Episode 5

Bab 5: Napas Terakhir

Keesokan paginya, Kediaman Ciu tampak terlalu tenang untuk rumah yang menyimpan begitu banyak retak.

Keira belum tidur lebih dari empat jam. Semalam, setelah Steph akhirnya membiarkannya mengganti kain bayi dan merapikan pecahan botol di lantai, ia kembali ke kamar pengasuh dengan kepala penuh nama: Gilbert Kang, Chenny Tio, Keluarga Kang, citra, kamera, pintu yang tidak pernah dibuka.

Ia belum menemukan strategi sempurna.

Tapi pagi tidak menunggu siapa pun siap.

Bi Sari mengetuk pintu kamarnya setelah sarapan staf. "Suster Keira, Nyonya Besar meminta semua pengasuh bayi berkumpul di aula. Ada pemeriksaan rutin."

Keira langsung berdiri. "Bayi Nyonya Stephanie?"

"Dibawa turun sebentar. Dokter keluarga datang."

Kata sebentar membuat Keira tidak tenang.

Di keluarga biasa, pemeriksaan bayi dilakukan di kamar dengan tenang. Di Keluarga Ciu, bahkan pemeriksaan rutin bisa berubah menjadi panggung yang penuh mata.

Aula utama sudah ramai ketika Keira tiba.

Vivienne duduk di sofa panjang dengan wajah lebih pucat dari kemarin, tetapi tetap tegak. Ethan berdiri di dekat jendela, jasnya gelap, ponsel di tangan, seolah keberadaannya di sana hanya kebetulan yang tidak bisa diganggu siapa pun.

Di sisi lain, beberapa pengasuh berdiri berjajar. Salah satunya perempuan berusia sekitar lima puluh, rambut disanggul ketat, seragamnya paling rapi. Keira mengenal namanya dari bisik staf dapur pagi tadi.

Mbak Ratih.

Dua puluh tahun pengalaman. Pernah merawat bayi dari tiga keluarga konglomerat. Orang yang bahkan Bi Sari perlakukan dengan nada lebih hati-hati.

Bayi Steph berada di ranjang dorong kecil, diselimuti kain lembut warna krem. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk aula sebesar itu.

Keira berdiri di barisan belakang.

"Dokter sebentar lagi turun dari ruang obat," kata Bi Sari kepada Vivienne. "Mbak Ratih sudah memeriksa suhu. Normal."

Mbak Ratih mengangguk penuh keyakinan. "Tadi hanya rewel sedikit, Nyonya Besar. Bayi seusia ini memang sering begitu."

Vivienne menatap cucunya. "Stephanie?"

"Masih tidur setelah minum obat penenang ringan dari dokter tadi subuh," jawab Bi Sari pelan.

Keira menahan diri untuk tidak bereaksi.

Obat penenang.

Ia tidak tahu dosisnya, tidak tahu indikasinya, tidak tahu apakah Steph benar-benar setuju. Tapi ia tahu satu hal: seorang ibu yang semalam takut menghilang tidak boleh hanya ditidurkan lalu dianggap selesai.

Tiba-tiba bayi itu batuk.

Suaranya kecil. Sekali.

Mbak Ratih langsung mendekat. "Tidak apa-apa. Mungkin sisa susu."

Bayi itu batuk lagi.

Kali ini lebih pendek, seperti ada sesuatu yang tersangkut.

Keira mengangkat kepala.

Tangis tidak keluar. Hanya suara napas yang berubah kasar.

"Mbak Ratih," kata Keira, "boleh saya lihat?"

Beberapa kepala menoleh. Mbak Ratih memandangnya dari ujung mata.

"Anak baru, berdiri saja di tempatmu. Jangan membuat panik."

"Napasnya berubah."

"Bayi memang begitu."

Bayi itu membuka mulut. Tidak ada suara. Wajahnya yang tadi merah muda mulai memucat di sekitar bibir.

Jantung Keira menghantam dadanya.

"Itu bukan rewel," ucapnya lebih tegas. "Ada sumbatan."

Mbak Ratih mengambil botol kecil berisi air hangat dari meja. "Kalau tenggorokannya tidak nyaman, diberi sedikit air hangat."

"Jangan."

Kata itu keluar lebih keras dari yang Keira rencanakan.

Aula langsung diam.

