Garis yang Kulewati

Broto tidak datang sendiri. Ia tidak pernah melakukan apa pun sendiri—itu yang baru kupahami setelah malam itu.

Dua minggu setelah kejadian dengan Dulmatin, warung Bu Inah terbakar.

Aku mendengar kabarnya jam dua pagi, dibangunkan oleh Ujang yang menggedor pintu rumah sambil terengah-engah. Waktu aku sampai di lokasi, api sudah dipadamkan warga menggunakan ember dan air seadanya, tapi separuh warung sudah jadi arang. Bu Inah duduk di tanah di depan reruntuhan itu, tidak menangis, hanya diam dengan tatapan kosong—jenis diam yang kukenal, karena aku pernah melihatnya di wajah Ibu bertahun-tahun lalu.

"Katanya ada yang lihat orangnya kabur naik motor bebek knalpot bolong," bisik Ujang di sampingku.

Aku tidak perlu bertanya lagi siapa itu.

---

Yang membuatku benar-benar marah bukan kebakarannya. Karang Wetan sudah terbiasa dengan kehilangan—rumah, lapak, harta benda, itu semua bisa hilang kapan saja di sini. Yang membuatku marah adalah pesan yang dibawa kebakaran itu: *kalian bisa melindungi diri sendiri, tapi kalian tidak bisa melindungi semuanya. Aku bisa datang kapan saja aku mau.*

Malam itu aku duduk bersama Yanto, Salim, dan Ujang di gang buntu dekat bantaran kali—tempat yang sama tempat aku dulu bersembunyi waktu kecil. Untuk pertama kalinya sejak Lentera terbentuk, aku merasa tiga aturan yang kami sepakati mulai terasa seperti pagar yang terlalu pendek untuk ancaman sebesar ini.

"Kita balas," kata Salim, singkat.

"Balas gimana?" tanya Yanto. "Kita bukan cuma lawan Broto. Kita lawan orang yang bisa telepon kantor polisi dan bikin masalah kita hilang begitu aja."

Aku diam lama. Di kepalaku berputar semua kemungkinan—melapor lagi (percuma, sudah terbukti), diam saja (berarti membiarkan yang lain jadi korban berikutnya), atau melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan.

"Kita nggak bisa lawan dia pakai cara yang sama kayak dia," kataku akhirnya. "Tapi kita juga nggak bisa terus-terusan cuma jaga-jaga. Kita harus bikin dia takut kehilangan sesuatu, kayak kita takut kehilangan warung Bu Inah."

Malam itu aku menyusun rencana pertamaku yang benar-benar melewati batas yang selama ini kami jaga.

---

Aku tahu Broto menyimpan uang setoran dari seluruh wilayahnya di sebuah rumah kontrakan kosong dekat terminal, tempat yang selama ini dijaga longgar karena tidak ada yang berani macam-macam dengannya. Ujang yang menemukan info itu, hasil dari dua hari mengintai tanpa tidur.

Rencananya sederhana: masuk saat rumah itu kosong, ambil uangnya, bagikan sebagian ke pedagang-pedagang yang selama ini paling tertekan oleh setoran Broto—termasuk untuk membangun ulang warung Bu Inah—dan sisanya jadi dana pertama Lentera.

Malam eksekusi, tanganku gemetar sepanjang jalan menuju rumah kontrakan itu. Bukan karena takut ketahuan. Aku takut pada diriku sendiri—pada fakta bahwa aku, anak tukang sol sepatu yang dulu diajari untuk memilih diam atau lari, sekarang berjalan menuju sesuatu yang jelas-jelas melanggar hukum.

Semua berjalan lebih mulus dari yang kubayangkan. Ujang membuka pintu belakang tanpa suara, Salim berjaga di depan, dan aku masuk bersama Yanto untuk mengambil uang yang tersimpan dalam beberapa kardus mi instan bekas—ironis, mengingat berapa banyak keluarga di Karang Wetan yang hidup dari mi instan karena uang mereka disedot orang ini.

Kami keluar tanpa insiden. Tidak ada kekerasan malam itu, hanya pencurian yang direncanakan matang. Tapi waktu aku duduk sendirian di gang buntu setelahnya, memandangi tumpukan uang yang baru saja mengubah kami dari "sekelompok orang yang saling jaga" menjadi sesuatu yang, kalau ditangkap hukum, akan disebut kriminal—aku sadar aku baru saja melewati garis yang tidak bisa kutarik mundur lagi.

---

Uang itu kami bagikan diam-diam dalam beberapa hari berikutnya. Bu Inah mendapat cukup untuk membangun ulang warungnya, ditambah sedikit lebih untuk menutup kerugian. Beberapa keluarga lain yang selama ini tercekik setoran bulanan tiba-tiba merasa sedikit lega, meski mereka tidak pernah tahu persis dari mana rezeki mendadak itu datang.

