Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Episode 1

Bab 1: Seleksi

Lantai marmer di aula Kediaman Ciu terlalu mengilap untuk koper tua Keira Lo.

Roda koper itu berbunyi seret setiap kali ia menggesernya sedikit. Suara kecil itu tenggelam di bawah ketukan heels, gesekan kain mahal, dan bisik-bisik perempuan yang sejak tadi berdiri melingkar seperti sedang menunggu audisi hidup mereka.

Pagi masih basah oleh hujan. Di luar, halaman luas kediaman itu berkilau, dijaga dua lapis gerbang dan satpam berseragam rapi. Di dalam, udara dingin dari pendingin ruangan menempel di kulit Keira sampai ia sadar telapak tangannya lembap.

Hampir dua ratus pelamar memenuhi aula. Sebagian memakai setelan putih bersih seperti perawat klinik swasta. Sebagian membawa map tebal, tas bermerek, dan cerita pengalaman bekerja di rumah pejabat.

Keira hanya membawa satu koper kain hitam yang sudutnya sudah terkelupas, satu map plastik bening, dan ponsel Android dengan retak halus di dekat kamera depan.

"Nomor seratus delapan puluh tujuh."

Bi Sari berdiri di depan meja panjang. Kebayanya rapi, rambutnya disanggul rendah, dan tatapannya bergerak dari kepala sampai ujung sepatu setiap pelamar tanpa terburu-buru. Ia tidak perlu meninggikan suara. Semua orang tetap mendengarnya.

"Keira Lo," ucap Bi Sari, membaca berkas. "Usia dua puluh satu. Sertifikat baby care specialist dari yayasan pelatihan swasta. Pengalaman merawat bayi baru lahir dua tahun. Tidak ada catatan kriminal. Hasil tes kesehatan lengkap."

Beberapa kepala menoleh.

Dua puluh satu tahun terdengar terlalu muda di ruangan ini.

Seorang perempuan di sebelah Keira tersenyum tipis. "Masih muda sekali. Ini bukan kerja menjaga keponakan sendiri, lho."

Bi Sari menurunkan berkas sedikit. Matanya berhenti di wajah Keira, turun ke bahu sempitnya, lalu ke tangan kanannya.

"Terlalu muda," katanya datar. "Terlalu kurus."

Bi Sari melangkah mendekat. "Tanganmu ada bekas luka."

Keira menunduk sekilas. Di punggung tangan kanannya, bekas luka bakar itu memang tampak jelas, lebih pucat dari kulit di sekitarnya. Ia sudah biasa melihat orang-orang memandangnya seperti melihat cacat pada barang yang akan dibeli.

"Itu tidak mengganggu pekerjaan saya, Bi Sari," jawab Keira.

Suaranya tenang. Tidak keras, tidak juga meminta iba.

Alis Bi Sari naik sedikit. "Di Kediaman Ciu, pengasuh bayi bukan hanya harus bisa menggendong dan mengganti popok. Kalian akan merawat cucu keluarga Ciu. Satu kesalahan kecil bisa menjadi masalah besar. Kami tidak menerima orang ceroboh, orang serakah, atau orang yang membawa masalah pribadi ke dalam rumah ini."

Kata serakah membuat beberapa pelamar saling pandang.

Keira tahu ia tidak bisa melakukan itu.

Ia memang datang untuk uang.

Rp 50 juta sebulan. Untuk sebagian orang di ruangan ini, uang itu mungkin hanya harga satu tas. Untuk Keira, itu berarti konsultasi neurologi Kiara di rumah sakit swasta, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan biaya transportasi dari Sriwedari ke Jakarta tanpa harus meminjam dari siapa pun.

"Semua pelamar sudah menyerahkan hasil pemeriksaan kesehatan?" tanya Bi Sari.

"Sudah, Bi," jawab beberapa staf serempak.

"Tes narkoba?"

"Sudah."

"Pelatihan pertolongan pertama bayi?"

"Akan diuji langsung setelah seleksi berkas."

Bisik-bisik mulai naik lagi. Kali ini lebih gugup.

Keira menarik napas pelan. Lima puluh juta. Setiap kali angka itu muncul, lehernya seperti dicekik oleh harapan sendiri.

Ponselnya bergetar di saku rok hitamnya.

Ia menunggu sampai perhatian Bi Sari berpindah, lalu menunduk sedikit dan membuka layar.

Satu pesan dari Kak Anisa.

Kia sudah bangun. Hari ini dia gambar kucing oranye lagi.

Di bawah pesan itu ada foto.

Kiara duduk di lantai kamar kecil di Desa Sriwedari. Dinding di belakangnya kusam, catnya mengelupas di dekat jendela. Rambutnya diikat asal, senyumnya miring seperti anak kecil yang baru menemukan rahasia menyenangkan.

