BAB 3 : Jejak Amarah dan Jeritan Sumpah

Malam makin merambat tua, tetapi kegelapan Desa Karang Tumpuk terasa membeku. Setelah pintu gubuk Mbok Sumi tertutup rapat, ratap tangis dan jeritan Seruni menggetarkan dedaunan pohon pisang di sekeliling tempat itu. Rasa panas di dadanya meluap-luap, seolah-olah darahnya diganti dengan lelehan tembaga cair.

"Sari... gulungan... gulungan selanjutnya..." rintih Seruni. Air matanya kini bercampur dengan lelehan darah kental yang keluar dari sudut matanya. "Siapa... siapa lagi yang masih tersisa?"

Sari, yang seluruh pakaiannya sudah ternoda getah hitam dan lendir berbau empedu dari tubuh bibinya, membuka kembali kotak jati itu dengan tangan gemetar. Ia meraba-raba daun lontar di dalam kegelapan malam, menyisihkan gulungan-gulungan milik korban yang sudah mati membusuk bertahun-tahun lalu.

Akhirnya, jemarinya berhenti pada satu lontar yang benang morinya berwarna merah pudar.

"Ini... ini nama Kang Marno, Nyai," kata Sari dengan suara bergetar. "Pande besi di hulu sungai."

Mata Seruni yang kusam dan bersisik mendelik lebar. Memori puluhan tahun lalu mendadak berputar kembali di kepalanya bagai bayangan jahat. Marno—pande besi berbadan tegap yang dulu menolak cinta Seruni. Marno yang lebih memilih menikahi gadis desa biasa yang sederhana ketimbang menerima pinangan Seruni yang penuh kesombongan.

Karena rasa sakit hati dan iri melihat kebahagiaan rumah tangga Marno, Seruni mengirimkan racun petunduk tingkat tinggi. Dalam semalam, tangan kanan Marno yang perkasa membusuk dan memendek, melumpuhkan mata pencahariannya sebagai pande besi. Tak berhenti di situ, istri Marno dibuat gila hingga menceburkan diri ke sumur tua.

"Ke... ke hulu sungai..." desis Seruni. Daging di paha dan betisnya kini mulai terkelupas, meninggalkan bekas merah kehitaman yang dipenuhi ulat-ulat kecil. "Seret aku... ke rumah Marno..."

"Tapi Nyai, jarak ke hulu sungai itu jauh! Jalanannya mendaki dan penuh batu tajam!" tangis Sari pecah. "Tubuhmu bisa hancur di jalan!"

"Seret aku, Sari! Atau aku akan memakan Jantungku sendiri di sini!" raung Seruni dengan suara yang bukan lagi suara manusia—melainkan gabungan dari puluhan suara gaib yang bergema dari dalam tenggorokannya.

Dengan sisa-sisa tenaga dan deraian air mata, Sari mengikatkan kain jarik tua ke pinggang Seruni, lalu menarik ujung kain itu seperti memegang kendali kuda. Seruni merangkak menelungkup di atas tanah, menyeret perut dan dadanya sendiri.

Setiap kali batu tajam menggores kulitnya yang berkerak, Seruni menjerit pilu. Darah hitam amis berjejak di sepanjang jalan setapak menuju hulu sungai. Di belakang mereka, bayangan-bayangan hitam yang mengekor semakin bertambah banyak. Mereka tidak menyerang, hanya berjalan diam dalam barisan rapi—menjadi saksi bisu atas penebusan dosa yang meremukkan tulang.

Angin gunung merengkuh tubuh Sari yang dingin berpeluh. Setelah hampir satu jam berjalan meraba kegelapan, bau jelaga dan besi terbakar mulai tercium. Di kaki bukit dekat aliran sungai yang deras, berdiri sebuah bengkel besi tua yang sepi.

Cahaya merah dari bara api yang hampir padam menyemburat dari balik celah dinding papan. Dari dalam, terdengar dentang pukulan martil yang berat dan perlahan.

