Yang Pertama Bergabung

Setelah kejadian itu, aku berhenti jadi anak yang sama.

Bukan dalam artian dramatis seperti di sinetron—aku masih bangun pagi, masih bantu Bapak jahit sepatu, masih pura-pura dengar waktu guru di sekolah menjelaskan pelajaran yang rasanya tidak ada gunanya. Tapi ada sesuatu yang berubah caranya aku melihat gang-gang di Karang Wetan. Dulu aku melihatnya sebagai rumah. Sekarang aku mulai melihatnya sebagai peta—siapa dikuasai siapa, jalur mana yang dilewati Broto tiap malam, jam berapa polisi patroli lewat dan jam berapa mereka "tidak ada di tempat".

Aku juga mulai memperhatikan orang-orang yang selama ini cuma jadi latar di gang-gang itu.

Ada Ujang, anak jalanan seumuran denganku, yang tidur berpindah-pindah sejak orang tuanya kena gusur dan berpisah entah ke mana. Ujang punya satu bakat aneh: ia bisa masuk-keluar dari tempat mana saja tanpa terlihat, dan tahu setiap sudut gang lebih baik daripada orang yang lahir di situ.

Ada juga Yanto, umurnya sekitar dua puluh lima, mantan buruh pabrik tekstil yang dipecat sepihak karena ikut-ikutan protes soal gaji yang telat tiga bulan. Ia besar, pendiam, dan punya cara bicara yang membuat orang percaya tanpa perlu berteriak.

Aku tidak mendekati mereka dengan rencana besar. Awalnya sederhana saja—aku mulai membagi info. Kalau aku dengar Broto akan lewat gang tertentu malam itu, aku kasih tahu Ujang, dan Ujang menyebarkannya lebih cepat dari radio manapun. Kalau ada preman kecil yang coba memalak pedagang baru, aku dan Yanto akan "kebetulan" berdiri di situ, tanpa bicara apa-apa, cukup berdiri, sampai preman itu berpikir dua kali.

Kami belum punya nama. Belum punya aturan. Tapi tanpa disadari, kami sudah mulai jadi sesuatu.

---

Titik yang membuat semua ini terasa nyata terjadi waktu seorang ibu bernama Bu Marni datang ke rumah kami larut malam, menangis, karena anak gadisnya, Nurul, diganggu oleh salah satu orang suruhan Broto yang mabuk di dekat kios. Bu Marni sudah lapor ke RT, ke kelurahan, bahkan sempat ke kantor polisi—dan seperti biasa, semua jawaban yang ia dapat adalah janji-janji yang tidak pernah ditepati.

Malam itu aku tidak berpikir panjang. Aku kumpulkan Ujang dan Yanto, dan untuk pertama kalinya aku bicara bukan sebagai anak yang minta tolong, tapi sebagai orang yang mengajak.

"Kita nggak bisa nunggu mereka yang harusnya lindungi kita, beneran lindungi kita," kataku. "Jadi mulai sekarang, kita lindungi diri kita sendiri. Kita jaga gang ini. Kita jaga orang-orang di sini. Kalau ada yang macam-macam, kita nggak akan diam kayak dulu."

Yanto mengangguk pelan. Ujang, seperti biasa, cuma menyeringai—tapi kali ini seringainya beda. Ada sesuatu yang menyala di matanya, sesuatu yang kukenali karena aku merasakannya juga.

Malam itu, kami bertiga mendatangi orang suruhan Broto itu bukan dengan kekerasan besar-besaran seperti yang mungkin dibayangkan orang—cukup dengan jumlah, dengan sikap tidak gentar, dan dengan satu pesan yang jelas: Karang Wetan bagian ini, mulai sekarang, ada yang jaga.

Ia pergi malam itu juga dan tidak pernah kembali ke kios Bu Marni.

---

Kabar soal kejadian itu menyebar cepat, seperti biasanya kabar menyebar di gang-gang sempit. Sebagian orang bilang kami nekat, cari mati, bakal kena masalah lebih besar. Tapi sebagian lain—orang-orang yang selama ini cuma bisa diam sambil menahan amarah—mulai mendekat, menawarkan bantuan kecil-kecilan. Ada yang mau jadi mata-telinga. Ada yang menawarkan tempat sembunyi kalau dibutuhkan. Ada yang cuma bilang, "Kalau butuh apa-apa, bilang aja."

Malam itu, waktu aku duduk di gang buntu dekat bantaran kali—tempat sembunyi favoritku sejak kecil—aku sadar sesuatu. Ini bukan cuma soal balas dendam ke Broto atau ke Komisaris Baskoro. ini soal sesuatu yang lebih besar: orang-orang kecil di Karang Wetan tidak butuh pahlawan tunggal. Mereka butuh cahaya yang bisa mereka pegang sendiri-sendiri, yang bisa mereka bagi ke tetangga, yang tidak akan padam cuma karena satu orang jatuh.

