Perlindungan Tak Terduga

​Udara pagi masih terasa sangat dingin ketika jam dinding di kamar Aluna baru saja menunjukkan pukul lima pagi. Sesuai dengan wejangan Bik Sumi semalam, Aluna tidak ingin mengambil risiko terlambat. Setelah membasuh wajahnya agar segar dan menunaikan ibadah, ia langsung bersiap-siap.

​Pagi itu, Aluna mengenakan daster batik sederhana selutut bertangan pendek—pakaian khasnya saat di desa. Daster yang berbahan tipis dan jatuh itu secara alami mengikuti lekuk tubuhnya yang sintal. Rambut hitam lebatnya diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya yang putih bersih.

​Dengan langkah yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara di keheningan pagi, Aluna keluar dari kamarnya di bawah tangga. Ia menatap undakan tangga besar menuju lantai dua yang tampak begitu sunyi. Jantungnya mulai bertalu-talu.

​Satu per satu anak tangga ia pijak dengan bertelanjang kaki. Begitu sampai di lantai atas, Aluna disambut oleh koridor luas dengan lantai marmer yang mengilap dan deretan lukisan mahal di dindingnya. Di ujung koridor, terdapat sebuah pintu ganda besar dari kayu jati berukir modern. Aluna tahu pasti, itulah kamar Den Arsen.

​Aluna berdiri di depan pintu tersebut, menahan napasnya sesaat. Suasana di lantai dua ini begitu sepi, hanya terdengar suara sayup-sayup pendingin ruangan dari dalam kamar.

​Dengan tangan yang sedikit bergetar, Aluna memegang kenop pintu yang terasa dingin di kulitnya. Perlahan dan dengan sangat hati-hati, ia memutar kenop tersebut, berdoa dalam hati agar pintu itu tidak terkunci dan ia bisa menyelesaikan tugasnya mengambil pakaian kotor sebelum sang majikan terbangun.

​Sesuai dugaannya, pintu kamar kayu jati itu ternyata tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang. Aluna mendorongnya perlahan dengan ujung jari, menghasilkan celah yang cukup lebar untuk tubuh rampingnya menyelinap masuk tanpa menimbulkan suara decitan sedikit pun.

​Begitu melangkah masuk, kehangatan pendingin ruangan langsung menerpa kulit lengan Aluna yang terbuka. Kamar itu sangat luas, dengan aroma maskulin khas parfum mahal bercampur wangi tembakau tipis yang menenangkan. Tirai-tirai beludru abu-abu gelap masih tertutup rapat, menghalau sinar mentari pagi yang mulai menyembul di luar.

​Arsen ternyata tidur dengan hanya menyalakan lampu tidur temaram di sudut ruangan. Cahaya kekuningan yang redup itu memberikan pencahayaan yang cukup bagi Aluna untuk mengenali situasi kamar. Di tengah ruangan, sebuah ranjang ukuran king size berdiri megah. Di atasnya, siluet tubuh Arsen yang tegap tampak terbungkus selimut tebal, masih terlelap dengan napas yang teratur.

​Aluna menahan napas, berusaha tidak menatap ke arah ranjang terlalu lama. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang remang-remang itu, mencari objek utama tugasnya pagi ini.

​Tak butuh waktu lama, berkat bantuan cahaya lampu tidur, mata bulat Aluna menangkap sebuah keranjang pakaian kotor anyaman rotan yang diletakkan tepat di sudut dekat pintu kamar mandi dalam. Di dekatnya, beberapa pakaian kerja dan kaus yang dipakai Arsen kemarin tampak tersampir di gantungan berdiri.

​Dengan langkah yang super hati-hati seperti seekor kucing, Aluna berjalan menjinjit mendekati keranjang tersebut, membiarkan daster batik tipisnya bergerak lembut mengikuti lekukan pinggulnya yang indah di dalam keheningan kamar sang majikan.

​Aluna mengembuskan napas lega setelah berhasil memasukkan seluruh pakaian kotor Arsen ke dalam keranjang jinjing yang dibawanya. Tugas pertamanya hampir selesai. Dengan langkah yang tetap dijaga agar tidak bersuara, ia membalikkan badan, berniat segera keluar dari kamar yang terasa menyesakkan dada karena pesona majikannya itu.

​Namun, baru dua langkah Aluna berjalan menuju pintu, sebuah pergerakan cepat terjadi di belakangnya.

​Set!

​Sebelum Aluna sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah tangan yang besar, kekar, dan hangat mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan sangat erat. Keranjang pakaian kotor yang dipegangnya hampir saja terlepas kalau saja ia tidak segera menahannya.

​Jantung Aluna serasa berhenti berdetak. Ia tersentak kaget dan langsung menoleh.

​Di sana, Arsen sudah berdiri tegak di samping ranjang. Pria itu hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa atasan, memamerkan dada bidangnya yang atletis dan perut yang terbentuk sempurna. Rambutnya agak berantakan khas orang bangun tidur, namun sepasang mata tajamnya sama sekali tidak menunjukkan kantuk. Sorot matanya begitu jernih dan intens, menatap langsung ke manik mata Aluna.

