Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

BAB 1 : Nafas yang Tertahan Tanah

Bau itu tidak bisa hilang.

Sudah tujuh jenis kembang direndam dalam bak tembaga, sudah berpuluh-puluh botol minyak wangi disemprotkan ke sudut kamar, namun bau busuk itu tetap ada. Bau itu bukan berasal dari sampah atau bangkai tikus di atap, melainkan keluar dari pori-pori kulit Nyai Seruni sendiri. Bau empedu yang pecah, bercampur aroma tanah makam yang basah.

Di atas ranjang jati yang sudah berderit lapuk, Seruni terbaring kaku. Perempuan yang dulunya dikenal memiliki tatapan mata yang bisa meruntuhkan harga diri lelaki itu, kini tak lebih dari seonggok daging yang menyusut. Kulitnya yang dulu kuning langsat kini menghitam, bersisik, dan terasa panas seperti disiram minyak mendidih dari dalam.

"Sari... air..." suaranya keluar seperti gesekan amplas pada kayu kering.

Sari, gadis muda yang matanya selalu sembab karena kurang tidur, bergegas mendekat. Ia menyodorkan sedotan bambu ke bibir bibinya yang pecah-pecah. Begitu air kelapa hijau itu menyentuh lidah Seruni, sang nyai langsung tersedak. Ia memuntahkan cairan hitam kental yang berbau amis karat.

"Keluar lagi, Nyai," bisik Sari gemetar. Tangannya cekatan mengelap sisa muntahan itu dengan kain jarik lama.

Seruni mengerang. Dadanya naik turun dengan kasar. Di dalam penglihatannya yang mulai kabur, ia tidak melihat langit-langit kamar. Ia melihat wajah-wajah yang tumpang tindih. Wajah perempuan-perempuan yang dulu ia buat layu kecantikannya karena ia iri pada kebahagiaan mereka. Wajah para lelaki yang ia ikat jiwanya dengan ilmu petunduk hingga mereka merangkak seperti anjing di kakinya.

Dahulu, rasa iri itu adalah api yang membakarnya untuk terus mencari kekuatan. Setiap kali ia melihat tetangganya membeli tanah baru, atau melihat sahabatnya dipuji karena kebaikannya, Seruni akan masuk ke kamar gelapnya, membakar kemenyan, dan meracik kutukan. Ia merasa puas saat melihat mereka jatuh. Ia merasa menang saat racun petunduknya membuat lidah korbannya kelu dan nasib mereka hancur.

Namun kini, "kemenangan" itu kembali menagih hutang.

"Kenapa... aku belum mati, Sari?" tanya Seruni, air mata bening mengalir di sela-sela kulitnya yang menghitam. "Jantungku... rasanya sudah berhenti bertali-tali, tapi nafas ini... nafas ini seperti diikat rantai besi."

Sari tertunduk lesu. Ia teringat ucapan orang pintar dari desa seberang yang menolak masuk ke rumah ini tempo hari. “Bibimu itu tidak ditolak bumi, ia hanya belum diizinkan pergi. Ada janji-janji pahit yang masih mengikat nyawanya pada raga yang busuk itu. Selama korbannya belum melepaskan dendam, ia akan terus menjadi saksi pembusukan dirinya sendiri.”

Tiba-tiba, tubuh Seruni mengejang. Kakinya yang lumpuh terasa seperti dipaku ke ranjang. Ia menjerit hancur, sebuah jeritan yang lebih mirip raungan binatang buas. Di telinganya, ribuan bisikan mulai terdengar—suara tangisan, sumpah serapah, dan rintihan orang-orang yang pernah ia hancurkan hidupnya.

"Sari! Ambilkan... kotak jati di bawah ranjang..." Seruni mencengkeram lengan Sari dengan tenaga sisa yang menyakitkan.

"Kotak apa, Nyai?"

"Kotak... daftar nyawa yang kupinjam. Kita harus pergi. Seret aku, gendong aku... aku harus menemui mereka sebelum ulat-ulat ini memakan jantungku habis."

Seruni menyadari satu hal yang paling mengerikan: Neraka ternyata tidak dimulai setelah ia mati. Neraka bagi seorang pendengki sepertinya dimulai saat ia masih bernapas, namun tak lagi bisa hidup.

Mari ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan, jika suka.

