Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu

Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Aira merasakan nyeri yang luar biasa di bagian bawah tubuhnya.

"Mas, bangun," rintih Aira dengan mata berkaca-kaca.

Azam yang masih tertidur pulas langsung terbangun. "Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?" tanya Azam khawatir.

PLAK!

Aira memukul dada bidang Azam. "Dasar laki-laki enggak peka!" kesal Aira.

Ia lalu turun dari tempat tidur. Namun baru beberapa langkah, Aira terjatuh di lantai yang dilapisi kasur lantai yang tipis, tetapi halus dan lembut.

Azam bergegas berdiri, lalu menghampiri sang istri. "Sayang ...?" Kalimat Azam terhenti saat Aira tiba-tiba menyuruhnya berhenti di tempat, padahal jarak mereka sudah begitu dekat.

"Aku enggak apa-apa, Azam! Sana gih kamu mandi, terus kita salat malam bareng," kata Aira cepat. Meski masih terduduk di bawah, Aira mencoba untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang kelihatan.

"Terus kamu gimana, Sayang? Kamu, kan, enggak bisa jalan?" kata Azam polos.

Aira cemberut. "Aku enggak apa-apa, Zam! Sudah, sana kamu mandi. Oh ya, kamu mandi di kamar mandi depan ya, aku mau mandi juga soalnya," kata Aira cepat.

Azam terdiam sejenak. Tiba-tiba senyumnya terukir begitu indah di wajah tampannya. "Gimana kalau kita mand..."

"Azam!" kesal Aira.

Azam tertawa terbahak-bahak, lalu dengan gemas mengusap lembut rambut indah Aira.

***

Pagi ini Azam sengaja memanggil Bi Siti ke rumah mereka untuk memasak dan bersih-bersih. Setelah salat subuh tadi, Aira memilih rebahan di sofa kamar sambil membaca novel. Azam hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.

"Den Azam, mau Bibi panggilin Nyonya Aira?" tanya Bi Siti di ruang makan.

Azam yang sedang sibuk dengan laptopnya langsung menolak. "Biar saya saja, Bi, yang memanggil Aira," kata Azam tegas, lalu bergegas menaiki anak tangga.

Azam tersenyum melihat tingkah sang istri. "Sayang, sarapan yuk," ajak Azam sembari menghampiri sang istri.

"Gendong," pinta Aira manja.

Azam terkekeh geli, namun tetap menuruti apa yang Aira minta.

"Kamu masak sendiri, Mas?" tanya Aira santai.

Azam menggeleng. "Ada Bi Siti di bawah. Aku sengaja panggil Bi Siti ke sini buat masak sama bersih-bersih," jawab Azam lembut.

Aira mengangguk mengerti, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. "Turunin aku, Mas, nanti dilihat Bi Siti loh," pinta Aira yang masih menyembunyikan wajah imutnya di dada bidang Azam.

"Biarin, kan sama bini sendiri," goda Azam sembari menuruni anak tangga.

Aira menghirup dalam-dalam dada bidang Azam yang dilapisi dengan kaus putih itu. "Kamu kok wangi banget sih, Zam? Aku suka," kata Aira manja.

Azam tertawa kecil, lalu mendudukkan tubuh kecil Aira di kursi sebelah kanannya. "Sarapan dulu, nanti kita lanjutin yang semalam. Makan yang banyak ya biar..."

BUGH!

Dengan kesal Aira melempar Azam dengan tisu. "Plis deh, Mas, jangan mesum bisa enggak sih," omel Aira kesal.

***

Hari ini matahari bersinar begitu terik. Azam mengendarai mobil mewahnya, sedangkan Aira duduk manis di sebelahnya.

"Mas," panggil Aira lembut.

Azam menoleh. "Apa, Sayang?"

"Aku mau beli novel, boleh?" tanya Aira pelan.

Azam tersenyum, lalu mengambil sesuatu dari sakunya. "Nih, pakai saja. Terserah kamu mau beli novel, rumah, hotel, apartemen, mal, atau apa pun itu yang mau kamu beli, beli saja ya. Kamu enggak akan bisa habisin uang di dalam kartu ini," kata Azam senang.