Broto murka, tentu saja. Kabar kehilangan uangnya menyebar cepat—bukan dari kami, tapi dari orang-orangnya sendiri yang panik. Untuk pertama kalinya, aku dengar namanya disebut bukan dengan nada takut, tapi dengan nada yang nyaris menertawakan: *Broto kecurian sama anak-anak kampung.*

Tapi aku tahu, di balik tawa itu, ada sesuatu yang lebih berbahaya sedang bergerak. Karena kalau Broto marah, ia akan lapor ke atasannya. Dan atasannya bukan orang yang akan menganggap ini lucu.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku memimpikan sebuah nama yang belum pernah kudengar langsung, tapi entah kenapa terasa seperti bayangan yang mulai mendekat dari kejauhan.

Komisaris Yusuf Baskoro.

---

*(Bersambung ke Bab 6)*

Episodes
1 Karang Wetan
2 Yang Tidak Bisa Diadukan
3 Yang Pertama Bergabung
4 Aturan yang Tidak Tertulis
5 Garis yang Kulewati
6 Yang Berseragam
7 Papan Proyek
8 Bukan Cuma Satu Gang
9 Balasan Pertama
10 Suara di Depan Gedung
11 Yang Paling Kutakutkan
12 Mata di Dalam
13 Bocor
14 Tatap Muka
15 Pena yang Berani
16 Bukti yang Diciptakan
17 Malam Penggrebekan
18 Yang Akhirnya Terbit
19 Suara yang Tidak Lagi Sembunyi
20 Setelah Layar Menyala
21 Operasi Ketertiban
22 Tawaran di Balik Senyum
23 Retak yang Belum Terlihat
24 Pilihan Salim
25 Ketika Suap Gagal
26 Retak di Antara Mereka
27 Bermain di Antara Dua Api
28 Pion yang Merasa Dibuang
29 Angka-Angka yang Berbicara
30 Asuransi Broto
31 Isi Kotak Logam
32 Jalan ke Ibu Kota
33 Berpacu dengan Waktu
34 Malam Terpanjang
35 Setelah Malam Itu
36 Wajah Baru Hardian
37 Menjaga Saksi
38 Hari di Ruang Sidang
39 Namaku Sendiri
40 Cahaya dari Kota Lain
41 Ketika Kita Jadi Sorotan Nasional
42 Serentak
43 Rapat Dengar Pendapat
44 Menghambat dari Dalam
45 Lima Bulan
46 Dua Versi Kebenaran
47 Yang Mulai Menjauh
48 Tersangka
49 Setelah Kemenangan
50 Tawaran yang Berbeda
51 Mencari Jawaban
52 Jalan yang Kupilih
53 Menjadi Resmi
54 Kasus Pertama
55 Benang yang Tersambung
56 Nama di Ujung Diagram
57 Bayang - Bayang Baru
58 Pembuktian
59 Vonis
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Karang Wetan
2
Yang Tidak Bisa Diadukan
3
Yang Pertama Bergabung
4
Aturan yang Tidak Tertulis
5
Garis yang Kulewati
6
Yang Berseragam
7
Papan Proyek
8
Bukan Cuma Satu Gang
9
Balasan Pertama
10
Suara di Depan Gedung
11
Yang Paling Kutakutkan
12
Mata di Dalam
13
Bocor
14
Tatap Muka
15
Pena yang Berani
16
Bukti yang Diciptakan
17
Malam Penggrebekan
18
Yang Akhirnya Terbit
19
Suara yang Tidak Lagi Sembunyi
20
Setelah Layar Menyala
21
Operasi Ketertiban
22
Tawaran di Balik Senyum
23
Retak yang Belum Terlihat
24
Pilihan Salim
25
Ketika Suap Gagal
26
Retak di Antara Mereka
27
Bermain di Antara Dua Api
28
Pion yang Merasa Dibuang
29
Angka-Angka yang Berbicara
30
Asuransi Broto
31
Isi Kotak Logam
32
Jalan ke Ibu Kota
33
Berpacu dengan Waktu
34
Malam Terpanjang
35
Setelah Malam Itu
36
Wajah Baru Hardian
37
Menjaga Saksi
38
Hari di Ruang Sidang
39
Namaku Sendiri
40
Cahaya dari Kota Lain
41
Ketika Kita Jadi Sorotan Nasional
42
Serentak
43
Rapat Dengar Pendapat
44
Menghambat dari Dalam
45
Lima Bulan
46
Dua Versi Kebenaran
47
Yang Mulai Menjauh
48
Tersangka
49
Setelah Kemenangan
50
Tawaran yang Berbeda
51
Mencari Jawaban
52
Jalan yang Kupilih
53
Menjadi Resmi
54
Kasus Pertama
55
Benang yang Tersambung
56
Nama di Ujung Diagram
57
Bayang - Bayang Baru
58
Pembuktian
59
Vonis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!