Bab 5

Di sana, telah berkumpul seluruh anggota Keluarga Adhitama. Di kursi utama, duduk seorang pria tua berambut putih dengan tongkat berkepala naga. Dialah sang pemimpin keluarga, Hardiman Adhitama.

Di dekatnya, duduk seorang wanita paruh baya berpakaian glamor bersama dua gadis muda berpakaian modis. Mereka adalah ibu tiri Darius, Miranti Adhitama, serta kedua adik tiri perempuannya, Savina dan Kiara.

Namun, perhatian Darius langsung tertuju pada sesosok pria paruh baya yang berdiri tegak di tengah ruangan. Begitu melihat Darius masuk, mata pria itu berkaca-kaca. Dialah sang Ayah, Surya Adhitama.

"Darius... anakku," suara Surya Adhitama bergetar hebat.

Ia langsung melangkah maju dan tanpa ragu memeluk Darius. Pelukan yang penuh dengan rasa bersalah dan kerinduan. "Maafkan Ayah, Nak... Ayah baru bisa membawamu pulang sekarang."

Darius tidak membalas pelukan itu, namun tidak juga menolaknya. Ia membiarkan ayahnya melepaskan kerinduan, sebelum akhirnya Surya Adhitama mengurai pelukan itu dengan senyum haru.

Tepat di samping tempat ayahnya berdiri tadi, seorang pemuda melangkah maju. Pemuda itu memiliki pembawaan yang jauh lebih hangat dan ramah.

"Selamat datang kembali, Kak Darius," ucap pemuda itu dengan tulus sambil mengulurkan tangannya. "Aku William, adikmu."

Darius menatap uluran tangan William sejenak, lalu menyambut jabat tangan itu dengan anggukan pelan. "Terima kasih, William."

Namun, suasana hangat dan penuh haru itu langsung dirusak oleh dehaman keras dari arah sofa.

"Cukup dramanya, Surya," suara berat Tuan Besar Hardiman menginterupsi dengan dingin.

Beliau menatap Darius dengan tatapan meremehkan, memperhatikan pakaian Darius yang tampak sangat kontras dengan kemewahan ruangan itu.

"Jadi, ini anak yang kamu tangisi selama belasan tahun itu? Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan darah Adhitama." ujar Tuan Besar Hardiman dengan suara yang sarat akan intimidasi.

"Ayah, jaga ucapan Ayah! Darius baru saja tiba!" bela Surya Adhitama dengan nada tegas, mencoba melindungi putranya.

Mendengar hal itu, Miranti Adhitama hanya terkekeh sinis. "Sudahlah, Mas Surya. Apa yang dikatakan Ayahmu benar. Lihat pakaiannya, sangat sederhana."

"Ih, iya, Mah. Kak William jauh lebih keren dan berpendidikan. Malu-maluin aja kalau temen-temenku lihat punya kakak udik begini," bisik Savina dengan suara yang sengaja dikeraskan.

Sementara itu, Kiara hanya mendengus setuju sambil sibuk memainkan ponsel mahalnya.

Darius tetap berdiri dengan sangat tenang. Caci maki dan pandangan rendah dari Kakek dan Ibu Tirinya sama sekali tidak mengusik dirinya.

"Sudah, jangan ribut. William, panggil istrimu. Katakan padanya bahwa kakak tertuamu sudah tiba," perintah Surya Adhitama kepada anak keduanya itu.

"Baiklah, Ayah. Aku panggil Violetta dulu di kamar atas," jawab William dengan ramah sebelum berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.

Mendengar nama yang disebutkan oleh William, detak jantung Darius mendadak berdesir.

'Violetta? Apakah hanya kebetulan nama mereka sama?' batin Darius.

Tak lama kemudian, William tampak berjalan turun sambil menggandeng mesra tangan seorang wanita yang mengenakan gaun anggun berwarna biru pastel.

Begitu wanita itu melangkah sepenuhnya ke aula utama, seluruh ruangan seolah membeku bagi Darius.

Wajah itu. Kedua mata itu. Sosok yang sebelas tahun lalu meninggalkannya di bawah guyuran hujan. Dia adalah Violetta, mantan kekasihnya.

Saat mata Violetta berbenturan dengan mata dingin milik Darius, tubuh wanita itu seketika menegang sempurna. Wajahnya yang semula merona mendadak berubah menjadi pucat.

Pegangan tangannya pada lengan William mengendur secara perlahan. Matanya bergetar dan berkaca-kaca menahan syok yang luar biasa.

