Episode 2

Warna di wajah Handoko berubah dalam sekejap, tetapi Suparti tidak memberinya kesempatan untuk bertanya lagi.

Pagi itu juga, sebelum aroma dupa di ruang tengah benar-benar hilang, ia masuk ke kamar dan membuka lemari paling bawah. Tangannya bergerak tenang, jauh lebih tenang daripada napas orang-orang di belakangnya. Ia mengambil map berisi KTP, akta perkawinan, kartu keluarga, beberapa fotokopi lama, lalu kotak kayu kecil yang terbungkus kain merah.

Jenny berdiri di depan pintu kamar seperti bayangan yang tidak diundang. "Bu Suparti, kalau Ibu belum siap, tidak perlu memaksakan diri."

Suparti mengikat kain merah itu lebih rapat. "Aku sudah siap tiga puluh empat tahun."

Jenny kehilangan kata.

Handoko menunggu di ruang tengah dengan wajah yang sudah kembali disusun rapi. Kevin sibuk menelepon seseorang, mengurus mobil, mengurus dokumen, mengurus segala hal kecuali perasaan ibunya sendiri.

"Mama yakin mau ikut sekarang?" tanya Kevin. "Jangan nanti sampai di sana bikin masalah."

Suparti memasukkan kotak kayu ke dalam tas kain lusuhnya. "Yang membuat masalah sejak pagi bukan aku."

Kevin hendak membalas, tetapi Handoko memotong dengan suara rendah, "Sudah. Kita berangkat."

Di dalam mobil, Jenny duduk di kursi depan. Suparti duduk sendirian di belakang, memandang jalan Surabaya yang mulai ramai. Motor ojek online melintas di sela mobil. Penjual bubur mendorong gerobak. Seorang ibu menuntun anak berseragam sekolah, tangan kecil anak itu menggenggam plastik berisi roti murah.

Hidup orang lain berjalan seperti biasa.

Hidupnya baru saja berbelok tajam.

Handoko tidak menyalakan radio. Jenny beberapa kali menoleh lewat kaca kecil, seolah ingin memastikan Suparti masih ada dan masih bisa dikasihani. Suparti pura-pura tidak melihat. Di pangkuannya, tas kain berisi kotak kayu terasa berat.

Kantor Catatan Sipil pagi itu penuh orang.

Ada pasangan muda yang hendak mengurus akta perkawinan. Ada ibu yang membawa bayi untuk mencatat kelahiran. Ada lelaki tua dengan map plastik biru. Kursi tunggu hampir penuh, kipas angin di sudut ruangan berputar pelan, tidak cukup mengusir panas dan bau kertas lama.

Begitu Handoko masuk, beberapa orang menoleh.

Wajahnya dikenal di Surabaya. Prof. Dr. Handoko Susanto, rektor UCR, sering muncul di acara kampus, seminar pendidikan, dan berita lokal. Ia terbiasa disapa dengan hormat. Hari itu pun seorang pegawai langsung berdiri sedikit.

"Pak Rektor?"

Handoko mengangguk pendek. "Kami mau konsultasi administrasi perkawinan."

Konsultasi.

Suparti hampir tersenyum lagi.

Jenny merapikan ujung gaunnya. Ia berdiri tidak terlalu dekat dengan Handoko, tetapi cukup dekat untuk membuat beberapa mata menilai. Seorang perempuan muda di kursi tunggu melirik Suparti, lalu melirik Jenny. Bisik-bisik kecil mulai bergerak.

Petugas perempuan di loket mengamati mereka dengan hati-hati. "Untuk perceraian, Bapak dan Ibu nanti tetap perlu proses di pengadilan. Kantor Catatan Sipil hanya mencatat perubahan status setelah ada putusan yang berkekuatan hukum."

"Kami mengerti," jawab Handoko cepat. "Hari ini hanya ingin memastikan dokumen."

Suparti menaruh mapnya di meja loket. Bunyi map plastik menyentuh meja terdengar jelas.

"Bu?" Petugas itu memandangnya.

"Saya yang akan menggugat cerai," kata Suparti.

Handoko menoleh tajam. "Suparti."

Jenny ikut terkejut, tetapi cepat menunduk.

Beberapa orang di kursi tunggu berhenti bicara.

Petugas itu tampak canggung. "Kalau Ibu yang mengajukan, nanti istilahnya cerai gugat. Untuk pasangan non-Muslim, prosesnya ke Pengadilan Negeri. Ibu bisa konsultasi dengan pengacara."

