Sentuhan Yang Tak Terduga

​Dengan langkah terburu-buru dan jantung yang masih berdebar kencang, Aluna menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Ia segera melangkah ke arah belakang, melewati dapur, hingga sampai di sebuah ruangan yang dikhususkan untuk mencuci pakaian—laundry room.

​Ruangan itu cukup luas, bersih, dan berbau harum sabun cuci premium. Di sana berjajar mesin cuci dan mesin pengering berteknologi canggih yang sempat membuat Aluna terperangah kemarin.

​Aluna meletakkan keranjang pakaian kotor Arsen di atas meja khusus. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir bayangan dada bidang Arsen dan suara berat pria itu dari benaknya. “Fokus, Aluna. Kamu di sini untuk bekerja,” bisiknya pada diri sendiri untuk menguatkan hati.

​Untungnya, tadi malam Bik Sumi sudah memberikan penjelasan yang sangat detail mengenai cara mengurus pakaian sang majikan muda. Bibinya tahu betul bahwa Aluna terbiasa mencuci secara manual dengan tangan di desa, sehingga teknologi kota pasti akan membingungkannya.

​Aluna mengingat kembali wejangan Bik Sumi dengan saksama.

​"Nduk, pakaian Den Arsen itu tidak bisa asal cemplung. Kemeja kerja, jas, dan celana kain mahalnya tidak boleh dicampur dengan pakaian santai atau kaus tidurnya. Bahan-bahan yang halus harus dipisah, dan ada beberapa yang tidak boleh masuk mesin cuci, melainkan harus dicuci manual dengan tangan secara perlahan supaya tidak merusak kainnya."

​Mengikuti instruksi tersebut, Aluna mulai memilah pakaian yang ada di dalam keranjang. Ia berlutut di lantai, memisahkan kemeja-kemeja katun mahal bermerek, celana kain, hingga kaus hitam yang dipakai Arsen kemarin.

​Saat jemarinya menyentuh kaus hitam milik Arsen, wangi maskulin khas parfum sang majikan kembali menguar, tercium lembut oleh indra penciuman Aluna. Wajahnya seketika merona merah mengingat kejadian di kamar tadi.

​Meskipun mengenakan daster batik sederhana dan harus duduk bersimpuh di lantai ruang cuci, keanggunan alami Aluna tidak memudar. Lekuk tubuhnya yang indah tetap tercetak jelas saat ia membungkuk untuk memilah-milah baju. Dengan penuh ketelatenan, Aluna mulai menghidupkan mesin cuci untuk pakaian yang bisa dimesinkan, lalu menyiapkan ember khusus untuk pakaian yang harus ia kucek dengan kedua tangannya sendiri.

​Gadis desa itu bertekad memberikan hasil kerja terbaiknya, tanpa tahu bahwa di lantai atas, sang majikan kini tidak bisa lagi memejamkan mata karena terus memikirkan kehadirannya.

​Satu per satu pakaian mahal Arsen diperiksa oleh Aluna dengan saksama sebelum dimasukkan ke dalam air. Ketika jemari halusnya meraba bagian dalam saku sebuah jas kerja berwarna abu-abu gelap, ia merasakan sesuatu yang mengganjal.

​Aluna merogoh saku tersebut dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi. Di atasnya tertulis rentetan angka-angka penting dan beberapa catatan kerja yang tampak sangat formal.

​“Waduh, ini pasti dokumen penting milik Den Arsen,” batin Aluna panik. Ia tahu betul orang kota sangat menghargai kertas-kertas kerja seperti ini. Jika sampai basah dan hancur di dalam pelintiran mesin cuci, habislah nasibnya di hari pertama bekerja.

​Tanpa berpikir panjang, Aluna segera meletakkan jas tersebut dan bergegas kembali menuju lantai dua. Daster batik tipisnya berkibar pelan mengikuti langkah kakinya yang cepat menaiki anak tangga.

​Sesampainya di depan pintu jati besar kamar Arsen, Aluna menarik napas dalam-dalam. Kejadian subuh tadi masih membekas, membuat dadanya berdegup kencang. Namun, rasa tanggung jawab mengalahkan ketakutannya.

​Tok... Tok... Tok...

​Aluna mengetuk pintu dengan sopan dan sangat hati-hati. "Permisi, Den Arsen..." panggilnya dengan suara lembut yang sedikit bergetar.

​Tidak ada sahutan dari arah ranjang. Suasana kamar terdengar sepi. Aluna mencoba mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras.

​Tok... Tok... Tok...

​"Den Arsen? Maaf mengganggu, Aluna mau—"

​"Masuk saja. Pintunya tidak dikunci."

​Suara berat Arsen menyahut, namun arah suaranya bukan dari tempat tidur, melainkan samar-samar terdengar dari balik pintu kaca buram kamar mandi yang terletak di dalam kamar mewah tersebut. Bersamaan dengan itu, terdengar suara gemercik air shower yang deras, menandakan bahwa sang majikan muda sedang membersihkan diri.

