Selamat Datang Di Rumah Mahendra

​Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, taksi yang membawa Aluna dan Bik Sumi akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi. Di baliknya, berdiri sebuah rumah gedong bergaya modern klasik yang sangat megah. Aluna terpaku menatap rumah keluarga Mahendra. Rumah itu begitu besar, jauh lebih luas dari gabungan beberapa rumah di desanya.

​"Ayo masuk, Aluna. Jangan melamun begitu," tegur Bik Sumi sambil membawa tas jinjingnya.

​Seorang satpam membukakan pagar dan menyapa mereka dengan ramah. Saat melangkah masuk melalui pintu samping yang menuju ke area dapur dan ruang belakang, Bik Sumi menjelaskan situasi rumah. "Kebetulan Tuan dan Nyonya Mahendra—orang tua Den Arsen—sedang ada urusan bisnis di luar kota sampai minggu depan. Jadi di rumah sekarang cuma ada Den Arsen."

​Bik Sumi kemudian mengantar Aluna untuk meletakkan barang-barangnya. "Nah, Aluna, ini kamarmu," ujar Bik Sumi sambil membuka sebuah pintu kayu.

​Kamar itu terletak tepat di bawah undakan tangga besar yang menuju ke lantai dua. Meskipun ukurannya tidak terlalu luas, kamar itu sangat bersih, dilengkapi dengan satu tempat tidur busa tunggal, lemari pakaian kecil, dan sebuah kipas angin dinding. Tempatnya strategis agar Aluna bisa cepat mendengar jika Arsen yang kamarnya berada di lantai atas membutuhkan sesuatu.

​"Kamar Bibik ada di bagian belakang dekat dapur, agak jauh dari sini. Jadi kalau malam ada apa-apa atau Den Arsen memanggil, kamu yang harus sigap, ya," tambah Bik Sumi.

​Aluna mengangguk patuh. "Baik, Bik. Ini sudah bagus sekali bagi Aluna."

​Setelah merapikan pakaiannya sejenak, Bik Sumi mengajak Aluna ke area ruang tengah untuk mengenalkan diri kepada sang majikan muda. Dari kejauhan, terdengar suara tawa beberapa pria dan denting gelas. Ternyata, Arsen sedang berkumpul dengan teman-teman Circle-nya di ruang bersantai yang luas.

​"Permisi, Den Arsen..." puji Bik Sumi dengan sopan sambil menundukkan kepala saat melangkah mendekati sofa-sofa mewah tersebut. "Sumi sudah kembali dari cuti, Den. Dan ini... ini keponakan Sumi yang tempo hari dibilang Nyonya besar, namanya Aluna."

​Arsen, yang duduk di sofa utama dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, hanya melirik sekilas dari balik layar ponselnya. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas tampak datar dan dingin. Pria berusia 25 tahun itu hanya bergumam malas, "Oh, ya sudah. Suruh dia langsung kerja besok. Bik Sumi tolong siapkan kopi tambahan buat teman-teman saya."

​Arsen bersikap sangat acuh, kembali fokus pada ponsel dan obrolannya, seolah kehadiran Aluna sama sekali tidak memengaruhi dunianya yang sibuk.

​Namun, reaksi berbeda justru datang dari tiga orang teman Arsen yang duduk di sana. Begitu Aluna melangkah maju dan membungkuk sopan memberi salam, pandangan mata para pria kota itu langsung terkunci pada sosok sang gadis desa.

​Meskipun Aluna hanya mengenakan kaos polos rajut yang pas di badan dan celana panjang jins longgar sisa di desa, pakaian itu justru mencetak jelas keindahan lekuk tubuhnya. Dadanya yang membusung kencang, pinggangnya yang kecil bergaya jam pasir, serta pinggulnya yang padat membuat mata para pria itu tak berkedip. Terlebih lagi, wajah polos Aluna yang tanpa makeup sedikit pun justru memancarkan kecantikan alami yang segar—sangat kontras dengan wanita-wanita kota penuh riasan yang biasa mereka temui.

