Bab 2

Baru beberapa meter ia melangkah, sebuah mobil sedan hitam bermerek Mercedes-Benz perlahan melambat dan berhenti di sampingnya.

Kaca mobil bagian depan perlahan turun, menampilkan sosok wanita cantik berambut hitam sebahu dengan setelan jas formal yang sangat rapi.

"Darius Evandra? Apa itu kau?" tanya wanita itu dengan suara merdu yang terdengar jernih di balik derasnya hujan.

Darius menghentikan langkahnya. Di bawah guyuran hujan yang deras, ia menatap tajam ke arah wanita di dalam mobil tersebut.

"Davina?" ucap Darius dengan pelan, namun cukup jelas terdengar di antara gemuruh hujan.

Wanita itu adalah Davina Permatasari, teman sekolah Darius dulu. Ia langsung membuka pintu mobil, keluar sambil memegang payung, lalu bergegas menghampirinya.

"Astaga, Darius! Ini benar-benar kau!" seru Davina, sambil menyorongkan payungnya. "Ke mana saja kau selama ini?"

Darius menatap payung di atas kepalanya, lalu beralih ke wajah Davina yang kini tampak lebih dewasa. "Aku hanya pergi mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri."

Davina mengembuskan napas panjang, ada rasa lega sekaligus penasaran di matanya. "Ayo masuk ke mobil dulu, hujan semakin deras. Kau bisa sakit kalau terus berdiri di sini."

Darius terdiam sejenak, menimbang tawaran Davina. Setetes air hujan jatuh dari ujung rambutnya, mengalir melewati rahangnya yang tegas.

"Baiklah. Terima kasih," ujar Darius sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan.

Darius melangkah masuk ke dalam mobil Mercedes-Benz yang mewah itu, duduk di kursi penumpang depan. Davina menyusul, lalu masuk ke kursi kemudi.

Davina menyalakan menjalankan mobilnya perlahan membelah jalanan di bawah guyuran hujan. Sesekali, matanya melirik ke arah Darius melalui spion tengah.

Pemuda di sampingnya ini terasa sangat berbeda. Darius Evandra yang ia kenal dulu di masa sekolah adalah remaja yang ceria dan selalu tersenyum.

Namun pria yang duduk di sampingnya sekarang pendiam, tenang, bahkan cenderung dingin. Postur tubuhnya tegap sempurna, dan kedua matanya begitu tajam.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Davina memecah keheningan yang sempat membeku di dalam mobil.

Darius menatap tetesan air hujan yang berkejaran di kaca samping. "Aku baik. Seperti yang kau lihat."

"Kau tahu, setelah ibumu... tiada, kau tiba-tiba menghilang," Davina menghela napas, jemarinya mengetuk kemudi. "Aku kira kau sudah pergi jauh dan tidak akan pernah kembali ke Kota Mandara."

"Memang benar aku pergi jauh," sahut Darius pelan, tatapannya terpaku pada lampu-lampu jalanan Kota Mandara. "Tapi takdir selalu punya cara untuk menarik seseorang kembali ke tempat asalnya."

Davina tersenyum tipis, meski ada sedikit ganjalan di hatinya mendengar nada bicara Darius yang begitu datar.

"Lalu, apa rencanamu setelah kembali?" tanya Davina, memutar kemudi dengan lihai di persimpangan jalan. "Kota Mandara sudah banyak berubah sejak kau pergi."

"Aku hanya ingin hidup tenang," jawab Darius dengan singkat. "Mungkin mencari pekerjaan sederhana. Menikmati hidup tanpa perlu memikirkan hari esok."

Davina tertawa kecil, menganggap ucapan itu sebagai lelucon khas pria. "Dengan pembawaanmu yang sekarang, rasanya sulit membayangkanmu menjadi pegawai kantoran biasa, Darius."

Darius tidak menyahut sama sekali. Ia hanya menyandarkan punggungnya ke kursi mobil yang empuk.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah rumah sederhana di pinggir jalan. Itu adalah rumah masa kecil Darius dan ibunya.

"Kita sudah sampai," ucap Davina sambil menatap bangunan tersebut. "Rumah ini ternyata masih sama seperti dulu."

Darius menatap lekat-lekat pintu kayu rumah itu. Ingatan masa lalunya seketika berputar. Di teras itulah ibunya dulu sering berdiri, melambaikan tangan dengan senyum hangat setiap kali Darius pulang sekolah.

