BAB 5 : Fajar Karang Tumpuk dan Warisan yang Terbakar

Malam yang panjang dan penuh aroma tak sedap itu akhirnya gulung tikar. Cahaya jingga keemasan perlahan menembus celah-celah pepohonan Hutan Larangan, menyambut pagi yang sejuk. Di tepi sumur tua, Sari masih terduduk dengan lutut gemetar. Di pangkuannya, jasad Nyai Seruni terbaring tenang. Wajah sang dukun yang tadinya menyeramkan bagai kerak neraka, kini kembali bersih dan tampak jauh lebih muda—seolah-olah kematian akhirnya sudi mengembalikan sisa-sisa paras aslinya yang telah lama dirusak oleh dengki.

"Nyai... bangkit dong, Nyai... aku mana kuat menggendong jasadmu sendirian sampai ke desa..." bisik Sari meratapi nasibnya yang terlunta-lunta.

Sari mencoba mengangkat jasad bibinya ke punggung. Namun, meskipun raga Seruni sudah menyusut, mengangkat sesosok mayat sendirian di tengah hutan rimba tetaplah pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra. Baru dua langkah melangkah sambil memanggul bibinya, kaki Sari tersandung akar pohon cemara yang mencuat.

GEDEBUK!

Sari dan jasad Seruni bergulingan ria di atas tumpukan daun kering. Kepalanya terantuk batang pohon, sementara jasad Seruni mendarat telentang dengan posisi tangan bersedekah yang sangat rapi di atas rumput.

"Aduh... ampun, Nyai! Bukan maksudku mengetes kekuatan tengkorakmu," meringis Sari sambil mengelus jidatnya yang benjol sebesar telur puyuh.

Sari memandangi jasad bibinya yang masih tampak santai telentang. Tiba-tiba, dari balik semak-semak, muncul sosok kera hitam yang tadi malam pingsan terkena "ledakan gas ghaib" Seruni. Kera itu berjalan agak sempoyongan dengan kepala miring—tampaknya masih mengalami efek samping pusing tujuh keliling akibat trauma aroma kemarin.

Melihat Sari yang kesusahan, kera itu mendengkus keras: "Uuk! Uuk!"

Si kera berjalan mendekati jasad Seruni, lalu dengan sangat terlatih, ia mengambil dua utas tali akar pohon yang menjuntai. Kera itu membantu mengikatkan kain jarik Seruni ke sebatang kayu besar, lalu mengisyaratkan Sari untuk memegang ujung satunya.

Sari membelalakkan mata. "Kamu... mau bantu aku menandu Nyai? Wah, ternyata racun bibiku kemarin bukan cuma membiusmu, tapi juga mengaktifkan naluri gotong royongmu ya?"

Kera itu hanya menepuk jidatnya sendiri dengan muka pasrah, seolah berkata, “Cepat jalan sebelum bau kemarin kumat lagi!”

Dengan bantuan si kera hutan yang berhati mulia (dan sedikit trauma), Sari berhasil membawa jasad Nyai Seruni kembali ke Desa Karang Tumpuk saat matahari sudah sepenggalah naik.

Suasana desa yang biasanya sepi mendadak gempar. Warga keluar dari rumah masing-masing dengan membawa sapu lidi, alu penumbuk padi, hingga kuali dapur sebagai senjata panggulan. Mereka mengira ada serangan makhluk halus, sebelum menyadari bahwa yang datang adalah Sari yang sedang menandu jasad Nyai Seruni bersama seekor kera hitam yang memakai topi dari daun talas.

"Itu Sari! Dan... Nyai Seruni sudah mati!" teriak salah seorang warga.

"Tunggu! Kenapa bau busuknya hilang?" sahut warga lainnya sambil mengendus-endus udara dengan ragu. "Malah bau minyak kayu putih dan daun talas?"

Pak RT setempat, Pak Karto, melangkah maju dengan memegang tongkat bambu. "Sari! Apa yang terjadi? Kenapa dukun itu... Maksudku, bibimu... tampak seperti orang tidur biasa?"

