Episode 3

Video itu sudah menyebar sebelum Suparti menemukan hotel murah.

Ia baru duduk di kursi plastik sebuah warung depan gang, memesan teh tawar hangat untuk menenangkan tenggorokan, ketika dua anak muda di meja sebelah tertawa tertahan sambil menonton ponsel.

"Ini yang tampar rektor itu?"

"Iya. Lihat caption-nya. Istri tiga puluh tahun cuma dikasih seratus ribu sebulan."

Suparti tidak menoleh.

Sendok kecil beradu dengan gelasnya. Bunyi itu pelan, tetapi cukup membuatnya sadar bahwa tangannya masih hidup, masih bisa memegang, masih bisa memilih. Dalam kehidupan sebelumnya, ia menunggu belas kasihan sampai tubuhnya habis. Hari ini, orang-orang yang tidak mengenalnya justru menjadi saksi.

Ia menyesap teh. Pahit, terlalu encer, tetapi hangat.

Ponselnya bergetar berkali-kali.

Kevin. Handoko. Nomor rumah. Kevin lagi.

Suparti mematikan suara.

Ia membuka map plastik dari tas kain. KTP, akta perkawinan, kartu keluarga, beberapa salinan dokumen lama. Kotak kayu berbalut kain merah tetap ia simpan di pangkuan, tertutup rapat. Belum waktunya dibuka. Ada urusan yang lebih mendesak.

Di lembar daftar bantuan hukum dari petugas Catatan Sipil, satu nama diberi lingkaran kecil dengan pulpen biru.

Cynthia Kho, S.H.

Kantor pengacara itu tidak besar. Letaknya di lantai dua ruko dekat jalan utama, di atas toko alat tulis dan fotokopi. Tangga sempitnya berbau kertas panas dan tinta. Suparti menaiki anak tangga satu per satu, lututnya agak kaku, tetapi ia tidak berhenti.

Resepsionis muda di depan meja memandangnya cepat dari ujung kepala sampai sandal yang sudah menipis.

"Ada janji, Bu?"

"Belum. Saya ingin konsultasi cerai gugat."

Kata itu terasa asing di lidah Suparti. Cerai gugat. Bukan diusir. Bukan dibuang. Ia yang menggugat.

Resepsionis itu sedikit lebih sopan setelah mendengar istilah hukum. "Sebentar, Bu. Bu Cynthia sedang selesai telepon."

Lima menit kemudian, pintu kaca buram terbuka.

Perempuan berusia sekitar empat puluhan berdiri di sana dengan blazer abu-abu gelap. Rambutnya dipotong sebahu, wajahnya bersih tanpa senyum berlebihan. Matanya tajam, tetapi tidak menghakimi.

"Bu Suparti Wijaya?"

Suparti berdiri. "Iya."

"Saya Cynthia Kho." Perempuan itu mengulurkan tangan. "Silakan masuk."

Ruangannya sederhana. Ada rak berisi map perkara, meja kerja penuh sticky note, dan satu gelas kopi hitam yang tinggal setengah. Di dinding, ijazah hukum dan izin advokat tergantung rapi.

Cynthia menutup pintu, lalu duduk di seberang Suparti. "Saya sudah lihat videonya."

Suparti memegang tali tasnya lebih kuat.

Cynthia tidak tertawa. Tidak bertanya kenapa ia menampar. Tidak berkata perempuan baik-baik seharusnya sabar.

Ia hanya mengambil buku catatan. "Saya perlu dengar versi Ibu dari awal."

Kalimat sesederhana itu membuat tenggorokan Suparti panas.

Tapi ia tidak menangis.

Ia bercerita. Tentang Handoko membawa Jenny ke rumah duka. Tentang Kevin yang membela ayahnya. Tentang uang bulanan seratus ribu rupiah. Tentang keinginannya bercerai, bukan lagi memohon supaya dipertahankan.

Cynthia mencatat cepat. Sesekali ia bertanya, "Ada bukti transfer?" atau "Rumah atas nama siapa?" atau "Aset yang Ibu tahu apa saja?"

Suparti membuka beberapa salinan dokumen. "Aku tidak tahu semua. Selama ini Handoko tidak pernah melibatkanku."

"Itu biasa dalam perkawinan yang timpang kuasa," kata Cynthia tenang. "Bukan berarti Ibu tidak punya hak."

Suparti mengangkat wajah.

Cynthia menyusun kertas di meja. "Untuk pasangan non-Muslim seperti Ibu dan Pak Handoko, perceraian diproses lewat Pengadilan Negeri. Karena Ibu yang mengajukan, kita pakai cerai gugat. Tidak ada istilah langsung selesai di Catatan Sipil hari ini. Setelah ada putusan berkekuatan hukum, baru perubahan status dicatat."

"Berapa lama?"

"Tergantung perkara dan perlawanan pihak sana. Tapi kita tidak menunggu pasif." Cynthia mengetuk satu dokumen dengan ujung pulpen. "Yang penting sekarang harta bersama."