Terima kasih, 🙏

#Cerbung

#Cerpen

#Novel

Cerita Hantu

Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Terpopuler

Comments

NURNAZEERAH

NURNAZEERAH

Manga Toon

2026-08-05

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 : Nafas yang Tertahan Tanah
2 BAB 2 : Kotak Kayu dan Tapak Kaki di Atas Debu
3 BAB 3 : Jejak Amarah dan Jeritan Sumpah
4 BAB 4 : Gending Penari Bisu dan Sup Tulang Misterius
5 BAB 5 : Fajar Karang Tumpuk dan Warisan yang Terbakar
6 BAB 6 : Bunga Malam dan Warung Kecil Di Ujung Desa
7 BAB 7 : Surat Lontar yang Tertinggal dan Tamu dari Kota
8 BAB 8 : Bayangan dari Kota dan Pelita di Tepi Desa
9 BAB 9 : Tamu dari Seberang Laut dan Rahasia Panci Perunggu
10 BAB 10 : Panen Bunga Kemuning dan Bayangan di Lereng Bukit
11 BAB 11 : Nyanyian Malam dan Asap Gunung Tengger
12 BAB 12 : Menerobos Hutan Rimba dan Sumpah di Lembah Tengkorak
13 BAB 13 : Air Biru Penyurat Takdir dan Gua Para Pertapa
14 BAB 14 : Kobaran Api Hijau dan Rahasia Telaga Darah
15 BAB 15 : Runtuhnya Lorong Hitam dan Rahasia Gua Air Garam
16 BAB 16 : Jeritan dari Danau Bening dan Asap Hitam Puncak Bukit
17 BAB 17 : Fajar di Karang Tumpuk dan Jejak Hitam yang Tertinggal
18 BAB 18 : Syarat Pangeran Pesisir dan Persekutuan Baru
19 BAB 19 : Gemuruh di Gerban Lembah Barat dan Meriam Tengkorak
20 BAB 20 : Puncak Musnahnya Kegelapan dan Janji di Karang Tumpuk
21 BAB 21 : Jejak Senyap di Pasar Kidul dan Misteri Pedagang Jamu
22 BAB 22 : Asap Bunga Kecubung dan Jejak di Hutan Bambu
23 BAB 23 : Kabut Gelap Hutan Bambu dan Jejak Terlarang
24 BAB 24 : Bangkitnya Rahasia Ranubaya dan Pengorbanan di Pelataran
25 BAB 25 : Benturan Besi dan Runtuhnya Impian Purba
26 BAB 26: Surat Bersegel Perak dan Kabar dari Pesisir
27 BAB 27: Perjalanan Menuju Pelabuhan Bandan
28 BAB 28: Dermaga Kayu Besi dan Bayangan Nyawa
29 BAB 29 : Menembus Gelombang Selat Lintah Laut
30 BAB 30 : Teratai Hitam dan Bisikan Karang Tua
31 BAB 31 : Runtuhnya Celah Karang dan Jalan Keluar Bawah Air
32 BAB 32: Penawar Racun dan Kemilau Istana Pesisir
33 BAB 33 : Jejak Petunjuk di Ujung Samudra
34 BAB 34 : Uap Merah dan Pusaran Karang Tajam
35 BAB 35 : Kawah Hyang Tempa dan Warisan Murni Pande Gunung
36 BAB 36 : Fajar Baru di Karang Tumpuk dan Bayangan dari Benua Utama
37 BAB 37 : Panggilan Sembilan Benua dan Keberangkatan Armada Nusa Indah
38 BAB 38 : Kilat Perak di Selat Bayangan
39 BAB 39 : Pendaratan di Pantai Taring Hitam
40 BAB 40 : Pembebasan Lembah Taring Hitam dan Runtuhnya Tungku Haram
41 BAB 41 : Jejak di Pegunungan Cadas Hitam dan Misteri Pedang Tujuh Bencana
42 BAB 42 : Dalam Perut Benteng Gempa Hitam
43 BAB 43 : Duel Dua Tempaan di Atas Kawah Magma
44 BAB 44 : Melintasi Dataran Kabut Tembaga dan Gerbang Istana Hitam
45 BAB 45 : Puncak Takhta Hitam dan Kebangkitan Jiwa Bencana
46 BAB 46 : Fajar Baru Sembilan Benua dan Leburnya Zirah Bencana
47 EPILOG : Kedamaian Baru Sembilan Benua
Episodes

