ARAH BARU MENUJU GERBANG KOTA

​Keheningan yang amat mencekam kembali menguasai malam di pinggiran pemukiman Low-Blood.

​Angin berembus pelan, membawa aroma anyir darah segar yang kini bercampur pekat dengan bau belerang dari arah tambang.

​Tian Xue berdiri tanpa ekspresi. Tatapan matanya sedingin es abadi, menatap lurus ke arah tiga jasad pengawas Half-Dragon yang kini terbaring kaku di dalam lubang reruntuhan tanah akibat hantamannya.

​Tidak ada sedikit pun rasa penyesalan atau ketakutan di wajah pemuda berusia tujuh belas tahun itu.

​Bertahun-tahun hidup di dasar tambang neraka telah mengajarinya satu hukum mutlak di Benua Canglan: Yang lemah akan menjadi pijakan, dan yang kuat akan menjadi penentu takdir.

​Perlahan, Tian Xue melangkah turun mendekati ketiga mayat tersebut.

​Sebagai mantan kuli tambang, ia tahu betul bahwa para pengawas berdarah Half-Dragon ini selalu menimbun kekayaan. Entah itu dari hasil merampas jatah pekerja kelas bawah, atau menggelapkan setoran kristal naga dari klan utama.

​Ia sempat menoleh sejenak ke arah ibunya yang masih berdiri mematung di ambang pintu, sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada jasad di bawah kakinya.

​Tanpa ragu apalagi rasa jijik, jemari Tian Xue yang masih menyisakan hawa pertarungan mulai menggeledah saku zirah kulit ketiga mayat itu satu per satu.

​Dari balik lipatan zirah mereka, ia berhasil menemukan tiga buah Kantong Semesta berukuran kecil yang terbuat dari kulit Beast tingkat rendah.

​Dengan memicu sedikit energi fisik Peringkat 3 miliknya, Tian Xue menembus segel spiritual rendahan pada ketiga kantong tersebut dan memindai isinya.

​Seringai tipis yang dingin perlahan terukir di sudut bibirnya. Benar dugaannya, para bajingan ini sangat kaya untuk ukuran pengawas kota pinggiran.

​Tiga puluh lima kristal naga peringkat rendah, dua botol kecil berisi Pil Naga Penyembuh, dan satu keping Lencana Resmi Pengawas Kota yang terbuat dari besi hitam.

​Bagi seorang kuli Low-Blood, melihat satu buah kristal naga peringkat rendah saja adalah kemewahan yang langka.

​Pasalnya, seluruh hasil galian dari tambang maut maupun Gua Purba selalu disita dan dialirkan penuh untuk memanjakan para tuan muda di empat klan Naga Murni.

​"Cara tercepat untuk mendapatkan kekayaan dan sumber daya kultivasi di dunia ini memang dengan membunuh para lintah darat seperti mereka," gumam Tian Xue pelan.

​Namun, sebelum bergegas pergi, ia sadar harus segera memulihkan luka di bahunya. Ia tidak boleh membiarkan bau darah menempel di tubuhnya jika ingin melewati gerbang kota tanpa memicu kecurigaan.

​Tian Xue membuka salah satu botol kecil, mengeluarkan sebutir Pil Naga Penyembuh berwarna merah pekat, lalu melemparnya ke dalam mulut tanpa ragu.

​SLUUP!

​Pil spiritual itu seketika meleleh di pangkal tenggorokannya.

​Sebuah gelombang kehangatan mengalir deras, menyebar melalui pembuluh darah dan bermuara langsung di kedua bahunya yang sempat terkoyak oleh pukulan musuh.

​Sensasi hangat yang bercampur sedikit perih terasa menggelitik.

​Di bawah kulitnya, kekuatan regenerasi pil itu bereaksi dengan Garis Darah Naga Purba miliknya yang tersembunyi. Jaringan otot dan daging yang robek merapat kembali dengan kecepatan yang sangat tidak wajar.

​Hanya dalam tiga kali tarikan napas, rasa sakit yang merajam bahunya sirna sepenuhnya, menyisakan kulit yang kembali utuh seolah tak pernah tersentuh luka.

​Tian Xue memutar lencana besi hitam di jemarinya, lalu menoleh ke arah sang ibu yang masih syok.

​"Lencana kota ini akan sangat membantu kita untuk keluar dan masuk wilayah pengawasan tanpa dicurigai, Bu," ucap Tian Xue dengan nada tenang.

