Episode 2

Bab 2: Ko Ethan

Ko Ethan turun tanpa tergesa.

Setiap langkahnya di tangga marmer terdengar jelas, rapi, dingin, seperti ketukan palu kecil di ruang sidang. Tidak ada yang berani berbisik lagi. Bahkan perempuan yang sejak tadi paling percaya diri kini menunduk sambil merapikan map di dadanya.

Keira tetap berdiri di tempatnya.

Dari jarak beberapa meter, ia bisa melihat pria itu lebih jelas. Wajahnya tidak setajam kemarahan, tetapi lebih menakutkan karena tidak menunjukkan apa pun. Matanya menyapu aula, bukan seperti melihat manusia, melainkan seperti membaca laporan kerugian.

"Ko Ethan," sapa Bi Sari sambil menunduk.

Pria itu berhenti di depan meja seleksi. "Berapa yang lolos berkas?"

"Seratus dua belas, Ko."

"Terlalu banyak."

Hanya dua kata, tetapi beberapa pelamar langsung pucat.

Bi Sari tidak membantah. "Tes praktik akan dimulai setelah ini."

"Tidak perlu menunggu." Ethan mengambil satu map teratas, membuka sekilas, lalu menutupnya kembali. "Aku wawancara langsung."

Kali ini, kegugupan di aula berubah menjadi sesuatu yang nyaris bisa disentuh.

Keira mendengar seseorang di belakangnya menggumam lirih, "Ya Tuhan."

Ethan mengangkat wajah. "Pertanyaan pertama. Kenapa kalian datang ke Kediaman Ciu?"

Beberapa pelamar saling pandang, seakan kalimat itu perangkap yang bentuknya terlalu sederhana.

Seorang perempuan maju lebih dulu. "Saya mencintai anak-anak, Ko Ethan. Saya ingin mengabdikan kemampuan saya untuk keluarga Ciu."

Ethan tidak bereaksi. "Jawaban hafalan. Mundur."

Wajah perempuan itu langsung merah.

Pelamar kedua mencoba lebih berani. "Saya punya pengalaman tujuh tahun di keluarga ekspatriat. Saya yakin bisa memberi standar terbaik."

"Aku tidak bertanya pengalamanmu."

Perempuan itu terdiam.

Pelamar ketiga menjawab terlalu cepat, "Saya butuh pekerjaan, Ko. Gajinya besar dan saya bisa bekerja keras."

Ethan menatap Bi Sari. "Coret."

Suara pena Bi Sari di kertas terdengar halus, tetapi bagi perempuan itu seperti pintu yang ditutup.

"Ko Ethan, saya hanya jujur," protesnya lirih.

"Kami tidak membutuhkan orang yang melihat bayi keluarga ini sebagai angka di slip gaji."

Tidak ada yang berani membela.

Keira merasakan kalimat itu mengenai dirinya juga. Beberapa pelamar yang mendengar jawabannya kepada Bi Sari tadi mulai meliriknya, ada yang diam-diam tersenyum puas, seolah giliran Keira tinggal menunggu.

Pertanyaan itu berlanjut dari satu orang ke orang lain.

Yang terlalu manis dianggap palsu. Yang terlalu ambisius dianggap berbahaya. Yang terlalu takut langsung disuruh mundur. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, separuh barisan sudah kehilangan warna dari wajahnya.

Lalu staf membawa sebuah boneka bayi latihan.

Boneka itu diletakkan di meja kecil, lengkap dengan selimut, botol kosong, dan monitor simulasi. Dari pengeras suara kecil di dalamnya, tangis bayi mendadak pecah, melengking dan berulang.

Beberapa pelamar tersentak.

"Pertanyaan kedua," kata Ethan. "Bayi menangis terus-menerus setelah minum. Suhu normal. Popok bersih. Apa yang kalian lakukan?"

Satu demi satu pelamar maju. Ada yang langsung mengangkat boneka terlalu tinggi. Ada yang menepuk punggung terlalu keras. Ada yang panik mencari dot. Ada yang sibuk menjelaskan teori tanpa menyentuh bayi sama sekali.

Ethan menonton tanpa ekspresi.

"Bayi bukan presentasi PowerPoint," ucapnya saat seorang pelamar membaca catatan dari ponsel. "Mundur."

Keira menahan napas.

Ketika gilirannya hampir tiba, ia memperhatikan boneka itu, posisi selimut, sudut kepala, dan bunyi tangis yang diputar berulang. Ini simulasi sederhana, tetapi tangan yang panik bisa membuat kesalahan yang nyata.

"Nomor seratus delapan puluh tujuh," panggil Bi Sari.

Keira maju.

Ia tidak langsung menggendong boneka. Pertama, ia mencuci tangan dengan hand sanitizer yang disediakan. Kedua, ia menyentuh bagian leher boneka seolah memeriksa suhu. Ketiga, ia mengangkatnya perlahan, menopang kepala dan punggung, lalu memiringkan tubuh kecil itu di bahunya.

Tangis simulasi masih terdengar.

"Jelaskan," kata Ethan.

"Kalau suhu normal, popok bersih, dan baru selesai minum, saya cek kemungkinan masuk angin, reflux ringan, atau bayi butuh sendawa," jawab Keira. Tangannya menepuk pelan, ritmenya terukur. "Untuk bayi di bawah enam bulan, saya tidak akan memberi air. Hanya ASI atau susu formula sesuai instruksi dokter. Saya juga tidak mengguncang dan tidak memaksa bayi diam. Tangis bukan musuh. Itu informasi."