Di kertas gambar, seekor kucing oranye berdiri di bawah matahari besar.

Keira menatap foto itu lebih lama dari yang seharusnya.

Kak.

Kata itu tidak ia ucapkan. Hanya bergerak di dalam dada.

Kiara lebih tua tujuh menit darinya. Dulu, kakaknya yang berdiri di depan saat anak-anak lain mengejek mereka anak panti. Sekarang Kiara sering lupa hari, menangis tanpa sebab, lalu tertawa sendiri sambil bertanya apakah kucing bisa menjaga manusia dari mimpi buruk.

Tiga tahun lalu, semua itu dirampas dari mereka.

Keira mengetik singkat.

Jaga Kak Kiara ya, Kak Nis. Aku akan dapat kerja ini.

Balasan Kak Anisa datang cepat.

Pelan-pelan, Dek. Jangan lupa makan.

"Nomor seratus delapan puluh tujuh."

Keira memasukkan ponsel kembali ke saku. "Saya, Bi."

"Kenapa kau ingin bekerja di sini?"

Pertanyaan itu sederhana, tetapi puluhan pasang mata langsung mengarah padanya.

Keira tahu jawaban yang diinginkan orang kaya biasanya terdengar bersih. Saya menyukai bayi. Saya ingin mengabdikan diri. Saya terhormat bisa melayani keluarga Ciu.

Semua itu benar sebagian. Tapi tidak cukup benar.

"Saya butuh pekerjaan yang membayar sesuai tanggung jawabnya," jawab Keira.

Seseorang tertawa kecil.

Bi Sari menatapnya. "Jadi karena uang?"

"Ya," kata Keira.

Tawa kecil itu berhenti. Beberapa orang menatapnya seperti ia baru saja menampar dirinya sendiri di depan juri.

"Tapi saya tidak akan mempertaruhkan bayi siapa pun demi uang," lanjut Keira. "Justru karena saya tahu nilai uang, saya tahu setiap rupiah harus dibayar dengan kerja yang benar."

Untuk pertama kalinya, mata Bi Sari tidak langsung bergerak pergi.

Ia menatap Keira beberapa detik, seolah sedang mencari kebohongan di wajahnya.

"Di rumah ini," ucap Bi Sari pelan, "orang yang terlalu jujur sering tidak bertahan lama."

"Kalau harus berbohong untuk bertahan, berarti saya memang tidak cocok sejak awal."

Suasana menegang. Di Kediaman Ciu, bahkan sebelum diterima kerja, semua orang sudah belajar satu hal: jangan menjawab terlalu lurus kepada orang yang memegang pintu.

Bi Sari tidak marah. Justru itu yang membuat udara terasa lebih dingin.

"Kita lihat nanti," katanya.

Ia kembali ke meja dan memberi tanda kepada staf. "Pisahkan berkas yang lengkap. Setelah itu, tes penanganan bayi menangis dan keadaan darurat ringan. Yang gagal langsung pulang."

Gelombang keresahan bergerak di aula.

Perempuan yang tadi mengejek Keira kini diam, bibirnya bergerak tanpa suara seperti sedang mengulang prosedur.

Keira menutup mapnya.

Ia pernah mengganti perban bayi demam di rumah kontrakan yang listriknya padam. Ia pernah menenangkan ibu muda yang menangis karena ASI tidak keluar. Ia pernah membawa Kiara ke IGD naik ojek saat hujan deras.

Tes di aula marmer ini tetap menakutkan.

Tapi hidupnya jauh lebih menakutkan kalau ia pulang tanpa pekerjaan.

Tiba-tiba, pintu besar di sisi tangga terbuka.

Suara itu tidak keras, tetapi cukup membuat seluruh aula berhenti bergerak.

Bi Sari menegakkan punggung. Para staf menunduk serempak. Pelamar yang sejak tadi berbisik langsung bungkam.

Dari puncak tangga melengkung, seorang pria muncul.

Jas gelapnya jatuh sempurna di bahu. Wajahnya dingin, nyaris tanpa ekspresi. Ia tidak perlu memperkenalkan diri. Dari cara semua orang menahan napas, Keira tahu pria itu bukan sekadar anggota keluarga.

Seseorang di belakangnya berbisik sangat pelan, penuh gugup dan kagum.

"Ko Ethan turun sendiri."

Keira mengangkat kepala.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, aula marmer yang luas terasa seperti perangkap yang baru saja dikunci dari dalam.

Terpopuler

Comments

sunaryati jarum

sunaryati jarum

Baru mampir, penasaran

2026-07-29

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
Episodes

Updated 200 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!