Sari menurunkan tandu kayu itu perlahan dengan bantuan si kera—yang langsung melesat naik ke atas pohon kelapa begitu melihat kerumunan warga. Sari mengusap keringat di dahinya, lalu menghembuskan napas panjang.

"Nyai Seruni sudah pergi dengan tenang, Pak RT," jawab Sari jujur. "Semua racun, penyakit, dan pelaris ghaibnya sudah sirna. Beliau sudah meminta maaf pada Mbok Sumi, Kang Marno, dan Nyi Pertiwi sebelum napas terakhirnya dihembuskan."

Mendengar nama-nama korban tersebut disebut, warga desa saling berbisik. Rasa benci dan dendam yang selama belasan tahun membakar desa itu perlahan-lahan lumer, berganti dengan rasa iba melihat raga sang Nyai yang kini tak berdaya.

Proses pemakaman Nyai Seruni berlangsung sederhana namun penuh khidmat. Tidak ada lagi gangguan ghaib, tidak ada angin puyuh, maupun raungan aneh dari dalam tanah. Bumi Karang Tumpuk akhirnya mau menerima raga perempuan yang pernah dipenuhi rasa iri dan dengki tersebut.

Setelah pemakaman usai, Sari kembali ke rumah panggung tua milik bibinya. Rumah yang dulu terasa sangat mencekam dan berbau empedu itu kini terasa lapang, meskipun sepi. Di tengah ruangan, kotak kayu jati berukir ular masih tergeletak terbuka.

Di dalam kotak itu, tersisa belasan gulungan lontar, keris kecil tanpa warangka, dan minyak-minyak racun petunduk. Semua itu adalah simbol dari kemungkaran besar yang pernah dilakukan Seruni semasa hidupnya yaitu Sihir dan Persekutuan dengan Ilmu Hitam (Syirik).

Sari mengambil korek api dan minyak tanah. Tanpa ragu sedikit pun, ia membawa kotak jati beserta seluruh isinya ke halaman rumah.

"Segala benda keramat dan racun ini tidak boleh ada lagi di dunia," gumam Sari mantap.

Ia menyiramkan minyak tanah dan menyulutkan api. Dalam hitungan detik, kobaran api merah keemasan melahap kotak jati, lontar-lontar ilmu hitam, dan keris pusaka milik Seruni. Asap hitam membumbung tinggi ke udara, membawa terbang sisa-sisa kegelapan yang pernah mencengkeram desa itu selama puluhan tahun.

Jangan pernah tergiur untuk meminta bantuan ilmu hitam, sihir, atau menggunakan jalan-jalan yang dimurkai Allah hanya demi memuaskan rasa dengki dan rasa sakit hati. Kemenangan yang didapat dari jalan sihir adalah ilusi semata yang pada akhirnya akan menagih bayaran teramat mahal—berupa kehancuran raga, hilangnya kedamaian jiwa, dan siksa neraka.

Allah SWT menegaskan dengan sangat jelas dalam Al-Qur'an bahwa perbuatan sihir adalah kemungkaran yang tidak akan pernah membawa keberuntungan atau kemenangan bagi pelakunya:

وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

"Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang."

(QS. Thaha: 69)

Sari berdiri menatap puing-puing abu dari kotak jati yang telah habis terbakar. Angin sore berembus membawa kehangatan baru di Desa Karang Tumpuk. Sari tersenyum tenang, mengetahui bahwa perjalanan panjang bibinya telah usai, dan desa tempat tinggalnya kini telah bebas dari cengkeraman racun dengki selamanya.

