Lu Shi menatap lekat-lekat permukaan pahatan batu kuno di hadapannya.
Rasa penasaran yang besar membuatnya melangkah maju, lalu dengan perlahan meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas ukiran huruf naga kuno tersebut untuk mencoba memicunya.
Srrr...
Beberapa detik berlalu dalam kesunyian.
Namun, tidak terjadi apa pun. Ukiran itu tetap membisu, tidak memancarkan pendar emas, dan batu di bawah telapak tangannya tetap dingin tanpa reaksi.
"Kenapa... aku sama sekali tidak merasakan apa pun?" Lu Shi mengerutkan dahinya, wajah cantiknya dipenuhi rasa bingung sekaligus kecewa.
Gadis itu mendengus kasar, lalu menarik tangannya dan mengibaskannya dengan acuh tak acuh.
"Sudahlah! Kalau nanti ingatanmu tentang memori aneh perang kuno itu sudah pulih sepenuhnya, kau wajib menceritakannya padaku, Lelaki Bodoh!"
Tian Xue, yang baru saja berhasil menguasai sisa-sisa gejolak darah dan pernapasan di dadanya, mengangguk pelan. "Baiklah."
"Apa kau sudah merasa baikan?" tanya Lu Shi menyipitkan mata. "Kalau fisikmu sudah pulih, lebih baik kita segera masuk sekarang."
Tanpa menunggu persetujuan lanjutan, Lu Shi menunjuk ke arah celah pintu batu raksasa yang masih sedikit terbuka di hadapan mereka.
Tian Xue perlahan bangkit berdiri dengan tumpuan kaki yang kokoh.
Ia mengibas sisa-sisa debu tanah yang menempel di pakaian kasarnya, lalu menarik napas panjang untuk menyelaraskan aliran energi di nadinya.
"Ya, aku sudah baik-baik saja."
Meski dari luar ekspresinya tampak tenang tanpa riak, jauh di dalam benaknya, pertanyaan demi pertanyaan tentang visi perang kuno tadi terus berputar tanpa henti.
‘Apa yang sebenarnya terjadi ribuan tahun lalu? Kenapa bangsa manusia dan para leluhur Beast Purba saling membantai dalam perang sebesar itu? Dan garis darah naga agung di dalam diriku... apa hubungannya dengan pengkhianatan itu?’
Namun, Tian Xue adalah seorang yang sangat pragmatis. Ia tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk merenungkan masa lalu.
Ia memilih untuk menyimpan rapat-rapat semua kebingungan itu di dalam kepalanya.
Tanpa banyak bicara, pemuda itu melangkah mendekati struktur pintu batu raksasa yang tertutup lumut tebal.
"Bagaimana? Apa kita akan langsung menerobosnya sekarang?" tanya Lu Shi yang sudah berdiri bersiap di sampingnya.
"Tapi kita sama sekali tidak tahu apa bahaya yang menanti di dalam sana... Entah itu jebakan maut, atau sebuah kesempatan besar untuk berkultivasi."
Tian Xue meraba permukaan tebal dari pintu batu tersebut.
Matanya menyipit tajam, memindai setiap guratan fluktuasi energi gaib yang mengalir samar di sela-sela batuan kuno itu.
"Di dunia ini, tidak pernah ada hal yang gratis," ujar Tian Xue dingin, suaranya mengandung keyakinan mutlak.
"Jika di dalam sana terdapat peluang besar, pasti ada harga nyawa yang setimpal untuk dibayar. Sebaliknya, sebesar apa pun bahayanya, selalu ada celah kesempatan bagi mereka yang berani mengambil risiko."
Mendengar ucapan filosofis bernada dingin itu, Lu Shi mendadak tertawa terbahak-bahak hingga suaranya bergema kencang memantul di dinding tebing.
"Pfft! Hahaha! Sejak kapan seorang kuli…
SANG NAGA PURBA
UJIAN DI BALIK PINTU RUANG KECIL
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 86 Episodes
Comments