​"Wah, Sen... lu nemu pembantu di mana yang kayak begini?" bisik salah satu temannya, Randy, dengan mata yang terus menjelajahi lekuk tubuh Aluna dari bawah ke atas.

​"Gila, bening banget. Ini sih bukan spek pembantu, ini mah spek model majalah," timpal teman yang lain, tersenyum nakal sambil sengaja membusungkan dada agar menarik perhatian Aluna.

​Aluna yang menyadari arah pandangan mata teman-teman Arsen yang liar dan salah fokus itu seketika merasa tidak nyaman. Ia merapatkan kedua tangannya di depan perut, mencoba menyembunyikan lekuk tubuhnya yang menjadi pusat perhatian, sambil menundukkan kepala dalam-dalam karena malu dan takut.

​Arsen yang mendengar celetukan teman-temannya hanya mendengus pelan, masih bersikap tidak peduli. Ia belum menyadari bahwa gadis desa yang malam itu diabaikannya, perlahan akan menjadi satu-satunya wanita yang menjungkirbalikkan sisi posesif dalam dirinya.

​Mendengar perintah Arsen, Bik Sumi segera menarik pelan lengan Aluna untuk menjauh dari ruang tengah. Aluna mengembuskan napas lega yang panjang begitu mereka sampai di area dapur yang bersih dan modern. Jantungnya masih berdegup kencang akibat tatapan-tatapan liar dari teman-teman majikan mudanya tadi.

​"Sudah, tidak usah dimasukkan ke hati kelakuan teman-teman Den Arsen itu," hibur Bik Sumi sambil menyalakan mesin pembuat kopi otomatis. "Orang kota memang begitu kalau lihat gadis yang masih alami seperti kamu."

​Bik Sumi mulai meracik beberapa cangkir kopi hitam dan camilan di atas nampan kayu yang elegan. Namun, tepat saat kopi-kopi itu selesai dituangkan, Bik Sumi tiba-tiba memegang pinggangnya sambil meringis kesakitan.

​"Aduh..." keluh Bik Sumi, wajahnya agak pucat.

​"Kenapa, Bik? Ada yang sakit?" tanya Aluna panik, langsung memegangi pundak bibinya.

​"Pinggang Bibik kambuh lagi, Nduk. Encoknya berasa sekali gara-gara kelamaan duduk di kereta tadi," ucap Bik Sumi sambil memijat pinggang belakangnya. Ia menatap nampan berisi kopi di atas meja bar dapur, lalu beralih menatap Aluna. "Aluna, tolong kamu saja yang antarkan kopi-kopi ini ke depan, ya? Bibik mau duduk sebentar di belakang sambil mengoleskan balsem."

​Aluna seketika membeku. Rasa cemas kembali melandanya. "Tapi, Bik... Aluna takut. Teman-teman Den Arsen tadi menatap Aluna aneh sekali."

​Bik Sumi menepuk tangan Aluna lembut. "Tidak apa-apa, ada Den Arsen di sana. Mereka tidak akan berani macam-macam di rumah ini. Anggap saja ini latihan mental buat kamu mulai kerja besok. Ingat pesen Ibu di desa, kamu harus sigap."

​Aluna menelan ludah. Mengingat wajah ibunya dan niat mulianya untuk mengubah nasib, ia akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Bik. Aluna antarkan."

​Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aluna mengangkat nampan kayu tersebut. Ia mengatur napasnya, mencoba bersikap seprofesional mungkin, lalu melangkah perlahan menuju ruang tengah tempat para pria itu berkumpul.

​Begitu derap langkah Aluna terdengar mendekat, suasana obrolan di ruang tengah yang tadinya bising mendadak hening. Tiga pasang mata teman Arsen langsung beralih secara sinkron ke arah Aluna.

​Aluna berjalan dengan kepala agak menunduk, namun postur tubuhnya yang tegap alami justru membuat cara berjalannya terlihat sangat anggun. Pakaian rajutnya yang pas di badan bergerak mengikuti lekuk pinggulnya yang indah setiap kali ia melangkah, membuat teman-teman Arsen menatapnya tanpa berkedip dengan pandangan penuh gairah.