Aira menerimanya dengan sangat antusias. "Asyik! Akhirnya aku bisa habisin uang kamu, Azam jutek," kata Aira tanpa berpikir panjang lebar.

Azam mengernyit. "Jutek? Siapa yang jutek, Sayang?" kata Azam bingung.

Aira cemberut, namun tetap menerima kartu hitam pemberian Azam. "Kamu lah! Dulu saja pas kita masih sekolah, kamu tuh dingin banget kayak kulkas pintu sepuluh ribu," cetus Aira.

Azam terkekeh pelan. "Aku ini laki-laki normal, Aira. Menjaga jarak denganmu sebelum menikah itu wajib," kata Azam lembut.

"Iya sih, tapi kamu kelihatan banget tau kalau lagi cemburu," cengir Aira.

Azam terdiam. "Mana ada cemburu. Aku kan cuma enggak mau lihat kamu disakiti cowok lain, makanya aku gak..." Belum sempat Azam menyelesaikan kalimatnya, Aira langsung mencium sekilas pipi Azam.

CUP!

"Aku tahu kok, aku kan sudah gede, haha."

Azam merasakan jantungnya berdebar sangat kuat.

"Mas, kamu kenapa? Kamu malu? Mau aku cium lagi kayak tad..."

CUP!

Dengan gemas Azam mencium sekilas kening Aira hingga perempuan itu terdiam membeku di tempat.

"Ihh, Azam!" kata Aira kesal, namun pipi tembamnya merona karena malu.

"Biar adil, Sayang. Awas aja ya nanti malam aku bikin kamu..." Azam menghentikan ucapannya saat tiba-tiba suara ponsel Aira berdering.

"Siapa, Sayang?" tanya Azam yang masih menyetir.

"Hanum, Mas. Katanya Ayah sama Ibu sudah di perjalanan ke rumah kita," kata Aira syok.

Azam mengernyit bingung. "Sekarang? Kok tiba-tiba?" kata Azam heran.

"Yaudah yuk, Mas, kita putar balik saja ya. Kita jalan-jalannya nanti malam saja," kata Aira senang.

"Kamu enggak marah?" heran Azam.

Aira menggeleng pelan. "Enggak, Mas, aku enggak marah. Justru aku senang bisa ketemu sama Ibu sama si Hanum. Sudah lama loh aku enggak ketemu Hanum, hehe."

Azam tersenyum mendengarnya, lalu dengan lembut tangannya menggenggam erat tangan kanan Aira. "Aku bersyukur banget punya kamu, Aira Humaira," kata Azam tulus.

