Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Bab 1

Sore itu, hujan deras mengguyur Kota Mandara. Seorang pemuda berjaket hitam polos dan dan celana jins gelap tampak turun dari sebuah taksi.

Pemuda itu lalu melangkah dengan tenang, seolah riuh hujan dan gemercik air yang menghantam aspal sama sekali tidak mengusik ketenangannya.

Dia adalah Darius Evandra Adhitama, seorang Dewa Perang dan Pembunuh Bayaran Nomor Satu di dunia yan baru saja kembali dari luar negeri.

Langkah pemuda itu kemudian terhenti di depan sebuah kedai sederhana bernama "Kedai Selera". Sebuah kedai dengan gaya minimalis-retro itu tampak mencolok di antara deretan gedung tinggi di sekitarnya.

Kring...

Lonceng kecil di atas pintu berdenting saat Darius mendorongnya. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi roti panggang langsung menyambutnya.

Beberapa pelanggan tengah menikmati makanan mereka sambil berbincang ringan. Tak seorang pun memperhatikan pria berjaket hitam yang baru masuk itu.

"Selamat datang, Kak. Silakan duduk," sapa seorang pelayan wanita dengan ramah.

Darius hanya menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya memilih meja di sudut ruangan yang menghadap langsung ke jalan.

Tak lama kemudian, pelayan wanita tadi menghampiri mejanya sambil membawa buku menu.

"Mau pesan apa, Kak?" tanya pelayan wanita itu sambil menyerahkan buku menu ke hadapan Darius.

Darius membuka buku menu tersebut tanpa benar-benar membacanya. Matanya bergerak menyapu daftar minuman, mencari sesuatu yang bisa membantunya tetap terjaga.

"Segelas kopi hitam. Tanpa gula." jawab Darius pendek. Suaranya agak serak, khas seseorang yang sudah menghabiskan waktu berjam-jam dalam perjalanan.

"Baik, satu kopi tanpa gula. Ada tambahan makanan atau camilan untuk menemani kopinya, Kak?"

Darius menutup buku menu di tangannya dengan perlahan, lalu menggeleng pelan. "Itu saja dulu,"

Pelayan itu mengangguk sopan, mencatat pesanan di tablet kecilnya, lalu melangkah pergi menuju area bar, meninggalkan Darius sendirian dengan pikirannya.

Sambil menunggu pesanan, Darius menatap jalanan basah Kota Mandara yang buram karena hujan dari balik jendela kaca yang berembun.

"Ini kopinya, Kak. Silakan dinikmati," ucap pelayan tadi, meletakkan cangkir porselen putih di atas meja, memutus lamunan Darius

"Terima kasih," jawab Darius pendek. Suaranya berat, berat oleh pengalaman yang belum pernah didengar oleh orang awam.

Darius menyesap kopi tanpa gula itu secara perlahan. Pahitnya cairan hitam itu membakar lidahnya, namun sensasi itu justru membuatnya merasa rileks.

Hanya berselang lima menit sejak Darius meminum kopinya, pintu kedai kembali terbuka. Lonceng di atas pintu berdentang nyaring, memecah suasana tenang di dalam kedai.

Beberapa pria bertubuh besar melangkah masuk. Jaket kulit yang mereka kenakan telah basah kuyup. Tubuh mereka dipenuhi tato dan sorot mata yang membuat sebagian pelanggan langsung ketakutan.

Suasana hangat di dalam kedai mendadak berubah tegang. Pria yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu berjalan menuju meja kasir.

"Mana si pemilik kedai?" tanya pria itu dengan suara berat.

Pria bertato yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu menggebrak meja kasir dengan keras.

Pelayan wanita yang tadi melayani Darius langsung pucat pasi. Ia mundur beberapa langkah dengan tubuh gemetar, tidak berani menatap mata pria di hadapannya.

"P-Pemilik kedai berada di belakang, Tuan..." jawab pelayan wanita itu dengan terbata-bata.

"Panggil dia sekarang!" bentak pria bertato itu dengan suara menggelegar. "Bilang padanya, bayar uang keamanan hari ini, atau kedai ini kami ratakan!"

Merasakan situasi semakin mencekam, beberapa pelanggan buru-buru meletakkan uang di meja lalu bergegas keluar demi keselamatan mereka

Di sudut kedai, Darius tetap duduk dengan tenang. Ia masih menyesap sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin. Matanya memperhatikan gerak-gerik kelompok preman tersebut.