Tung... tung... tung...

Suara itu konstan, berat, dan penuh duka.

"Kang Marno..." panggil Sari lirih di depan pagar bambu yang lapuk. "Kang Marno... tolong..."

Dentang martil mendadak berhenti. Pintu bengkel tua itu berderit terbuka. Dari balik kegelapan, muncul sosok lelaki tua berbadan bungkuk. Lengan kanannya melengkung cacat dan mengecil bagai ranting kayu kering, sementara wajahnya penuh jelaga dan garis-garis kepahitan hidup.

Mata Marno yang tajam menatap dua sosok di atas tanah. Begitu mencium bau empedu pecah yang sangat khas, rahang Marno memeras keras. Ujung martil besi di tangan kirinya menjejak bumi dengan dentang menyengat.

"Nyai Seruni..." suara Marno terdengar bagai gemuruh batu meluncur dari tebing. "Dukun terkutuk dari Karang Tumpuk."

Seruni merangkak mendekat, air matanya membasahi debu jelaga di depan pintu bengkel. Ia menangkupkan kedua tangannya yang kini sudah tak berbingkai kuku—kuku-kukunya telah lepas sepanjang jalan.

"Marno... Marno, maafkan aku..." rintih Seruni, suaranya terputus-putus oleh batuk darah. "Aku yang membusukkan tanganmu... aku yang mengirim racun petunduk pada istri dan keluargamu... ampunkan aku, Marno! Cabut sumpahmu... biarkan aku mati...!"

Marno menatap perempuan di bawah kakinya tanpa rasa kasihan sedikit pun. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, hanya ada kebencian mendalam yang telah membatu selama puluhan tahun.

"Mati?" Marno terkehuh pahit. Ia melangkah maju, memperlihatkan lengannya yang cacat dan mengerut di bawah sinar rembulan. "Kau minta izin padaku untuk mati, Seruni? Setelah kau merenggut nyawa istriku? Setelah kau membuat tanganku cacat dan membiarkan aku hidup seperti bangkai bernapas selama tiga puluh tahun?!"

"Ampun, Marno... ampun! Panas... dadaku panas seperti disiram tembaga mendidih!" jerit Seruni sambil memukul-mukul dadanya sendiri hingga kulitnya terkelupas.

Marno berlutut, menggenggam segenggam abu jelaga panas dari tungku besi di dekatnya. Tanpa ragu, Marno menyiramkan abu panas itu tepat ke atas punggung Seruni yang penuh borok.

"Arrrrggghhhh! Ampun!" Seruni menjerit sejadi-jadinya, meliuk-liuk di atas tanah bagai cacing yang tersiram garam.

Sari menjerit ketakutan dan hendak menolong bibinya, namun Marno mengangkat tangan kirinya, menunjuk tegas pada Sari. "Jangan ikut campur, Bocah! Biarkan dukun ini merasakan satu persen dari rasa terbakar yang aku rasakan setiap malam saat merindukan istriku!"

Marno menatap mata Seruni yang merah membara. "Kau dengar baik-baik, Seruni. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku tidak akan pernah mencabut rasa benci ini. Jika jiwamu tertahan di dunia ini karena dosa-dosamu padaku, maka terikatlah kau di raga busuk itu sampai hari kiamat!"

"Tidak... jangan, Marno! Jangan kunci aku dalam raga ini!" tangis Seruni melengking, memohon-mohon hingga kepalanya terantuk-antuk pada batu asahan di dekatnya.

"Pergi dari rumahku!" bentak Marno keras. "Bawa bangkai bernapasmu ini keluar dari tanahku sebelum aku meremukkan tengkorakmu dengan martil besi ini!"

Brak!

Marno membanting pintu bengkelnya. Suara dentang martil kembali terdengar—Tung... tung... tung...—lebih keras dan lebih penuh dendam dari sebelumnya.