Mbak Ratih membeku, botol masih di tangan. "Apa katamu?"

Keira maju dua langkah. "Jangan beri air. Bayi baru lahir tidak boleh diberi air putih, hanya ASI atau susu formula sesuai instruksi. Kalau ada benda asing, air bisa memperburuk sumbatan."

Salah satu pengasuh lain mendengus. "Baru kemarin diterima, sudah berani mengajari Mbak Ratih?"

"Saya melihat tanda sumbatan."

"Kau melihat dari belakang?" Mbak Ratih tertawa pendek. "Saya sudah dua puluh tahun memegang bayi, Nak."

Keira tidak peduli pada nada itu. Matanya hanya pada bayi.

Dada kecil itu bergerak cepat, tetapi udara seperti tidak masuk. Tangannya mengepal, lalu melemah. Bibirnya semakin pucat.

Vivienne berdiri. "Apa yang terjadi?"

"Tidak apa-apa, Nyonya Besar," jawab Mbak Ratih cepat. "Hanya tersedak sedikit. Saya tangani."

"Itu bukan sedikit." Keira melangkah maju lagi.

Bi Sari menahan lengannya. "Suster Keira."

Keira menoleh. "Bi, kalau kita menunggu dokter, waktunya bisa habis."

Kalimat itu membuat wajah Vivienne berubah.

Ethan akhirnya mengangkat mata dari ponselnya. Tatapannya jatuh ke Keira, dingin dan tajam.

"Kau yakin?"

Pertanyaan itu bukan dukungan. Itu pisau.

Kalau ia salah, tiga hari masa percobaan akan berakhir hari ini. Mungkin bukan hanya pekerjaan. Mungkin hidupnya ikut hancur oleh keluarga yang bisa membeli hukum lebih mudah daripada Keira membeli obat Kiara.

Bayi itu mengeluarkan suara seperti udara terputus.

Keira tidak punya waktu untuk takut.

"Saya yakin."

Ia melepaskan tangan dari pegangan Bi Sari dan langsung mengambil bayi itu dari ranjang dorong.

"Hei!" Mbak Ratih berseru.

Beberapa pengasuh bergerak panik. Vivienne menjerit, "Hati-hati!"

Keira memosisikan bayi telungkup di sepanjang lengannya, kepala lebih rendah dari dada, rahang kecil ditopang jari. Ia menepuk punggung bayi dengan tumit telapak tangan, tegas tapi terukur.

Itu teknik pertolongan tersedak bayi yang ia pelajari berkali-kali di kelas dan pernah ia pakai sekali di klinik kecil Klaten. Bukan mengguncang. Bukan menjejalkan jari ke mulut. Kepala harus lebih rendah, jalan napas harus dijaga, dan setiap tepukan harus punya tujuan.

Sekali.

Dua kali.

Tidak ada yang keluar.

"Apa yang kau lakukan?" Mbak Ratih berusaha mendekat. "Kau bisa menyakiti tulangnya!"

"Mundur," kata Keira tanpa melihat.

Suara itu tidak keras. Tapi untuk pertama kalinya pagi itu, ia terdengar seperti orang yang memegang nyawa, bukan orang yang meminta izin.

Ethan memberi isyarat kecil kepada satpam. Dua pria berseragam mendekat, ragu antara perintah dan ketakutan melihat bayi yang makin pucat.

"Ko Ethan!" Vivienne mencengkeram lengan putranya. "Lakukan sesuatu!"

Ethan menatap bayi itu, lalu Keira. Rahangnya mengeras.

"Panggil dokter sekarang," perintahnya kepada Bi Sari. Lalu kepada satpam, "Siap tahan dia kalau makin buruk."

Ia menoleh kepada staf lain. "Catat waktunya. Kalau terjadi sesuatu, panggil tim hukum."

Kalimat itu membuat beberapa pengasuh langsung menjauh dari Keira, seolah jarak satu langkah bisa menyelamatkan mereka dari tanggung jawab. Hanya Bi Sari yang masih berdiri di tempat, wajahnya pucat tetapi matanya tidak lepas dari tangan Keira.

Mbak Ratih menggenggam ujung seragamnya sendiri. "Saya tidak pernah salah menangani bayi tersedak. Dia yang membuat semuanya kacau."

Keira mendengar tuduhan itu.

Ia juga mendengar napas bayi yang makin tipis.