​Aluna menelan ludah. Ia mendorong pintu kamar utama yang memang sedikit renggang, lalu melangkah masuk ke dalam dengan ragu. Langkah kakinya mandek di tengah ruangan, tepat beberapa meter dari pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, membiarkan uap hangat beraroma sabun maskulin menguar memenuhi kamar.

​Dengan langkah yang super hati-hati, Aluna mendekati meja kerja Arsen yang tertata rapi di sudut kamar. Ia meletakkan selembar kertas penting itu di atas meja kaca, memastikan posisinya aman dan terlihat jelas.

​Gebyar!

​Suara pintu kamar mandi yang digeser mengejutkan Aluna. Ia refleks menoleh dan seketika itu juga matanya membelalak sempurna. Arsen keluar dari kamar mandi dengan kepulan uap hangat yang mengikutinya. Pria itu bertelanjang dada, memamerkan otot-otot tubuhnya yang basah oleh sisa air shower yang berkilau. Di bagian bawah, ia hanya mengenakan sehelai handuk putih yang dililitkan sebatas pinggang, memperlihatkan pinggulnya yang kokoh.

​"Astaga!" Aluna memekik pelan, wajahnya langsung merona merah padam sehangat uap di kamar itu. Ia buru-buru menutup kedua matanya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan, membalikkan badannya membelakangi Arsen.

​Arsen, dengan pembawaan dinginnya yang khas, tampak sangat tenang. Pria berusia 25 tahun itu mengabaikan reaksi panik Aluna seolah tubuhnya yang terekspos bukan masalah besar. Ia berjalan mendekat ke arah meja sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil lain.

​"Ada apa?" tanya Arsen datar, suaranya yang berat terdengar begitu dekat di telinga Aluna.

​Aluna, dengan mata yang masih terpejam erat dan tangan yang menunjuk kaku ke arah meja, menjawab terbata-bata, "I-itu, Den... Saya menemukan kertas penting di dalam saku jas kerja Den Arsen saat mau mencuci tadi. Takut hancur, jadi saya antarkan ke atas..."

​Arsen melirik ke arah meja, melihat kertas yang dimaksud. "Oh. Ya sudah, taruh situ," jawabnya singkat.

​Merasa tugasnya selesai dan tidak ingin berlama-lama dalam situasi yang menguji jantungnya ini, Aluna berniat untuk segera angkat kaki. "B-baik, Den. Saya permisi kembali ke bawah."

​Aluna membalikkan tubuhnya dengan terburu-buru untuk melangkah keluar. Namun, ia tidak menyadari bahwa uap air dari kamar mandi tadi membuat sebagian lantai marmer di dekat meja kerja menjadi cukup basah dan licin.

​Sret!

​"Ah!"

​Kaki telanjang Aluna kehilangan cengkeramannya pada lantai. Tubuhnya oleng seketika. Dalam kepanikan, Aluna mencoba meraih udara kosong, bersiap untuk jatuh berdebam ke lantai marmer yang keras.

​Namun, rasa sakit yang ia bayangkan tidak pernah datang.

​Sebuah lengan yang luar biasa kekar dan hangat dengan cekatan menangkap pinggang rampingnya sebelum tubuhnya menyentuh lantai. Dalam gerakan refleks yang begitu cepat, Aluna justru jatuh tepat ke dalam dekapan hangat Arsen.

​Daster batik tipis Aluna menempel sempurna pada dada bidang Arsen yang telanjang dan masih agak basah. Aroma sabun maskulin yang segar berbaur dengan wangi alami tubuh Aluna yang harum. Aluna terengah-engah, matanya yang bulat kini terbuka lebar, menatap langsung pada rahang tegas Arsen yang berada hanya beberapa sentimeter di atas wajahnya. Keindahan lekuk tubuh Aluna yang sintal kini benar-benar terasa nyata dalam pasungan lengan kokoh sang majikan muda.