Seruni tergeletak kaku di atas tanah, melolong menatap langit malam yang kelam. Kata-kata Marno telah mengunci salah satu rantai ghaib yang mengikat nyawanya. Penolakan maaf dari sang korban membuat racun di dalam tubuhnya bereaksi dua kali lebih ganas.

Sari menangis histeris. Ia berlutut di samping bibinya, mencoba menyapu abu panas dari punggung Seruni. "Nyai... bagaimana ini, Nyai? Dia tidak mau memaafkanmu... bagaimana kau bisa pergi?"

"T-masih... masih ada..." bisik Seruni gagap. Bibirnya kini sudah menghitam sepenuhnya dan mengeluarkan bau busuk yang kian pekat. "Kotak... lontar ketiga..."

Dengan jari-jari yang gemetar dan bersimbah darah, Sari meraba kembali isi kotak jati. Hanya tersisa satu lontar terakhir yang diikat kain mori putih yang sudah kusam.

Sari membaca nama yang tertera di sana di bawah temaram sinar rembulan: Nyi Pertiwi.

Jantung Sari seakan berhenti berdetak. "N-Nyi Pertiwi? Nyai Pertiwi sang penari gending yang tinggal di tepi hutan utara?"

Seruni mengangguk pelan dengan gerakan yang teramat patah. "Perempuan... yang paling aku irikan... wajahnya yang cantik... suaranya yang merdu... aku buat suaranya bisu dan wajahnya rusak dengan minyak racun petunduk..."

"Nyai... Nyi Pertiwi sudah lama tidak pernah terlihat oleh warga desa. Katanya dia tinggal menyendiri di tengah hutan larangan..." Sari gemetar membayangkan hutan utara yang terkenal angker dan dihuni banyak makluk ghaib.

"Bawa... bawa aku ke sana..." racau Seruni, dadanya kembang kempis dengan sangat kasar. "Itu... itu harapan terakhirku... sebelum jantungku benar-benar menjadi sarang ulat..."

Sari memandangi wajah bibinya. Daging di sekitar pipi Seruni kini sudah menyusut parah, memperlihatkan bentuk tulang rahangnya. Mata Seruni tidak lagi mampu berkedip karena kulit kelopak matanya telah mengeras dan pecah-pecah. Ini bukan lagi seorang manusia, melainkan sesosok mayat yang dipaksa bernapas oleh dosa-dosanya sendiri.

Sari menyapu air matanya. Dengan sisa keberanian yang ada, ia kembali memapah dan menyeret raga Seruni. Langkah kaki mereka kini mengarah ke utara, menuju kegelapan hutan larangan yang pekat dan berangin dingin.

Di balik pepohonan rindang di kejauhan, suara alunan gending Jawa terdengar samar-samar melayang di udara malam—sebuah nada melankolis dan penuh duka yang seolah telah menanti kedatangan sang dukun dengki untuk menagih janji terakhirnya.

