Mandat Tengah Malam

​"Udah, ah. Jangan digodain terus," ucap Arsen tiba-tiba dengan nada suara yang berat dan dingin, memotong kalimat Randy yang baru saja mau terbuka lagi.

​Suasana di ruangan itu mendadak hening. Teman-teman Arsen saling berpandangan, agak terkejut dengan teguran itu. Biasanya, Arsen sama sekali tidak peduli dengan sekelilingnya, apalagi menyangkut urusan pembantu rumah tangga.

​Arsen kemudian mengalihkan tatapan tajamnya langsung ke arah Aluna yang berdiri mematung di dekat meja. "Aluna, kamu kembali saja ke kamarmu. Masukkan barang-barangmu," perintah Arsen, ketegasannya tidak menerima bantahan namun anehnya terdengar seperti sebuah penyelamatan bagi Aluna.

​"B-baik, Den. Terima kasih," bisik Aluna dengan nada lega yang amat sangat.

​Tanpa menunggu dua kali, ia segera membalikkan badan dan melangkah cepat meninggalkan ruang tengah. Dari belakang, langkah kakinya yang terburu-buru tetap memperlihatkan bagaimana pakaian rajut itu membungkus indah lekuk pinggulnya yang padat, membuat teman-teman Arsen lagi-lagi menghela napas panjang sambil menatap kepergiannya hingga menghilang di balik dinding tangga.

​"Wah, Sen, galak amat lu? Biasanya juga cuek," gurau Randy sambil menyeruput kopi hitam buatan Bik Sumi. "Tapi serius deh, pembantu baru lu itu bener-bener damage-nya nggak main-main. Kalau lu nggak tertarik, buat gue aja gimana?"

​Arsen tidak menyahut. Ia hanya mendengus sinis, kembali menyandarkan punggungnya ke sofa mewah sembari meraih ponselnya. Namun, fokusnya malam itu sudah pecah. Bayangan wajah polos Aluna yang ketakutan serta bagaimana pakaian sederhana itu tidak mampu menyembunyikan keindahan bentuk tubuh sang gadis desa terus berputar di kepalanya.

​Sementara itu, di dalam kamar kecilnya di bawah tangga, Aluna menyandarkan punggungnya ke pintu yang tertutup rapat. Ia memegangi dadanya yang berdegup kencang, mencoba meredakan rasa gemetar yang menjalar di sekujur tubuh.

​“Kota besar ternyata menakutkan sekali,” batin Aluna cemas.

​Namun, di tengah rasa takutnya, ia juga mengingat suara tegas Arsen yang membentenginya tadi. Meski pembawaan majikan mudanya itu sangat dingin dan angkuh, setidaknya malam ini pria itu telah menyelamatkannya dari situasi yang memalukan.

​Dengan perlahan, Aluna mulai membuka koper tuanya dan menata pakaian-pakaian bersahajanya ke dalam lemari kecil. Besok, lembaran baru kehidupannya sebagai pembantu khusus Arsen Mahendra akan resmi dimulai.

​Setelah selesai memasukkan pakaian terakhirnya ke dalam lemari, Aluna terduduk di tepi ranjang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan sisa rasa gugupnya, lalu mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar kecil di bawah tangga tersebut.

​Bibirnya agak terbuka, menatap takjub ruangan yang disebut sebagai "kamar pembantu" ini. Di desanya, kamar tidurnya hanyalah sebuah ruangan sempit dengan dinding papan yang renggang, beralaskan tikar anyaman pandan di atas lantai kayu yang sering berderit.

​Namun di sini, kamar pembantunya bahkan terasa lebih luas dari seluruh area kamar pribadinya di desa. Dindingnya dicat putih bersih tanpa ada noda, lantainya terbuat dari keramik mengilap yang sejuk, dan ada sebuah cermin rias kecil yang digantung rapi di sudut ruangan.

​Aluna kemudian menunduk, menatap tempat tidur tunggal yang didudukinya. Ia menyentuh permukaan sprei katun yang halus, lalu perlahan menekan kasur tersebut dengan kedua telapak tangannya.

​Empuk sekali.

​Rasa penasaran membuatnya mencoba membaringkan tubuhnya secara perlahan. Seketika itu juga, tubuhnya seolah tenggelam dalam kelembutan busa tebal yang berkualitas. Aluna memejamkan mata sesaat. Sepanjang hidupnya di desa, ia selalu tidur di atas kasur kapuk yang tipis dan keras, yang sering kali membuat punggungnya pegal setelah seharian bekerja di ladang teh. Kehangatan dan kenyamanan kasur ini adalah sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​“Bahkan kamar pembantu di kota rasanya seperti kamar putri raja bagi orang desa seperti aku,” bisik Aluna dalam hati, ada secercah rasa syukur yang membuncah di dadanya.

