Janda Tua yang Bangkit Jadi Konglomerat

Janda Tua yang Bangkit Jadi Konglomerat

Episode 1

Asap dupa di ruang tengah keluarga Susanto belum benar-benar hilang ketika Suparti membuka mata dan menyadari dirinya kembali hidup.

Foto mendiang ibu Handoko masih berdiri di meja kecil dekat dinding. Pita hitam di sudut bingkainya belum dilepas. Delapan hari lalu, perempuan tua itu baru dimakamkan. Delapan hari setelah rumah ini dipenuhi suara doa dan bau bunga tabur, Handoko sudah membawa Jenny duduk di sofa keluarga, seolah duka bisa digeser begitu saja untuk memberi tempat bagi perempuan lain.

Suparti berdiri di ambang ruang tengah dengan tangan masih memegang lap dapur.

Lantai dingin di bawah telapak kakinya. Dinding krem yang sudah menguning. Gorden cokelat yang pernah ia cuci sendiri sampai tangannya pecah-pecah. Semua sama.

Hanya satu hal yang berbeda.

Ia masih bernapas.

Dalam kehidupan sebelumnya, napas terakhirnya tersangkut di lorong rumah kontrakan sempit, sendirian, lapar, dan terlalu lemah untuk memanggil siapa pun. Anak-anak yang ia lahirkan tidak datang. Suami yang ia layani tiga puluh empat tahun tidak menoleh. Sampai tubuhnya ditemukan tetangga, dingin di dekat pintu yang tidak sempat ia kunci.

Kali ini tidak.

Kali ini, ia tidak akan mati sambil menunggu belas kasihan keluarga Susanto.

"Suparti."

Suara Handoko menariknya kembali ke ruang tengah.

Pria itu duduk dengan punggung tegak. Kemeja batiknya licin, jam tangannya berkilat, wajahnya masih memakai ketenangan seorang rektor yang terbiasa didengar. Di sampingnya, Jenny menunduk dengan gaun hitam sederhana. Rambutnya disanggul rendah. Sekilas ia tampak seperti orang yang datang melayat.

Tapi jari-jarinya bertaut manis di pangkuan, dan cincin tipis di tangannya memantulkan cahaya pagi.

Kevin berdiri dekat lemari kaca, lengan terlipat di dada. Anak laki-laki yang dulu pernah ia gendong semalaman saat demam itu kini menatapnya seperti menatap pelayan yang lambat mengerti perintah.

"Duduk," kata Handoko.

Suparti tidak duduk.

Ia meletakkan lap dapur di sandaran kursi makan, lalu berjalan masuk dengan langkah pelan. Matanya melewati meja tamu, melewati cangkir teh yang belum disentuh Jenny, lalu berhenti pada sebuah kotak kayu kecil yang terbungkus kain merah di rak bawah altar keluarga.

Kotak itu masih ada.

Jantung Suparti berdenyut sekali, keras. Ia menahan diri untuk tidak langsung mengambilnya.

"Aku tidak punya banyak waktu," lanjut Handoko. "Kita bicarakan baik-baik hari ini."

Baik-baik.

Kata itu hampir membuat Suparti tertawa.

Tiga puluh empat tahun pernikahan mereka, berapa kali Handoko memakai kata baik-baik untuk memaksanya diam? Baik-baik saat uang belanja dipotong. Baik-baik saat mertuanya memaki. Baik-baik saat Jenny muncul lagi dalam hidup mereka dan semua orang berpura-pura tidak melihat.

"Mama," Kevin akhirnya bersuara, nada suaranya dibuat sabar. "Papa sudah mempertimbangkan semuanya. Jangan keras kepala."

Suparti menoleh kepadanya. "Keras kepala?"

Kevin menghela napas, seperti orang yang sudah lelah menghadapi perempuan tua yang tidak tahu diri. "Mama tahu posisi Papa. Papa tokoh kampus. Pak Rektor. Kalau rumah tangga ini terus dingin begini, orang luar juga akan bicara macam-macam."

"Orang luar?" Suparti mengulang pelan.

"Reputasi keluarga," kata Kevin. "Mama harus pikirkan itu."

Reputasi.

Selama hidupnya, keluarga Susanto selalu punya kata indah untuk menutup luka yang mereka buat. Reputasi. Bakti. Kesabaran. Pengertian. Semua terdengar mulia, sampai dipakai untuk mengikat lehernya.

Jenny mengangkat wajah sedikit. Matanya basah, tetapi air mata itu tidak jatuh.

"Bu Suparti, aku benar-benar tidak ingin membuat keadaan sulit," ucapnya lembut. "Kalau memang kehadiranku menyakiti Ibu, aku bisa pergi dulu."