​Ternyata, Arsen tidak tidur. Pria itu sudah terbangun sejak pertama kali Aluna menyelinap masuk ke kamarnya.

​"D-Den Arsen..." bisik Aluna terbata-bata, wajahnya seketika memucat karena terkejut. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena tertangkap basah, tetapi juga karena jarak mereka yang kini begitu dekat.

​Dalam keremangan lampu tidur, Arsen tidak menyahut. Tatapan matanya yang semula dingin perlahan turun, menyapu penampilan Aluna pagi itu. Di bawah pencahayaan yang temaram, daster batik tipis yang dikenakan Aluna justru memperlihatkan segalanya dengan lebih menantang. Potongan daster itu mencetak jelas lekuk dadanya yang membusung penuh karena napasnya yang memburu, serta pinggangnya yang ramping. Kulit bahu dan leher jenjang Aluna yang putih bersih tampak begitu kontras dan berkilau di kegelapan kamar.

​Arsen mengencangkan cengkeramannya di pergelangan tangan Aluna, menarik tubuh gadis desa itu selangkah lebih dekat ke arahnya. Aroma maskulin dari tubuh Arsen seketika mengunci indra penciuman Aluna, membuat gadis berusia 25 tahun itu semakin tak berkutik di bawah kuasa sang majikan muda.

​Napas Aluna tertahan di tenggorokan. Jantungnya bertalu begitu keras di dalam rongga dadanya, hingga ia takut Arsen bisa mendengarnya. Jarak mereka yang hanya segaris membuat Aluna bisa merasakan kehangatan yang memancar dari dada bidang sang majikan. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam, menatap lantai marmer yang dingin, tak berani membalas tatapan tajam pria di hadapannya.

​Namun, alih-alih kemarahan atau tindakan kasar yang Aluna takuti, suara berat Arsen justru memecah keheningan kamar dengan nada yang pelan, hampir berupa bisikan yang dalam.

​"Maaf jika teman-temanku kemarin lancang," ucap Arsen, suaranya terdengar begitu jernih di kesunyian subuh itu.

​Aluna sedikit mendongak, matanya yang bulat mengerjap tidak percaya. Seorang majikan kaya raya seperti Arsen meminta maaf pada pembantu baru seperti dirinya?

​Sebelum rasa terkejut Aluna mereda, Arsen melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, penuh penekanan posesif yang samar. "Lain kali kalau mereka datang, jangan keluar dari kamarmu."

​Cengkeraman tangan Arsen di pergelangan tangan Aluna perlahan melonggar, lalu terlepas sepenuhnya. Arsen mundur satu langkah, kembali menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik bayangan remang-remang kamar tidur.

​"Sekarang, keluar," perintah Arsen dingin, kembali ke pembawaannya yang semula.

​"B-baik, Den. Terima kasih," jawab Aluna hampir tak terdengar.

​Dengan tangan yang masih gemetar, Aluna mendekap keranjang pakaian kotor erat-erat ke dadanya—secara tak sengaja justru membuat daster tipisnya semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang sintal. Ia berbalik dan setengah berlari keluar dari kamar mewah tersebut, menutup pintu jati itu dengan sangat hati-hati.

​Begitu kakinya kembali memijak koridor lantai dua, Aluna bersandar pada dinding, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Wajahnya terasa panas membara. Di balik sikap dingin dan angkuh Den Arsen, ternyata pria itu memperhatikannya. Pria itu melindunginya dari pandangan liar teman-temannya.

​Sementara itu di dalam kamar, Arsen berdiri mematung di tempatnya. Matanya menatap pintu yang baru saja tertutup. Sisa kehangatan dari kulit halus Aluna masih terasa di telapak tangannya. Arsen mendengus pelan, mencoba mengusir bayangan lekuk tubuh berbalut daster batik yang sempat mengusik ketenangannya subuh ini. Pria kota itu sadar, kehadiran gadis desa di rumahnya ini akan menjadi ujian besar bagi pengendalian dirinya