Terpopuler

Comments

༄ ᗰᗩᖇ ˢᴵᗰEᒪOᗯ ❀

༄ ᗰᗩᖇ ˢᴵᗰEᒪOᗯ ❀

dgn tumbal apa seruni
membuat celaka korban nya

2026-08-08

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 : Nafas yang Tertahan Tanah
2 BAB 2 : Kotak Kayu dan Tapak Kaki di Atas Debu
3 BAB 3 : Jejak Amarah dan Jeritan Sumpah
4 BAB 4 : Gending Penari Bisu dan Sup Tulang Misterius
5 BAB 5 : Fajar Karang Tumpuk dan Warisan yang Terbakar
6 BAB 6 : Bunga Malam dan Warung Kecil Di Ujung Desa
7 BAB 7 : Surat Lontar yang Tertinggal dan Tamu dari Kota
8 BAB 8 : Bayangan dari Kota dan Pelita di Tepi Desa
9 BAB 9 : Tamu dari Seberang Laut dan Rahasia Panci Perunggu
10 BAB 10 : Panen Bunga Kemuning dan Bayangan di Lereng Bukit
11 BAB 11 : Nyanyian Malam dan Asap Gunung Tengger
12 BAB 12 : Menerobos Hutan Rimba dan Sumpah di Lembah Tengkorak
13 BAB 13 : Air Biru Penyurat Takdir dan Gua Para Pertapa
14 BAB 14 : Kobaran Api Hijau dan Rahasia Telaga Darah
15 BAB 15 : Runtuhnya Lorong Hitam dan Rahasia Gua Air Garam
16 BAB 16 : Jeritan dari Danau Bening dan Asap Hitam Puncak Bukit
17 BAB 17 : Fajar di Karang Tumpuk dan Jejak Hitam yang Tertinggal
18 BAB 18 : Syarat Pangeran Pesisir dan Persekutuan Baru
19 BAB 19 : Gemuruh di Gerban Lembah Barat dan Meriam Tengkorak
20 BAB 20 : Puncak Musnahnya Kegelapan dan Janji di Karang Tumpuk
21 BAB 21 : Jejak Senyap di Pasar Kidul dan Misteri Pedagang Jamu
22 BAB 22 : Asap Bunga Kecubung dan Jejak di Hutan Bambu
23 BAB 23 : Kabut Gelap Hutan Bambu dan Jejak Terlarang
24 BAB 24 : Bangkitnya Rahasia Ranubaya dan Pengorbanan di Pelataran
25 BAB 25 : Benturan Besi dan Runtuhnya Impian Purba
26 BAB 26: Surat Bersegel Perak dan Kabar dari Pesisir
27 BAB 27: Perjalanan Menuju Pelabuhan Bandan
28 BAB 28: Dermaga Kayu Besi dan Bayangan Nyawa
29 BAB 29 : Menembus Gelombang Selat Lintah Laut
30 BAB 30 : Teratai Hitam dan Bisikan Karang Tua
31 BAB 31 : Runtuhnya Celah Karang dan Jalan Keluar Bawah Air
32 BAB 32: Penawar Racun dan Kemilau Istana Pesisir
33 BAB 33 : Jejak Petunjuk di Ujung Samudra
34 BAB 34 : Uap Merah dan Pusaran Karang Tajam
35 BAB 35 : Kawah Hyang Tempa dan Warisan Murni Pande Gunung
36 BAB 36 : Fajar Baru di Karang Tumpuk dan Bayangan dari Benua Utama
37 BAB 37 : Panggilan Sembilan Benua dan Keberangkatan Armada Nusa Indah
38 BAB 38 : Kilat Perak di Selat Bayangan
39 BAB 39 : Pendaratan di Pantai Taring Hitam
40 BAB 40 : Pembebasan Lembah Taring Hitam dan Runtuhnya Tungku Haram
41 BAB 41 : Jejak di Pegunungan Cadas Hitam dan Misteri Pedang Tujuh Bencana
42 BAB 42 : Dalam Perut Benteng Gempa Hitam
43 BAB 43 : Duel Dua Tempaan di Atas Kawah Magma
44 BAB 44 : Melintasi Dataran Kabut Tembaga dan Gerbang Istana Hitam
45 BAB 45 : Puncak Takhta Hitam dan Kebangkitan Jiwa Bencana
46 BAB 46 : Fajar Baru Sembilan Benua dan Leburnya Zirah Bencana
47 EPILOG : Kedamaian Baru Sembilan Benua
Episodes