Pergi dulu.

Tapi tubuhnya tidak bergerak.

Suparti memandang perempuan itu. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah percaya pada wajah seperti itu. Wajah yang tampak merasa bersalah, suara yang seolah tidak ingin merebut apa pun, tangan yang diam-diam menggenggam semua yang bukan miliknya.

Handoko menoleh kepada Jenny, lalu berkata dengan suara lebih rendah, "Kamu tidak perlu pergi. Ini memang harus diselesaikan."

Kevin ikut mengangguk. "Mama, Tante Jenny juga korban keadaan. Jangan semua disalahkan ke dia."

Suparti menatap putranya lebih lama.

Korban keadaan.

Jadi perempuan yang datang ke rumah duka delapan hari setelah neneknya meninggal adalah korban. Laki-laki yang membawa selingkuhan ke sofa keluarga adalah korban. Anak yang berdiri membela ayahnya juga korban.

Lalu ia apa?

Perempuan yang diberi uang bulanan seratus ribu rupiah selama puluhan tahun, apa namanya?

Suparti menunduk sebentar. Di atas meja, ada piring kue kering sisa tamu melayat. Dulu ia yang membeli bahan, ia yang memanggang, ia yang menata di toples supaya rumah ini tetap terlihat pantas menerima orang. Seratus ribu rupiah sebulan. Bahkan di warung kecil dekat perumahan, uang itu bisa habis untuk beberapa bungkus Indomie dan telur. Di Jakarta, satu paket makan sederhana saja bisa membuat angka itu terasa seperti lelucon.

Tapi dari angka kecil itulah Handoko membangun tembok malu di sekeliling hidupnya.

"Suparti," kata Handoko lagi. Kali ini suaranya lebih tegas. "Aku ingin bercerai."

Ruang tengah mendadak sunyi.

Di luar, suara penjual sayur lewat dengan pengeras kecil. Suaranya samar, seperti berasal dari dunia lain. Di dalam rumah, hanya ada bunyi jam dinding dan napas Jenny yang dibuat pelan.

Suparti mengangkat wajah.

Handoko tampak sudah menyiapkan kalimat panjang. Ia mengatur posisi duduk, menaruh kedua tangan di lutut, lalu mulai bicara seperti sedang membuka rapat senat kampus.

"Kita sudah sama-sama tua. Anak-anak juga sudah besar. Ibu sudah tidak ada. Aku rasa tidak ada gunanya mempertahankan hubungan yang hanya tinggal nama. Aku akan memberi kamu tempat tinggal sementara dan sejumlah uang. Secukupnya."

"Secukupnya," ulang Suparti.

Handoko mengerutkan alis. Mungkin ia baru sadar Suparti belum sekali pun memohon.

"Aku tidak akan membiarkan kamu terlantar," katanya.

Di kehidupan sebelumnya, kalimat itu juga pernah ia dengar. Setelah itu, ia tinggal di rumah kontrakan bocor, menghitung nasi sisa, dan menunggu transfer yang semakin jarang datang. Ia menunggu sampai tubuhnya habis sendiri.

Kevin maju setengah langkah. "Mama harus realistis. Papa juga berhak bahagia."

"Lalu Mama tidak berhak?" tanya Suparti.

Kevin tampak terganggu. "Bukan begitu. Tapi Mama selama ini juga hidup dari Papa. Semua orang tahu itu."

Kalimat itu jatuh lebih dingin daripada lantai.

Suparti menatap wajah anaknya. Ada bagian kecil di dadanya yang dulu pasti hancur mendengar ucapan itu. Tapi bagian itu sudah mati di lorong rumah kontrakan bersama tubuh lamanya.

Yang tersisa hanya tenang.

"Aku hidup dari Papa kamu?" tanyanya.

Kevin membuka mulut, tetapi Handoko lebih dulu mengangkat tangan.

"Jangan mulai memperbesar masalah."

"Aku hanya bertanya."

"Kamu tidak perlu merasa tersinggung," kata Handoko, mulai kehilangan sabar. "Selama ini aku tetap memberi kamu uang bulanan."

Suparti tersenyum tipis.

Jenny menunduk lebih dalam, tetapi sudut bibirnya sempat bergerak.

"Berapa?" tanya Suparti.

Handoko terdiam.

"Uang bulanan yang membuatku harus berterima kasih itu, berapa?"

Kevin menyela cepat, "Mama, ini bukan waktunya menghitung begitu."

"Justru ini waktunya."

Suara Suparti tidak tinggi. Tidak juga bergetar. Tapi Kevin berhenti bicara.

