Episode 4

Rumah Sakit Bhakti Sehat Surabaya tidak berubah.

Cat dindingnya terlalu putih, lantainya terlalu licin, dan antrean BPJS di sisi kiri lobi masih panjang seperti ular yang kelelahan. Suparti berdiri di antara orang-orang yang memegang map, hasil rontgen, botol air mineral, dan wajah-wajah yang sama-sama menunggu kepastian.

Dulu, ia takut rumah sakit.

Bukan karena jarum suntik atau bau obat, tetapi karena rumah sakit selalu meminta uang sebelum memberi jawaban. Di kehidupan sebelumnya, ia menunda pemeriksaan karena uang belanja tidak cukup. Sakit perut ditahan, muntah disembunyikan, tubuh kurus dianggap akibat kurang makan. Saat akhirnya ia tahu penyakitnya, semuanya sudah terlambat.

Malam ini, ia datang bukan untuk meminta izin siapa pun.

Nomor antreannya dipanggil pukul tujuh lewat sedikit.

Petugas menyerahkan amplop putih dengan logo rumah sakit. "Ini hasil pemeriksaan keluarga Susanto. Dokter menyarankan konsultasi lanjutan secepatnya."

"Atas nama siapa?" tanya Suparti.

Petugas memeriksa layar. "Prof. Dr. Handoko Susanto."

Jari Suparti berhenti di tepi amplop.

"Bukan atas nama saya?"

"Bukan, Bu. Untuk Ibu Suparti, pemeriksaan umum terakhir tidak ada catatan darurat di sistem ini. Yang perlu segera dikonsultasikan adalah Pak Handoko."

Kata-kata itu masuk pelan, lalu menetap.

Suparti membawa amplop ke bangku tunggu dekat dispenser. Ia tidak langsung membukanya. Ada seorang anak kecil tertidur di pangkuan ibunya. Ada pria paruh baya batuk sambil memegang dada. Ada perawat mendorong kursi roda lewat cepat.

Dunia tetap berjalan.

Ia merobek ujung amplop.

Bahasa medis di lembar itu tidak semuanya ia pahami. Tapi beberapa kata cukup jelas. Lesi. Pemeriksaan lanjutan. Dugaan keganasan. Rujukan gastroenterologi. Stadium menengah yang harus segera dipastikan.

Di bagian bawah, ada catatan dokter dengan tinta biru.

Perlu evaluasi segera. Curiga kanker lambung.

Suparti membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Tidak ada tawa keluar dari mulutnya. Tidak ada sorak kemenangan. Hanya udara yang terasa masuk lebih dalam ke dada, seperti pintu yang lama terkunci tiba-tiba terbuka.

Jadi begitu rasanya melihat karma datang lebih cepat.

Di kehidupan sebelumnya, kanker menggerogoti tubuhnya karena ia terlalu miskin untuk memeriksa diri. Sekarang, penyakit itu mengetuk pintu Handoko. Pria yang dulu menolak memberinya uang berobat, pria yang menghitung seratus ribu rupiah seolah sudah cukup untuk hidup sebulan, kini memiliki laporan medis yang meminta perhatian segera.

Suparti melipat kertas itu dengan rapi.

"Bu, mau langsung daftar konsultasi?" tanya petugas lain yang lewat.

Suparti mengangkat wajah. "Tidak malam ini."

"Sebaiknya jangan ditunda kalau catatannya begini."

"Saya tahu."

Ia memasukkan kembali laporan ke amplop.

Tahu, bukan berarti harus menyelamatkan.

Di pintu keluar rumah sakit, udara malam Surabaya terasa lembap. Lampu kendaraan memantul di aspal. Suparti berdiri sebentar di tepi jalan, melihat halte kecil di seberang. Dulu, ia akan menelepon Handoko, melapor dengan panik, memintanya datang, lalu disalahkan karena membuat suasana buruk.

Sekarang ponselnya tetap diam di tas.

Ia berjalan ke halte.

Ada beberapa orang menunggu bus kota. Seorang mahasiswa memakai earphone. Dua pekerja perempuan berbagi gorengan. Suparti duduk di ujung bangku. Amplop putih itu ia letakkan di samping, tidak jauh dari tiang besi.

Ponselnya bergetar.

Handoko.

Ia membiarkan panggilan itu selesai.

Bergetar lagi.

Kevin.

Ia tetap diam.

Pesan masuk bertubi-tubi.

Papa: Kau di mana?

Kevin: Mama angkat telepon!

Papa: Jangan pikir video itu membuatmu hebat.

Suparti mematikan layar.

Bus datang dengan derit rem. Orang-orang bergerak naik. Suparti ikut berdiri, menenteng tas kain dan kotak kayu berbalut kain merah. Amplop putih tetap di bangku halte.

