BAB 2 : Kotak Kayu dan Tapak Kaki di Atas Debu

Debu tebal membumbung ketika Sari menarik kotak kayu jati dari bawah ranjang. Kotak itu tidak terlalu besar, tetapi terasa amat berat saat diangkat—seolah-olah kayu tua itu menyerap semua dosa, racun petunduk, dan dendam yang terkunci di dalamnya. Ukiran ular melingkar di tutupnya tampak begitu hidup dalam remang cahaya lampu minyak.

"Buka..." rintih Nyai Seruni. Nafasnya menggebu, berbau bangkai yang semakin menyengat hingga membuat paru-paru Sari serasa terbakar. "Buka cepat, Sari... sebelum mereka datang lagi!"

Dengan tangan bergetar hebat, Sari mencongkel kait besi kotak tersebut. Begitu tutupnya terbuka, tidak ada perhiasan atau tumpukan uang emas di dalamnya. Hanya ada belasan gulungan daun lontar kering yang diikat benang kain mori hitam, serta sepucuk keris kecil tanpa warangka yang bilahnya berwarna kelabu bercak merah—bekas darah kering dari ritual-ritual gelapnya di masa lalu.

Setiap lontar terukir nama-nama korban yang ditulis menggunakan getah pohon reja. Sari membaca salah satu nama yang paling atas. Jantung gadis muda itu seakan berhenti berdetak saat mengenali nama tersebut.

"Ini... ini nama Pak Saman, Nyai?" suara Sari nyaris tak terdengar. "Pak Saman yang gila dan mati membusuk di pinggir kali lima tahun lalu?"

Nyai Seruni memejamkan mata erat-erat. Air mata bening kembali menetes, membasahi kulit pipinya yang berkerak menghitam. "Dia... dia menolak menyerahkan tanahnya padaku. Aku buat ingatannya lebur dengan racun petunduk. Aku panggil ingatan buruknya hingga ia mengoyak kulitnya sendiri..."

"Astaghfirullah, Nyai..." Sari menutup mulutnya, menahan mual dan rasa takut yang menjalar hingga ke ujung jari.

"Cari nama... Mbok Sumi..." serak Seruni memotong. Matanya mendelik liar ke arah langit-langit, tempat bayangan-bayangan hitam tampak bergelayut seperti kelelawar raksasa. "Dia masih hidup. Di ujung desa barat. Cari Mbok Sumi... aku harus... aku harus bersujud di kakinya!"

"Tapi Nyai, tubuhmu..."

"SERET AKU!" jerit Seruni. Suaranya pecah, bergetar bersama dinding-dinding kayu rumah panggung tua itu. Angin malam tiba-tiba berembus kencang melintasi celah ventilasi, memadamkan api lampu minyak dan menyisakan kegelapan yang pekat.

Di dalam kegelapan itu, Sari mendengar suara bisikan berdesis yang bukan berasal dari mulut bibinya. Suara itu melayang dari bawah lantai papan: “Hutang nyawa... dibayar busuk... hutang rasa... dibayar neraka...”

Tanpa berpikir panjang lagi, Sari membungkus kain jarik tebal ke tubuh bibinya yang kian menyusut. Bau busuk itu kini makin tajam, seakan tanah makam sendiri yang datang menjemput raga yang menolak mati itu. Dengan membulatkan tekad, Sari memapah—hampir menyeret—tubuh lumpuh Seruni keluar dari pintu rumah.

Malam baru berusia seperempat, namun jalanan tanah Desa Karang Tumpuk sudah sepi bagai kuburan. Penduduk desa sudah lama paham: jika angin malam membawa aroma empedu pecah dari rumah Nyai Seruni, tidak ada satu pun warga yang berani membuka jendela. Mereka menutup pintu rapat-rapat, mematikan lampu, dan berdoa agar roh-roh jahat yang mengerumuni sang dukun tidak salah mampir.

Sari memapah Seruni merayap di atas jalan tanah basah. Setiap kali kaki Seruni terseret menyentuh tanah, perempuan tua itu memekik kesakitan. Bagi Seruni, setiap jengkal tanah yang disentuhnya terasa seperti paku-paku membara yang menembus telapak kakinya. Tanah bumi seolah menolak untuk menopang raga yang telah menyimpan terlalu banyak racun dengki.

"Sari... lihat di belakang kita..." bisik Seruni gagap. Kepalanya terkulai lesu di bahu Sari.

Sari memberanikan diri menengok ke belakang. Di atas tanah lumpur yang baru saja mereka lewati, tidak hanya ada jejak kaki mereka berdua. Di belakang mereka, berderet tapak-tapak kaki berdarah yang melangkah tanpa wujud. Puluhan bayangan legam berjalan mengekor, menjaga agar sang dukun tidak lari dari pengadilan dunianya.

