Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo

Jantung Aira berdegup begitu cepat saat melihat kedatangan Ayah Niko dan Ibu Nilta yang baru saja turun dari mobil. Meskipun dulu hampir setiap hari mereka bertemu, baru kali ini Aira merasakan kegugupan yang luar biasa.

"Kak Airaaaaaaaaa!" heboh Hanum, lalu berlari kencang ke arah Aira.

Dengan secepat kilat, Azam langsung berdiri di depan Aira dan ....

DUG!

"Awwww!" pekik Hanum saat merasakan kepalanya membentur dada bidang sang kakak yang keras.

"Abang!" pekik Hanum kesal sambil mengusap-usap kepalanya. "Ayah, Ibu, ihhh Abang ...."

"Hanum, jangan kebiasaan seperti itu, enggak sopan. Lain kali ucapkan salam dulu," tegur Bu Nilta. Hanum pun langsung cemberut pasrah.

"Assalamualaikum," ucap Ayah Niko, lalu dijawab serentak oleh Azam dan Aira.

"Silakan Ibu, Ayah, masuk," kata Aira gugup.

Ibu Nilta tersenyum teduh ke arah Aira saat mereka sudah berkumpul di ruang tamu. "Loh, loh, kok masih manggil Tante saja sih? Panggil Ibu juga dong, kayak sama orang asing saja."

Aira tersenyum malu, lalu mengangguk pelan.

"Kak Aira, Kak Aira enggak kangen ya sama aku? Aku kangen tahu sama Kak Aira," heboh Hanum sambil menikmati camilan kesukaannya.

Azam dan Ayah Niko kemudian berpindah untuk mengobrol berdua di ruang keluarga. Sementara itu, Aira tetap di ruang tamu bersama Hanum dan Bu Nilta. Sebelum bersiap-siap pergi, Aira sempat meminta bantuan Bu Nilta untuk mengepang rambut panjangnya yang indah.

"Ehem, manja-manjaan saja terus," ejek Hanum yang melihat kedekatan mereka.

"Dih, apaan sih! Enggak diajak, weee," ledek balik Aira.

Azam yang tiba-tiba kembali masuk ke ruang tamu langsung menimpali, "Sayang, sana gih jalan-jalan sama Ibu sama Hanum. Beli saja apa pun yang kamu, Ibu, dan Hanum mau. Aku di rumah saja ya sama Ayah."

"Siap, Mas! Ya sudah, yuk kita ke mal sekarang, Ibu, Hanum," kata Aira antusias.

"Kamu enggak malu keluar sama Ibu, Aira? Ibu sudah tua loh," kata Ibu Nilta lembut.

Aira menggeleng cepat. "Justru Aira senang banget, akhirnya Aira punya ibu," kata Aira polos.

Hanum menoleh sambil terus mengunyah camilannya. "Kamu enggak cuma punya Ayah, Ibu, sama Bang Azam. Sekarang kamu juga punya adik perempuan yang begitu cantik, imut, dan baik hati ini, hehehe."

"Hahaha, pastinya! Kamu juga senang dong punya mbak secantik dan seimut aku, iya kan, Bu?" kata Aira sembari memeluk erat tubuh Bu Nilta.

Bu Nilta mengusap lembut rambut Aira. "Ibu senang banget punya menantu seperti kamu, Aira. Semoga Allah jaga rumah tangga kalian dari hal-hal yang tidak diinginkan."

"Aamiin," kata Aira dan Hanum bersamaan.

***

Setelah berpamitan dengan Ayah Niko dan Azam, ketiganya segera berangkat menuju salah satu mal terbesar di pusat kota. Kali ini mereka diantar oleh Pak Dadi, sopir pribadi Ayah Niko.

Di dalam mobil, Hanum tidak berhenti mengoceh tentang toko-toko baju dan kosmetik yang ingin ia kunjungi. Sementara itu, Ibu Nilta hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putri bungsunya itu.

"Kak Aira," panggil Hanum tiba-tiba.

Aira yang sedang duduk di sebelah Bu Nilta menoleh ke belakang. "Kenapa, Num? Kangen, ya?" kata Aira menyengir.

Hanum cemberut. "Ihh, geer banget sih kamu, Kak! Aku tuh cuma mau kasih tahu kamu, kalau nanti aku ada kado istimewa buat Kak Aira loh. Aku yakin pasti Kak Aira bakalan ucapin makasih sebanyak-banyaknya ke aku," kata Hanum sok misterius.

Aira mengernyit bingung. "Kado? Aku kan belum ulang tahun, Hanum."

"Bukan itu loh maksud aku, Kak. Masa iya aku enggak boleh kasih kado begitu? Memang boleh kasih kadonya pas hari ulang tahun doang?" kata Hanum santai. Aira hanya tertawa kecil mendengarnya.

Sesampainya di mal, suasana begitu ramai. Aira langsung menggandeng lengan Ibu Nilta dengan erat, seolah takut terpisah di tengah kerumunan.

"Ibu mau lihat-lihat gamis dulu atau kita langsung menemani Hanum?" tanya Aira lembut sambil menatap mertuanya.

"Ibu ikut kalian saja, Sayang. Ibu senang melihat kalian berdua bersemangat begini," jawab Ibu Nilta tulus.

"Ih, Kak Aira! Ke toko kosmetik itu dulu yuk! Ada liptint yang lagi viral banget, aku mau beli!" rengek Hanum sambil menarik tangan kiri Aira.

Mereka pun melangkah masuk ke dalam toko kosmetik. Hanum langsung sibuk memilih warna lipstik yang cocok untuk remaja seusianya. Sementara itu, Aira memilih menemani Ibu Nilta duduk di kursi tunggu.

