Cinta Terlarang Dengan Anak Majikan

Cinta Terlarang Dengan Anak Majikan

Pintu Menuju Kota

Suara deru mesin mobil yang asing memecah keheningan sore di Desa Sukamaju. Aluna, yang sedang memilah daun teh di teras rumah panggungnya, mendongak. Tangannya yang halus—meski terbiasa bekerja di ladang—berhenti bergerak. Sebuah mobil sewaan berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.

​Dari dalam mobil, turunlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak mentereng untuk ukuran orang desa. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, dan kacamata hitam bertengger di hidungnya.

​"Bik Sumi?" gumam Aluna, hampir tidak mengenali bibinya sendiri yang sudah lima tahun merantau di Jakarta.

​Bik Sumi berjalan melenggang masuk ke halaman, disambut hangat oleh ibu Aluna yang langsung keluar dari dapur. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi sejenak di ruang tamu yang sederhana, tatapan Bik Sumi langsung tertuju pada Aluna. Wanita itu memperhatikan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata berbinar.

​Di usianya yang menginjak 25 tahun, Aluna tumbuh menjadi gadis yang luar biasa jelita. Kulitnya kuning langsat bersih karena terbiasa dirawat dengan bahan alami, matanya bulat dengan bulu mata lentik, dan rambut hitamnya lebat terurai hingga ke pinggang. Lebih dari itu, di balik baju kurung sederhananya, Aluna memiliki lekuk tubuh yang sangat proporsional dan indah—aset tersembunyi yang sering kali membuat para pemuda desa curi-curi pandang.

​"Aluna, kamu sudah besar dan makin cantik saja," puji Bik Sumi, senyumnya menyiratkan sesuatu. "Sayang sekali kalau kecantikan dan masa mudamu habis begitu saja di desa ini, cuma buat ke sawah dan ladang."

​Aluna hanya tersenyum canggung. "Nggak apa-apa, Bik. Yang penting halal dan bisa bantu Ibu."

​Bik Sumi mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Aluna dan ibunya bergantian. "Begini, Mbak, Aluna... Kebetulan majikan Bibik di Jakarta, keluarga Mahendra, lagi butuh satu asisten rumah tangga tambahan. Rumahnya besar sekali seperti istana. Gajinya? Tiga kali lipat dari penghasilan kalian di sini sebulan. Tugas Aluna cuma bantu-bantu Bik Sumi yang ringan-ringan saja."

​Mendengar kata 'Jakarta' dan 'gaji besar', jantung Aluna berdesir. Sudah lama ia ingin mengubah nasib keluarganya. Ia ingin memperbaiki rumah mereka yang bocor setiap kali hujan, dan ingin ibunya tidak perlu lagi membanting tulang di usianya yang senja.

​"Tapi, Sum... apa Aluna bisa kerja di kota besar? Dia belum pernah keluar dari desa ini," ujar sang ibu ragu, menyuarakan kekhawatiran seorang orang tua.

​"Ah, Mbak tenang saja. Kan ada aku yang jaga dia di sana," sahut Bik Sumi cepat, mencoba meyakinkan. "Ini kesempatan emas buat Aluna mengubah nasib. Lagipula, di sana dia juga akan bantu mengurus keperluan den Arsen, anak tunggal di rumah itu. Umurnya sama dengan Aluna, jadi harusnya tidak sulit."

​Aluna terdiam, menatap jemarinya sendiri. Bayangan tentang gedung-gedung tinggi, kehidupan yang berkecukupan, dan kemampuan untuk membahagiakan ibunya berputar-putar di kepalanya. Keinginan kuat untuk mengubah takdir perlahan mengalahkan rasa takutnya pada kota besar.

​Ia menatap ibunya dengan tatapan memohon, lalu beralih pada bibinya.

​"Bik... Aluna mau. Aluna ikut ke kota," ucap Aluna dengan nada mantap.

