Bab 4

Hanya Revan yang memperlakukannya seperti manusia biasa, seperti Darius yang dulu.

Tepat ketika Darius hendak menanggapi tawaran sahabatnya, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam perlahan berhenti tepat di depan bengkel Revan.

Kehadiran mobil mewah itu seketika menarik perhatian para montir di luar dan juga Revan. Di kota kecil seperti Mandara, melihat mobil sekalas Rolls-Royce adalah hal yang sangat langka.

"Wah, gila... tamu agung dari mana yang tersesat ke bengkelku pagi-pagi begini?" gumam Revan, matanya melebar menatap mobil tersebut.

Pintu depan sebelah kiri mobil Rolls-Royce Phantom itu perlahan terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam formal melangkah turun.

Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi ke belakang, memancarkan wibawa khas pria yang terbiasa melayani kalangan kelas atas.

Pria itu adalah Ruslan Effendi, kepala pelayan senior yang telah mengabdi pada Keluarga Adhitama selama puluhan tahun.

Pak Ruslan mengedarkan pandangannya ke sekeliling bengkel yang kotor oleh noda oli. Kerutan tipis muncul di dahinya, namun ia dengan cepat menyembunyikan rasa tidak nyamannya itu.

"Permisi, apakah Tuan Muda Darius Adhitama ada di tempat ini?" tanya Pak Ruslan kepada salah satu montir dengan suara yang sangat formal.

Mendengar nama Darius disebut, Revan langsung menyenggol lengan Darius di dalam ruang kerja. "Darius... orang kaya itu mencarimu? Sejak kapan margamu ada 'Adhitama'-nya?"

Darius tidak menjawab pertanyaan sahabatnya. Ia bangkit dari sofa sambil merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar menemui pria paruh baya itu.

Begitu sosok Darius muncul dari balik pintu ruang kerja, kedua mata Pak Ruslan langsung berbinar.

Meskipun pemuda di depannya ini hanya mengenakan kemeja santai, ia yang sudah terbiasa melihat ribuan orang penting langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Postur tegap sempurna, langkah kaki yang sangat stabil, dan sorot mata dingin milik Darius memberikan tekanan mental yang tak kasat mata.

Pak Ruslan segera membungkuk hormat di hadapan Darius. Tindakan itu sontak saja membuat Revan dan seluruh montir di bengkel itu hampir melompat karena terkejut.

"Salam hormat, Tuan Muda," ucap Arman dengan nada yang sangat hormat. "Saya, Ruslan Effendi, kepala pelayan Keluarga Adhitama. Saya diminta untuk menjemput dan membawa Anda kembali ke Ibu Kota."

Darius menatap pria tua di hadapannya itu tanpa ekspresi. "Bagaimana kalian bisa tahu aku ada di kota ini?"

Pak Ruslan kemudian menegakkan tubuhnya, lalu tersenyum sopan. "Jaringan informasi Keluarga Adhitama mencakup seluruh negeri, Tuan Muda. Jadi kami bisa dengan mudah menemukan Anda."

Di samping Darius, Revan masih melongo. Ia kemudian berbisik dengan suara gemetar, "D-Darius... kau ini sebenarnya siapa? Apa kau memiliki hubungan dnegan Keluarga Adhitama di Ibu Kota itu?!"

Darius tidak menghiraukan keterkejutan sahabatnya itu. Ia malah mengingat kembali isi surat ibunya, yang ia baca semalam.

'Jika suatu hari nanti kau kembali dengan ayahmu... Ibu memohon dengan sangat agar kamu tidak mengeraskan hatimu. Hormati dan patuhilah semua keputusan ayahmu.'

Isi surat terakhir sang ibu bergaung kuat di kepala Darius. Jika bukan karena wasiat dari mendiang ibunya, ia tidak akan pernah sudi berurusan lagi dengan keluarga yang dulu menelantarkan mereka.

Jangankan kepala pelayan, bahkan jika ayah kandungnya sendiri yang datang, ia tidak akan bergeming. Namun demi ketenangan jiwa ibunya, Darius harus menurunkan egonya kali ini.

"Baiklah, aku akan ikut denganmu," ucap Darius pendek setelah keheningan yang cukup lama.