​Sun'an hanya terdiam kaku di tempatnya.

​Mata rentanya menatap sosok Tian Xue yang berdiri begitu tenang di tengah genangan darah dan mayat. Ada sebersit rasa asing yang sempat melintas di benak wanita paruh baya itu.

​Apakah ini benar-benar anak angkat yang selalu ia rawat dengan penuh kelembutan?

​"Tian'er... apa... apa ini benar-benar tidak apa-apa?" tanya Sun'an dengan suara bergetar pelan. Ketakutan akan pembalasan dendam dari otoritas kota mencekik lehernya.

​Tian Xue mengalihkan pandangannya. Binar matanya yang tadi tajam dan mematikan kini seketika melunak, kembali membawakan kehangatan yang tulus khusus untuk ibunya.

​Ia berjalan mendekat, menyentuh bahu Sun'an dengan lembut.

​"Jangan khawatir, Bu. Beginilah hukum di jalan bela diri. Jika kita tidak membunuh saat mereka menodongkan taringnya, maka merekalah yang akan membantai kita esok hari," jawab Tian Xue memberikan pengertian.

​Tanpa membuang waktu lebih lama, Tian Xue segera menyeret ketiga jasad berdarah itu menuju area semak belukar yang lebat di belakang rumah.

​Ia menggali tanah berbau belerang itu cukup dalam, melempar ketiga mayat pengawas Half-Dragon ke dalamnya, lalu meratakan kembali permukaan tanah dan menaburkan debu belerang untuk menyamarkan bau anyir darah serapi mungkin.

​Ia sama sekali tidak peduli pada risiko atau kemurkaan otoritas kota di masa depan.

​Bagi Tian Xue, keselamatan wanita tua yang sedang gemetar di dalam rumah itu adalah segalanya. Sun'an adalah satu-satunya keluarga sejati yang ia miliki di dunia ini.

​"Kemasi barang-barang kita, Bu. Kita harus pergi ke kota malam ini juga," ujar Tian Xue seraya membersihkan sisa tanah di tangannya saat kembali masuk ke dalam rumah.

​"Di sana tempatnya jauh lebih ramai. Jejak dan identitas kita tidak akan mudah tercium oleh para pengawas maupun anjing pelacak mereka."

​Sun'an mengangguk, memaksa dirinya untuk kembali tegar.

​Mereka berdua segera bergerak cepat mengemasi beberapa helai pakaian kusam dan barang-barang peninggalan paling berharga. Semua itu adalah saksi bisu dari hasil keringat dan darah Tian Xue saat bertahan hidup di area terdalam tambang kristal naga.

​Area terdalam tambang tersebut adalah manifestasi dari neraka dunia.

​Di sana, kegelapan abadi berpadu dengan gas beracun dan tekanan gravitasi bumi yang sanggup meremukkan tulang manusia biasa.

​Namun, justru di tempat paling mematikan dan terbuang itulah Tian Xue secara diam-diam menempa fisik dan memicu kebangkitan Garis Darah Naga Purba miliknya selama bertahun-tahun.

​Setelah memastikan tidak ada hal penting yang tertinggal, Tian Xue dan Sun'an melangkah keluar.

​Mereka berdua meninggalkan kediaman panggung reyot yang menyimpan ribuan kenangan pahit itu di belakang punggung, berjalan menyusuri jalan setapak yang ditelan kegelapan malam.

​Hembusan angin malam membelai wajah mereka. Sun'an berjalan berdampingan di sisi Tian Xue, namun garis-garis kecemasan di wajah wanita itu belum sepenuhnya sirna.

​"Tian'er... Ibu mau bertanya sesuatu," panggil Sun'an pelan, memecah keheningan di antara mereka.

​Tian Xue menoleh, memandang wajah ibunya yang dipenuhi keraguan. "Tanyakan saja, Bu."

​Jari-jemari Sun'an bertautan erat. Ia tampak sedikit ragu sebelum memaksakan kata-katanya keluar.

​"Apakah... apakah kau sudah sering membunuh orang sebelumnya? Hingga kau terlihat begitu tenang di hadapan kematian dan darah?"

​Mendengar kegugupan dalam nada suara ibunya, Tian Xue menghentikan langkahnya.

​Ia berbalik, lalu meraih lembut kedua lengan ibunya, menggenggamnya hangat di bawah terpaan sinar rembulan yang menyelinap dari balik awan mendung.

