Bab 3

Darius lalu melipat kembali surat itu dengan sangat hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam celana panjang hitamnya bersama dengan gelang benang rajutan sang ibu.

Setelah membersihkan tempat tidur lamanya, Darius merebahkan diri dan tak lama kemudian ia tidur terlelap dengan tenang.

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah seolah menghapus sisa hujan semalam.

Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar, membentuk garis-garis cahaya yang menari di atas lantai.

Darius perlahan membuka matanya. Ia lalu bangkit dari kasurnya yang sederhana, meregangkan tubuhnya yang tegap.

Ia lalu pergi ke dapur untuk menyeduh kopi. Begitu air mendidih dan dituang ke cangkir, aroma kopi langsung memenuhi dapur kecil itu.

Darius membawa kopi itu ke halaman depan rumah, menikmati udara pagi Kota Mandara yang masih terasa bersih pasca hujan semalam.

Di tengah ketenangan pagi itu, Darius menyesap kopinya perlahan. Kehangatan cangkir di tangannya kontras dengan dinginnya ingatan tentang surat sang ibu.

"Mematuhi ucapan Ayah..." gumam Darius, menyebut sosok yang sudah lama ia hapus dari hidupnya.

Darius menatap sisa kopi di cangkirnya, lalu mengembuskan napasnya. Pagi ini, ada satu tempat yang harus ia kunjungi. Tempat peristirahatan terakhir wanita yang paling dicintainya.

Dengan mengenakan kemeja hitam kasual, Darius berjalan kaki menuju Pemakaman Umum Asri Jaya, tempat ibunya dikebumikan.

Sesampainya di gerbang pemakaman, aroma tanah basah sisa hujan semalam dan wangi bunga kamboja langsung menyambutnya.

Darius berjalan menyusuri jalan setapak di antara deretan nisan. Ia lalu berhenti di depan sebuah makam dengan nisan marmer putih.

Pada nisan itu terukir nama yang sangat ia rindukan: Gayatri Damayanti.

Darius perlahan berlutut di samping makam tersebut. Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan lembut menyapu dedaunan kering dan rumput liar yang berada di atas pusara ibunya.

"Ibu... anakmu ini datang," bisik Darius. Suaranya rendah, bergetar menahan gejolak emosi di dadanya.

Ia mengambil gelang rajutan biru tua dari sakunya, gelang yang ia temukan di kotak beludru semalam, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas nisan sang ibu.

"Aku sudah membaca surat Ibu," lanjut Darius sambil menatap nisan itu lekat-lekat. "Jika takdir mempertemukanku kembali dengan pria itu, aku berjanji akan menuruti permintaan terakhir Ibu."

Darius terdiam sejenak. Angin bertiup sedikit kencang, menggoyahkan dedaunan pohon kamboja di atasnya, seolah-olah sang ibu sedang membelai rambutnya.

Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam dalam keheningan, Darius akhirnya bangkit berdiri. Ia merapikan pakaiannya, menatap makam ibunya untuk terakhir kali.

Darius lalu membalikkan badannya dan beranjak pergi, meninggalkan area pemakaman dengan langkah yang lebih mantap.

Saat ia sedang berjalan melewati sebuah area pertokoan, pandangan Darius terhenti pada sebuah bengkel motor yang cukup besar di pinggir jalan.

Di depan bengkel itu, seorang pemuda seumurannya dengan kaus oblong hitam yang penuh noda oli tampak sedang sibuk membongkar mesin sebuah motor sport.

Darius menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, mengenali postur tubuh dan garis wajah pemuda yang sedang mengelap keringat dengan punggung tangannya itu.

"Revan?" ucap Darius memastikan bahwa matanya memang tidak sedang salah lihat.

Pemuda berpakaian penuh oli itu menoleh. Begitu matanya menangkap sosok Darius, tubuhnya langsung membeku. Ia lalu mengucek matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"D-Darius?! Astaga! Teman masa kecilku?!" seru Revan dengan suara yang menggelegar.

Revan langsung berlari menghampiri Darius. Ia hendak memeluk sahabat masa kecilnya itu, namun tiba-tiba berhenti ketika melihat tangannya yang penuh dengan oli.

"Ah, sial, tanganku kotor!" ucap Revan sambil tertawa lebar.

Ia lalu dengan cepat mengelap tangannya ke kain lap di saku celananya, kemudian menjabat tangan Darius. "Darimana saja kau selama ini?!"