Terpopuler

Comments

💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀

💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀

masih salut warga yg masih toleransi
jasad nyai seruni di ijin kan di makamkan di desa itu

2026-08-09

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 : Nafas yang Tertahan Tanah
2 BAB 2 : Kotak Kayu dan Tapak Kaki di Atas Debu
3 BAB 3 : Jejak Amarah dan Jeritan Sumpah
4 BAB 4 : Gending Penari Bisu dan Sup Tulang Misterius
5 BAB 5 : Fajar Karang Tumpuk dan Warisan yang Terbakar
6 BAB 6 : Bunga Malam dan Warung Kecil Di Ujung Desa
7 BAB 7 : Surat Lontar yang Tertinggal dan Tamu dari Kota
8 BAB 8 : Bayangan dari Kota dan Pelita di Tepi Desa
9 BAB 9 : Tamu dari Seberang Laut dan Rahasia Panci Perunggu
10 BAB 10 : Panen Bunga Kemuning dan Bayangan di Lereng Bukit
11 BAB 11 : Nyanyian Malam dan Asap Gunung Tengger
12 BAB 12 : Menerobos Hutan Rimba dan Sumpah di Lembah Tengkorak
13 BAB 13 : Air Biru Penyurat Takdir dan Gua Para Pertapa
14 BAB 14 : Kobaran Api Hijau dan Rahasia Telaga Darah
15 BAB 15 : Runtuhnya Lorong Hitam dan Rahasia Gua Air Garam
16 BAB 16 : Jeritan dari Danau Bening dan Asap Hitam Puncak Bukit
17 BAB 17 : Fajar di Karang Tumpuk dan Jejak Hitam yang Tertinggal
18 BAB 18 : Syarat Pangeran Pesisir dan Persekutuan Baru
19 BAB 19 : Gemuruh di Gerban Lembah Barat dan Meriam Tengkorak
20 BAB 20 : Puncak Musnahnya Kegelapan dan Janji di Karang Tumpuk
21 BAB 21 : Jejak Senyap di Pasar Kidul dan Misteri Pedagang Jamu
22 BAB 22 : Asap Bunga Kecubung dan Jejak di Hutan Bambu
23 BAB 23 : Kabut Gelap Hutan Bambu dan Jejak Terlarang
24 BAB 24 : Bangkitnya Rahasia Ranubaya dan Pengorbanan di Pelataran
25 BAB 25 : Benturan Besi dan Runtuhnya Impian Purba
26 BAB 26: Surat Bersegel Perak dan Kabar dari Pesisir
27 BAB 27: Perjalanan Menuju Pelabuhan Bandan
28 BAB 28: Dermaga Kayu Besi dan Bayangan Nyawa
29 BAB 29 : Menembus Gelombang Selat Lintah Laut
30 BAB 30 : Teratai Hitam dan Bisikan Karang Tua
31 BAB 31 : Runtuhnya Celah Karang dan Jalan Keluar Bawah Air
32 BAB 32: Penawar Racun dan Kemilau Istana Pesisir
33 BAB 33 : Jejak Petunjuk di Ujung Samudra
34 BAB 34 : Uap Merah dan Pusaran Karang Tajam
35 BAB 35 : Kawah Hyang Tempa dan Warisan Murni Pande Gunung
36 BAB 36 : Fajar Baru di Karang Tumpuk dan Bayangan dari Benua Utama
37 BAB 37 : Panggilan Sembilan Benua dan Keberangkatan Armada Nusa Indah
38 BAB 38 : Kilat Perak di Selat Bayangan
39 BAB 39 : Pendaratan di Pantai Taring Hitam
40 BAB 40 : Pembebasan Lembah Taring Hitam dan Runtuhnya Tungku Haram
41 BAB 41 : Jejak di Pegunungan Cadas Hitam dan Misteri Pedang Tujuh Bencana
42 BAB 42 : Dalam Perut Benteng Gempa Hitam
43 BAB 43 : Duel Dua Tempaan di Atas Kawah Magma
44 BAB 44 : Melintasi Dataran Kabut Tembaga dan Gerbang Istana Hitam
45 BAB 45 : Puncak Takhta Hitam dan Kebangkitan Jiwa Bencana
46 BAB 46 : Fajar Baru Sembilan Benua dan Leburnya Zirah Bencana
47 EPILOG : Kedamaian Baru Sembilan Benua
Episodes