"Saya akan lakukan itu," jawab Suparti.

Handoko menahan rahang. "Kita belum sampai ke sana. Jangan membuat pernyataan sembarangan di tempat umum."

Suparti menoleh kepadanya. "Kau yang membawaku ke tempat umum bersama Jenny."

Ruangan hening setengah detik.

Jenny segera berkata pelan, "Bu Suparti, jangan salah paham. Aku hanya menemani Ko Handoko karena beliau meminta."

Kata Ko Handoko jatuh di ruangan seperti jarum kecil yang menusuk telinga semua orang.

Seorang ibu yang menggendong bayi langsung mengangkat alis. Lelaki tua dengan map biru menatap lebih lama. Perempuan muda di kursi tunggu perlahan membuka kamera ponselnya, pura-pura melihat layar.

Handoko berbisik tajam, "Jenny."

Suparti menatap Jenny. "Menemani suami orang delapan hari setelah ibunya meninggal?"

Jenny menggigit bibir. "Aku tidak berniat menghancurkan rumah tangga siapa pun."

"Tidak berniat?" Suparti melangkah satu langkah mendekat. "Kalau tidak berniat, kenapa duduk di kursi depan mobil suamiku? Kenapa ikut ke kantor catatan sipil? Kenapa memanggilnya Ko Handoko di depan istrinya?"

Wajah Jenny memerah.

Handoko mengulurkan tangan hendak menarik Suparti menjauh. "Cukup. Jangan mempermalukan diri sendiri."

Telapak tangan Suparti bergerak lebih dulu.

Plak!

Suara tamparan itu membelah ruangan.

Kepala Handoko tersentak ke samping. Kacamata tipisnya nyaris terlepas. Semua orang membeku. Bahkan kipas angin tua di sudut ruangan terasa mendadak lebih keras.

Suparti menatapnya tanpa berkedip. Telapak tangannya panas, tetapi dadanya justru terasa lapang.

"Itu untuk tiga puluh empat tahun kau menyuruhku diam."

Handoko memegang pipinya, mata membesar. "Kau gila?"

Jenny refleks maju. "Ko Handoko!"

Suparti berbalik.

Plak!

Tamparan kedua mendarat di pipi Jenny.

Jenny terhuyung mundur, tangannya menutup pipi. Air matanya kali ini benar-benar keluar, entah karena sakit atau karena semua mata sedang menonton.

"Dan itu untuk perempuan yang berani datang ke rumah duka sebagai calon nyonya rumah."

"Bu Suparti!" Petugas loket berdiri panik.

Handoko menurunkan suara, tetapi kemarahannya membuat wajahnya gelap. "Kau akan menyesal."

"Aku sudah menyesal sekali," kata Suparti. "Menyesal karena dulu menikah denganmu."

Bisik-bisik berubah menjadi dengung.

Seseorang di belakang berkata pelan, "Itu Pak Rektor UCR, kan?"

"Iya, yang sering masuk berita."

"Perempuan itu siapa?"

"Sepertinya selingkuhannya."

Jenny menangis lebih keras. "Aku bukan selingkuhan. Kami punya masa lalu."

Suparti tertawa pendek. "Masa lalu tidak memberi hak untuk mencuri masa kini orang lain."

Handoko menunjuknya. "Jaga mulutmu."

"Kenapa? Takut orang mendengar?"

Suparti mengambil satu langkah ke tengah ruang tunggu, cukup dekat dengan pasangan muda yang dari tadi menahan napas. Ia mengangkat suaranya, bukan berteriak membabi buta, melainkan bicara jelas supaya setiap orang mendengar.

"Tiga puluh tahun lebih aku menjadi istri Prof. Dr. Handoko Susanto. Kalian tahu berapa uang bulanan yang ia berikan untuk kebutuhan rumah?"

Handoko bergerak maju. "Suparti, berhenti!"

"Seratus ribu rupiah."

Ruangan meledak dalam bisik tertahan.

Perempuan muda yang memegang ponsel langsung menatap layar, memastikan rekamannya berjalan. Seorang pria di belakang menggumam, "Seratus ribu? Buat parkir sama makan saja habis."

Suparti melanjutkan, "Seratus ribu rupiah untuk satu bulan. Untuk makan, sabun, minyak, tamu keluarga, semua. Di warung dekat rumah, uang itu hanya cukup untuk beberapa bungkus Indomie telur. Di kota besar, bahkan makan sederhana sekali saja bisa lebih mahal dari itu. Tapi pria ini menyuruhku bersyukur."