​Kenyamanan tempat tidur itu perlahan mulai mengikis rasa lelahnya akibat perjalanan belasan jam di kereta. Rasa cemas dan ketakutan menghadapi teman-teman Arsen tadi perlahan tergantikan oleh rasa kantuk yang berat.

​Aluna memeluk gulingnya erat-erat, meresapi kehangatan ruangan itu. Di balik keheningan malam di bawah tangga rumah megah tersebut, Aluna akhirnya terlelap, bersiap menyambut hari esok di mana ia harus mulai melayani Den Arsen—sang majikan muda yang memegang kendali atas nasibnya di kota besar ini.

​Malam semakin larut. Keheningan mulai menyelimuti rumah megah keluarga Mahendra. Suara tawa dari teman-teman Arsen yang tadinya riuh di ruang tengah kini sudah tidak terdengar lagi, menandakan bahwa mereka entah sudah pulang atau sudah beristirahat.

​Di dalam kamar bawah tangga, Aluna yang baru saja terlelap beberapa jam tiba-tiba terbangun. Kesadarannya terkumpul perlahan ketika mendengar suara ketukan halus di pintu kayunya.

​Tok... Tok... Tok...

​"Aluna... Nduk, sudah tidur?" panggil sebuah suara berbisik dari balik pintu.

​Aluna segera menegakkan tubuhnya di atas kasur empuk yang sempat membuatnya terbuai. Ia merapikan kaos rajutnya sekilas, lalu bergegas membuka kunci pintu. Di hadapannya, berdiri Bik Sumi yang memegangi lampu senter kecil dengan wajah yang tampak merasa bersalah.

​"Eh, Bik Sumi. Ada apa, Bik?" tanya Aluna dengan suara khas orang baru bangun tidur, matanya yang bulat mengerjap perlahan.

​Bik Sumi mendekat dan berbicara dengan setengah berbisik. "Aluna, Bibik lupa memberitahukan tugas pertamamu untuk besok. Nanti pagi, subuh-subuh sebelum Den Arsen bangun, kamu sudah harus ke atas ke kamarnya untuk mengambil pakaian kotornya," ucap Bik Sumi.

​Aluna tertegun sejenak, mencoba mencerna perintah itu di tengah rasa kantuknya. Kamar Den Arsen? Berarti ia harus masuk ke area pribadi majikan mudanya itu saat pria itu kemungkinan besar masih tertidur.

​"Ohh... baik, Bik," ucap Aluna patuh, meski ada secercah rasa gugup yang kembali menyelinap di hatinya. "Jam berapa biasanya Den Arsen bangun, Bik?"

​"Biasanya jam tujuh dia sudah siap-siap. Jadi, jam enam kurang kamu sudah harus naik ke lantai dua. Nanti langsung masukkan saja pakaian kotornya ke keranjang di depan kamar mandinya. Mengerti, Nduk?"

​"Mengerti, Bik. Nanti Aluna bangun subuh."

​"Ya sudah, maaf ya Bibik mengganggu tidurmu. Sana lanjut istirahat lagi," ujar Bik Sumi sambil menepuk lengan keponakannya sebelum berbalik menuju kamarnya di area belakang.

​Aluna menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya. Ia berjalan lunglai kembali ke ranjang empuknya. Tugas pertamanya ternyata langsung berhubungan dengan area pribadi Arsen. Membayangkan harus masuk ke kamar pria kota yang dingin dan bertubuh tegap itu membuat dada Aluna berdesir aneh. Sambil memeluk gulingnya erat-erat, Aluna memejamkan mata, berharap esok hari tugas pertamanya berjalan lancar tanpa ada hambatan.