​"Ini pertama kalinya bagiku membunuh manusia, Bu," jawab Tian Xue jujur.

​Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata ibunya yang mulai berkaca-kaca.

​"Tapi inilah jalan yang sudah aku persiapkan sejak dulu. Aku sudah menguatkan mental dan tekadku setiap kali menghadapi kematian di dasar tambang kristal naga."

​Sebuah senyuman hangat, yang jauh dari kesan pembunuh berdarah dingin, mengembang di wajah pemuda itu.

​"Sebagai makhluk hidup, aku juga masih bisa merasakan rasa takut. Tapi ketakutan hanya akan membuat kita terlihat lemah dan diinjak-injak."

​Tian Xue mengusap punggung tangan ibunya dengan jempolnya. "Jadi, percayalah padaku. Aku masih Tian, anakmu. Masih orang yang sama."

​Mendengar ucapan yang begitu tulus dari bibir anak angkatnya, gejolak batin dan kengerian di dalam dada Sun'an perlahan mulai mereda.

​Bayangan ketakutan akan sosok "monster" pembunuh yang sempat membayangi pikirannya luluh seketika.

​‘Benar... Kenapa aku harus takut?’ batin Sun'an merenung.

​‘Sejam apa pun dunia di luar sana, Tian tetaplah Tian-ku. Anak yang selalu mempertaruhkan nyawa dan jatah makannya untuk melindungiku. Jika bukan aku yang mendukungnya di dunia yang kejam ini, lalu siapa lagi?’

​Rasa haru dan ketetapan hati memancar kuat dari sepasang mata wanita paruh baya itu. Sun'an mengangguk mantap, membalas genggaman jemari Tian Xue dengan erat.

​"Ya, Ibu percaya padamu, Tian'er. Ke mana pun kau melangkah, Ibu akan selalu ada di sisimu."

​Keduanya saling melempar senyum menguatkan, lalu kembali melanjutkan langkah menembus pekatnya malam.

​Namun, selang satu jam perjalanan, tepat ketika mereka mulai mendekati area depan gerbang luar menuju kota utama, langkah keduanya mendadak terhenti secara paksa di balik bayangan pepohonan besar.

​Di hadapan mereka, sekitar seratus meter jauhnya, antrean warga Half-Dragon dan Low-Blood tampak mengular panjang.

​Ada yang tidak beres malam ini.

​Penjagaan gerbang diperketat secara ekstrem, jauh melampaui kebiasaan harian. Puluhan prajurit berzirah sisik lengkap berdiri berbaris membentuk barikade, memeriksa setiap individu yang lewat dengan tatapan liar dan sangat teliti.

​Obor-obor besar menyala terang benderang di area gerbang, memantulkan pendar mematikan dari ujung tombak dan pedang para prajurit.

​Mata tajam Tian Xue seketika menyipit saat menangkap keberadaan sebuah pilar batu kristal berwarna biru yang memancarkan pendar sihir di tengah-tengah gerbang.

​Batu Pendeteksi Energi.

​Sepertinya, kabar tentang hilangnya tiga pengawas Half-Dragon, atau bau darah dari area pemukiman pinggiran, telah tercium lebih cepat oleh otoritas klan murni di pusat kota.