​"Permisi... Kopi dan camilannya, Tuan," ucap Aluna dengan suara yang lembut dan bergetar halus karena gugup.

​Aluna membungkuk pelan di depan meja kaca untuk meletakkan cangkir kopi satu per satu. Posisi membungkuk itu tak pelak membuat bentuk tubuh bagian atasnya tercetak semakin jelas.

​"Wah, makasih ya manis. Namanya tadi siapa? Aluna, ya?" tanya Randy dengan nada menggoda, matanya terang-terangan menatap leher jenjang Aluna yang putih bersih.

​"I-iya, Tuan," jawab Aluna singkat sambil buru-buru menegakkan tubuhnya kembali.

​"Jangan panggil Tuan dong, panggil Kakak aja biar akrab. Kamu aslinya mana sih? Kulitnya kok bisa sebersih ini?" timpal teman Arsen yang lain, mencoba meraih cangkir kopi sambil sengaja menyapukan jarinya ke punggung tangan Aluna yang sedang menaruh gelas.

​Aluna terkejut dan langsung menarik tangannya dengan cepat, wajahnya memerah karena malu sekaligus takut.

​Sementara itu, Arsen yang sejak tadi bersikap acuh tak acuh, perlahan mengalihkan pandangannya dari ponsel. Untuk pertama kalinya, ia menatap Aluna secara langsung dan intens dari jarak dekat.

​Mata tajam Arsen menyapu wajah polos gadis itu yang tampak ketakutan, lalu turun memperhatikan lekuk tubuh Aluna yang begitu menawan di bawah sorot lampu ruang tengah. Ada desiran aneh yang tiba-tiba muncul di dada Arsen—sebuah perasaan tidak suka yang asing ketika melihat teman-temannya menggoda pembantu baru pribadinya tersebut.

