34 Memastikan Pelakunya
35
Episode 35 Memang Dia Wanita Itu
36
Episode 36 Dapat Memastikan
37
Episode 37 Apa Itu
38
Episode 38 Terbongkar
39
Episode 39 Yang Sebenarnya Terjadi
40
Episode 40 Zena akhirnya Tahu
41
Episode 41 Jatuhkan Talak
42
Episode 42 Putrinya
43
Episode 43 Lagi-lagi 1 Fakta Terbongkar
44
Episode 44 Tidak Mungkin Mengakui
45
Episode 45 Pertengkaran Yang Manis
46
Episode 46 Di Bukan Anakmu
47
Episode 47 Melihatnya Pertama Kali
48
Episode 48 Dia Ada
49
Episode 49 Ya Saya Memiliki Anak
50
Episode 50 Cemburu
51
Episode 51 Darurat
52
Episode 52 Khaira Kritis
53
Episode 53 Kondisi Parah
54
Episode 54 Pengampunan
55
Episode 55 Permohonan
56
Episode 56 Positif
57
Episode 57 Hilangkan Ego
58
Episode 58 Jujur Pada Anka
59
Episode 59 Oprasi Selesai
60
Episode 60 Penuh curiga
61
Episode 61 Fitnah Terhadap Istri
62
Episode 62 Ariana Berulah
63
Episode 63 Ungkapan Perasaan.
64
Episode 64 Peran Orang Tua
65
Episode 65 Kebersamaan
66
Episode 66 Faisal Turun Tangan
67
Episode 67 Panik
68
Episode 68 Pertanyaan Menyayat hati
69
Episode 69 Ariana Kualat
70
Episode 70 Edisi Kondangan
71
Episode 71 Acara Yang Melelahkan
72
Episode 72 Suami Istri Lucu
73
Episode 73 Anak Menjadi Penengah
74
Episode 74 Cukup Manis
75
Episode 75 Insiden
76
Episode 76 Kondisi Terburuk
77
Episode 77 Tidak Mungkin
78
Episode 78 Duka Kehilangan
79
Episode 79 Perceraian
80
Episode Siapa Yang Harus Bersamaku
81
Episode 81 Masih Takut
82
Episode 82 Ini Bukan Perpisahan
83
Episode 83 Di Tunda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!