Updated 47 Episodes

1
BAB 1 : Nafas yang Tertahan Tanah
2
BAB 2 : Kotak Kayu dan Tapak Kaki di Atas Debu
3
BAB 3 : Jejak Amarah dan Jeritan Sumpah
4
BAB 4 : Gending Penari Bisu dan Sup Tulang Misterius
5
BAB 5 : Fajar Karang Tumpuk dan Warisan yang Terbakar
6
BAB 6 : Bunga Malam dan Warung Kecil Di Ujung Desa
7
BAB 7 : Surat Lontar yang Tertinggal dan Tamu dari Kota
8
BAB 8 : Bayangan dari Kota dan Pelita di Tepi Desa
9
BAB 9 : Tamu dari Seberang Laut dan Rahasia Panci Perunggu
10
BAB 10 : Panen Bunga Kemuning dan Bayangan di Lereng Bukit
11
BAB 11 : Nyanyian Malam dan Asap Gunung Tengger
12
BAB 12 : Menerobos Hutan Rimba dan Sumpah di Lembah Tengkorak
13
BAB 13 : Air Biru Penyurat Takdir dan Gua Para Pertapa
14
BAB 14 : Kobaran Api Hijau dan Rahasia Telaga Darah
15
BAB 15 : Runtuhnya Lorong Hitam dan Rahasia Gua Air Garam
16
BAB 16 : Jeritan dari Danau Bening dan Asap Hitam Puncak Bukit
17
BAB 17 : Fajar di Karang Tumpuk dan Jejak Hitam yang Tertinggal
18
BAB 18 : Syarat Pangeran Pesisir dan Persekutuan Baru
19
BAB 19 : Gemuruh di Gerban Lembah Barat dan Meriam Tengkorak
20
BAB 20 : Puncak Musnahnya Kegelapan dan Janji di Karang Tumpuk
21
BAB 21 : Jejak Senyap di Pasar Kidul dan Misteri Pedagang Jamu
22
BAB 22 : Asap Bunga Kecubung dan Jejak di Hutan Bambu
23
BAB 23 : Kabut Gelap Hutan Bambu dan Jejak Terlarang
24
BAB 24 : Bangkitnya Rahasia Ranubaya dan Pengorbanan di Pelataran
25
BAB 25 : Benturan Besi dan Runtuhnya Impian Purba
26
BAB 26: Surat Bersegel Perak dan Kabar dari Pesisir
27
BAB 27: Perjalanan Menuju Pelabuhan Bandan
28
BAB 28: Dermaga Kayu Besi dan Bayangan Nyawa
29
BAB 29 : Menembus Gelombang Selat Lintah Laut
30
BAB 30 : Teratai Hitam dan Bisikan Karang Tua
31
BAB 31 : Runtuhnya Celah Karang dan Jalan Keluar Bawah Air
32
BAB 32: Penawar Racun dan Kemilau Istana Pesisir
33
BAB 33 : Jejak Petunjuk di Ujung Samudra
34
BAB 34 : Uap Merah dan Pusaran Karang Tajam
35
BAB 35 : Kawah Hyang Tempa dan Warisan Murni Pande Gunung
36
BAB 36 : Fajar Baru di Karang Tumpuk dan Bayangan dari Benua Utama
37
BAB 37 : Panggilan Sembilan Benua dan Keberangkatan Armada Nusa Indah
38
BAB 38 : Kilat Perak di Selat Bayangan
39
BAB 39 : Pendaratan di Pantai Taring Hitam
40
BAB 40 : Pembebasan Lembah Taring Hitam dan Runtuhnya Tungku Haram
41
BAB 41 : Jejak di Pegunungan Cadas Hitam dan Misteri Pedang Tujuh Bencana
42
BAB 42 : Dalam Perut Benteng Gempa Hitam
43
BAB 43 : Duel Dua Tempaan di Atas Kawah Magma
44
BAB 44 : Melintasi Dataran Kabut Tembaga dan Gerbang Istana Hitam
45
BAB 45 : Puncak Takhta Hitam dan Kebangkitan Jiwa Bencana
46
BAB 46 : Fajar Baru Sembilan Benua dan Leburnya Zirah Bencana
47
EPILOG : Kedamaian Baru Sembilan Benua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!