Mendengar jawaban itu, wajah Pak Ruslan seketika tampak lega. "Terima kasih atas pengertian Anda, Tuan Muda. Kita bisa berangkat ke Ibu Kota sekarang juga."

Darius lalu menoleh sedikit ke arah Revan, lalu menepuk pundak sahabatnya itu dengan tenang. "Revan, aku harus pergi. Nanti aku akan menghubungimu lagi."

"O-Oke... hati-hati, Kawan. Kalau kau sudah jadi miliarder, jangan lupakan aku ya!" ucap Revan, berusaha mencairkan kegugupannya.

Darius kemudian berjalan keluar dari area bengkel, diikuti oleh Pak Ruslan yang melangkah dengan sangat sopan di belakangnya.

Begitu mereka sampai di samping mobil, Pak Arman dengan sigap membukakan pintu belakang Rolls-Royce Phantom tersebut dan mempersilakan Darius masuk.

Setelah Darius masuk, Pak Ruslan menutup pintu dengan perlahan, lalu memutari mobil untuk duduk di kursi depan samping sopir.

Mobil Rolls-Royce Phantom hitam legam itu pun perlahan melaju, meninggalkan bengkel motor Revan dan membelah jalanan Kota Mandara menuju Ibu Kota.

Di dalam mobil, suasana terasa begitu sunyi dan tenang. Kemewahan interior mobil ini sangat kontras dengan kesederhanaan pakaian yang dikenakan Darius.

Di kursi depan, Pak Ruslan sesekali melirik ke arah spion tengah. Sebagai kepala pelayan senior, ia telah melihat berbagai macam orang hebat.

Namun, aura yang dipancarkan oleh Tuan Mudanya ini benar-benar membuatnya merinding. Ketenangan Darius bukanlah ketenangan orang biasa, melainkan ketenangan seekor predator yang sedang beristirahat.

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Pak Ruslan akhirnya memutuskan untuk membuka suara dengan nada yang sangat sopan.

"Tuan Muda..." panggil Pak Ruslan dengan lembut dan hormat. "Jika saya boleh tahu, bagaimana kehidupan Anda selama ini? Ke mana Anda pergi setelah kepergian Nyonya Gayatri?"

Darius tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia hanya mengetukkan jemarinya sesekali di atas sandaran mobil mewah itu.

"Aku hanya berpindah-pindah tempat, Pak Ruslan," jawab Darius dengan nada datar dan dingin. "Mencari cara untuk tetap bisa hidup di negeri orang."

Pak Ruslan mengangguk dengan prihatin, menangkap maksud ucapan itu sebagai perjuangan hidup yang keras. "Pasti sangat sulit bagi Anda. Tuan Muda."

Sang pelayan senior itu kemudian menarik napas dalam-dalam. Sebagai orang lama di kediaman Adhitama, ia tahu betul bagaimana rapuhnya hubungan masa lalu yang coba disambung kembali hari ini.

Keheningan kembali menyelimuti mobil mewah itu. Yang terdengar hanya deru halus mesin yang melaju mulus di atas jalanan menuju Ibu Kota.

Perjalanan dari Kota Mandara menuju Ibu Kota memakan waktu hampir lima jam. Sepanjang perjalanan, Darius lebih banyak diam.

Malam hari, mobil Rolls-Royce Phantom itu akhirnya memasuki sebuah kawasan elite di pinggiran Ibu Kota. Setelah melewati gerbang yang dijaga ketat oleh beberapa pengawal pribadi.

Mobil mewah itu melaju mulus di atas jalanan yang membelah halaman rumput luas, hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah mansion megah.

"Kita sudah sampai, Tuan Muda," ucap Pak Ruslan dengan sopan seraya turun dan membukakan pintu untuk Darius.

Darius lalu melangkah turun. Matanya yang tajam menatap bangunan megah di hadapannya itu tanpa rasa takjub sedikit pun.

"Mari, Tuan Muda," ucap Pak Ruslan sambil memandu Darius melewati pintu. "Tuan Besar dan anggota keluarga lainnya sudah menunggu."

Begitu melangkah masuk ke dalam aula utama yang megah, langkah kaki Darius seketika terhenti. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan di ruangan tersebut.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!