Aturan yang Tidak Tertulis

Butuh waktu tiga bulan sejak malam itu sampai Lentera berhenti jadi sekadar nama yang kuucapkan setengah bercanda.

Orang-orang mulai datang sendiri. Tidak semua langsung ikut turun tangan seperti Ujang dan Yanto—banyak yang cuma menawarkan hal-hal kecil. Bu Inah yang jual nasi uduk depan gang, misalnya, bilang kalau kami butuh tempat ngumpul yang tidak mencolok, warungnya buka sampai malam dan tidak akan ada yang curiga kalau kami sering ada di situ. Pak Darto, tukang ojek pangkalan, menawarkan diri jadi mata di jalan-jalan besar—kalau ada razia atau mobil dinas yang bergerak ke arah Karang Wetan, ia yang paling dulu tahu.

Aku mulai sadar, kekuatan kami bukan di jumlah orang yang berani berkelahi. Kekuatannya ada di jaringan orang-orang kecil yang selama ini dianggap tidak penting—tukang ojek, pedagang kaki lima, buruh cuci, anak jalanan—yang ternyata, kalau digabung, tahu segalanya tentang apa yang terjadi di kota ini lebih cepat daripada aparat mana pun.

Tapi dengan bertambahnya orang, aku juga mulai sadar kami butuh sesuatu yang lebih dari sekadar niat baik. Kami butuh aturan.

---

Malam itu, di warung Bu Inah yang sudah tutup untuk umum tapi lampunya masih menyala untuk kami, aku duduk bersama Ujang, Yanto, dan lima orang lain yang sudah rutin ikut—termasuk Pak Darto dan seorang mantan tukang parkir bernama Salim yang badannya kekar dan jarang bicara tapi setia.

"Kalau kita mau jadi sesuatu yang beneran, bukan cuma sekumpulan orang marah," kataku, "kita butuh batasan. Sesuatu yang bikin kita beda dari Broto dan orang-orangnya."

Yanto yang pertama bicara. "Kita nggak nyentuh orang yang nggak ganggu kita duluan."

"Kita nggak minta setoran," tambah Salim, suaranya berat tapi pelan. "Broto minta setoran. Kalau kita mulai minta juga, kita nggak beda apa-apa sama dia."

Ujang menyeringai. "Tapi kita tetap butuh makan, Bang. Nggak semua bisa gratis."

Aku menimbang itu cukup lama. "Bukan setoran paksa. Tapi kalau ada yang kita bantu, dan mereka mau kasih apa aja—makanan, info, tempat nginap buat yang lagi kabur—itu beda. Itu bukan kita minta. Itu mereka kasih karena mau."

Malam itu, tanpa ditulis di kertas mana pun, kami sepakat pada tiga hal yang sejak itu jadi semacam sumpah tidak resmi Lentera:

*Satu—kami melindungi, bukan memeras.*

*Dua—kami tidak menyentuh orang biasa yang tidak menyerang duluan.*

*Tiga—kami menjaga rahasia satu sama lain, apa pun yang terjadi.*

Sederhana. Mungkin naif, kalau dipikir sekarang, mengingat semua yang terjadi setelahnya. Tapi malam itu, tiga kalimat itu terasa seperti fondasi rumah yang jauh lebih kokoh daripada rumah triplek tempat aku dibesarkan.

---

Ujian pertama datang lebih cepat dari yang kami kira.

Salah satu anak buah Broto—bukan Broto sendiri, tapi orang kepercayaannya bernama Dulmatin—mulai menyadari ada "gangguan" di wilayah operasinya. Uang setoran yang biasanya lancar mulai seret di beberapa gang, karena pedagang di sana tahu ada yang bisa mereka mintai tolong kalau didatangi. Dulmatin, yang tempramental dan tidak sesabar Broto, mendatangi kios Bu Inah suatu sore, menuduhnya "menghasut" pedagang lain.

Aku kebetulan ada di situ, duduk di pojok seperti pelanggan biasa. Aku lihat tangan Dulmatin sudah terangkat, siap menampar Bu Inah di depan umum—dan sesuatu di dalam diriku, yang masih mengingat rasa sakit dari kejadian dengan Broto dua tahun lalu, bergerak lebih cepat dari pikiranku sendiri.

Aku berdiri di antara mereka.

"Ada masalah apa, Bang?" tanyaku, suaraku lebih tenang dari yang kurasakan di dalam.

Dulmatin menatapku, mungkin awalnya menganggapku anak kecil yang sok jagoan. Tapi dalam beberapa detik, Ujang dan Salim sudah berdiri di kanan-kiriku, dan dari kejauhan, Pak Darto memarkir motornya tepat di mulut gang—seolah kebetulan, padahal itu sinyal bahwa lebih banyak orang sedang mengawasi dari kejauhan.