Episodes
1 Pintu Menuju Kota
2 Selamat Datang Di Rumah Mahendra
3 Mandat Tengah Malam
4 Perlindungan Tak Terduga
5 Sentuhan Yang Tak Terduga
6 Pemandangan Dari Balik Jendela
7 Pertemuan Para Pewaris
8 Gejolak Di Kursi Kebesaran
9 Sambutan Hangat Di Teras Depan
10 Peringatan Yang Harus Di Patuhi
11 Ketukan Di Pintu Jati
12 Gejolak Yang Tak Terbendung
13 Realita Yang Mengejutkan
14 Celetukan Yang Mengejutkan
15 Kuasa Sang Majikan
16 Pengakuan Yang Tersembunyi
17 Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
18 Kabar Buruk Dari Kampung
19 Perintah Di Pagi Hari
20 Terkunci Di Pangkuan
21 Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
22 Pulang Malam Dan Tatapan Nyata
23 Sengatan Di Tengah Malam
24 Bayangan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
25 Panggilan Siang Hari
26 Belanja Dan Perjalanan Pulang
27 Jamuan Malam Dan Suasana Dingin
28 Perangkap Yang Tertinggal
29 Kecurigaan Yang Terbukti
30 Batas Yang Terlewati
31 Keputusan Dingin
32 Tanpa Ampun
33 Konsekuensi
34 Keheningan Yang Berbeda
35 Janji Kenyamanan
36 Bayang Masa Lalu
37 Batas sabar sang tuan
38 Obat Untuk Luka
39 Gejolak Yang tersembunyi
40 Perjalanan menuju desa
41 Sambutan Hangat Di Desa
42 Perjalanan Kembali
43 Ruang Untuk Bernafas
44 Bukti Yang Membungkam
45 Secercah Harapan Di Kamar VIP
46 Kebanggaan Keluarga
47 Kepulangan Dan Tatapan Yang berbeda
48 Kedatangan Orang Tua Arsen
49 Keheningan Yang Terbiasa
50 Pengakuan Di Balik Suasana sepi
51 Pergulatan Dalam Diam
52 Kesepakatan Di Dapur
53 Di Batas Ketidakberdayaan
54 Senyum Sang Direktur
55 Hadiah Sederhana
56 Persiapan Menuju Bali
57 Panggilan malam hari
58 Alibi Yang Sempurna
59 Sampai Di Pulau Dewata
60 Sore Ditepi Pantai
61 Ketukan di pintu
62 Pagi Pertama Di Bali
63 Bayangan Kelam
64 Kemarahan sang direktur
65 Panggilan Penghakiman
66 Air Mata Dan Janji Setia
67 Langkah Menuju Kebahagiaan
68 Bagian Dari Keluarga Baru
69 Senyum Sahabat Sejati
70 Takdir Sang Sanggar Kasih
71 Perjalanan Menuju Restu
72 Restu Yang sudah di dapat
73 Pesona Sang Calon Pengantin
74 Resepsi Mewah Dan Senyum Kemenangan
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Pintu Menuju Kota
2
Selamat Datang Di Rumah Mahendra
3
Mandat Tengah Malam
4
Perlindungan Tak Terduga
5
Sentuhan Yang Tak Terduga
6
Pemandangan Dari Balik Jendela
7
Pertemuan Para Pewaris
8
Gejolak Di Kursi Kebesaran
9
Sambutan Hangat Di Teras Depan
10
Peringatan Yang Harus Di Patuhi
11
Ketukan Di Pintu Jati
12
Gejolak Yang Tak Terbendung
13
Realita Yang Mengejutkan
14
Celetukan Yang Mengejutkan
15
Kuasa Sang Majikan
16
Pengakuan Yang Tersembunyi
17
Tanggung Jawab Dan Keberangkatan
18
Kabar Buruk Dari Kampung
19
Perintah Di Pagi Hari
20
Terkunci Di Pangkuan
21
Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
22
Pulang Malam Dan Tatapan Nyata
23
Sengatan Di Tengah Malam
24
Bayangan Pagi Dan Tatapan Yang Berbeda
25
Panggilan Siang Hari
26
Belanja Dan Perjalanan Pulang
27
Jamuan Malam Dan Suasana Dingin
28
Perangkap Yang Tertinggal
29
Kecurigaan Yang Terbukti
30
Batas Yang Terlewati
31
Keputusan Dingin
32
Tanpa Ampun
33
Konsekuensi
34
Keheningan Yang Berbeda
35
Janji Kenyamanan
36
Bayang Masa Lalu
37
Batas sabar sang tuan
38
Obat Untuk Luka
39
Gejolak Yang tersembunyi
40
Perjalanan menuju desa
41
Sambutan Hangat Di Desa
42
Perjalanan Kembali
43
Ruang Untuk Bernafas
44
Bukti Yang Membungkam
45
Secercah Harapan Di Kamar VIP
46
Kebanggaan Keluarga
47
Kepulangan Dan Tatapan Yang berbeda
48
Kedatangan Orang Tua Arsen
49
Keheningan Yang Terbiasa
50
Pengakuan Di Balik Suasana sepi
51
Pergulatan Dalam Diam
52
Kesepakatan Di Dapur
53
Di Batas Ketidakberdayaan
54
Senyum Sang Direktur
55
Hadiah Sederhana
56
Persiapan Menuju Bali
57
Panggilan malam hari
58
Alibi Yang Sempurna
59
Sampai Di Pulau Dewata
60
Sore Ditepi Pantai
61
Ketukan di pintu
62
Pagi Pertama Di Bali
63
Bayangan Kelam
64
Kemarahan sang direktur
65
Panggilan Penghakiman
66
Air Mata Dan Janji Setia
67
Langkah Menuju Kebahagiaan
68
Bagian Dari Keluarga Baru
69
Senyum Sahabat Sejati
70
Takdir Sang Sanggar Kasih
71
Perjalanan Menuju Restu
72
Restu Yang sudah di dapat
73
Pesona Sang Calon Pengantin
74
Resepsi Mewah Dan Senyum Kemenangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!