​Aluna mengambil keputusan besar malam itu, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kemegahan rumah keluarga Mahendra, ada Arsen—pemuda tampan namun dingin—yang kelak akan sangat terpikat oleh kecantikan alami dan pesona keindahan tubuh gadis desa tersebut.

​Malam itu, suasana di dalam rumah panggung Aluna terasa berbeda. Cahaya temaram dari lampu minyak menerangi ruang tengah, tempat Aluna dan ibunya duduk berhadapan. Di sudut ruangan, sebuah koper tua berbahan kain tebal milik peninggalan almarhum ayahnya sudah terbuka, siap diisi.

​Bik Sumi sendiri sedang menginap di rumah kerabatnya yang lain di ujung desa, memberikan waktu bagi ibu dan anak itu untuk menikmati momen-momen terakhir mereka sebelum perpisahan.

​"Nduk," puji ibunya pelan, tangannya yang keriput mengusap rambut hitam lebat Aluna yang terurai. "Ibu sebenarnya berat melepasmu. Jakarta itu jauh, kejam katanya. Tapi Ibu tahu, niatmu mulia untuk mengubah nasib kita."

​Aluna menggenggam tangan ibunya, mencoba menyalurkan kekuatan. "Ibu jangan khawatir. Ada Bik Sumi di sana yang menjaga Aluna. Aluna janji akan rajin bekerja, tidak macam-macam, dan rajin kirim uang buat Ibu di desa. Aluna ingin Ibu istirahat, tidak usah ke ladang lagi."

​Sang ibu tersenyum haru, meski matanya berkaca-kaca. Ia menatap putrinya dengan saksama. Aluna benar-benar warisan tercantik dari masa mudanya. Tubuh Aluna yang sintal, dadanya yang membusung penuh dengan pinggang ramping yang kontras, serta parasnya yang ayu adalah kombinasi yang bisa menjadi berkah, sekaligus kutukan jika tidak dijaga dengan baik.

​"Ingat pesen Ibu, Aluna. Jaga diri baik-baik. Kamu di sana bekerja di rumah orang kaya. Jaga kehormatanmu sebagai perempuan desa. Jangan silau dengan kemewahan kota," bisik ibunya penuh penekanan.

​"Iya, Bu. Aluna akan selalu ingat pesan Ibu," jawab Aluna mantap.

​Keesokan harinya berlalu dengan sangat cepat. Aluna menghabiskan waktu seharian untuk berkemas dan berpamitan dengan tetangga sekitar. Kabar bahwa Aluna akan merantau ke Jakarta untuk menjadi pembantu khusus anak orang kaya langsung menyebar. Banyak yang iri dengan keberuntungannya, namun tidak sedikit pula pemuda desa yang patah hati karena kehilangan kembang desa mereka.

​Malam kedua berlalu dengan keheningan yang sarat akan kerinduan yang mulai memupuk. Sampai akhirnya, hari yang ditentukan pun tiba.

​Fajar baru saja menyingsing ketika sebuah klakson mobil berbunyi di depan rumah. Bik Sumi sudah datang menjemput. Waktu cuti satu minggunya telah habis, dan hari ini adalah batas waktu ia harus kembali ke Jakarta membawa pembantu baru untuk Den Arsen.

​Aluna mencium telapak tangan ibunya lama, menahan air mata yang mendesak keluar. Ibunya memeluk Aluna erat, membisikkan doa-doa keselamatan.

​"Ayo, Aluna, nanti kita ketinggalan kereta ke kota," ajak Bik Sumi yang tampil rapi, bersiap memandu keponakannya menuju dunia baru.

​Aluna melangkah keluar rumah dengan menjinjing koper tuanya. Ia mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya—sebuah celana kain longgar dan kemeja katun sederhana. Meski pakaiannya sangat bersahaja dan tanpa riasan wajah sedikit pun, cara berjalan Aluna yang anggun serta lekuk tubuhnya yang tegap dan indah tetap tidak bisa disembunyikan dari pandangan mata supir travel yang membantu memasukkan barangnya.