Malam itu juga aku mengucapkan nama itu untuk pertama kalinya, ke Ujang dan Yanto, setengah bercanda, setengah serius.

"Kita namain aja... Lentera."

Ujang tertawa kecil. "Kayak nama warung."

"Nama warung yang nggak akan mereka lupa," jawabku.

Yanto tidak bicara apa-apa. Ia cuma mengangguk sekali, pelan, seperti seseorang yang baru saja menandatangani sesuatu yang lebih besar dari sekadar kata-kata.

---

*(Bersambung ke Bab 4)*

Episodes
1 Karang Wetan
2 Yang Tidak Bisa Diadukan
3 Yang Pertama Bergabung
4 Aturan yang Tidak Tertulis
5 Garis yang Kulewati
6 Yang Berseragam
7 Papan Proyek
8 Bukan Cuma Satu Gang
9 Balasan Pertama
10 Suara di Depan Gedung
11 Yang Paling Kutakutkan
12 Mata di Dalam
13 Bocor
14 Tatap Muka
15 Pena yang Berani
16 Bukti yang Diciptakan
17 Malam Penggrebekan
18 Yang Akhirnya Terbit
19 Suara yang Tidak Lagi Sembunyi
20 Setelah Layar Menyala
21 Operasi Ketertiban
22 Tawaran di Balik Senyum
23 Retak yang Belum Terlihat
24 Pilihan Salim
25 Ketika Suap Gagal
26 Retak di Antara Mereka
27 Bermain di Antara Dua Api
28 Pion yang Merasa Dibuang
29 Angka-Angka yang Berbicara
30 Asuransi Broto
31 Isi Kotak Logam
32 Jalan ke Ibu Kota
33 Berpacu dengan Waktu
34 Malam Terpanjang
35 Setelah Malam Itu
36 Wajah Baru Hardian
37 Menjaga Saksi
38 Hari di Ruang Sidang
39 Namaku Sendiri
40 Cahaya dari Kota Lain
41 Ketika Kita Jadi Sorotan Nasional
42 Serentak
43 Rapat Dengar Pendapat
44 Menghambat dari Dalam
45 Lima Bulan
46 Dua Versi Kebenaran
47 Yang Mulai Menjauh
48 Tersangka
49 Setelah Kemenangan
50 Tawaran yang Berbeda
51 Mencari Jawaban
52 Jalan yang Kupilih
53 Menjadi Resmi
54 Kasus Pertama
55 Benang yang Tersambung
56 Nama di Ujung Diagram
57 Bayang - Bayang Baru
58 Pembuktian
59 Vonis
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Karang Wetan
2
Yang Tidak Bisa Diadukan
3
Yang Pertama Bergabung
4
Aturan yang Tidak Tertulis
5
Garis yang Kulewati
6
Yang Berseragam
7
Papan Proyek
8
Bukan Cuma Satu Gang
9
Balasan Pertama
10
Suara di Depan Gedung
11
Yang Paling Kutakutkan
12
Mata di Dalam
13
Bocor
14
Tatap Muka
15
Pena yang Berani
16
Bukti yang Diciptakan
17
Malam Penggrebekan
18
Yang Akhirnya Terbit
19
Suara yang Tidak Lagi Sembunyi
20
Setelah Layar Menyala
21
Operasi Ketertiban
22
Tawaran di Balik Senyum
23
Retak yang Belum Terlihat
24
Pilihan Salim
25
Ketika Suap Gagal
26
Retak di Antara Mereka
27
Bermain di Antara Dua Api
28
Pion yang Merasa Dibuang
29
Angka-Angka yang Berbicara
30
Asuransi Broto
31
Isi Kotak Logam
32
Jalan ke Ibu Kota
33
Berpacu dengan Waktu
34
Malam Terpanjang
35
Setelah Malam Itu
36
Wajah Baru Hardian
37
Menjaga Saksi
38
Hari di Ruang Sidang
39
Namaku Sendiri
40
Cahaya dari Kota Lain
41
Ketika Kita Jadi Sorotan Nasional
42
Serentak
43
Rapat Dengar Pendapat
44
Menghambat dari Dalam
45
Lima Bulan
46
Dua Versi Kebenaran
47
Yang Mulai Menjauh
48
Tersangka
49
Setelah Kemenangan
50
Tawaran yang Berbeda
51
Mencari Jawaban
52
Jalan yang Kupilih
53
Menjadi Resmi
54
Kasus Pertama
55
Benang yang Tersambung
56
Nama di Ujung Diagram
57
Bayang - Bayang Baru
58
Pembuktian
59
Vonis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!