Handoko menatapnya tajam. "Aku memberi sesuai kebutuhan rumah."

"Seratus ribu rupiah."

Jenny akhirnya mengangkat kepala.

Suparti memandang Handoko tanpa berkedip. "Tiga puluh tahun lebih, kau memberiku seratus ribu rupiah sebulan dan menyebutnya kebutuhan rumah. Untuk makan. Untuk sabun. Untuk minyak. Untuk tamu keluarga Susanto yang datang tanpa henti. Untuk menjaga rumahmu tetap terlihat terhormat."

Wajah Handoko mengeras. "Jangan bicara seolah aku menelantarkanmu."

"Kalau bukan menelantarkan, namanya apa?"

"Suparti!" bentak Handoko.

Jenny segera menyentuh lengan Handoko. "Ko Handoko, jangan marah. Bu Suparti mungkin masih berduka."

Masih berduka.

Suparti menoleh padanya. "Yang meninggal ibunya Handoko. Kenapa kau yang duduk di sini seperti calon nyonya rumah?"

Wajah Jenny pucat seketika.

Kevin langsung naik suara. "Mama, jaga ucapan!"

"Aku sudah menjaga ucapan tiga puluh empat tahun, Kevin." Suparti menatap putranya. "Hasilnya apa? Hari ini kamu berdiri di sana, membela perempuan yang dibawa ayahmu ke rumah duka nenekmu sendiri."

Kevin tersentak. "Ini tidak sesederhana itu."

"Memang tidak sederhana," jawab Suparti. "Makanya aku tidak akan menyederhanakannya lagi dengan diam."

Handoko berdiri. Tubuhnya tinggi, bayangannya jatuh ke meja tamu.

"Cukup. Kalau kamu ingin uang lebih, katakan saja. Jangan mempermalukan semua orang."

Dulu, kalimat seperti itu akan membuat Suparti menunduk. Dulu ia takut disebut mata duitan. Takut dianggap perempuan tidak tahu diri. Takut anak-anaknya malu.

Sekarang ia hanya merasa lucu.

"Uang lebih?" Suparti berkata pelan. "Kau membawa Jenny ke rumah ini delapan hari setelah ibumu meninggal, meminta cerai, lalu masih merasa aku yang mempermalukanmu?"

Handoko menahan napas. Jenny menutup mulutnya dengan punggung tangan, seperti hendak menangis.

Kevin memandang Suparti dengan campuran marah dan bingung. Ia seolah tidak mengenal perempuan di depannya.

Memang tidak.

Mereka tidak pernah mengenal Suparti yang pulang dari kematian.

"Aku tidak akan berdebat sepanjang pagi," kata Handoko dingin. "Kita ke kantor catatan sipil sekarang. Aku sudah minta Kevin menyiapkan berkas awal. Setelah itu proses hukum bisa diurus."

Suparti melirik kotak kayu berbalut kain merah sekali lagi.

Ia harus membawa kotak itu pergi.

Tapi bukan dengan tangan tergesa. Lebih dulu, ia harus membuat mereka percaya bahwa ia masih perempuan tua yang bisa digeser begitu saja, supaya ketika pukulan pertama jatuh, tidak ada satu pun dari mereka sempat berlindung.

Handoko mengira diamnya adalah ketakutan.

"Bagaimana?" tanyanya. "Kamu setuju?"

Ruang tengah menunggu jawaban itu.

Jenny menahan napas. Kevin menatapnya tajam. Di meja kecil, asap dupa terakhir meliuk tipis di depan foto mendiang ibu Handoko, seperti saksi yang juga enggan bersuara.

Suparti mengusap telapak tangannya ke sisi kain rumah yang ia kenakan. Gerakan kecil itu menghapus sisa gemetar yang tadi sempat muncul ketika ia pertama kali sadar dirinya hidup lagi.

Lalu ia menatap Handoko.

"Setuju."

Satu kata itu jatuh begitu ringan, sampai seisi ruangan tidak langsung mengerti.

Kevin berkedip. "Mama bilang apa?"

Suparti mengulang, lebih jelas, "Aku setuju bercerai."

Jenny membeku. Tangan yang tadi menempel di lengan Handoko turun perlahan.

Handoko justru tidak tampak lega. Wajahnya berubah kaku, seolah jawaban yang ia tunggu seharusnya berupa tangisan, permohonan, atau setidaknya pertengkaran panjang yang bisa membuatnya merasa menang.

Suparti tersenyum tipis.

"Kalau begitu kita pergi sekarang," katanya. "Dan kali ini, Handoko, pastikan semua berkasmu ikut."

Warna di wajah Handoko berubah dalam sekejap.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!