"D-Darius...?" bisik Violetta dengan suara yang hampir tidak keluar dari tenggorokannya.

William yang tidak menyadari ketegangan di antara keduanya, langsung merangkul pundak Violetta dengan bangga. "Kak Darius, kenalkan, ini Violetta, istriku. Kami baru menikah setahun yang lalu."

Darius menatap Violetta lekat-lekat. Ia bisa melihat dengan jelas kepedihan, rasa bersalah, dan cinta yang mendalam yang masih tersirat di balik mata wanita itu.

Ia lalu menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kembali serpihan ketenangan yang sempat hilang.

"Senang bertemu denganmu," ucap Darius dengan suara berat dan datar.

"Hmph, sudahlah! Karena semua orang sudah berkumpul, mari kita bicarakan alasan utama mengapa anak ini dipanggil pulang!" ujar Tuan Besar Hardiman dengan suara menggelegar.

Beliau kemudian mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Darius, dengarkan baik-baik. Kamu dipanggil pulang bukan untuk menikmati fasilitas Keluarga Adhitama."

Surya Adhitama tampak menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah yang mendalam, tidak berani menatap mata Darius.

"Keluarga Adhitama dan Keluarga Atmadja telah sepakat melakukan pernikahan demi menghentikan perseteruan berdarah yang telah memakan banyak korban," lanjut Tuan Besar Hardiman dengan otoriter.

Miranti Adhitama langsung menyahut dengan senyum penuh kemenangan. "Tadinya, Kakekmu ingin William yang menikah dengan putri Keluarga Atmadja itu."

"Tapi tentu saja, sebagai ibu, aku tidak akan membiarkan anak kesayanganku melakukannya!" lanjut Miranti Adhitama dengan nada ketus.

Kiara kemudian ikut menimpali sambil terkekeh-kekeh. "Makanya, pas banget kau pulang! Jadi kau yang maju sebagai tumbal pernikahan ini menggantikan Kak William!"

William tampak terkejut ketika mendengar ucapan ibu dan adiknya. "Ibu! Dek! Jangan bicara seperti itu pada Kak Darius! Ini tidak adil untuknya!"

Ia lalu menatap Darius dengan rasa tidak enak yang besar. "Kak, maafkan mereka..."

Darius mengangkat tangan kanannya sedikit, memberi kode pada Willliam agar adiknya itu tidak perlu merasa bersalah.

Ia kemudian menatap sang Kakek dan Ibu Tirinya dengan tatapan yang sangat datar, seolah sedang melihat dua badut yang sedang melawak.

"Jadi... kalian memanggilku pulang hanya untuk menjadikanku tumbal kedamaian?" tanya Darius dengan nada yang sangat tenang.

"Benar! Dan kamu tidak punya hak untuk menolak! Pernikahanmu dengan Adelina Atmadja akan dilangsungkan dalam lima hari ke depan!" ucap Tuan Besar Hardiman dengan tegas dan angkuh.

Surya Adhitama kemudian menatap Darius dengan mata berkaca-kaca. "Darius... Ayah mohon, Nak. Tolong terima pernikahan ini. Ayah tahu ini tidak adil untukmu, tapi ini satu-satunya cara..."

Darius terdiam sejenak. Di dalam kepalanya, isi surat mendiang ibunya berputar kembali.

‘Hormati dan patuhilah semua keputusan ayahmu... Lakukanlah ini demi ketenangan jiwa Ibu, Darius.’

Ia menatap ayahnya lekat-lekat sebelum akhirnya mengangguk, menerima segala keputusan yang telah dibuat. "Baiklah. Aku menyetujui pernikahan ini."

Mendengar jawaban Darius, Violetta yang berdiri di samping William seketika menutup mulutnya, air matanya hampir saja tumpah.

Hatinya terasa hancur berkeping-keping melihat pria yang masih ia cintai harus dikorbankan dalam pernikahan politik.

"Bagus. Setidaknya kau tahu diri dan sadar posisi," cetus Tuan Besar Hardiman dengan senyum meremehkan.

Miranti Adhitama melirik jam tangan emasnya, lalu berdiri dari sofa. "Karena masalah ini sudah selesai, sebaiknya kita makan malam. Anak buangan ini pasti kelaparan?"

Mendengar ucapan ibunya, Savina dan Kiara langsung terkekeh geli, sambil melirik sinis ke arah pakaian Darius yang sederhana.

Surya Adhitama mengembuskan napas lega yang sarat akan kepedihan. Ia lalu menepuk bahu Darius dengan lembut. "Ayo, Nak. Kita ke ruang makan."

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!