Episodes
1 PREDATOR DI KEDALAMAN DAN NAMA YANG MATI
2 BENTROKAN DENGAN TIGA PENGAWAS
3 ARAH BARU MENUJU GERBANG KOTA
4 BERPISAH DEMI KESELAMATAN
5 GADIS BARBAR DAN PIL PENYEMBUH
6 DUA BAYANGAN DI KEDALAMAN PURBA
7 HARGA SEBUAH KEMENANGAN
8 RAHASIA DI DALAM GUA PURBA
9 PINTU RAHASIA DAN JEJAK SEJARAH YANG TERHAPUS
10 UJIAN DI BALIK PINTU RUANG KECIL
11 INSTING PURBA DAN UJIAN KELAYAKAN
12 KECEPATAN MUTLAK DAN TANDUK DISTORSI
13 TAKTIK GILA DAN SERIGALA DARAH
14 MENUJU UJIAN TERAKHIR
15 SERIBU ANAK TANGGA MENUJU ISTANA LELUHUR
16 UJIAN TANPA AKHIR
17 ISTANA LELUHUR
18 Jejak Sejarah yang Terhapus
19 Warisan Para Leluhur
20 GARIS DARAH TINGKAT 4
21 HUTAN YANG TERLALU SUNYI
22 Amarah Rubah Ekor Sembilan
23 Tiga Cakar dan Bayangan Naga
24 Kekejaman Sang Pewaris
25 Pilihan Antara Kawan dan Bangkai
26 Jeratan di Balik Kegelapan
27 Penghuni Dunia Tersembunyi
28 Kengerian Tinju Kirin
29 Pengakuan sang Tetua
30 Jejak Kelam 1.000 Tahun Lalu
31 JEJAK KELAM SERIBU TAHUN LALU
32 BARISAN DEPAN DAN STRATEGI BERTAHAN
33 Ras tak terduga di celah selatan
34 Ancaman dari Kedalaman
35 Resonansi Inti Naga
36 Siasat di Balik Reruntuhan
37 Kecurigaan para tetua
38 PERINGATAN DI BALIK KEMENANGAN
39 JEJAK PEMIMPIN DI BALIK BAYANGAN
40 PUNCAK LELUHUR
41 BAB 41: KARTU TRUF DI BALIK KABUT
42 BAB 42: JEJAK AURA MANUSIA
43 BAYANG-BAYANG KECURIGAAN
44 TEMPAT KOSONG DI CELAH SUNGAI
45 TEORI DI BALIK KEGELAPAN
46 PENGKHIANAT DALAM BAYANGAN
47 PERMOHONAN SEORANG PUTRI KIRIN
48 LONCENG DARURAT
49 SINYAL DARI BAYANGAN
50 TOPENG PENGHIANATAN
51 GU YAN SANG KULTIVATOR IBLIS
52 PERHITUNGAN DINGIN DI ATAS KEHANCURAN
53 PENGORBANAN DAN CELAH YANG TERBUKA
54 LEDAKAN DARAH DAN PELUANG EMAS
55 CAKAR PEMBELAH LANGIT DAN DEBU PENGKHIANAT
56 KEHENINGAN DI ATAS DUKA
57 JEJAK YANG TERSISA
58 AKHIR SANG KULTIVATOR IBLIS
59 GERBANG DIMENSI DAN WAKTU YANG TERLEWAT
60 GURUN ANGIN TIMUR
61 BATAS DUA BENUA
62 PERJALANAN MENUJU KOTA BATU MERAH
63 KOTA BATU MERAH DAN DUA KEKUATAN
64 MENGGANGGU SELERA MAKAN
65 RUANG VIP DAN PEDANG TINGKAT LANGIT
66 PERHITUNGAN TIAN XUE
67 ARENA KEMATIAN DAN PENEKANAN SETENGAH KAISAR
68 Identitas Terancam
69 Umpan Maut dan Korosi Hukum Chaos
70 BISIKAN ANGIN DI BELAKANG DINDING
71 LELUHUR DIBALIK NAMA QIANLONG
72 BAYANG-BAYANG DI BALIK JENDELA
73 TIRAI PELELANGAN DAN PIL URAT NADI LANGIT
74 PERMAINAN DI BALIK FORMASI
75 PECAHAN PERANG SERIBU TAHUN
76 JAMINAN SANG MANAJER DAN WARISAN YANG TERLUPAKAN
77 RESONANSI DIAGRAM KUNO
78 KELIPATAN BERDARAH DAN TEKA-TEKI DIAGRAM PURBA
79 PERMAINAN HARGA DAN KEEGOAN DUA FAKSI
80 KEDATANGAN FAKSI RAKSASA
81 DOMINASI SALAH SATU PENGUASA BENUA TIANWU
82 Jejak Rahasia dan Amarah Sang Patriark
83 Pertarungan di Reruntuhan Kuno
84 Tiba di Benua Canglan
85 Tingkat 6 blodline
86 Pengumuman season 2
Episodes

