Episode 5

Suparti bangun karena cahaya matahari, bukan karena alarm dapur.

Untuk beberapa detik, ia tidak tahu sedang berada di mana. Langit-langit putih. Seprai tipis berbau deterjen hotel. Suara AC tua berdengung dari sudut kamar. Tidak ada panci yang harus dicuci. Tidak ada suara Handoko meminta kopi. Tidak ada Kevin mengeluh sarapan terlalu sederhana.

Lalu ingatan kembali.

Ia berada di kamar hotel murah dekat terminal. Semalam ia membayar tunai, memperlihatkan KTP, lalu naik ke kamar dengan tas kain dan kotak kayu berbalut merah. Kamar itu sempit, catnya terkelupas di dekat jendela, tetapi pintunya bisa dikunci dari dalam.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh empat tahun, tidak ada yang membangunkannya.

Suparti duduk di tepi ranjang. Punggungnya pegal, lututnya kaku, tetapi hatinya ringan. Ia membuka tirai. Di bawah, jalan kecil sudah ramai. Tukang nasi pecel mendorong gerobak, pengemudi ojek online menunggu penumpang, seorang pekerja hotel menyapu halaman sambil menguap.

Hidup mandiri ternyata tidak langsung indah.

Tapi terasa jujur.

Ponselnya menyala dengan belasan panggilan tak terjawab.

Handoko.

Kevin.

Nomor rumah.

Nomor tak dikenal.

Ia baru selesai mandi ketika telepon Handoko masuk lagi. Suparti menatap layar sampai deringnya hampir habis, lalu mengangkat.

"Kau di mana?" suara Handoko langsung menghantam telinga.

"Hotel."

"Hotel mana?"

"Bukan urusanmu."

Hening satu detik. Mungkin Handoko belum terbiasa mendengar jawaban sesingkat itu dari istrinya.

"Pulang sekarang," katanya. "Rumah berantakan. Tidak ada sarapan. Jenny tidak mungkin mengurus semua ini."

Suparti mengeringkan rambut dengan handuk kecil hotel. "Kalau Jenny tidak bisa mengurus rumahmu, kenapa kau membawanya masuk?"

"Jangan kurang ajar."

"Aku hanya bertanya."

"Suparti, jangan lupa statusmu masih istriku."

"Justru karena masih istrimu, aku akan menggugat cerai dengan benar."

Handoko bernapas kasar. "Kau pikir pengacara murahan bisa melawanku?"

"Kita lihat nanti."

Ia menutup telepon.

Telepon Kevin masuk sebelum layar sempat gelap.

Suparti mengangkat karena ingin mendengar seberapa jauh anak itu akan melangkah pagi ini.

"Mama benar-benar keterlaluan," kata Kevin tanpa salam. "Papa semalaman tidak tidur. Video itu menyebar ke grup kantor. Mama mau menghancurkan karier Papa?"

"Papa kamu menghancurkannya sendiri."

"Mama jangan sok kuat. Tanpa Papa, Mama mau makan apa?"

Suparti memandang sandal hotel di lantai. Murah, tipis, tetapi bisa dipakai berjalan.

"Aku akan bekerja."

Kevin tertawa pendek. "Kerja apa? Usia Mama lima puluh. Ijazah saja tidak jelas. Jangan mempermalukan diri lagi."

Ada masa ketika kalimat itu akan menancap dalam. Sekarang, Suparti hanya merasa pintu lain di hatinya tertutup.

"Terima kasih sudah mengingatkan," katanya. "Aku akan mulai dari pekerjaan yang tidak membuatku harus melayani kalian."

"Mama!"

Suparti menutup telepon dan memblokir nomor Kevin untuk sementara.

Kamar menjadi tenang lagi.

Ia duduk di meja kecil, membuka roti tawar yang dibelinya di minimarket semalam. Sarapan pertamanya sebagai perempuan yang meninggalkan rumah Susanto: roti tawar, air mineral, dan sisa boba yang sudah terlalu manis. Tidak mewah. Tidak sehat. Tapi setiap suap masuk ke mulutnya sendiri dulu.

Pukul sepuluh, Cynthia menelepon.

"Bu Suparti, saya sudah memasukkan permohonan awal untuk pengamanan harta bersama," kata Cynthia tanpa basa-basi. "Pengadilan sudah menerima berkas. Kita tunggu tindak lanjut, tapi saya juga akan kirim surat peringatan kepada pihak Pak Handoko agar tidak mengalihkan aset."

Suparti berdiri di dekat jendela. "Secepat itu?"

"Kalau lawannya rektor terkenal yang sedang viral, kita juga harus bergerak sebelum dia membersihkan jejak."

Untuk pertama kalinya hari itu, Suparti tersenyum.

Cynthia melanjutkan, "Satu lagi. Ibu kemarin menyebut dugaan perselingkuhan Kevin. Kalau itu dipakai untuk membuka pola keluarga dan aliran dana, kita butuh bukti. Saya bisa kenalkan penyelidik swasta. Resmi, tapi biayanya tidak kecil."

Suparti memikirkan Kevin. Anak itu terlalu percaya diri. Di kehidupan sebelumnya, ia baru tahu sebagian kebusukannya ketika semuanya sudah terlambat. Kali ini ia tidak akan menunggu.

"Hubungi dia," kata Suparti. "Mulai dari Kevin."

"Baik. Saya kirim kontaknya. Jangan bergerak sendiri kalau menyangkut pengintaian. Ibu cukup beri informasi awal."