Episodes
1 Pintu Menuju Kota
2 Selamat Datang Di Rumah Mahendra
3 Mandat Tengah Malam
4 Perlindungan Tak Terduga
5 Sentuhan Yang Tak Terduga
6 Pemandangan Dari Balik Jendela
7 Pertemuan Para Pewaris
8 Gejolak Di Kursi Kebesaran
9 Sambutan Hangat Di Teras Depan
10 Peringatan Yang Harus Di Patuhi
11 Ketukan Di Pintu Jati
12 Gejolak Yang Tak Terbendung
13 Realita Yang Mengejutkan
14 Celetukan Yang Mengejutkan
15 Kuasa Sang Majikan
16 Pengakuan Yang Tersembunyi
17 Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
18 Kabar Buruk Dari Kampung
19 Perintah Di Pagi Hari
20 Terkunci Di Pangkuan
21 Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
22 Pulang Malam Dan Tatapan Nyata
23 Sengatan Di Tengah Malam
24 Bayangan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
25 Panggilan Siang Hari
26 Belanja Dan Perjalanan Pulang
27 Jamuan Malam Dan Suasana Dingin
28 Perangkap Yang Tertinggal
29 Kecurigaan Yang Terbukti
30 Batas Yang Terlewati
31 Keputusan Dingin
32 Tanpa Ampun
33 Konsekuensi
34 Keheningan Yang Berbeda
35 Janji Kenyamanan
36 Bayang Masa Lalu
37 Batas sabar sang tuan
38 Obat Untuk Luka
39 Gejolak Yang tersembunyi
40 Perjalanan menuju desa
41 Sambutan Hangat Di Desa
42 Perjalanan Kembali
43 Ruang Untuk Bernafas
44 Bukti Yang Membungkam
45 Secercah Harapan Di Kamar VIP
46 Kebanggaan Keluarga
47 Kepulangan Dan Tatapan Yang berbeda
48 Kedatangan Orang Tua Arsen
49 Keheningan Yang Terbiasa
50 Pengakuan Di Balik Suasana sepi
51 Pergulatan Dalam Diam
52 Kesepakatan Di Dapur
53 Di Batas Ketidakberdayaan
54 Senyum Sang Direktur
55 Hadiah Sederhana
56 Persiapan Menuju Bali
57 Panggilan malam hari
58 Alibi Yang Sempurna
59 Sampai Di Pulau Dewata
60 Sore Ditepi Pantai
61 Ketukan di pintu
62 Pagi Pertama Di Bali
63 Bayangan Kelam
64 Kemarahan sang direktur
65 Panggilan Penghakiman
66 Air Mata Dan Janji Setia
67 Langkah Menuju Kebahagiaan
68 Bagian Dari Keluarga Baru
69 Senyum Sahabat Sejati
70 Takdir Sang Sanggar Kasih
71 Perjalanan Menuju Restu
72 Restu Yang sudah di dapat
73 Pesona Sang Calon Pengantin
74 Resepsi Mewah Dan Senyum Kemenangan
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Pintu Menuju Kota
2
Selamat Datang Di Rumah Mahendra
3
Mandat Tengah Malam
4
Perlindungan Tak Terduga
5
Sentuhan Yang Tak Terduga
6
Pemandangan Dari Balik Jendela
7
Pertemuan Para Pewaris
8
Gejolak Di Kursi Kebesaran
9
Sambutan Hangat Di Teras Depan
10
Peringatan Yang Harus Di Patuhi
11
Ketukan Di Pintu Jati
12
Gejolak Yang Tak Terbendung
13
Realita Yang Mengejutkan
14
Celetukan Yang Mengejutkan
15
Kuasa Sang Majikan
16
Pengakuan Yang Tersembunyi
17
Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
18
Kabar Buruk Dari Kampung
19
Perintah Di Pagi Hari
20
Terkunci Di Pangkuan
21
Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
22
Pulang Malam Dan Tatapan Nyata
23
Sengatan Di Tengah Malam
24
Bayangan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
25
Panggilan Siang Hari
26
Belanja Dan Perjalanan Pulang
27
Jamuan Malam Dan Suasana Dingin
28
Perangkap Yang Tertinggal
29
Kecurigaan Yang Terbukti
30
Batas Yang Terlewati
31
Keputusan Dingin
32
Tanpa Ampun
33
Konsekuensi
34
Keheningan Yang Berbeda
35
Janji Kenyamanan
36
Bayang Masa Lalu
37
Batas sabar sang tuan
38
Obat Untuk Luka
39
Gejolak Yang tersembunyi
40
Perjalanan menuju desa
41
Sambutan Hangat Di Desa
42
Perjalanan Kembali
43
Ruang Untuk Bernafas
44
Bukti Yang Membungkam
45
Secercah Harapan Di Kamar VIP
46
Kebanggaan Keluarga
47
Kepulangan Dan Tatapan Yang berbeda
48
Kedatangan Orang Tua Arsen
49
Keheningan Yang Terbiasa
50
Pengakuan Di Balik Suasana sepi
51
Pergulatan Dalam Diam
52
Kesepakatan Di Dapur
53
Di Batas Ketidakberdayaan
54
Senyum Sang Direktur
55
Hadiah Sederhana
56
Persiapan Menuju Bali
57
Panggilan malam hari
58
Alibi Yang Sempurna
59
Sampai Di Pulau Dewata
60
Sore Ditepi Pantai
61
Ketukan di pintu
62
Pagi Pertama Di Bali
63
Bayangan Kelam
64
Kemarahan sang direktur
65
Panggilan Penghakiman
66
Air Mata Dan Janji Setia
67
Langkah Menuju Kebahagiaan
68
Bagian Dari Keluarga Baru
69
Senyum Sahabat Sejati
70
Takdir Sang Sanggar Kasih
71
Perjalanan Menuju Restu
72
Restu Yang sudah di dapat
73
Pesona Sang Calon Pengantin
74
Resepsi Mewah Dan Senyum Kemenangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!