Episodes
1 Pintu Menuju Kota
2 Selamat Datang Di Rumah Mahendra
3 Mandat Tengah Malam
4 Perlindungan Tak Terduga
5 Sentuhan Yang Tak Terduga
6 Pemandangan Dari Balik Jendela
7 Pertemuan Para Pewaris
8 Gejolak Di Kursi Kebesaran
9 Sambutan Hangat Di Teras Depan
10 Peringatan Yang Harus Di Patuhi
11 Ketukan Di Pintu Jati
12 Gejolak Yang Tak Terbendung
13 Realita Yang Mengejutkan
14 Celetukan Yang Mengejutkan
15 Kuasa Sang Majikan
16 Pengakuan Yang Tersembunyi
17 Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
18 Kabar Buruk Dari Kampung
19 Perintah Di Pagi Hari
20 Terkunci Di Pangkuan
21 Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
22 Pulang Malam Dan Tatapan Nyata
23 Sengatan Di Tengah Malam
24 Bayangan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
25 Panggilan Siang Hari
26 Belanja Dan Perjalanan Pulang
27 Jamuan Malam Dan Suasana Dingin
28 Perangkap Yang Tertinggal
29 Kecurigaan Yang Terbukti
30 Batas Yang Terlewati
31 Keputusan Dingin
32 Tanpa Ampun
33 Konsekuensi
34 Keheningan Yang Berbeda
35 Janji Kenyamanan
36 Bayang Masa Lalu
37 Batas sabar sang tuan
38 Obat Untuk Luka
39 Gejolak Yang tersembunyi
40 Perjalanan menuju desa
41 Sambutan Hangat Di Desa
42 Perjalanan Kembali
43 Ruang Untuk Bernafas
44 Bukti Yang Membungkam
45 Secercah Harapan Di Kamar VIP
46 Kebanggaan Keluarga
47 Kepulangan Dan Tatapan Yang berbeda
48 Kedatangan Orang Tua Arsen
49 Keheningan Yang Terbiasa
50 Pengakuan Di Balik Suasana sepi
51 Pergulatan Dalam Diam
52 Kesepakatan Di Dapur
53 Di Batas Ketidakberdayaan
54 Senyum Sang Direktur
55 Hadiah Sederhana
56 Persiapan Menuju Bali
57 Panggilan malam hari
58 Alibi Yang Sempurna
59 Sampai Di Pulau Dewata
60 Sore Ditepi Pantai
61 Ketukan di pintu
62 Pagi Pertama Di Bali
63 Bayangan Kelam
64 Kemarahan sang direktur
65 Panggilan Penghakiman
66 Air Mata Dan Janji Setia
67 Langkah Menuju Kebahagiaan
68 Bagian Dari Keluarga Baru
69 Senyum Sahabat Sejati
70 Takdir Sang Sanggar Kasih
71 Perjalanan Menuju Restu
72 Restu Yang sudah di dapat
73 Pesona Sang Calon Pengantin
74 Resepsi Mewah Dan Senyum Kemenangan
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Pintu Menuju Kota
2
Selamat Datang Di Rumah Mahendra
3
Mandat Tengah Malam
4
Perlindungan Tak Terduga
5
Sentuhan Yang Tak Terduga
6
Pemandangan Dari Balik Jendela
7
Pertemuan Para Pewaris
8
Gejolak Di Kursi Kebesaran
9
Sambutan Hangat Di Teras Depan
10
Peringatan Yang Harus Di Patuhi
11
Ketukan Di Pintu Jati
12
Gejolak Yang Tak Terbendung
13
Realita Yang Mengejutkan
14
Celetukan Yang Mengejutkan
15
Kuasa Sang Majikan
16
Pengakuan Yang Tersembunyi
17
Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
18
Kabar Buruk Dari Kampung
19
Perintah Di Pagi Hari
20
Terkunci Di Pangkuan
21
Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
22
Pulang Malam Dan Tatapan Nyata
23
Sengatan Di Tengah Malam
24
Bayangan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
25
Panggilan Siang Hari
26
Belanja Dan Perjalanan Pulang
27
Jamuan Malam Dan Suasana Dingin
28
Perangkap Yang Tertinggal
29
Kecurigaan Yang Terbukti
30
Batas Yang Terlewati
31
Keputusan Dingin
32
Tanpa Ampun
33
Konsekuensi
34
Keheningan Yang Berbeda
35
Janji Kenyamanan
36
Bayang Masa Lalu
37
Batas sabar sang tuan
38
Obat Untuk Luka
39
Gejolak Yang tersembunyi
40
Perjalanan menuju desa
41
Sambutan Hangat Di Desa
42
Perjalanan Kembali
43
Ruang Untuk Bernafas
44
Bukti Yang Membungkam
45
Secercah Harapan Di Kamar VIP
46
Kebanggaan Keluarga
47
Kepulangan Dan Tatapan Yang berbeda
48
Kedatangan Orang Tua Arsen
49
Keheningan Yang Terbiasa
50
Pengakuan Di Balik Suasana sepi
51
Pergulatan Dalam Diam
52
Kesepakatan Di Dapur
53
Di Batas Ketidakberdayaan
54
Senyum Sang Direktur
55
Hadiah Sederhana
56
Persiapan Menuju Bali
57
Panggilan malam hari
58
Alibi Yang Sempurna
59
Sampai Di Pulau Dewata
60
Sore Ditepi Pantai
61
Ketukan di pintu
62
Pagi Pertama Di Bali
63
Bayangan Kelam
64
Kemarahan sang direktur
65
Panggilan Penghakiman
66
Air Mata Dan Janji Setia
67
Langkah Menuju Kebahagiaan
68
Bagian Dari Keluarga Baru
69
Senyum Sahabat Sejati
70
Takdir Sang Sanggar Kasih
71
Perjalanan Menuju Restu
72
Restu Yang sudah di dapat
73
Pesona Sang Calon Pengantin
74
Resepsi Mewah Dan Senyum Kemenangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!