"Aku mengerti."

Setelah panggilan selesai, Suparti menghitung uang di dompet.

Sisa dari satu juta rupiah sudah berkurang untuk hotel, makan, fotokopi, dan ongkos. Angka yang dulu terasa besar di tangan seorang istri tanpa uang tunai kini menyusut cepat ketika ia benar-benar hidup sendiri.

Ia tidak bisa hanya mengandalkan perkara cerai.

Ia perlu makan besok.

Ia perlu ongkos.

Ia perlu uang untuk membayar Cynthia, penyelidik, dan hidup baru yang tidak akan dibangun dari belas kasihan.

Suparti memakai blus paling rapi yang ia punya, menyisir rambut, lalu keluar dari hotel dengan tas kain di bahu. Kotak kayu ia sembunyikan di koper kecil yang dikunci di kamar. Ia bertanya ke resepsionis, membaca tempelan lowongan di minimarket, lalu berjalan dari satu ruko ke ruko lain.

"Usia berapa, Bu?"

"Lima puluh."

"Maaf, kami cari yang lebih muda."

Di toko roti, manajernya berkata ia butuh orang yang bisa berdiri delapan jam dan mengoperasikan kasir digital. Di laundry, pekerja lama sudah cukup. Di kios pulsa, pemiliknya menatap tangan Suparti dan bertanya apakah ia bisa memakai aplikasi stok. Suparti menjawab jujur, belum, tetapi bisa belajar. Pemilik itu tersenyum sopan, lalu berkata akan menghubungi nanti.

Tidak ada yang menghubungi.

Menjelang siang, matahari membuat tengkuknya panas. Kaki Suparti nyeri. Sandalnya menggesek tumit sampai perih. Ia berhenti di depan sebuah restoran Kanton kecil di jalan belakang, papan namanya ditulis dengan huruf Latin dan karakter Mandarin yang sudah pudar.

Aroma bawang putih, minyak wijen, dan kaldu panas keluar dari pintu samping.

Di kaca depan tertempel kertas:

Dibutuhkan pekerja dapur. Cuci piring. Harian.

Suparti membaca tulisan itu lama.

Cuci piring.

Tiga puluh empat tahun ia mencuci piring keluarga Susanto tanpa gaji, tanpa libur, tanpa terima kasih. Hari ini, pekerjaan yang sama bisa memberinya uang sendiri.

Ia masuk lewat pintu samping.

Seorang perempuan gemuk berusia enam puluhan sedang memeriksa sayuran di dekat dapur. "Cari siapa?"

"Saya lihat lowongan cuci piring."

Perempuan itu menilai Suparti cepat. "Pernah kerja dapur?"

Suparti hampir tertawa. "Seumur hidup."

Perempuan itu mendengus kecil. "Kerja di rumah beda dengan restoran. Piring banyak, panas, tangan bisa pecah. Gaji harian seratus lima puluh ribu, makan sekali. Kalau kuat, mulai sekarang."

Seratus lima puluh ribu.

Lebih besar dari uang bulanan yang diberikan Handoko untuk satu bulan.

Suparti menatap bak cuci besar di belakang. Piring bertumpuk, mangkuk berminyak, wajan hitam, suara koki berteriak minta pesanan. Tubuhnya tahu pekerjaan ini akan menyakitkan. Punggungnya akan pegal. Tangannya akan bau sabun dan lemak.

Tapi kali ini, setiap tetes lelah miliknya sendiri.

"Saya mulai sekarang," katanya.

Pemilik restoran itu menunjuk celemek plastik. "Pakai itu. Jangan lambat. Jam makan siang sebentar lagi ramai."

Suparti mengangguk. "Baik."

Dua jam pertama membuat lengannya seperti bukan miliknya. Air panas menggigit kulit. Sabun masuk ke luka kecil di jari. Piring datang tanpa habis, dari pelayan, dari koki, dari meja tamu. Suara dapur bertumpuk: wajan, pisau, teriakan nomor meja, printer pesanan.

Namun Suparti tidak berhenti.

Setiap kali punggungnya protes, ia mengingat suara Kevin: Tanpa Papa, Mama mau makan apa?

Ini jawabannya.

Ia makan dari tangannya sendiri.

Menjelang sore, pemilik restoran menyodorkan semangkuk bubur polos dengan potongan ayam. "Makan lima menit. Habis itu bantu buang sampah belakang."

"Terima kasih."

Suparti duduk di bangku kecil dekat pintu dapur. Bubur itu sederhana, tetapi hangat. Ia baru menyuap dua kali ketika suara tawa pria dari koridor samping membuat tangannya berhenti.

Suara itu terlalu dikenalnya.

Kevin.

Suparti menoleh perlahan.

Dari celah pintu menuju ruang belakang restoran, ia melihat Kevin berjalan cepat sambil merangkul pinggang seorang perempuan muda berambut dicat cokelat. Perempuan itu tertawa manja, membawa tas branded kecil. Di sisi lain, seorang gadis kecil dengan pita kuning di rambut mengikuti mereka sambil menggenggam boneka kelinci lusuh.

Kevin menunduk, mengusap kepala anak itu dengan gerakan yang terlalu akrab.

"Bubu, jalan pelan. Papa pesan udang dulu, ya."

Sendok di tangan Suparti berhenti di udara.

Di balik uap bubur yang naik, wajah Kevin terlihat jelas.

Begitu juga wajah perempuan asing itu.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!