Updated 47 Episodes

1
BAB 1 : Nafas yang Tertahan Tanah
2
BAB 2 : Kotak Kayu dan Tapak Kaki di Atas Debu
3
BAB 3 : Jejak Amarah dan Jeritan Sumpah
4
BAB 4 : Gending Penari Bisu dan Sup Tulang Misterius
5
BAB 5 : Fajar Karang Tumpuk dan Warisan yang Terbakar
6
BAB 6 : Bunga Malam dan Warung Kecil Di Ujung Desa
7
BAB 7 : Surat Lontar yang Tertinggal dan Tamu dari Kota
8
BAB 8 : Bayangan dari Kota dan Pelita di Tepi Desa
9
BAB 9 : Tamu dari Seberang Laut dan Rahasia Panci Perunggu
10
BAB 10 : Panen Bunga Kemuning dan Bayangan di Lereng Bukit
11
BAB 11 : Nyanyian Malam dan Asap Gunung Tengger
12
BAB 12 : Menerobos Hutan Rimba dan Sumpah di Lembah Tengkorak
13
BAB 13 : Air Biru Penyurat Takdir dan Gua Para Pertapa
14
BAB 14 : Kobaran Api Hijau dan Rahasia Telaga Darah
15
BAB 15 : Runtuhnya Lorong Hitam dan Rahasia Gua Air Garam
16
BAB 16 : Jeritan dari Danau Bening dan Asap Hitam Puncak Bukit
17
BAB 17 : Fajar di Karang Tumpuk dan Jejak Hitam yang Tertinggal
18
BAB 18 : Syarat Pangeran Pesisir dan Persekutuan Baru
19
BAB 19 : Gemuruh di Gerban Lembah Barat dan Meriam Tengkorak
20
BAB 20 : Puncak Musnahnya Kegelapan dan Janji di Karang Tumpuk
21
BAB 21 : Jejak Senyap di Pasar Kidul dan Misteri Pedagang Jamu
22
BAB 22 : Asap Bunga Kecubung dan Jejak di Hutan Bambu
23
BAB 23 : Kabut Gelap Hutan Bambu dan Jejak Terlarang
24
BAB 24 : Bangkitnya Rahasia Ranubaya dan Pengorbanan di Pelataran
25
BAB 25 : Benturan Besi dan Runtuhnya Impian Purba
26
BAB 26: Surat Bersegel Perak dan Kabar dari Pesisir
27
BAB 27: Perjalanan Menuju Pelabuhan Bandan
28
BAB 28: Dermaga Kayu Besi dan Bayangan Nyawa
29
BAB 29 : Menembus Gelombang Selat Lintah Laut
30
BAB 30 : Teratai Hitam dan Bisikan Karang Tua
31
BAB 31 : Runtuhnya Celah Karang dan Jalan Keluar Bawah Air
32
BAB 32: Penawar Racun dan Kemilau Istana Pesisir
33
BAB 33 : Jejak Petunjuk di Ujung Samudra
34
BAB 34 : Uap Merah dan Pusaran Karang Tajam
35
BAB 35 : Kawah Hyang Tempa dan Warisan Murni Pande Gunung
36
BAB 36 : Fajar Baru di Karang Tumpuk dan Bayangan dari Benua Utama
37
BAB 37 : Panggilan Sembilan Benua dan Keberangkatan Armada Nusa Indah
38
BAB 38 : Kilat Perak di Selat Bayangan
39
BAB 39 : Pendaratan di Pantai Taring Hitam
40
BAB 40 : Pembebasan Lembah Taring Hitam dan Runtuhnya Tungku Haram
41
BAB 41 : Jejak di Pegunungan Cadas Hitam dan Misteri Pedang Tujuh Bencana
42
BAB 42 : Dalam Perut Benteng Gempa Hitam
43
BAB 43 : Duel Dua Tempaan di Atas Kawah Magma
44
BAB 44 : Melintasi Dataran Kabut Tembaga dan Gerbang Istana Hitam
45
BAB 45 : Puncak Takhta Hitam dan Kebangkitan Jiwa Bencana
46
BAB 46 : Fajar Baru Sembilan Benua dan Leburnya Zirah Bencana
47
EPILOG : Kedamaian Baru Sembilan Benua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!