Wajah Handoko pucat karena marah.

"Kau memelintir fakta," katanya.

"Kalau begitu sebutkan faktanya." Suparti menantangnya. "Berapa uang yang kau berikan setiap bulan?"

Handoko diam.

Diamnya lebih keras daripada bantahan.

Jenny terisak, "Bu Suparti, masalah rumah tangga tidak perlu dibuka begini."

"Rumah tanggaku sudah kau masuki. Sekarang kau baru ingat malu?"

Beberapa orang tidak lagi pura-pura. Ponsel diangkat terang-terangan. Ada yang merekam, ada yang mengetik cepat. Petugas loket gelisah, tetapi tidak tahu harus menghentikan bagian mana lebih dulu.

Suparti kembali menatap Handoko. "Kau ingin cerai. Baik. Aku setuju. Tapi jangan kira aku akan keluar dari rumah itu seperti pembantu yang diusir setelah tua."

"Apa maumu?" tanya Handoko, suaranya rendah.

"Uang tunai satu juta rupiah sekarang. Untuk hotel malam ini."

Handoko tertawa sinis. "Kau baru saja bilang aku menelantarkanmu, sekarang langsung minta uang."

"Aku meminta biaya keluar dari rumahmu dengan layak. Murah sekali dibanding tiga puluh empat tahun hidupku."

Kevin yang sejak tadi menunggu di luar akhirnya masuk tergesa. Mungkin ia mendengar suara ribut dari pintu. "Ada apa ini?"

Ia melihat pipi Handoko memerah, Jenny menangis, dan beberapa ponsel mengarah ke mereka. Wajah Kevin langsung berubah.

"Mama, apa yang Mama lakukan?"

"Membuat semua orang melihat keluarga Susanto tanpa topeng."

"Mama mempermalukan Papa!"

Suparti menoleh kepadanya. "Papa kamu mempermalukan dirinya sendiri sejak membawa Jenny ke sini."

Kevin hendak merebut ponsel salah satu orang, tetapi petugas keamanan mendekat. "Pak, jangan ganggu pengunjung lain."

Kevin terpaksa mundur, napasnya kasar.

Handoko mengeluarkan dompet dengan gerakan kaku. Ia mengambil beberapa lembar uang, lalu menaruhnya di meja loket, bukan menyerahkan langsung.

"Ambil. Setelah ini jangan membuat keributan lagi."

Suparti menghitungnya di depan semua orang.

"Satu juta," katanya. "Untuk pertama kalinya, kau memberi uang sesuai yang diminta."

Handoko tampak ingin menamparnya balik. Tapi terlalu banyak kamera.

Suparti memasukkan uang itu ke tas. Lalu ia mengangkat tas kainnya sedikit. "Dokumenku ikut denganku. Kotak ini juga."

Mata Jenny menyipit singkat saat melihat kain merah itu. Gerakan kecil, tetapi Suparti menangkapnya.

Jadi Jenny tahu kotak ini penting.

Bagus.

Suparti memeluk tas kainnya lebih erat.

Petugas loket akhirnya berkata dengan suara hati-hati, "Bu, kalau Ibu membutuhkan informasi pengacara atau alur Pengadilan Negeri, kami bisa beri daftar layanan bantuan hukum."

"Terima kasih," jawab Suparti. "Saya akan mengurusnya hari ini."

Ia berbalik pergi.

Di belakangnya, Handoko memanggil dengan suara tertahan, "Suparti."

Suparti berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Jangan pikir kau bisa menang hanya karena membuat tontonan."

Suparti menoleh sedikit. "Aku tidak sedang membuat tontonan. Aku sedang berhenti menjadi tontonan kalian."

Lalu ia berjalan keluar.

Panas Surabaya menyambutnya di halaman kantor. Udara membuat kulitnya perih, tetapi untuk pertama kalinya setelah kembali hidup, ia merasa bisa bernapas penuh.

Di tangga belakang, perempuan muda yang tadi duduk di ruang tunggu berbisik kepada temannya sambil melihat layar ponsel.

"Upload saja. Kasih caption apa?"

Temannya menjawab cepat, "Istri rektor cuma dikasih seratus ribu sebulan. Gila."

Jari perempuan itu bergerak. Ikon TikTok terbuka.

Di layar kecil itu, wajah Suparti yang baru saja menampar Handoko mulai berulang dari awal.

Terpopuler

Comments

anggita

anggita

like👍 bunga🌹 buat Suparti👏💪.

2026-07-21

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!