Mahasiswa yang duduk di dekat tiang melirik. "Bu, amplopnya ketinggalan."

Suparti menoleh.

Amplop itu putih di bawah lampu halte, terlalu mudah dilihat, terlalu mudah diambil orang yang merasa berhak.

"Oh," katanya pelan. "Bukan punyaku."

Ia naik ke bus.

Pintu menutup.

Saat bus bergerak, Suparti melihat dari kaca buram seorang pria paruh baya mengambil amplop itu, membaca nama di depannya, lalu memandang ke arah jalan dengan wajah bingung.

Suparti tidak menyesal.

Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, ia membiarkan urusan Handoko tidak menjadi urusannya.

Bus menurunkannya dekat pusat kuliner kecil yang masih ramai. Aroma sate, mi goreng, dan minyak panas langsung menyambut. Perut Suparti berbunyi pelan. Seharian ia hanya minum teh dan menahan emosi.

Dulu, kalau ada uang lebih sepuluh ribu rupiah, ia akan berpikir tiga kali sebelum membeli makanan sendiri. Kevin suka bakso, Vivian suka martabak, Handoko tidak suka lauk yang terlalu sederhana. Selalu ada orang lain yang harus didahulukan.

Malam itu, Suparti berdiri di depan gerai minuman dengan lampu warna-warni.

"Mau pesan apa, Bu?" tanya penjaga muda.

Suparti membaca menu lama. Banyak nama yang terdengar asing. Brown sugar. Cheese tea. Boba milk tea.

"Yang paling banyak dibeli orang," katanya.

"Brown sugar boba, Bu. Ukuran regular?"

Suparti mengangguk.

Saat gelas plastik itu berpindah ke tangannya, ia menatap butiran hitam di dasar minuman seperti melihat benda mewah. Harganya hampir seperempat uang bulanan yang dulu diberikan Handoko untuk satu bulan. Satu gelas minuman manis hampir setara dengan sebagian hidup yang dulu ia paksa cukupkan.

Ia menusuk sedotan.

Rasa gula merah dan susu memenuhi mulut. Terlalu manis, agak membuat enek, tetapi ia tetap menelannya. Lalu tertawa kecil sendirian.

Seorang ibu-ibu di sebelah menoleh. Suparti tidak peduli.

Ia membeli seporsi nasi goreng seafood dari gerobak di pojok. Duduk di kursi plastik merah. Makan perlahan, merasakan panas cabai di lidah, minyak di bibir, dan malam yang tidak lagi menunggunya pulang untuk mencuci piring keluarga Susanto.

Ponselnya berbunyi lagi.

Kali ini suara WhatsApp masuk dari Vivian.

Suparti menatap nama anak perempuannya beberapa detik sebelum menekan play.

Suara Vivian meledak dari speaker kecil.

"Mama ini sebenarnya mau apa? Video Mama sudah masuk grup keluarga! Teman-temanku juga lihat! Mama tidak malu mempermalukan Papa seperti itu? Usia sudah lima puluh, bukannya makin bijak malah bikin drama di kantor pemerintah!"

Suparti menaruh sendok.

Vivian masih bicara, napasnya cepat.

"Jenny itu urusan Papa. Kalau Mama tidak bisa mempertahankan rumah tangga, jangan bikin kami semua ikut malu. Kevin bilang Mama bahkan minta uang hotel di depan orang. Serendah itu?"

Suparti memandang nasi gorengnya yang masih mengepul.

Serendah itu.

Anak perempuan yang ia lahirkan, ia susui, ia bela saat sakit, kini memakai kata yang sama seperti keluarga Susanto lainnya.

Pesan suara kedua masuk.

"Mama jangan merasa paling tersakiti. Papa selama ini menanggung keluarga. Mama cuma di rumah. Kalau Papa mau hidup tenang, kenapa Mama tidak bisa mengalah?"

Suparti menghapus pesan suara itu sebelum selesai.

Ia membuka profil Vivian, menekan beberapa pilihan, lalu memblokir nomor itu.

Tidak ada upacara.

Tidak ada tangis.

Hanya satu sentuhan jari.

Setelah itu, dunia menjadi sedikit lebih sunyi.

Suparti mengambil sendok lagi dan menyuap nasi gorengnya. Pedasnya membuat mata berair. Kali ini, air mata itu bukan untuk Vivian.

Di halte yang sudah ia tinggalkan, amplop putih atas nama Prof. Dr. Handoko Susanto masih berpindah dari satu tangan penasaran ke tangan lain.

Dan malam Surabaya, untuk pertama kalinya, terasa milik Suparti sendiri.

Terpopuler

Comments

aku

aku

bu parti 😭😭 modelan kevin sm vivian adlh anak yg halal disantet bu 😌😌

2026-07-24

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!