​Di dalam mobil travel yang membawa mereka menuju stasiun kereta kota kabupaten, Bik Sumi mulai memberikan wejangan.

​"Aluna, dengerin Bibik ya. Den Arsen itu orangnya dingin, tegas, dan agak pemilih. Dia itu sibuk sekali mengurus bisnis keluarga Mahendra. Makanya ibunya sampai pusing mencari pembantu yang benar-benar telaten dan bisa dipercaya untuk mengurus kamar dan kebutuhan pribadinya. Begitu Bibik ingat kamu, Bibik yakin kamu pasti bisa. Kamu kan rajin dan penurut."

​Aluna mengangguk pelan, mendengarkan dengan saksama. "Iya, Bik. Aluna akan berusaha sebaik mungkin supaya Den Arsen tidak kecewa."

​"Bagus. Ingat, gajimu besar karena tanggung jawabmu juga besar. Kamu harus patuh apa saja yang diminta Den Arsen nanti," tambah Bik Sumi dengan senyum penuh arti.

​Sepanjang perjalanan kereta yang memakan waktu belasan jam menuju ibu kota, Aluna menatap keluar jendela. Menonton pemandangan hijau sawah yang perlahan berubah menjadi deretan bangunan beton yang padat dan menjulang tinggi. Jantungnya berdegup kencang antara rasa cemas dan harapan.

​Gadis desa berusia 25 tahun itu sama sekali tidak tahu, bahwa di balik gerbang megah rumah keluarga Mahendra yang akan segera dimasukinya, sosok Arsen Mahendra sedang menunggu—seorang pria kota yang selama ini acuh tak acuh pada wanita, namun akan dibuat tak berdaya oleh pesona kepolosan dan keindahan fisik seorang Aluna.