Updated 86 Episodes

1
PREDATOR DI KEDALAMAN DAN NAMA YANG MATI
2
BENTROKAN DENGAN TIGA PENGAWAS
3
ARAH BARU MENUJU GERBANG KOTA
4
BERPISAH DEMI KESELAMATAN
5
GADIS BARBAR DAN PIL PENYEMBUH
6
DUA BAYANGAN DI KEDALAMAN PURBA
7
HARGA SEBUAH KEMENANGAN
8
RAHASIA DI DALAM GUA PURBA
9
PINTU RAHASIA DAN JEJAK SEJARAH YANG TERHAPUS
10
UJIAN DI BALIK PINTU RUANG KECIL
11
INSTING PURBA DAN UJIAN KELAYAKAN
12
KECEPATAN MUTLAK DAN TANDUK DISTORSI
13
TAKTIK GILA DAN SERIGALA DARAH
14
MENUJU UJIAN TERAKHIR
15
SERIBU ANAK TANGGA MENUJU ISTANA LELUHUR
16
UJIAN TANPA AKHIR
17
ISTANA LELUHUR
18
Jejak Sejarah yang Terhapus
19
Warisan Para Leluhur
20
GARIS DARAH TINGKAT 4
21
HUTAN YANG TERLALU SUNYI
22
Amarah Rubah Ekor Sembilan
23
Tiga Cakar dan Bayangan Naga
24
Kekejaman Sang Pewaris
25
Pilihan Antara Kawan dan Bangkai
26
Jeratan di Balik Kegelapan
27
Penghuni Dunia Tersembunyi
28
Kengerian Tinju Kirin
29
Pengakuan sang Tetua
30
Jejak Kelam 1.000 Tahun Lalu
31
JEJAK KELAM SERIBU TAHUN LALU
32
BARISAN DEPAN DAN STRATEGI BERTAHAN
33
Ras tak terduga di celah selatan
34
Ancaman dari Kedalaman
35
Resonansi Inti Naga
36
Siasat di Balik Reruntuhan
37
Kecurigaan para tetua
38
PERINGATAN DI BALIK KEMENANGAN
39
JEJAK PEMIMPIN DI BALIK BAYANGAN
40
PUNCAK LELUHUR
41
BAB 41: KARTU TRUF DI BALIK KABUT
42
BAB 42: JEJAK AURA MANUSIA
43
BAYANG-BAYANG KECURIGAAN
44
TEMPAT KOSONG DI CELAH SUNGAI
45
TEORI DI BALIK KEGELAPAN
46
PENGKHIANAT DALAM BAYANGAN
47
PERMOHONAN SEORANG PUTRI KIRIN
48
LONCENG DARURAT
49
SINYAL DARI BAYANGAN
50
TOPENG PENGHIANATAN
51
GU YAN SANG KULTIVATOR IBLIS
52
PERHITUNGAN DINGIN DI ATAS KEHANCURAN
53
PENGORBANAN DAN CELAH YANG TERBUKA
54
LEDAKAN DARAH DAN PELUANG EMAS
55
CAKAR PEMBELAH LANGIT DAN DEBU PENGKHIANAT
56
KEHENINGAN DI ATAS DUKA
57
JEJAK YANG TERSISA
58
AKHIR SANG KULTIVATOR IBLIS
59
GERBANG DIMENSI DAN WAKTU YANG TERLEWAT
60
GURUN ANGIN TIMUR
61
BATAS DUA BENUA
62
PERJALANAN MENUJU KOTA BATU MERAH
63
KOTA BATU MERAH DAN DUA KEKUATAN
64
MENGGANGGU SELERA MAKAN
65
RUANG VIP DAN PEDANG TINGKAT LANGIT
66
PERHITUNGAN TIAN XUE
67
ARENA KEMATIAN DAN PENEKANAN SETENGAH KAISAR
68
Identitas Terancam
69
Umpan Maut dan Korosi Hukum Chaos
70
BISIKAN ANGIN DI BELAKANG DINDING
71
LELUHUR DIBALIK NAMA QIANLONG
72
BAYANG-BAYANG DI BALIK JENDELA
73
TIRAI PELELANGAN DAN PIL URAT NADI LANGIT
74
PERMAINAN DI BALIK FORMASI
75
PECAHAN PERANG SERIBU TAHUN
76
JAMINAN SANG MANAJER DAN WARISAN YANG TERLUPAKAN
77
RESONANSI DIAGRAM KUNO
78
KELIPATAN BERDARAH DAN TEKA-TEKI DIAGRAM PURBA
79
PERMAINAN HARGA DAN KEEGOAN DUA FAKSI
80
KEDATANGAN FAKSI RAKSASA
81
DOMINASI SALAH SATU PENGUASA BENUA TIANWU
82
Jejak Rahasia dan Amarah Sang Patriark
83
Pertarungan di Reruntuhan Kuno
84
Tiba di Benua Canglan
85
Tingkat 6 blodline
86
Pengumuman season 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!