Sujud Terakhir Sang Pemikat
Bau itu tidak bisa hilang.
Sudah tujuh jenis kembang direndam dalam bak tembaga, sudah berpuluh-puluh botol minyak wangi disemprotkan ke sudut kamar, namun bau busuk itu tetap ada. Bau itu bukan berasal dari sampah atau bangkai tikus di atap, melainkan keluar dari pori-pori kulit Nyai Seruni sendiri. Bau empedu yang pecah, bercampur aroma tanah makam yang basah.
Di atas ranjang jati yang sudah berderit lapuk, Seruni terbaring kaku. Perempuan yang dulunya dikenal memiliki tatapan mata yang bisa meruntuhkan harga diri lelaki itu, kini tak lebih dari seonggok daging yang menyusut. Kulitnya yang dulu kuning langsat kini menghitam, bersisik, dan terasa panas seperti disiram minyak mendidih dari dalam.
"Sari... air..." suaranya keluar seperti gesekan amplas pada kayu kering.
Sari, gadis muda yang matanya selalu sembab karena kurang tidur, bergegas mendekat. Ia menyodorkan sedotan bambu ke bibir bibinya yang pecah-pecah. Begitu air kelapa hijau itu menyentuh lidah Seruni, sang nyai langsung tersedak. Ia memuntahkan cairan hitam kental yang berbau amis karat.
"Keluar lagi, Nyai," bisik Sari gemetar. Tangannya cekatan mengelap sisa muntahan itu dengan kain jarik lama.
Seruni mengerang. Dadanya naik turun dengan kasar. Di dalam penglihatannya yang mulai kabur, ia tidak melihat langit-langit kamar. Ia melihat wajah-wajah yang tumpang tindih. Wajah perempuan-perempuan yang dulu ia buat layu kecantikannya karena ia iri pada kebahagiaan mereka. Wajah para lelaki yang ia ikat jiwanya dengan ilmu petunduk hingga mereka merangkak seperti anjing di kakinya.
Dahulu, rasa iri itu adalah api yang membakarnya untuk terus mencari kekuatan. Setiap kali ia melihat tetangganya membeli tanah baru, atau melihat sahabatnya dipuji karena kebaikannya, Seruni akan masuk ke kamar gelapnya, membakar kemenyan, dan meracik kutukan. Ia merasa puas saat melihat mereka jatuh. Ia merasa menang saat racun petunduknya membuat lidah korbannya kelu dan nasib mereka hancur.
Namun kini, "kemenangan" itu kembali menagih hutang.
"Kenapa... aku belum mati, Sari?" tanya Seruni, air mata bening mengalir di sela-sela kulitnya yang menghitam. "Jantungku... rasanya sudah berhenti bertali-tali, tapi nafas ini... nafas ini seperti diikat rantai besi."
Sari tertunduk lesu. Ia teringat ucapan orang pintar dari desa seberang yang menolak masuk ke rumah ini tempo hari. “Bibimu itu tidak ditolak bumi, ia hanya belum diizinkan pergi. Ada janji-janji pahit yang masih mengikat nyawanya pada raga yang busuk itu. Selama korbannya belum melepaskan dendam, ia akan terus menjadi saksi pembusukan dirinya sendiri.”
Tiba-tiba, tubuh Seruni mengejang. Kakinya yang lumpuh terasa seperti dipaku ke ranjang. Ia menjerit hancur, sebuah jeritan yang lebih mirip raungan binatang buas. Di telinganya, ribuan bisikan mulai terdengar—suara tangisan, sumpah serapah, dan rintihan orang-orang yang pernah ia hancurkan hidupnya.
"Sari! Ambilkan... kotak jati di bawah ranjang..." Seruni mencengkeram lengan Sari dengan tenaga sisa yang menyakitkan.
"Kotak apa, Nyai?"
"Kotak... daftar nyawa yang kupinjam. Kita harus pergi. Seret aku, gendong aku... aku harus menemui mereka sebelum ulat-ulat ini memakan jantungku habis."
Seruni menyadari satu hal yang paling mengerikan: Neraka ternyata tidak dimulai setelah ia mati. Neraka bagi seorang pendengki sepertinya dimulai saat ia masih bernapas, namun tak lagi bisa hidup.
Mari ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan, jika suka.
Terima kasih, 🙏
#Cerbung
#Cerpen
#Novel
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
NURNAZEERAH
Manga Toon
2026-08-05
1