Episode 4

Bab 4: Baby Blues

Pintu baru terbuka setengah ketika sebuah bantal terbang ke arah Keira.

Ia menggeser bahu sedikit. Bantal itu menghantam dinding di belakangnya, jatuh ke lantai, lalu diinjak tanpa sengaja oleh salah satu staf yang langsung mundur pucat.

"Keluar!" teriak perempuan di dalam kamar. "Aku tidak butuh pengasuh baru!"

Kamar itu terlalu besar untuk suara sesakit itu.

Tempat tidur king size berantakan. Selimut mahal terseret sampai lantai. Di meja rias, beberapa botol skincare terguling, satu pecah dan meninggalkan cairan berbau bunga yang terlalu manis.

Di dekat sofa, seorang perempuan muda berdiri dengan rambut berantakan dan mata merah.

Stephanie Ciu.

Dalam foto keluarga di koridor, perempuan itu tersenyum rapi. Di hadapannya sekarang, Steph terlihat seperti seseorang yang sudah beberapa malam tidak tidur dan dipaksa tetap hidup di kamar yang terlalu indah.

Tangis bayi dari ranjang kecil di samping tempat tidur menusuk telinga.

Keira tidak menatap pecahan botol. Tidak juga menatap wajah marah Steph terlalu lama. Ia langsung melihat bayi itu.

"Jangan sentuh anakku!" bentak Steph.

Keira berhenti dua langkah dari ranjang bayi. "Saya tidak akan mengambil dia dari Nyonya kalau Nyonya bisa menenangkannya."

Kalimat itu membuat Steph terdiam setengah detik.

Bayinya menangis semakin keras. Wajah kecilnya memerah, kedua tangannya mengepal di udara.

Steph menutup telinga dengan dua tangan. "Diam... diam, please, diam..."

Suaranya pecah di ujung.

Keira melembutkan nada. "Nyonya Stephanie, bayi menangis bukan berarti Nyonya gagal."

"Kau tahu apa?" Steph menatapnya tajam. "Kau baru masuk rumah ini hari ini."

"Saya tahu bayi yang menangis terlalu lama akan makin sulit ditenangkan." Keira menunjuk ranjang kecil itu dengan gerakan pelan. "Izinkan saya mengangkatnya. Nyonya tetap di sini. Saya tidak akan keluar dari kamar."

Steph tertawa pendek, kering. "Semua pengasuh sebelum kamu juga bicara manis. Setelah itu mereka mengadu ke Mama, bilang aku gila."

"Saya tidak memakai kata itu untuk ibu yang baru melahirkan."

Ruangan hening.

Tangis bayi mengisi sela di antara mereka.

Steph menggigit bibir. Matanya bergerak ke bayi itu, lalu kembali ke Keira. Ia tidak mengizinkan, tetapi juga tidak melarang lagi.

Bagi Keira, itu cukup.

Ia mendekat, mencuci tangan dengan hand sanitizer di meja samping, lalu mengangkat bayi itu perlahan. Tubuh kecil itu hangat dan tegang. Keira menopang kepala, menempelkan bayi ke dadanya, lalu menggoyang tubuhnya dengan ritme kecil.

"Ssst... pelan-pelan. Tidak apa-apa."

Tangis belum berhenti. Keira memeriksa popok, suhu kulit, posisi selimut yang terlalu tebal, lalu membuka sedikit kain agar bayi tidak kepanasan.

"Dia tidak lapar?" tanya Keira.

Steph berdiri kaku. "Baru minum. Tapi dia muntah sedikit. Aku takut memberinya lagi."

"Baik. Saya sendawakan dulu."

Keira menepuk punggung bayi dengan tekanan ringan. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa diam. Ia membiarkan tangis itu turun sedikit demi sedikit, dari lengking panik menjadi isak kecil, lalu rengekan pendek.

Steph menatap tanpa berkedip.

Ketika bayi itu akhirnya diam dan menyandarkan pipi kecilnya di bahu Keira, sesuatu di wajah Steph runtuh.

Ia duduk di tepi tempat tidur, seperti lututnya tiba-tiba kehilangan tenaga.