Kata itu membuat Suparti menahan napas.

"Selama perkawinan, aset yang diperoleh bisa masuk kategori harta bersama," lanjut Cynthia. "Kalau ada indikasi Pak Handoko akan mengalihkan, menjual, atau menyembunyikan aset, kita ajukan permohonan sita marital atau tindakan pengamanan lewat pengadilan. Dalam praktik, kalau bukti awal cukup dan urgensinya jelas, penetapan awal bisa keluar beberapa hari kerja. Tidak selalu instan, tapi kita bisa bergerak cepat."

Suparti mengingat wajah Handoko di Kantor Catatan Sipil. Marah, malu, tetapi juga menghitung.

Pria itu pasti tidak akan diam.

"Dia punya banyak rumah," kata Suparti pelan. "Aku tidak tahu jumlahnya. Tapi aku pernah dengar Jenny menyebut beberapa alamat. Dan Handoko selalu bilang semua bukan urusanku."

Cynthia mencondongkan badan. "Kalau begitu kita buat daftar. Apa pun yang Ibu ingat, tulis. Nama bank, alamat, nomor sertifikat kalau ada, kendaraan, deposito, yayasan kampus, semua."

Suparti mengambil pulpen.

Tangannya sempat gemetar saat menulis alamat pertama. Bukan karena takut, melainkan karena untuk pertama kalinya ia menuliskan harta keluarga Susanto sebagai sesuatu yang juga bisa ia pertanyakan.

Cynthia memberi waktu.

Di luar ruangan, suara mesin fotokopi dari lantai bawah berdengung. Satu demi satu alamat muncul. Rumah utama. Ruko yang dulu disebut investasi kampus. Apartemen yang pernah secara tidak sengaja dibicarakan Kevin. Tanah di pinggiran Surabaya. Nama bank yang pernah ia lihat di amplop.

"Cukup untuk langkah awal," kata Cynthia setelah hampir satu jam. "Saya akan siapkan surat kuasa dan permohonan. Ibu perlu tanda tangan."

"Biayanya?"

Cynthia menyebut angka yang membuat Suparti terdiam. Tidak terlalu tinggi untuk ukuran perkara besar, tetapi tetap besar untuk perempuan yang baru meminta satu juta rupiah demi tidur di hotel.

Cynthia menangkap perubahan wajahnya. "Kita bisa atur bertahap. Tapi saya perlu jujur, perkara melawan orang seperti Pak Handoko tidak ringan."

Suparti mengeluarkan uang satu juta dari tasnya. Lembaran itu masih kaku karena tadi dilempar dari dompet Handoko ke meja loket.

"Ini uang pertama dari dia setelah tiga puluh tahun," kata Suparti. "Pakai untuk membuka perkara."

Cynthia memandang uang itu beberapa detik. Lalu ia mengangguk. "Baik. Kita pakai sebagai tanda jadi. Sisanya nanti dibicarakan."

Suparti menandatangani surat kuasa.

Namanya tertulis jelas di bawah tinta hitam: Suparti Wijaya.

Ia menatap tanda tangan itu lama.

Nama yang dulu terasa hanya menempel pada dapur, cucian, dan kesabaran, kini berdiri di atas dokumen hukum.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini bukan Handoko.

Nomor tidak dikenal.

Suparti mengangkat, meletakkannya di telinga. "Halo?"

"Selamat sore, apakah benar dengan Ibu Suparti Wijaya?" Suara perempuan terdengar dari seberang, formal dan datar.

"Iya."

"Kami dari bagian administrasi Rumah Sakit Bhakti Sehat Surabaya. Hasil pemeriksaan atas nama keluarga Susanto sudah bisa diambil. Mohon Ibu atau pihak keluarga datang secepatnya untuk mengambil laporan dokter."

Suparti mematung.

Hasil pemeriksaan.

Ia hampir lupa. Di kehidupan sebelumnya, tubuhnya sendiri baru diperiksa ketika semua sudah terlambat. Perut yang sering nyeri ia anggap masuk angin, muntah darah ia sembunyikan, sampai kanker memakan sisa tenaganya.

"Bu?" suara petugas memanggil.

Suparti mengerjap. "Saya bisa datang malam ini?"

"Bisa, Bu. Loket pengambilan hasil buka sampai pukul delapan."

"Baik. Terima kasih."

Panggilan terputus.

Cynthia memperhatikan wajahnya. "Ada masalah?"

Suparti menurunkan ponsel. "Rumah sakit meminta hasil pemeriksaan diambil."

"Pemeriksaan siapa?"

Suparti menatap layar ponsel yang mulai gelap.

Di sana, satu SMS masuk menyusul panggilan tadi.

Mohon segera mengambil hasil pemeriksaan dokter di RS Bhakti Sehat Surabaya.

Suparti menggenggam ponselnya.

"Atas nama keluarga Susanto," jawabnya pelan.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!