Yang Tidak Bisa Diadukan

Lima tahun berlalu sejak malam Bapak pulang dengan luka di sudut bibir. Aku sudah lima belas tahun, lebih tinggi dari Ibu, dan mulai ikut membantu Bapak menjahit sepatu di sore hari sepulang sekolah. Karang Wetan tidak banyak berubah—gang masih sesak, kali masih coklat, hanya saja sekarang aku mulai mengerti bahasa yang dulu tidak kupahami: bahasa orang dewasa yang saling berbisik soal "setoran", soal "yang punya wilayah", soal nama-nama yang tidak boleh disebut keras-keras.

Salah satu nama itu adalah Broto.

Broto bukan orang penting kalau dilihat sepintas—badannya gempal, kulitnya penuh tato kasar, dan ia selalu datang naik motor bebek yang knalpotnya sudah dicopot biar berisik. Tapi semua orang di pasar tahu, Broto punya "backingan". Setiap awal bulan, ia berkeliling dari lapak ke lapak, memungut apa yang disebutnya "uang keamanan". Yang tidak bayar, dagangannya bisa "kebakar sendiri" atau "kecolongan sendiri". Semua orang tahu itu bukan kebetulan. Semua orang juga tahu, tidak ada gunanya lapor.

"Kenapa nggak dilaporin, Pak?" tanyaku suatu sore, waktu melihat Bapak menyisihkan sebagian uang hasil jahit sepatu ke amplop kecil yang akan diberikan ke Broto minggu itu.

Bapak menatapku lama, seperti menimbang apakah aku sudah cukup umur untuk mendengar jawabannya.

"Rangga," katanya pelan, "orang macam Broto itu, kalau ditarik benangnya, ujungnya sampai ke kantor polisi. Bapak pernah coba lapor, dulu, waktu kamu masih kecil. Tahu apa hasilnya? Bapak yang ditanya-tanya macam-macam, disuruh buktiin, sementara Broto malah dikasih tahu siapa yang lapor."

Aku ingat luka di bibir Bapak lima tahun lalu. Baru sekarang aku tahu asalnya.

 

Yang membuat semuanya berubah terjadi dua minggu kemudian.

Ibu telat menyetor uang keamanan bulan itu—bukan karena menolak, tapi karena dagangan sepi dan uangnya memang belum terkumpul. Broto datang lebih awal dari biasanya, dan kali ini tidak sendiri. Aku baru pulang sekolah waktu mendengar suara gerobak Ibu dibalik di tengah gang, minyak panas tumpah, dan teriakan yang langsung membuat isi perutku terasa dingin.

Aku berlari. Aku ingat suara Bapak yang mencoba melerai, suara Broto yang membentak, dan aku ingat—ini bagian yang paling sering kuputar ulang di kepalaku sampai sekarang—aku ingat diriku sendiri melompat di antara mereka, mencoba menahan tangan Broto yang terangkat, dan rasa sakit yang datang setelahnya bukan cuma di tubuhku.

Aku terkapar cukup lama untuk membuat tetangga berkerumun. Ada yang merekam pakai ponsel. Ada yang berteriak memanggil polisi. Aku ingat, di tengah kepala yang berdenging, aku merasa aneh—lega. *Ada bukti. Ada saksi. Kali ini pasti beda.*

Aku salah.

 

Polisi yang datang mencatat semuanya dengan tenang, terlalu tenang. Nama, kronologi, keterangan saksi. Rekaman video dari ponsel tetangga bahkan sempat diminta untuk "barang bukti". Aku dan Bapak diperiksa di kantor, ditanya berulang-ulang dengan cara yang membuatku merasa seperti aku yang bersalah.

Broto dipanggil juga. Tapi ia datang dengan tenang, duduk di ruang lain, dan keluar tidak sampai satu jam kemudian sambil menyalakan rokok di depan kantor polisi—di depan kami yang masih menunggu giliran diperiksa.

Dua minggu setelah itu, surat dari kejaksaan datang. Bahasanya berbelit, tapi intinya satu: perkara dihentikan. Alasan resminya "kurang bukti". Rekaman video yang jadi harapan kami, entah bagaimana, "tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya".

Aku masih ingat nama yang menandatangani surat itu, meski waktu itu aku belum tahu wajahnya: **Komisaris Yusuf Baskoro.**

 

Malam setelah surat itu sampai, aku duduk di depan rumah, menatap gang yang sama tempat aku besar. Bapak keluar, duduk di sampingku, tidak bicara apa-apa untuk waktu yang lama.

"Bapak dulu bilang," kataku akhirnya, "pilih kapan diam, kapan lari. Tapi nggak ada yang bilang, gimana kalau kita nggak boleh milih dua-duanya. Gimana kalau mereka yang milihin buat kita?"

Bapak tidak menjawab. Mungkin karena tidak ada jawaban yang bisa ia berikan tanpa berbohong.