Dulmatin akhirnya menurunkan tangannya. Ia pergi sambil bergumam ancaman yang terdengar lebih seperti kata-kata orang yang baru sadar sedang kalah jumlah.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mendengar nama kami disebut bukan oleh orang-orang kecil di gang, tapi oleh orang dari "pihak sana"—Dulmatin melapor ke Broto, dan entah bagaimana, dalam waktu kurang dari seminggu, nama **Lentera** sampai juga ke telinga yang jauh lebih berbahaya daripada Broto.

Aku belum tahu itu waktu itu. Yang kutahu hanya satu: kami baru saja berhenti jadi sekelompok orang yang cuma menjaga gang sendiri.

Kami baru saja mulai dianggap ancaman.

---

*(Bersambung ke Bab 5)*

Episodes
1 Karang Wetan
2 Yang Tidak Bisa Diadukan
3 Yang Pertama Bergabung
4 Aturan yang Tidak Tertulis
5 Garis yang Kulewati
6 Yang Berseragam
7 Papan Proyek
8 Bukan Cuma Satu Gang
9 Balasan Pertama
10 Suara di Depan Gedung
11 Yang Paling Kutakutkan
12 Mata di Dalam
13 Bocor
14 Tatap Muka
15 Pena yang Berani
16 Bukti yang Diciptakan
17 Malam Penggrebekan
18 Yang Akhirnya Terbit
19 Suara yang Tidak Lagi Sembunyi
20 Setelah Layar Menyala
21 Operasi Ketertiban
22 Tawaran di Balik Senyum
23 Retak yang Belum Terlihat
24 Pilihan Salim
25 Ketika Suap Gagal
26 Retak di Antara Mereka
27 Bermain di Antara Dua Api
28 Pion yang Merasa Dibuang
29 Angka-Angka yang Berbicara
30 Asuransi Broto
31 Isi Kotak Logam
32 Jalan ke Ibu Kota
33 Berpacu dengan Waktu
34 Malam Terpanjang
35 Setelah Malam Itu
36 Wajah Baru Hardian
37 Menjaga Saksi
38 Hari di Ruang Sidang
39 Namaku Sendiri
40 Cahaya dari Kota Lain
41 Ketika Kita Jadi Sorotan Nasional
42 Serentak
43 Rapat Dengar Pendapat
44 Menghambat dari Dalam
45 Lima Bulan
46 Dua Versi Kebenaran
47 Yang Mulai Menjauh
48 Tersangka
49 Setelah Kemenangan
50 Tawaran yang Berbeda
51 Mencari Jawaban
52 Jalan yang Kupilih
53 Menjadi Resmi
54 Kasus Pertama
55 Benang yang Tersambung
56 Nama di Ujung Diagram
57 Bayang - Bayang Baru
58 Pembuktian
59 Vonis
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Karang Wetan
2
Yang Tidak Bisa Diadukan
3
Yang Pertama Bergabung
4
Aturan yang Tidak Tertulis
5
Garis yang Kulewati
6
Yang Berseragam
7
Papan Proyek
8
Bukan Cuma Satu Gang
9
Balasan Pertama
10
Suara di Depan Gedung
11
Yang Paling Kutakutkan
12
Mata di Dalam
13
Bocor
14
Tatap Muka
15
Pena yang Berani
16
Bukti yang Diciptakan
17
Malam Penggrebekan
18
Yang Akhirnya Terbit
19
Suara yang Tidak Lagi Sembunyi
20
Setelah Layar Menyala
21
Operasi Ketertiban
22
Tawaran di Balik Senyum
23
Retak yang Belum Terlihat
24
Pilihan Salim
25
Ketika Suap Gagal
26
Retak di Antara Mereka
27
Bermain di Antara Dua Api
28
Pion yang Merasa Dibuang
29
Angka-Angka yang Berbicara
30
Asuransi Broto
31
Isi Kotak Logam
32
Jalan ke Ibu Kota
33
Berpacu dengan Waktu
34
Malam Terpanjang
35
Setelah Malam Itu
36
Wajah Baru Hardian
37
Menjaga Saksi
38
Hari di Ruang Sidang
39
Namaku Sendiri
40
Cahaya dari Kota Lain
41
Ketika Kita Jadi Sorotan Nasional
42
Serentak
43
Rapat Dengar Pendapat
44
Menghambat dari Dalam
45
Lima Bulan
46
Dua Versi Kebenaran
47
Yang Mulai Menjauh
48
Tersangka
49
Setelah Kemenangan
50
Tawaran yang Berbeda
51
Mencari Jawaban
52
Jalan yang Kupilih
53
Menjadi Resmi
54
Kasus Pertama
55
Benang yang Tersambung
56
Nama di Ujung Diagram
57
Bayang - Bayang Baru
58
Pembuktian
59
Vonis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!