Maka ia memilih suara bayi.

Keira mendengar semuanya, tetapi tangannya tetap bekerja.

Tiga kali.

Empat kali.

Bayi itu masih tidak menangis.

Seluruh aula seperti kehilangan udara.

Mbak Ratih mulai gemetar. "Tidak mungkin... tadi dia baik-baik saja..."

"Selimutnya berbulu," kata Keira cepat, lebih kepada dirinya sendiri daripada orang lain. "Ada serat di sekitar bibirnya tadi."

Ia membalik bayi dengan hati-hati, memeriksa mulut tanpa memasukkan jari sembarangan. Tidak terlihat jelas. Ia kembali memosisikan bayi, menepuk lagi.

Lima kali.

Tubuh kecil itu tersentak.

Suara yang keluar hanya desis lemah.

Vivienne menutup mulutnya. Matanya membesar penuh horor. "Cucuku..."

Keira merasakan keringat turun di punggungnya.

Dalam sekejap, ia melihat Kiara di IGD, melihat lampu putih, melihat tubuh yang tidak boleh ia lepaskan. Ia pernah belajar bahwa panik bisa membunuh lebih cepat daripada luka. Maka ia mengunci semua ketakutan di satu tempat kecil dalam dada.

Sekarang bukan tentang dirinya.

Bukan tentang masa percobaan.

Bukan tentang Ethan.

Ini tentang bayi yang belum tahu bagaimana meminta tolong selain dengan napas yang hilang.

"Ayo," bisik Keira. "Sedikit lagi."

Ia menepuk lagi, ritmenya tetap. Tidak kasar. Tidak putus asa.

Tiba-tiba bayi itu batuk tanpa suara.

Sesuatu putih muncul di sudut bibirnya, basah dan menggumpal.

"Kain kasa," seru salah satu pengasuh.

"Bukan." Keira memiringkan tubuh bayi sedikit. "Serat bulu."

Gumpalan kecil itu keluar, menempel di kain alas yang tergantung di lengan Keira. Putih, lembut, hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan. Seperti serpihan dari selimut mahal yang terlalu sering dianggap aman hanya karena mahal.

Untuk satu detik, tidak terjadi apa pun.

Lalu bayi itu menangis.

Tangisnya pecah keras, marah, hidup.

Vivienne terhuyung. Bi Sari cepat memegang sikunya. Beberapa pengasuh menutup mulut. Ada yang menangis lega, ada yang mundur seolah baru sadar mereka hampir menyaksikan kematian di aula yang sempurna itu.

Keira membalik bayi ke dadanya, memastikan jalan napasnya terbuka, menenangkan tangisnya tanpa langsung membungkamnya.

"Menangislah," bisiknya. "Bagus. Nangis yang kuat."

Dokter keluarga datang berlari dari koridor, tas medis di tangan. "Apa yang terjadi?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Semua mata tertuju pada Keira.

Mbak Ratih berdiri kaku, wajahnya putih. Botol kecil berisi air hangat yang tadi ia pegang sudah jatuh di karpet, menggelinding pelan hingga berhenti di dekat kaki Ethan.

Ethan menatap botol itu, lalu gumpalan serat putih di kain, lalu bayi yang menangis di pelukan Keira.

Untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya, wajah dingin pria itu menunjukkan sesuatu yang hampir seperti retak.

Bibinya, Vivienne, berusaha mendekat dengan tangan gemetar. "Cucuku..."

Keira menyerahkan bayi itu hanya setelah dokter memastikan posisinya aman. Namun saat Vivienne menyentuh selimut kecil itu, bayi tersebut justru menggenggam ujung seragam Keira dengan jari mungilnya.

Gerakan kecil itu membuat aula kembali sunyi.

Keira menunduk. Tangannya baru mulai gemetar sekarang, setelah semuanya lewat. Getaran itu merambat dari pergelangan sampai siku, tetapi ia tetap menopang bayi dengan hati-hati.

Ethan masih berdiri di tempatnya.

Bibirnya bergerak sedikit, seolah ada kata yang hampir keluar tetapi tertahan oleh harga diri.

Keira mengangkat kepala.

Di antara bau antiseptik dari tas dokter, parfum mahal, dan tangis bayi yang masih tersisa, ia menatap langsung ke mata Ko Ethan.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
Episodes

Updated 200 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!