Malam itu juga, untuk pertama kalinya, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya di Karang Wetan—bukan takut, bukan sedih. Sesuatu yang lebih dingin dan lebih tenang dari itu.

Aku mulai berpikir: kalau hukum yang katanya melindungi semua orang ternyata punya pintu belakang untuk orang seperti Broto, mungkin orang-orang seperti kami butuh pintu kami sendiri. Bukan pintu yang menunggu diketuk. Pintu yang kami bangun sendiri, dijaga sendiri, dengan cara kami sendiri.

Aku belum tahu bagaimana caranya. Aku baru lima belas tahun, tidak punya apa-apa selain kemarahan dan tangan yang masih gemetar sisa kejadian sore itu.

Tapi malam itu, sesuatu di dalam diriku sudah menyala—kecil, redup, tapi tidak bisa lagi dipadamkan.

Itulah lentera pertama.

 

*(Bersambung ke Bab 3)*

Episodes
1 Karang Wetan
2 Yang Tidak Bisa Diadukan
3 Yang Pertama Bergabung
4 Aturan yang Tidak Tertulis
5 Garis yang Kulewati
6 Yang Berseragam
7 Papan Proyek
8 Bukan Cuma Satu Gang
9 Balasan Pertama
10 Suara di Depan Gedung
11 Yang Paling Kutakutkan
12 Mata di Dalam
13 Bocor
14 Tatap Muka
15 Pena yang Berani
16 Bukti yang Diciptakan
17 Malam Penggrebekan
18 Yang Akhirnya Terbit
19 Suara yang Tidak Lagi Sembunyi
20 Setelah Layar Menyala
21 Operasi Ketertiban
22 Tawaran di Balik Senyum
23 Retak yang Belum Terlihat
24 Pilihan Salim
25 Ketika Suap Gagal
26 Retak di Antara Mereka
27 Bermain di Antara Dua Api
28 Pion yang Merasa Dibuang
29 Angka-Angka yang Berbicara
30 Asuransi Broto
31 Isi Kotak Logam
32 Jalan ke Ibu Kota
33 Berpacu dengan Waktu
34 Malam Terpanjang
35 Setelah Malam Itu
36 Wajah Baru Hardian
37 Menjaga Saksi
38 Hari di Ruang Sidang
39 Namaku Sendiri
40 Cahaya dari Kota Lain
41 Ketika Kita Jadi Sorotan Nasional
42 Serentak
43 Rapat Dengar Pendapat
44 Menghambat dari Dalam
45 Lima Bulan
46 Dua Versi Kebenaran
47 Yang Mulai Menjauh
48 Tersangka
49 Setelah Kemenangan
50 Tawaran yang Berbeda
51 Mencari Jawaban
52 Jalan yang Kupilih
53 Menjadi Resmi
54 Kasus Pertama
55 Benang yang Tersambung
56 Nama di Ujung Diagram
57 Bayang - Bayang Baru
58 Pembuktian
59 Vonis
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Karang Wetan
2
Yang Tidak Bisa Diadukan
3
Yang Pertama Bergabung
4
Aturan yang Tidak Tertulis
5
Garis yang Kulewati
6
Yang Berseragam
7
Papan Proyek
8
Bukan Cuma Satu Gang
9
Balasan Pertama
10
Suara di Depan Gedung
11
Yang Paling Kutakutkan
12
Mata di Dalam
13
Bocor
14
Tatap Muka
15
Pena yang Berani
16
Bukti yang Diciptakan
17
Malam Penggrebekan
18
Yang Akhirnya Terbit
19
Suara yang Tidak Lagi Sembunyi
20
Setelah Layar Menyala
21
Operasi Ketertiban
22
Tawaran di Balik Senyum
23
Retak yang Belum Terlihat
24
Pilihan Salim
25
Ketika Suap Gagal
26
Retak di Antara Mereka
27
Bermain di Antara Dua Api
28
Pion yang Merasa Dibuang
29
Angka-Angka yang Berbicara
30
Asuransi Broto
31
Isi Kotak Logam
32
Jalan ke Ibu Kota
33
Berpacu dengan Waktu
34
Malam Terpanjang
35
Setelah Malam Itu
36
Wajah Baru Hardian
37
Menjaga Saksi
38
Hari di Ruang Sidang
39
Namaku Sendiri
40
Cahaya dari Kota Lain
41
Ketika Kita Jadi Sorotan Nasional
42
Serentak
43
Rapat Dengar Pendapat
44
Menghambat dari Dalam
45
Lima Bulan
46
Dua Versi Kebenaran
47
Yang Mulai Menjauh
48
Tersangka
49
Setelah Kemenangan
50
Tawaran yang Berbeda
51
Mencari Jawaban
52
Jalan yang Kupilih
53
Menjadi Resmi
54
Kasus Pertama
55
Benang yang Tersambung
56
Nama di Ujung Diagram
57
Bayang - Bayang Baru
58
Pembuktian
59
Vonis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!