"Terima kasih sudah mengantarku, Davina," kata Darius, tangannya mulai bergerak membuka sabuk pengaman.

"Darius, tunggu," Davina menahan lengan pria itu sejenak. "Ini nomor teleponku yang baru." Davina menyerahkan sebuah kartu nama elegan berwarna perak dari dalam laci dasbor.

"Kalau kau butuh sesuatu, atau... jika kau butuh teman untuk sekadar mengobrol, hubungilah aku?"

Darius menatap kartu nama itu, lalu menerimanya dengan anggukan pelan. "Baiklah. Terima kasih sekali lagi."

Darius membuka pintu mobil, dan langsung melangkah turun. Ia berjalan tegap menuju teras rumah, tidak menoleh lagi ke belakang.

Dari dalam mobilnya, Davina terus memperhatikan punggung Darius hingga pemuda itu membuka pintu rumah dan masuk ke dalam.

Setelah lampu teras menyala, barulah Davina perlahan menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan kawasan tersebut dengan sejuta tanya di kepalanya.

Darius menekan sakelar lampu di ruang tamu. Cahaya kekuningan dari lampu pijar seketika menerangi ruangan yang diselimuti debu tipis.

Di sudut ruangan, sebuah foto berbingkai kayu masih tergantung dengan rapi. Di dalam foto itu, Darius remaja tersenyum lebar di samping ibunya yang tampak begitu anggun.

Darius berjalan mendekat, mengusap debu yang menutupi permukaan bingkai foto itu menggunakan ibu jarinya. Matanya yang biasa dingin, kini menyiratkan kesedihan mendalam.

"Ibu... aku pulang," bisik Darius dengan lirih. Suaranya yang biasa terdengar berat, kini terdengar begitu rapuh.

Ia lalu melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri dari sisa perjalanan panjang, dan mengganti pakaiannya dengan kaus abu-abu polos.

Setelah itu, Darius memasuki kamar mendiang ibunya. Aroma khas sang ibu seolah masih tertinggal secara samar, berselimut debu dan kenangan masa lalu.

Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Pandangan Darius tertuju pada sebuah meja rias kayu tua di sudut kamar.

Di atasnya, terdapat sebuah kotak perhiasan kecil berbahan beludru merah yang warnanya telah memudar akibat termakan usia.

Dengan langkah perlahan, Darius mendekati meja tersebut dan membuka kotak beludru itu.

Di dalamnya, hanya ada sebuah gelang benang rajutan sederhana berwarna biru yang pernah ia buat sendiri saat masih kecil, serta selembar lipatan kertas yang mulai menguning.

Darius mengambil kertas tersebut dan membukanya dengan sangat hati-hati. Ternyata itu adalah tulisan tangan ibunya.

"Untuk putraku tercinta, Darius.

Darius, jika kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak lagi berada di sisimu untuk mengusap kepalamu saat kamu lelah. Maafkan Ibu yang harus pergi lebih cepat dan meninggalkanmu sendirian menghadapi kerasnya dunia.

Ibu tahu, perpisahan Ibu dan ayahmu telah meninggalkan luka yang sangat mendalam di hatimu. Ibu tahu betapa kamu membenci keputusan itu, dan mungkin... kamu juga membenci ayahmu karena membiarkan kita hidup dalam kesulitan seperti ini. Tapi percayalah pada Ibu, nak. Di balik semua ketegasan dan keputusannya, ayahmu memiliki beban berat yang harus ia pikul demi melindungi kita.

Ibu punya satu permintaan terakhir kepadamu. Jika suatu hari nanti takdir mempertemukanmu kembali dengan ayahmu. Ibu memohon dengan sangat agar kamu tidak mengeraskan hatimu. Hormati dan patuhilah semua keputusan ayahmu.

Lakukanlah ini demi ketenangan jiwa Ibu, Darius. Ibu hanya ingin melihat putra Ibu kembali ke tempat yang seharusnya ia pijak, menjalani hidup yang layak, dan berdamai dengan masa lalu.

Ibu selalu menyayangimu, dari dulu hingga selamanya.

Ibumu, Gayatri.”

Darius terdiam setelah membaca baris demi baris surat itu. Dadanya bergemuruh hebat. Matanya menatap tulisan tangan sang ibu, mencoba meresapi setiap kata yang tertulis di sana.

"Mematuhi semua ucapannya...?" bisik Darius lirih. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang terasa getir.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!