Untuk pertama kalinya, suara tangis boneka terasa lebih kecil daripada keheningan aula.

Ethan menatap tangannya.

"Kau yakin dengan ritme itu?"

"Untuk bayi baru lahir, tekanan harus lebih ringan dari orang dewasa. Punggungnya bukan pintu yang harus diketuk keras."

Ada yang menahan tawa, tetapi cepat bungkam saat Ethan melirik.

"Cukup."

Keira meletakkan boneka kembali dengan posisi kepala aman. Ia mundur satu langkah.

Ethan tidak memuji. Namun ia juga tidak berkata mundur.

Tes berlanjut.

Pertanyaan ketiga lebih kejam.

Ethan memberi isyarat kepada seorang staf. Layar besar di sisi aula menyala, menampilkan daftar singkat hasil verifikasi. Nama beberapa pelamar muncul dengan catatan merah.

Pernah menyembunyikan riwayat penyakit menular.

Memalsukan lama pengalaman kerja.

Rekomendasi tidak valid.

Suasana langsung pecah dalam bisik tertahan.

"Yang namanya ada di layar, keluar," kata Ethan.

"Ko, itu salah paham," seorang perempuan mencoba maju. "Saya cuma lupa mencantumkan..."

"Keluar."

Satu kata itu cukup.

Satpam di dekat pintu bergerak. Tidak kasar, tetapi jelas tidak memberi ruang tawar.

Keira melihat satu demi satu pelamar meninggalkan aula. Ada yang menangis. Ada yang marah. Ada yang menatap lantai seperti semua masa depannya jatuh di sana.

Namanya tidak muncul di layar.

Namun Ethan tiba-tiba mengambil map plastik bening miliknya.

"Keira Lo."

Dada Keira mengeras. "Ya, Ko Ethan."

"Lulusan panti asuhan berbasis gereja. Tidak punya orang tua. Pernah bekerja di klinik bersalin kecil di Klaten, lalu mengambil sertifikat baby care. Tidak ada keluarga inti yang tercatat, kecuali satu saudari kembar."

Keira tidak bergerak.

Kiara.

Nama itu tidak diucapkan Ethan, tetapi rasanya tetap seperti seseorang menyentuh luka yang belum kering.

"Dalam berkas kesehatanmu, ada bekas luka bakar di tangan kanan." Ethan mengangkat matanya. "Dari mana?"

Semua tatapan kembali menempel pada Keira.

Ia bisa berbohong. Bisa bilang kecelakaan dapur, air panas, setrika. Semua alasan itu aman. Tidak ada yang peduli cukup lama untuk membuktikan.

Tapi mata Ethan terlalu dingin untuk diberi cerita yang mudah.

Keira diam tiga detik.

"Kehidupan yang meninggalkannya," jawabnya.

Beberapa orang tampak bingung. Bi Sari menoleh sedikit.

Ethan tidak.

Ia justru menatap Keira lebih lama daripada pelamar lain. Bukan iba. Bukan tertarik. Lebih seperti seseorang menemukan angka yang tidak cocok dalam laporan yang seharusnya rapi.

"Jawaban yang tidak menjawab."

"Ada hal yang tidak mengganggu pekerjaan, Ko Ethan. Jadi tidak perlu saya jual sebagai cerita sedih."

Udara kembali menipis.

Bi Sari menahan napas pelan. Staf di belakang meja berhenti menulis. Di antara puluhan orang yang tersisa, tidak ada yang berani memandang Ethan terlalu lama.

Ethan menutup map Keira.

"Sisa sepuluh orang."

Bi Sari segera membaca daftar. Nama demi nama jatuh seperti keputusan hakim. Keira mendengar nomor enam puluh dua, empat belas, sembilan puluh, seratus lima. Bukan namanya.

Jarinya meremas ujung map.

Kalau ia gagal di sini, ia harus pulang ke Sriwedari dengan uang sisa yang bahkan tidak cukup untuk satu kali konsultasi Kiara. Ia bisa mencari pekerjaan lain, tentu. Tapi pekerjaan lain tidak membayar lima puluh juta. Pekerjaan lain tidak membuka pintu rumah sakit yang selama ini hanya bisa ia lihat dari brosur.

"Nomor seratus delapan puluh tujuh."

Keira nyaris tidak bernapas.

Bi Sari meliriknya. "Keira Lo."

Beberapa pelamar langsung menoleh. Perempuan yang tadi mengejeknya tampak tidak percaya.

Keira belum sempat merasa lega ketika suara Ethan memotong udara.

"Tiga hari masa percobaan."

Ia menatap Keira, datar.

"Satu kesalahan, kau pergi sendiri ke Bi Sari untuk mengambil uang pesangon. Aku tidak mengulang kesempatan kedua."

Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada tanda diterima.

Nada suaranya seperti sedang mengumumkan sebuah eksperimen yang sejak awal ia yakini akan gagal.

Terpopuler

Comments

sunaryati jarum

sunaryati jarum

Ko Ethan kaku tapi teliti

2026-07-29

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
Episodes

Updated 200 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!