"Kenapa dia diam denganmu?" bisiknya.

Keira tidak menjawab seolah itu kemenangan. Ia hanya berkata, "Karena tubuh saya lebih tenang sekarang. Bayi bisa merasakan itu."

Steph tertawa lagi, hampir menangis. "Jadi tubuhku yang salah?"

"Bukan." Keira menurunkan suara. "Tubuh Nyonya sedang kelelahan. Itu berbeda."

Kalimat itu membuat mata Steph basah.

Ia cepat memalingkan wajah, seolah air mata adalah penghinaan lain yang harus ia sembunyikan.

Keira menidurkan bayi kembali setelah napasnya stabil. Ia memastikan posisi kepala aman, selimut tidak menutup leher, lalu duduk di kursi kecil di dekat ranjang. Ia tidak mendekat ke Steph. Tidak juga keluar.

Hampir sepuluh menit mereka hanya ditemani suara pendingin ruangan dan napas bayi.

Akhirnya Steph berkata, "Kamu juga datang karena uang, kan?"

"Iya."

Jawaban itu terlalu jujur sampai Steph menoleh.

Keira menatapnya. "Saya butuh uang. Tapi uang yang saya terima harus sesuai dengan pekerjaan saya."

"Pekerjaan apa? Menjaga bayi? Mengawasi perempuan setengah gila?"

"Membantu Nyonya dan bayi Nyonya melewati hari ini dengan lebih baik daripada kemarin."

Steph memandangnya lama. "Manis sekali. Kamu latihan di depan cermin?"

"Tidak. Saya terlalu sibuk bekerja untuk latihan bicara manis."

Untuk pertama kalinya, ujung bibir Steph bergerak sedikit.

Senyum itu hilang cepat, tetapi cukup untuk mengubah udara di kamar.

Keira mengambil botol air di meja dan menyerahkannya. "Minum dulu, Nyonya."

Steph tidak mengambil.

"Kalau aku melemparnya ke wajahmu?"

"Saya akan mengambil botol lain. Tapi bayi Nyonya mungkin bangun lagi."

Steph menatap bayi yang baru tertidur. Tangannya akhirnya menerima botol itu.

Ia minum dua teguk. "Kamu tahu kenapa sembilan pengasuh sebelum kamu pergi?"

"Bi Sari hanya bilang mereka tidak bertahan."

"Karena aku membuat mereka tidak tahan." Steph menutup botol terlalu kencang. "Aku berteriak. Aku melempar barang. Aku menangis tengah malam. Aku tidak mau menyusui saat semua orang menyuruhku menyusui. Aku tidak mau tersenyum saat tamu datang menjenguk."

Keira diam.

"Mereka semua menatapku seperti aku monster." Steph memejamkan mata. "Padahal aku juga takut pada diriku sendiri."

Kalimat terakhir itu tidak keras, tetapi menusuk lebih dalam daripada teriakannya tadi.

Keira melihat jari Steph yang gemetar di tutup botol. Kuku-kukunya rapi, mahal, tetapi kulit di sekitar kuku tampak terkelupas karena digigit.

"Sejak kapan Nyonya tidur kurang dari tiga jam?" tanya Keira.

Steph membuka mata. "Apa?"

"Dalam sehari. Tidur Nyonya."

"Aku tidak tahu. Kadang aku tidur sepuluh menit, lalu bangun karena merasa dia berhenti bernapas. Kadang aku tidak tidur karena takut bermimpi."

"Makan?"

"Kalau Mama memaksa."

"Menangis tanpa sebab?"

Steph tertawa lirih. "Aku punya banyak sebab."

"Takut menyakiti bayi?"

Wajah Steph langsung pucat.

Keira tidak mendesak. Ia hanya menunggu.

Setelah lama, Steph berbisik, "Aku pernah berdiri di samping ranjangnya dan berpikir... bagaimana kalau aku hilang saja? Bukan dia. Aku. Kalau aku hilang, semua orang mungkin lega."

Kemarahan dalam diri Keira berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi.

Ini bukan sekadar nyonya kaya yang manja.

Ini perempuan yang tenggelam di kamar mewah, sementara semua orang menyuruhnya berenang dengan anggun.