"Jangan hiraukan mereka, Nyai... fokus melangkah," tangis Sari pecah. Selama ini ia hanya menganggap bibinya seorang perempuan tua yang sombong dan kaya, tanpa pernah membayangkan kegelapan murni yang tersimpan di balik dinding rumah mereka.

Setelah perjalanan yang terasa seperti ribuan mil di dalam neraka, mereka sampai di depan sebuah gubuk reot beratap rumbia di ujung barat desa. Di sanalah Mbok Sumi tinggal. Perempuan tua yang dulu dikenal paling dermawan dan rupawan di desa, sebelum mendadak lumpuh dan kehilangan seluruh keluarganya dalam semalam—semua akibat dengki Seruni yang tidak tahan melihat kebahagiaan orang lain.

Sari mengetuk pintu kayu yang lapuk itu dengan tangan bergetar. "Mbok... Mbok Sumi... tolong..."

Pintu berderit terbuka. Seorang perempuan tua berpakaian lusuh muncul dengan pelita kecil di tangan. Wajah Mbok Sumi penuh kerutan tebal, dan kedua matanya buta sebelah akibat penyakit aneh belasan tahun lalu. Namun, begitu pelita itu menerangi sosok Seruni yang tergeletak di tanah seperti ulat yang sekarat, mata sehat Mbok Sumi membelalak.

Aroma busuk empedu dan tanah basah langsung memenuhi teras gubuk itu.

"Seruni..." panggil Mbok Sumi pelan, suaranya mengandung duka dan kepahitan yang telah mengendap puluhan tahun.

Nyai Seruni menyeret tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga, merangkak hingga ke depan kaki Mbok Sumi. Perempuan yang dulu begitu anggun dan ditakuti itu kini bertekuk lutut di atas debu. Ia merapatkan kedua tangannya yang menghitam dan bersisik, bersujud dan menyentuh ujung kaki Mbok Sumi.

"Sumi... ampunkan aku..." tangis Seruni terbatuk-batuk, memuntahkan lagi lendir hitam yang membasahi tanah. "Ampuni aku... cabut sumpahmu... cabut rasa bencimu... izinkan aku mati, Sumi... izinkan aku pergi..."

Mbok Sumi memandangi sosok yang dulu begitu congkak dan berkuasa itu. Sosok yang telah merenggut nyawa suaminya lewat racun petunduk, menghancurkan kebunnya, dan menyisakan dirinya dalam kemiskinan serta kebutaan.

"Dendam?" Mbok Sumi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat dingin dan menyayat hati. "Aku tidak pernah mengirimkan dendam padamu, Seruni. Sejak hari di mana suami dan anakku mati, aku sudah menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa."

Seruni mendongak kaget, matanya melotot liar. "Bohong! Jika kau tidak mendendam, kenapa tanah tidak mau menerima ragaku?! Kenapa malaikat maut tidak mau mencabut nyawaku?!"

Mbok Sumi berlutut perlahan, menyejajarkan wajahnya dengan muka Seruni yang penuh borok busuk.

"Bukan dendamku yang mengikatmu, Seruni," bisik Mbok Sumi lembut namun menembus hingga ke ilusi terdalam jiwa sang Nyai. "Tapi dosa-dosamu sendiri yang membangun penjara ini. Kau iri pada kebahagiaan orang lain hingga kau membakar hatimu sendiri menjadi abu. Sekarang, racun petunduk yang dulu kau raut untuk orang lain telah berbalik membusukkan ragamu dari dalam. Kau sendiri yang menolak untuk pergi, karena jiwamu tahu... apa yang menunggumu di seberang sana jauh lebih mengerikan dari borok di kulitmu ini."

"Tidak, maafkan aku Sumi! Maafkan aku!" jerit Seruni histeris. Ia mencoba memegang kaki Mbok Sumi, tetapi Mbok Sumi menarik kakinya mundur.

"Aku memaafkanmu sebagai sesama manusia, Seruni," kata Mbok Sumi pelan sambil berdiri kembali. "Tapi maafku tidak bisa menghapus bekas racun di tanah ini. Kau harus mendatangi setiap jiwa yang pernah kau hancurkan... satu per satu."

Pintu gubuk itu ditutup rapat. Brak.

Seketika itu juga, serangan sakit yang luar biasa dahsyat menghantam dada Nyai Seruni. Ia meraung keras hingga suaranya memecah kesunyian malam. Dari dalam kulitnya yang menghitam, beratus-ratus ulat kecil berwarna merah tampak keluar memakan dagingnya sendiri dari dalam.