"Sebelas tahun menghilang gak ada kabar setelah pemakaman tante Gayatri!" lanjut Revan sambil menepuk bahu Darius dengan keras.

Darius tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat jarang ia perlihatkan kepada orang lain. "Aku pergi ke luar negeri. Mencari suasana baru, sekaligus kerja di sana."

"Luar negeri? Pergi gak pamit, balik-balik bentukanmu udah kayak bos mafia gini!" ucap Revan sambil kembali menepuk pundak Darius dengan pelan.

Revan merasa takjub dengan perubahan fisik sahabatnya yang kini memancarkan aura luar biasa kuat. "Eh, ayo duduk di dalem. Kebetulan bengkel lagi agak santai."

Revan membawa Darius masuk ke dalam ruang kerja kecilnya di sudut bengkel yang dilengkapi dengan sofa kulit yang agak usang.

Ia lalu mengambilkan sebotol air mineral dingin dan langsung memberikannya kepada Darius, ia sendiri duduk di kursi kerja lipat.

"Jadi, sudah berapa lama kau pulang ke Mandara?" tanya Revan membuka obrolan, sambil menyulut sebatang rokok.

"Baru kemarin sore," jawab Darius dengan datar sambil membuka tutup botol lalu meminumnya sedikit.

Darius meletakkan botol air mineral itu di atas meja kayu. Matanya menyapu ruangan kerja Revan yang berantakan namun terasa hangat.

"Kemarin sore? Dan sepertinya kau habis dari makam Tante Gayatri, kan?" tebak Revan sambil mengembuskan asap rokoknya ke udara.

Darius hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Aku sangat tahu seberapa besar kau menyayanginya, Darius" Revan bersandar pada kursi lipatnya, mengenang masa lalu.

"Waktu kau menghilang, aku kelimpungan mencarimu. Aku sempat mengira kau melakukan hal bodoh karena kepergian Tante Gayatri. Ditambah lagi..."

Revan menggantung kalimatnya sejenak. Ia melirik Darius dengan ragu, seolah takut menyinggung luka lama. "...ditambah lagi masalah Violetta."

Mendengar nama itu, sorot mata Darius tidak berubah. Namun, jemarinya yang memegang botol air mineral tampak mengetuk botol itu sekali.

"Itu sudah berlalu. Tidak perlu dibahas lagi, Revan," ucap Darius dengan nada yang datar, seolah nama itu tak lagi memiliki arti baginya.

Revan menghela napas panjang, lalu mematikan rokoknya di asbak. "Oke, oke. Aku tidak akan membahas si Violetta itu lagi. Tapi serius, sebelas tahun di luar negeri, apa saja yang kau lakukan?"

"Penampilanmu benar-benar berubah. Kau terlihat seperti pria yang bisa membunuh orang hanya dengan tatapan mata." ucap Revan sambil terkekeh, mencoba mencairkan suasana.

Darius menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Tentu saja ia berubah. Enam tahun di militer hingga menyandang gelar Dewa Perang.

Disusul lima tahun menjadi pembunuh bayaran nomor satu dan menguasai berbagai korporasi global, jelas telah menempa fisiknya menjadi senjata paling mematikan.

"Aku hanya bekerja di sebuah perusahaan keamanan swasta," jawab Darius dengan memberikan cerita paling aman untuk konsumsi publik. "Sisanya, aku hanya mengelola beberapa bisnis investasi kecil."

"Pantas saja dadamu jadi bidang begini!" ujar Revan sambil tertawa terbahak-bahak. "Tapi baguslah kalau kau sukses di sana. Lalu sekarang, apa rencanamu di Kota Mandara?"

"Aku ingin hidup tenang di sini. Mungkin membeli beberapa properti kecil atau membuka usaha sederhana," ujar Darius dengan datar.

Revan hampir saja tersedak air liurnya sendiri. "Hidup tenang? Umurmu baru dua puluh sembilan tahun, Darius! Orang seumur kita sedang gila-gilanya mengejar karier?"

Revan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan. "Tapi terserahlah. Kalau kau butuh bantuan untuk mencari lahan atau sekadar bosan sendirian di rumah tua itu, bengkelku selalu terbuka."

Darius merasakan sedikit kehangatan yang tulus dari ucapan Revan. Di dunia luar, semua orang mendekatinya karena rasa takut dan hormat yang dipaksakan.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!