"Nyonya butuh bantuan medis yang tepat," kata Keira hati-hati. "Bukan hanya pengasuh."

"Dokter keluarga bilang aku lelah. Mama bilang aku harus kuat. Gilbert..." Steph berhenti.

Nama itu jatuh di antara mereka seperti pecahan kaca baru.

Keira mengulang pelan, "Ko Gilbert?"

Steph tersenyum pahit. "Suamiku yang sangat terhormat. Keluarga Kang yang sangat menjaga nama baik. Pria yang selalu bicara tentang aturan, kesopanan, dan martabat."

Ia memeluk lututnya, meski posisinya masih di tepi ranjang.

"Tiga bulan setelah menikah, dia mulai dekat dengan Chenny Tio. Mahasiswi cantik, kalem, selalu pakai baju putih atau krem. Kalau bicara pelan sekali, seolah semua orang di dunia ini terlalu kasar untuk hatinya."

Keira mendengarkan tanpa memotong.

"Setiap aku marah, Chenny ada di tempat yang tepat untuk terlihat terluka. Setiap aku menangis, dia muncul dengan tisu dan wajah polos. Setiap Gilbert datang, aku selalu tampak seperti perempuan jahat yang menyerang gadis baik-baik."

Tangan Steph mencengkeram botol air sampai plastiknya berbunyi.

"Sekali, aku menemukan chat mereka. Tidak vulgar. Justru itu yang membuatku gila. Semua kalimatnya bersih. 'Ko Gilbert, jangan lupa makan.' 'Ko Gilbert, Nyonya pasti hanya lelah.' Dia memanggilku Nyonya seperti menghormatiku, tapi setiap hurufnya seperti pisau."

Keira merasakan alisnya mengerut.

Terlalu rapi.

Orang yang benar-benar polos biasanya tidak selalu berada di sudut terbaik kamera kehidupan orang lain.

"Ko Gilbert percaya padanya?" tanya Keira.

"Gilbert percaya pada citra." Suara Steph makin rendah. "Dan Chenny memberi citra yang dia sukai. Sementara aku memberi tangis, darah nifas, tubuh bengkak, dan amarah."

Bayi bergerak kecil di ranjangnya. Keira langsung menoleh, memastikan napasnya tenang.

Steph melihat gerakan itu. Matanya kembali basah.

"Kamu benar-benar memperhatikan dia."

"Itu pekerjaan saya."

"Dan aku?"

Keira menatap Steph. "Nyonya juga bagian dari pekerjaan saya."

"Karena uang?"

"Iya," jawab Keira lagi. Lalu ia menambahkan, "Tapi saya mendapatkan uang itu dengan memastikan Nyonya membaik, bukan dengan melaporkan Nyonya sebagai masalah."

Steph menatapnya lama. Pertahanan di wajahnya belum hilang, tetapi retaknya sudah terlihat.

"Kalau begitu, buktikan."

"Apa yang Nyonya butuhkan?"

Steph mengusap air mata dengan punggung tangan, kasar, hampir marah pada dirinya sendiri karena menangis.

"Besok Gilbert akan datang ke Kediaman."

Keira menunggu.

"Dia biasanya hanya berdiri di luar. Bicara dengan Mama. Bertanya pada dokter. Lalu pergi tanpa masuk ke kamarku." Suara Steph bergetar. "Kalau kamu bisa membuat dia masuk ke kamar ini atas kemauannya sendiri, aku tidak akan mengusirmu."

Itu bukan permintaan sederhana.

Itu perang yang sudah berkali-kali ia kalah.

Keira melihat bayi yang tidur, lalu melihat perempuan di depannya yang tampak jauh lebih muda saat berhenti berteriak.

"Baik," kata Keira.

Steph menyipitkan mata. "Kamu bahkan tidak tanya bagaimana caranya?"

"Saya akan cari caranya malam ini."

Di luar jendela, langit Kediaman Ciu mulai gelap. Di dalam kamar, untuk pertama kalinya sejak Keira masuk, Steph tidak menyuruhnya keluar.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
Episodes

Updated 200 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!