"Hei! Kau dengar tidak?!" Pria bertato itu mulai tidak sabar dan menendang salah satu kursi hingga terjungkir.

Tepat saat itu, pintu area dapur terbuka. Seorang pria paruh baya dengan apron yang agak kotor melangkah keluar dengan wajah cemas.

"Tolong jangan buat keributan, Tuan-tuan. Saya... saya sudah mengumpulkan uangnya, tapi jumlahnya belum penuh. Bisakah beri saya waktu tiga hari lagi?"

Pemimpin preman itu mendengus, lalu mencengkeram kerah baju sang pemilik kedai. "Tiga hari? Kau pikir kami ini yayasan amal? Cari uangnya sekarang, atau tangan tuamu ini akan patah!"

Suasana di dalam kedai semakin mencekam. Pelayan wanita mulai menangis dalam diam, sementara pemilik kedai hanya bisa pasrah memejamkan mata.

Darius berdiri dari kursinya. Ia merapikan jaket hitamnya, lalu melangkah mendekati meja kasir. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tanpa suara.

"Tindakan kalian telah merusak suasana minum kopiku," ucap Darius dengan datar, namun sarat akan wibawa.

Pemimpin preman itu melepaskan cengkeramannya, lalu menatap Darius dengan pandangan menghina. "Siapa kau? Pahlawan? Jangan ikut campur kalau masih sayang nyawa, Anak Muda!"

Dua anak buahnya langsung maju, mereka mencoba mencengkeram pundak Darius untuk mengintimidasi.

Namun, sebelum tangan kotor mereka sempat menyentuh jaketnya, gerakan Darius jauh lebih cepat dari yang bisa ditangkap oleh mata manusia.

"AAAKHHH!"

Hanya dalam satu detik, Darius memutar pergelangan tangan preman pertama hingga terdengar bunyi patah tulang yang ngilu

Ia lalu menggunakan siku lengannya untuk menghantam dada preman kedua hingga pria itu terlempar ke belakang dan menghantam meja kayu sampai hancur.

Pemimpin preman itu terbelalak. Wajahnya mendadak berubah menjadi pucat. Ia bahkan tidak melihat bagaimana pemuda di depannya bergerak. "K-Kau... siapa kau sebenarnya?!"

Darius tidak menjawab. Ia hanya mengambil selembar tisu dari atas meja kasir, mengusap tangannya, lalu menatap dingin ke arah pemimpin preman tersebut.

"Bawa teman-temanmu dan keluar dari sini," kata Darius dengan dingin. "Atau aku akan memastikan kalian keluar dari sini tanpa kaki."

Mendengar ancaman itu, bulu kuduk sang pemimpin preman meremang. Ia bisa merasakan bahwa pemuda di depannya ini bukanlah petarung jalanan biasa.

Tanpa membuang waktu, pemimpin preman itu memberi isyarat panik kepada anak buahnya yang lain. "C-Cepat! Angkat mereka! Kita pergi dari sini!"

Mereka memapah dua temannya yang mengerang kesakitan, lalu bergegas keluar dari kedai, menghilang di balik tirai hujan deras Kota Mandara.

Suasana kedai seketika hening. Hanya terdengar suara detik jam dinding dan helaan napas berat dari orang-orang yang tersisa.

"K-Kak... Anda tidak apa-apa?" tanya pelayan wanita tadi dengan suara masih gemetar.

Pemilik kedai, dengan tubuh yang masih sedikit menggigil, langsung membungkuk di depan Darius. "Terima kasih, Anak Muda! Terima kasih banyak!"

Darius hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Wajahnya kembali datar. "Tidak perlu berterima kasih. Saya hanya tidak suka sikap preman-preman tadi."

Darius kemudian melangkah kembali ke mejanya, mengambil dompet, dan meletakkan beberapa lembar uang yang jauh melebihi harga segelas kopi hitamnya.

"Ganti rugi untuk meja yang hancur," ucap Darius pendek sebelum melangkah menuju pintu keluar.

"T-Tunggu, Anak muda! Uang ini terlalu banyak!" seru sang pemilik kedai, namun Darius sudah mendorong pintu kedai.

Darius kembali menembus derasnya hujan di Kota Mandara, berjalan menyusuri trotoar dengan langkah yang perlahan tanpa memperdulikan pakaiannya yang mulai basah kuyup.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!