Episodes
1 Pintu Menuju Kota
2 Selamat Datang Di Rumah Mahendra
3 Mandat Tengah Malam
4 Perlindungan Tak Terduga
5 Sentuhan Yang Tak Terduga
6 Pemandangan Dari Balik Jendela
7 Pertemuan Para Pewaris
8 Gejolak Di Kursi Kebesaran
9 Sambutan Hangat Di Teras Depan
10 Peringatan Yang Harus Di Patuhi
11 Ketukan Di Pintu Jati
12 Gejolak Yang Tak Terbendung
13 Realita Yang Mengejutkan
14 Celetukan Yang Mengejutkan
15 Kuasa Sang Majikan
16 Pengakuan Yang Tersembunyi
17 Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
18 Kabar Buruk Dari Kampung
19 Perintah Di Pagi Hari
20 Terkunci Di Pangkuan
21 Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
22 Pulang Malam Dan Tatapan Nyata
23 Sengatan Di Tengah Malam
24 Bayangan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
25 Panggilan Siang Hari
26 Belanja Dan Perjalanan Pulang
27 Jamuan Malam Dan Suasana Dingin
28 Perangkap Yang Tertinggal
29 Kecurigaan Yang Terbukti
30 Batas Yang Terlewati
31 Keputusan Dingin
32 Tanpa Ampun
33 Konsekuensi
34 Keheningan Yang Berbeda
35 Janji Kenyamanan
36 Bayang Masa Lalu
37 Batas sabar sang tuan
38 Obat Untuk Luka
39 Gejolak Yang tersembunyi
40 Perjalanan menuju desa
41 Sambutan Hangat Di Desa
42 Perjalanan Kembali
43 Ruang Untuk Bernafas
44 Bukti Yang Membungkam
45 Secercah Harapan Di Kamar VIP
46 Kebanggaan Keluarga
47 Kepulangan Dan Tatapan Yang berbeda
48 Kedatangan Orang Tua Arsen
49 Keheningan Yang Terbiasa
50 Pengakuan Di Balik Suasana sepi
51 Pergulatan Dalam Diam
52 Kesepakatan Di Dapur
53 Di Batas Ketidakberdayaan
54 Senyum Sang Direktur
55 Hadiah Sederhana
56 Persiapan Menuju Bali
57 Panggilan malam hari
58 Alibi Yang Sempurna
59 Sampai Di Pulau Dewata
60 Sore Ditepi Pantai
61 Ketukan di pintu
62 Pagi Pertama Di Bali
63 Bayangan Kelam
64 Kemarahan sang direktur
65 Panggilan Penghakiman
66 Air Mata Dan Janji Setia
67 Langkah Menuju Kebahagiaan
68 Bagian Dari Keluarga Baru
69 Senyum Sahabat Sejati
70 Takdir Sang Sanggar Kasih
71 Perjalanan Menuju Restu
72 Restu Yang sudah di dapat
73 Pesona Sang Calon Pengantin
74 Resepsi Mewah Dan Senyum Kemenangan
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Pintu Menuju Kota
2
Selamat Datang Di Rumah Mahendra
3
Mandat Tengah Malam
4
Perlindungan Tak Terduga
5
Sentuhan Yang Tak Terduga
6
Pemandangan Dari Balik Jendela
7
Pertemuan Para Pewaris
8
Gejolak Di Kursi Kebesaran
9
Sambutan Hangat Di Teras Depan
10
Peringatan Yang Harus Di Patuhi
11
Ketukan Di Pintu Jati
12
Gejolak Yang Tak Terbendung
13
Realita Yang Mengejutkan
14
Celetukan Yang Mengejutkan
15
Kuasa Sang Majikan
16
Pengakuan Yang Tersembunyi
17
Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
18
Kabar Buruk Dari Kampung
19
Perintah Di Pagi Hari
20
Terkunci Di Pangkuan
21
Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
22
Pulang Malam Dan Tatapan Nyata
23
Sengatan Di Tengah Malam
24
Bayangan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
25
Panggilan Siang Hari
26
Belanja Dan Perjalanan Pulang
27
Jamuan Malam Dan Suasana Dingin
28
Perangkap Yang Tertinggal
29
Kecurigaan Yang Terbukti
30
Batas Yang Terlewati
31
Keputusan Dingin
32
Tanpa Ampun
33
Konsekuensi
34
Keheningan Yang Berbeda
35
Janji Kenyamanan
36
Bayang Masa Lalu
37
Batas sabar sang tuan
38
Obat Untuk Luka
39
Gejolak Yang tersembunyi
40
Perjalanan menuju desa
41
Sambutan Hangat Di Desa
42
Perjalanan Kembali
43
Ruang Untuk Bernafas
44
Bukti Yang Membungkam
45
Secercah Harapan Di Kamar VIP
46
Kebanggaan Keluarga
47
Kepulangan Dan Tatapan Yang berbeda
48
Kedatangan Orang Tua Arsen
49
Keheningan Yang Terbiasa
50
Pengakuan Di Balik Suasana sepi
51
Pergulatan Dalam Diam
52
Kesepakatan Di Dapur
53
Di Batas Ketidakberdayaan
54
Senyum Sang Direktur
55
Hadiah Sederhana
56
Persiapan Menuju Bali
57
Panggilan malam hari
58
Alibi Yang Sempurna
59
Sampai Di Pulau Dewata
60
Sore Ditepi Pantai
61
Ketukan di pintu
62
Pagi Pertama Di Bali
63
Bayangan Kelam
64
Kemarahan sang direktur
65
Panggilan Penghakiman
66
Air Mata Dan Janji Setia
67
Langkah Menuju Kebahagiaan
68
Bagian Dari Keluarga Baru
69
Senyum Sahabat Sejati
70
Takdir Sang Sanggar Kasih
71
Perjalanan Menuju Restu
72
Restu Yang sudah di dapat
73
Pesona Sang Calon Pengantin
74
Resepsi Mewah Dan Senyum Kemenangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!