Nafasnya tertahan, tercekat di tenggorokan, namun jantungnya terus dipaksa berdenyut oleh dosa-dosa yang belum selesai ditunaikan. Sakaratul mautnya masih panjang, dan daftar nama di dalam kotak jati itu masih sangat banyak.

Terpopuler

Comments

༄ ᗰᗩᖇ ˢᴵᗰEᒪOᗯ ❀

༄ ᗰᗩᖇ ˢᴵᗰEᒪOᗯ ❀

hukuman atas dengki di bayarrr di dunia
blm lagi hukuman atas dosa perbuatan keji nya

2026-08-08

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 : Nafas yang Tertahan Tanah
2 BAB 2 : Kotak Kayu dan Tapak Kaki di Atas Debu
3 BAB 3 : Jejak Amarah dan Jeritan Sumpah
4 BAB 4 : Gending Penari Bisu dan Sup Tulang Misterius
5 BAB 5 : Fajar Karang Tumpuk dan Warisan yang Terbakar
6 BAB 6 : Bunga Malam dan Warung Kecil Di Ujung Desa
7 BAB 7 : Surat Lontar yang Tertinggal dan Tamu dari Kota
8 BAB 8 : Bayangan dari Kota dan Pelita di Tepi Desa
9 BAB 9 : Tamu dari Seberang Laut dan Rahasia Panci Perunggu
10 BAB 10 : Panen Bunga Kemuning dan Bayangan di Lereng Bukit
11 BAB 11 : Nyanyian Malam dan Asap Gunung Tengger
12 BAB 12 : Menerobos Hutan Rimba dan Sumpah di Lembah Tengkorak
13 BAB 13 : Air Biru Penyurat Takdir dan Gua Para Pertapa
14 BAB 14 : Kobaran Api Hijau dan Rahasia Telaga Darah
15 BAB 15 : Runtuhnya Lorong Hitam dan Rahasia Gua Air Garam
16 BAB 16 : Jeritan dari Danau Bening dan Asap Hitam Puncak Bukit
17 BAB 17 : Fajar di Karang Tumpuk dan Jejak Hitam yang Tertinggal
18 BAB 18 : Syarat Pangeran Pesisir dan Persekutuan Baru
19 BAB 19 : Gemuruh di Gerban Lembah Barat dan Meriam Tengkorak
20 BAB 20 : Puncak Musnahnya Kegelapan dan Janji di Karang Tumpuk
21 BAB 21 : Jejak Senyap di Pasar Kidul dan Misteri Pedagang Jamu
22 BAB 22 : Asap Bunga Kecubung dan Jejak di Hutan Bambu
23 BAB 23 : Kabut Gelap Hutan Bambu dan Jejak Terlarang
24 BAB 24 : Bangkitnya Rahasia Ranubaya dan Pengorbanan di Pelataran
25 BAB 25 : Benturan Besi dan Runtuhnya Impian Purba
26 BAB 26: Surat Bersegel Perak dan Kabar dari Pesisir
27 BAB 27: Perjalanan Menuju Pelabuhan Bandan
28 BAB 28: Dermaga Kayu Besi dan Bayangan Nyawa
29 BAB 29 : Menembus Gelombang Selat Lintah Laut
30 BAB 30 : Teratai Hitam dan Bisikan Karang Tua
31 BAB 31 : Runtuhnya Celah Karang dan Jalan Keluar Bawah Air
32 BAB 32: Penawar Racun dan Kemilau Istana Pesisir
33 BAB 33 : Jejak Petunjuk di Ujung Samudra
34 BAB 34 : Uap Merah dan Pusaran Karang Tajam
35 BAB 35 : Kawah Hyang Tempa dan Warisan Murni Pande Gunung
36 BAB 36 : Fajar Baru di Karang Tumpuk dan Bayangan dari Benua Utama
37 BAB 37 : Panggilan Sembilan Benua dan Keberangkatan Armada Nusa Indah
38 BAB 38 : Kilat Perak di Selat Bayangan
39 BAB 39 : Pendaratan di Pantai Taring Hitam
40 BAB 40 : Pembebasan Lembah Taring Hitam dan Runtuhnya Tungku Haram
41 BAB 41 : Jejak di Pegunungan Cadas Hitam dan Misteri Pedang Tujuh Bencana
42 BAB 42 : Dalam Perut Benteng Gempa Hitam
43 BAB 43 : Duel Dua Tempaan di Atas Kawah Magma
44 BAB 44 : Melintasi Dataran Kabut Tembaga dan Gerbang Istana Hitam
45 BAB 45 : Puncak Takhta Hitam dan Kebangkitan Jiwa Bencana
46 BAB 46 : Fajar Baru Sembilan Benua dan Leburnya Zirah Bencana
47 EPILOG : Kedamaian Baru Sembilan Benua
Episodes