Terpopuler

Comments

Ridwan Hasan

Ridwan Hasan

Lanjut 👍

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Hari Istimewa
2 Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
3 Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
4 BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco
5 BAB 5: Hadiah Istimewa
6 BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
7 BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
8 Bab 8: Pertemuan dan Gelisah
9 BAB 9: Trauma Aira
10 BAB 10: Luka Yang Masih Basah
11 BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
12 BAB 12: Perasaan yang Membingungkan
13 BAB 13: Sambutan Hangat
14 BAB 14: Fakta yang Menyakitkan
15 BAB 15: Kebenaran yang Dibawa Pergi
16 BAB 16: Firasat Seorang Adik Perempuan
17 BAB 17: Tawa yang Kembali
18 BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya
19 BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
20 BAB 20 Ajakan Misterius Azam.
21 BAB 21 Anniversary
22 BAB 22 Vila untuk Aira
23 BAB 23: Kembali ke Jakarta
24 Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
25 Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
26 Bab 26 Aira dalam Bahaya
27 Bab 27: Sandiwara Sang Kembaran
28 Bab 28 Dendam yang Tertahan
29 Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
30 Bab 30 Trauma dan Rahasia Kelam
31 Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
32 Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
33 Bab 33 Batas Kesabaran (
34 Bab 34 Liburan yang Terganggu
35 Bab 35 Tak Sangup Membawa Luka
36 Bab 36 Dekapan Hangat di Udara.
37 Bab 37 Azam yang Posesif
38 Bab 38 Vario Cinta untuk Azam
39 Bab 39 Di Bawah Derasnya Hujan Bersamamu
40 Bab 40 Alergi Suami Sendiri
41 Bab 41 Malam Yang Sepi
42 Bab 42 Tangis dan Durian Sate
43 Bab 43 Air Mata Haru dan Ngidam
44 Bab 44 Kebahagiaan yang Terusik
45 Bab 45 Anak Bos mau Ngiler
46 Bab 46 Bumil yang Merajuk
47 Bab 47 Rasa bersalah Aira
48 Bab 48 Terpuruk dalam.Rasa Bersalah
49 Bab 49 Wajah tampan yang Pucat
50 Bab 50 Akhirnya kembali Bertemu
51 Bab 51 Kejutan dan Pelukan Palsu
52 Bab 52 Jejak Miko di Rumah Sakit
53 Bab 53 Secarik Surat Misterius
54 Bab 54 Pelukan yang Menenagkan
55 Bab 55 Teror yang Belum Berakhir
56 Bab 56 Ketakutan Aira.
57 Bab 57 Dalang di Balik Teror
58 Bab 58 Liburan dan Pesan Misterius
59 Bab 59 Satu malam Tiga Nyawa
Episodes

Updated 59 Episodes

1
BAB 1 Hari Istimewa
2
Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
3
Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
4
BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco
5
BAB 5: Hadiah Istimewa
6
BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
7
BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
8
Bab 8: Pertemuan dan Gelisah
9
BAB 9: Trauma Aira
10
BAB 10: Luka Yang Masih Basah
11
BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
12
BAB 12: Perasaan yang Membingungkan
13
BAB 13: Sambutan Hangat
14
BAB 14: Fakta yang Menyakitkan
15
BAB 15: Kebenaran yang Dibawa Pergi
16
BAB 16: Firasat Seorang Adik Perempuan
17
BAB 17: Tawa yang Kembali
18
BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya
19
BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
20
BAB 20 Ajakan Misterius Azam.
21
BAB 21 Anniversary
22
BAB 22 Vila untuk Aira
23
BAB 23: Kembali ke Jakarta
24
Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
25
Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
26
Bab 26 Aira dalam Bahaya
27
Bab 27: Sandiwara Sang Kembaran
28
Bab 28 Dendam yang Tertahan
29
Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
30
Bab 30 Trauma dan Rahasia Kelam
31
Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
32
Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
33
Bab 33 Batas Kesabaran (
34
Bab 34 Liburan yang Terganggu
35
Bab 35 Tak Sangup Membawa Luka
36
Bab 36 Dekapan Hangat di Udara.
37
Bab 37 Azam yang Posesif
38
Bab 38 Vario Cinta untuk Azam
39
Bab 39 Di Bawah Derasnya Hujan Bersamamu
40
Bab 40 Alergi Suami Sendiri
41
Bab 41 Malam Yang Sepi
42
Bab 42 Tangis dan Durian Sate
43
Bab 43 Air Mata Haru dan Ngidam
44
Bab 44 Kebahagiaan yang Terusik
45
Bab 45 Anak Bos mau Ngiler
46
Bab 46 Bumil yang Merajuk
47
Bab 47 Rasa bersalah Aira
48
Bab 48 Terpuruk dalam.Rasa Bersalah
49
Bab 49 Wajah tampan yang Pucat
50
Bab 50 Akhirnya kembali Bertemu
51
Bab 51 Kejutan dan Pelukan Palsu
52
Bab 52 Jejak Miko di Rumah Sakit
53
Bab 53 Secarik Surat Misterius
54
Bab 54 Pelukan yang Menenagkan
55
Bab 55 Teror yang Belum Berakhir
56
Bab 56 Ketakutan Aira.
57
Bab 57 Dalang di Balik Teror
58
Bab 58 Liburan dan Pesan Misterius
59
Bab 59 Satu malam Tiga Nyawa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!