Episodes
1 Pintu Menuju Kota
2 Selamat Datang Di Rumah Mahendra
3 Mandat Tengah Malam
4 Perlindungan Tak Terduga
5 Sentuhan Yang Tak Terduga
6 Pemandangan Dari Balik Jendela
7 Pertemuan Para Pewaris
8 Gejolak Di Kursi Kebesaran
9 Sambutan Hangat Di Teras Depan
10 Peringatan Yang Harus Di Patuhi
11 Ketukan Di Pintu Jati
12 Gejolak Yang Tak Terbendung
13 Realita Yang Mengejutkan
14 Celetukan Yang Mengejutkan
15 Kuasa Sang Majikan
16 Pengakuan Yang Tersembunyi
17 Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
18 Kabar Buruk Dari Kampung
19 Perintah Di Pagi Hari
20 Terkunci Di Pangkuan
21 Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
22 Pulang Malam Dan Tatapan Nyata
23 Sengatan Di Tengah Malam
24 Bayangan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
25 Panggilan Siang Hari
26 Belanja Dan Perjalanan Pulang
27 Jamuan Malam Dan Suasana Dingin
28 Perangkap Yang Tertinggal
29 Kecurigaan Yang Terbukti
30 Batas Yang Terlewati
31 Keputusan Dingin
32 Tanpa Ampun
33 Konsekuensi
34 Keheningan Yang Berbeda
35 Janji Kenyamanan
36 Bayang Masa Lalu
37 Batas sabar sang tuan
38 Obat Untuk Luka
39 Gejolak Yang tersembunyi
40 Perjalanan menuju desa
41 Sambutan Hangat Di Desa
42 Perjalanan Kembali
43 Ruang Untuk Bernafas
44 Bukti Yang Membungkam
45 Secercah Harapan Di Kamar VIP
46 Kebanggaan Keluarga
47 Kepulangan Dan Tatapan Yang berbeda
48 Kedatangan Orang Tua Arsen
49 Keheningan Yang Terbiasa
50 Pengakuan Di Balik Suasana sepi
51 Pergulatan Dalam Diam
52 Kesepakatan Di Dapur
53 Di Batas Ketidakberdayaan
54 Senyum Sang Direktur
55 Hadiah Sederhana
56 Persiapan Menuju Bali
57 Panggilan malam hari
58 Alibi Yang Sempurna
59 Sampai Di Pulau Dewata
60 Sore Ditepi Pantai
61 Ketukan di pintu
62 Pagi Pertama Di Bali
63 Bayangan Kelam
64 Kemarahan sang direktur
65 Panggilan Penghakiman
66 Air Mata Dan Janji Setia
67 Langkah Menuju Kebahagiaan
68 Bagian Dari Keluarga Baru
69 Senyum Sahabat Sejati
70 Takdir Sang Sanggar Kasih
71 Perjalanan Menuju Restu
72 Restu Yang sudah di dapat
73 Pesona Sang Calon Pengantin
74 Resepsi Mewah Dan Senyum Kemenangan
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Pintu Menuju Kota
2
Selamat Datang Di Rumah Mahendra
3
Mandat Tengah Malam
4
Perlindungan Tak Terduga
5
Sentuhan Yang Tak Terduga
6
Pemandangan Dari Balik Jendela
7
Pertemuan Para Pewaris
8
Gejolak Di Kursi Kebesaran
9
Sambutan Hangat Di Teras Depan
10
Peringatan Yang Harus Di Patuhi
11
Ketukan Di Pintu Jati
12
Gejolak Yang Tak Terbendung
13
Realita Yang Mengejutkan
14
Celetukan Yang Mengejutkan
15
Kuasa Sang Majikan
16
Pengakuan Yang Tersembunyi
17
Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
18
Kabar Buruk Dari Kampung
19
Perintah Di Pagi Hari
20
Terkunci Di Pangkuan
21
Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
22
Pulang Malam Dan Tatapan Nyata
23
Sengatan Di Tengah Malam
24
Bayangan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
25
Panggilan Siang Hari
26
Belanja Dan Perjalanan Pulang
27
Jamuan Malam Dan Suasana Dingin
28
Perangkap Yang Tertinggal
29
Kecurigaan Yang Terbukti
30
Batas Yang Terlewati
31
Keputusan Dingin
32
Tanpa Ampun
33
Konsekuensi
34
Keheningan Yang Berbeda
35
Janji Kenyamanan
36
Bayang Masa Lalu
37
Batas sabar sang tuan
38
Obat Untuk Luka
39
Gejolak Yang tersembunyi
40
Perjalanan menuju desa
41
Sambutan Hangat Di Desa
42
Perjalanan Kembali
43
Ruang Untuk Bernafas
44
Bukti Yang Membungkam
45
Secercah Harapan Di Kamar VIP
46
Kebanggaan Keluarga
47
Kepulangan Dan Tatapan Yang berbeda
48
Kedatangan Orang Tua Arsen
49
Keheningan Yang Terbiasa
50
Pengakuan Di Balik Suasana sepi
51
Pergulatan Dalam Diam
52
Kesepakatan Di Dapur
53
Di Batas Ketidakberdayaan
54
Senyum Sang Direktur
55
Hadiah Sederhana
56
Persiapan Menuju Bali
57
Panggilan malam hari
58
Alibi Yang Sempurna
59
Sampai Di Pulau Dewata
60
Sore Ditepi Pantai
61
Ketukan di pintu
62
Pagi Pertama Di Bali
63
Bayangan Kelam
64
Kemarahan sang direktur
65
Panggilan Penghakiman
66
Air Mata Dan Janji Setia
67
Langkah Menuju Kebahagiaan
68
Bagian Dari Keluarga Baru
69
Senyum Sahabat Sejati
70
Takdir Sang Sanggar Kasih
71
Perjalanan Menuju Restu
72
Restu Yang sudah di dapat
73
Pesona Sang Calon Pengantin
74
Resepsi Mewah Dan Senyum Kemenangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!