Updated 47 Episodes

1
BAB 1 : Nafas yang Tertahan Tanah
2
BAB 2 : Kotak Kayu dan Tapak Kaki di Atas Debu
3
BAB 3 : Jejak Amarah dan Jeritan Sumpah
4
BAB 4 : Gending Penari Bisu dan Sup Tulang Misterius
5
BAB 5 : Fajar Karang Tumpuk dan Warisan yang Terbakar
6
BAB 6 : Bunga Malam dan Warung Kecil Di Ujung Desa
7
BAB 7 : Surat Lontar yang Tertinggal dan Tamu dari Kota
8
BAB 8 : Bayangan dari Kota dan Pelita di Tepi Desa
9
BAB 9 : Tamu dari Seberang Laut dan Rahasia Panci Perunggu
10
BAB 10 : Panen Bunga Kemuning dan Bayangan di Lereng Bukit
11
BAB 11 : Nyanyian Malam dan Asap Gunung Tengger
12
BAB 12 : Menerobos Hutan Rimba dan Sumpah di Lembah Tengkorak
13
BAB 13 : Air Biru Penyurat Takdir dan Gua Para Pertapa
14
BAB 14 : Kobaran Api Hijau dan Rahasia Telaga Darah
15
BAB 15 : Runtuhnya Lorong Hitam dan Rahasia Gua Air Garam
16
BAB 16 : Jeritan dari Danau Bening dan Asap Hitam Puncak Bukit
17
BAB 17 : Fajar di Karang Tumpuk dan Jejak Hitam yang Tertinggal
18
BAB 18 : Syarat Pangeran Pesisir dan Persekutuan Baru
19
BAB 19 : Gemuruh di Gerban Lembah Barat dan Meriam Tengkorak
20
BAB 20 : Puncak Musnahnya Kegelapan dan Janji di Karang Tumpuk
21
BAB 21 : Jejak Senyap di Pasar Kidul dan Misteri Pedagang Jamu
22
BAB 22 : Asap Bunga Kecubung dan Jejak di Hutan Bambu
23
BAB 23 : Kabut Gelap Hutan Bambu dan Jejak Terlarang
24
BAB 24 : Bangkitnya Rahasia Ranubaya dan Pengorbanan di Pelataran
25
BAB 25 : Benturan Besi dan Runtuhnya Impian Purba
26
BAB 26: Surat Bersegel Perak dan Kabar dari Pesisir
27
BAB 27: Perjalanan Menuju Pelabuhan Bandan
28
BAB 28: Dermaga Kayu Besi dan Bayangan Nyawa
29
BAB 29 : Menembus Gelombang Selat Lintah Laut
30
BAB 30 : Teratai Hitam dan Bisikan Karang Tua
31
BAB 31 : Runtuhnya Celah Karang dan Jalan Keluar Bawah Air
32
BAB 32: Penawar Racun dan Kemilau Istana Pesisir
33
BAB 33 : Jejak Petunjuk di Ujung Samudra
34
BAB 34 : Uap Merah dan Pusaran Karang Tajam
35
BAB 35 : Kawah Hyang Tempa dan Warisan Murni Pande Gunung
36
BAB 36 : Fajar Baru di Karang Tumpuk dan Bayangan dari Benua Utama
37
BAB 37 : Panggilan Sembilan Benua dan Keberangkatan Armada Nusa Indah
38
BAB 38 : Kilat Perak di Selat Bayangan
39
BAB 39 : Pendaratan di Pantai Taring Hitam
40
BAB 40 : Pembebasan Lembah Taring Hitam dan Runtuhnya Tungku Haram
41
BAB 41 : Jejak di Pegunungan Cadas Hitam dan Misteri Pedang Tujuh Bencana
42
BAB 42 : Dalam Perut Benteng Gempa Hitam
43
BAB 43 : Duel Dua Tempaan di Atas Kawah Magma
44
BAB 44 : Melintasi Dataran Kabut Tembaga dan Gerbang Istana Hitam
45
BAB 45 : Puncak Takhta Hitam dan Kebangkitan Jiwa Bencana
46
BAB 46 : Fajar Baru Sembilan Benua dan Leburnya Zirah Bencana
47
EPILOG : Kedamaian Baru Sembilan Benua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!