Updated 47 Episodes

1
BAB 1 : Nafas yang Tertahan Tanah
2
BAB 2 : Kotak Kayu dan Tapak Kaki di Atas Debu
3
BAB 3 : Jejak Amarah dan Jeritan Sumpah
4
BAB 4 : Gending Penari Bisu dan Sup Tulang Misterius
5
BAB 5 : Fajar Karang Tumpuk dan Warisan yang Terbakar
6
BAB 6 : Bunga Malam dan Warung Kecil Di Ujung Desa
7
BAB 7 : Surat Lontar yang Tertinggal dan Tamu dari Kota
8
BAB 8 : Bayangan dari Kota dan Pelita di Tepi Desa
9
BAB 9 : Tamu dari Seberang Laut dan Rahasia Panci Perunggu
10
BAB 10 : Panen Bunga Kemuning dan Bayangan di Lereng Bukit
11
BAB 11 : Nyanyian Malam dan Asap Gunung Tengger
12
BAB 12 : Menerobos Hutan Rimba dan Sumpah di Lembah Tengkorak
13
BAB 13 : Air Biru Penyurat Takdir dan Gua Para Pertapa
14
BAB 14 : Kobaran Api Hijau dan Rahasia Telaga Darah
15
BAB 15 : Runtuhnya Lorong Hitam dan Rahasia Gua Air Garam
16
BAB 16 : Jeritan dari Danau Bening dan Asap Hitam Puncak Bukit
17
BAB 17 : Fajar di Karang Tumpuk dan Jejak Hitam yang Tertinggal
18
BAB 18 : Syarat Pangeran Pesisir dan Persekutuan Baru
19
BAB 19 : Gemuruh di Gerban Lembah Barat dan Meriam Tengkorak
20
BAB 20 : Puncak Musnahnya Kegelapan dan Janji di Karang Tumpuk
21
BAB 21 : Jejak Senyap di Pasar Kidul dan Misteri Pedagang Jamu
22
BAB 22 : Asap Bunga Kecubung dan Jejak di Hutan Bambu
23
BAB 23 : Kabut Gelap Hutan Bambu dan Jejak Terlarang
24
BAB 24 : Bangkitnya Rahasia Ranubaya dan Pengorbanan di Pelataran
25
BAB 25 : Benturan Besi dan Runtuhnya Impian Purba
26
BAB 26: Surat Bersegel Perak dan Kabar dari Pesisir
27
BAB 27: Perjalanan Menuju Pelabuhan Bandan
28
BAB 28: Dermaga Kayu Besi dan Bayangan Nyawa
29
BAB 29 : Menembus Gelombang Selat Lintah Laut
30
BAB 30 : Teratai Hitam dan Bisikan Karang Tua
31
BAB 31 : Runtuhnya Celah Karang dan Jalan Keluar Bawah Air
32
BAB 32: Penawar Racun dan Kemilau Istana Pesisir
33
BAB 33 : Jejak Petunjuk di Ujung Samudra
34
BAB 34 : Uap Merah dan Pusaran Karang Tajam
35
BAB 35 : Kawah Hyang Tempa dan Warisan Murni Pande Gunung
36
BAB 36 : Fajar Baru di Karang Tumpuk dan Bayangan dari Benua Utama
37
BAB 37 : Panggilan Sembilan Benua dan Keberangkatan Armada Nusa Indah
38
BAB 38 : Kilat Perak di Selat Bayangan
39
BAB 39 : Pendaratan di Pantai Taring Hitam
40
BAB 40 : Pembebasan Lembah Taring Hitam dan Runtuhnya Tungku Haram
41
BAB 41 : Jejak di Pegunungan Cadas Hitam dan Misteri Pedang Tujuh Bencana
42
BAB 42 : Dalam Perut Benteng Gempa Hitam
43
BAB 43 : Duel Dua Tempaan di Atas Kawah Magma
44
BAB 44 : Melintasi Dataran Kabut Tembaga dan Gerbang Istana Hitam
45
BAB 45 : Puncak Takhta Hitam dan Kebangkitan Jiwa Bencana
46
BAB 46 : Fajar Baru Sembilan Benua dan Leburnya Zirah Bencana
47
EPILOG : Kedamaian Baru Sembilan Benua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!