"Aira," panggil Ibu Nilta pelan.

"Iya, Bu?" Aira menoleh, menatap wajah teduh yang selalu menenangkannya itu.

"Terima kasih, ya. Terima kasih karena sudah mau menerima Azam dengan segala kekurangannya. Azam itu anak yang kaku dan terlalu serius, tapi Ibu tahu, di dalam hatinya dia sangat menyayangi keluarganya, terutama kamu," kata Ibu Nilta dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru.

Aira tersenyum sangat manis, lalu memeluk lengan Ibu Nilta lebih erat. "Justru Aira yang berterima kasih, Bu. Mas Azam itu sangat baik, bahkan terlalu baik untuk Aira yang masih manja begini. Aira janji akan belajar menjadi istri yang terbaik untuk Mas Azam."

"Ibu percaya kamu bisa, Nak," ucap Bu Nilta sambil mengecup pelan pelipis menantunya itu.

"Ekhem! Sudah dong peluk-pelukannya, Hanum jadi cemburu nih," celetuk Hanum yang tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka sambil membawa keranjang kecil berisi kosmetik pilihannya.

"Kamu ini, sama kakak sendiri kok cemburu," ledek Bu Nilta yang membuat Aira ikut tertawa.

"Yuk, sekarang giliran Kak Aira yang belanja. Tami katanya mau beli novel baru, kan? Di lantai atas ada toko buku besar," ajak Hanum antusias.

Aira mengangguk penuh semangat. Ia meraba tas kecilnya, memastikan kartu hitam pemberian Azam aman di sana.

Setibanya mereka di toko buku, Aira langsung mencari buku incarannya. "Ibu, Ibu enggak apa-apa kan kita ke sini dulu?" kata Aira merasa tidak enak karena toko terlihat sudah hampir bersiap tutup.

"Enggak apa-apa, Sayang. Kamu beli saja apa yang mau kamu beli, ya. Jangan sungkan sama Ibu," kata Bu Nilta ramah.

Aira membawa beberapa novel lalu membayarnya di kasir. Saat hendak menghampiri Ibu Nilta kembali, Aira tidak sengaja melihat Hanum sedang berbisik-bisik misterius di telinga Ibu Nilta.

"Apa benar ya yang ada di film-film? Enggak ada istilahnya ipar sama mertua tuh baik," batin Aira kocak, mendadak curiga dan ngeri sendiri.

"Aira sayang, gimana? Sudah selesai?" tanya Ibu Nilta lembut lalu berjalan menghampirinya.

"Sudah, Bu," jawab Aira setenang mungkin, mencoba bersikap biasa saja.

Ibu Nilta mengangguk. "Ya sudah, yuk kita ke restoran. Pasti kamu sudah kelaparan, kan?"

Aira hanya mengangguk patuh. Namun, sedetik kemudian ia menyadari sesuatu. "Oh ya, Bu, Hanum mau ke mana kok pergi?" tanya Aira yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Ibu Nilta menoleh ke arah Hanum yang tampak berjalan menjauh. "Ibu juga enggak tahu, Nak. Mungkin saja Hanum mau beli minuman atau bertemu dengan teman sekolahnya," jawab Ibu.

Dengan susah payah, Aira menahan bibirnya agar tidak cemberut. "Aaah, Mas Azam jemput aku, huaaa!" batin Aira ngenes.

Saat mereka sudah duduk di dalam restoran, Aira buru-buru berkata, "Bu, Aira temenin Ibu makan saja ya. Aira enggak makan soalnya Aira masih kenyang."

"Loh, kenapa, Sayang? Kamu beneran enggak apa-apa?" tanya Ibu Nilta khawatir.

Aira menyengir lebar. "Aira tadi pagi makan banyak kok, Bu, hehe."

Ibu Nilta mengangguk mengerti. "Ya sudah, kamu mau pesan apa? Biar Ibu pesankan sekalian," tawar Bu Nilta lembut.

Aira melihat buku menu lalu memesan dengan antusias. "Aira mau kepiting pedas yang jumbo ya, Bu. Sama cumi bakar sepuluh, sama ikan bakar tujuh porsi, hehehe," kata Aira tanpa dosa.

"Iya, Sayang. Ya sudah, Ibu tinggal sebentar ya untuk memesan," pamit Bu Nilta.

Setelah memastikan sang mertua benar-benar pergi ke kaunter pemesanan, Aira bergegas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Azam.

"Assalamualaikum, Mas," kata Aira pelan.

"Waalaikumussalam, Sayang. Ada apa, Sayang?" jawab Azam dari seberang telepon.

"Mas, tolong ya masakin nasi sekarang juga yang banyak! Soalnya aku sama Ibu mau makan di rumah. Kamu tahu sendiri kan tadi pagi Bi Siti cuma buatkan roti bakar sama susu," kata Aira cepat-cepat.

"Hahahah!" Aira mengerucutkan bibirnya kesal saat mendengar suara tawa renyah sang suami.

"Iya, Sayang, iya. Aku masak nasi sekarang. Ya sudah gih, sana lanjutkan belanjanya, aku masak dulu ya, Sayang," kata Azam lembut.

"Iya, Mas, makasih ya. Ya sudah, aku matiin dulu yaaa, daaa!" kata Aira lalu mematikan sambungan teleponnya.

Aira tersenyum senang lalu berjingkrak-jingkrak sendiri di kursinya karena kegirangan. "Aaaaa bahagianya aku punya suami kayak kamu, Mas, emmmmmuach!" katanya heboh sendiri.

Tanpa disadari, dari kejauhan Bu Nilta memperhatikan menantunya itu sambil tersenyum senang melihat tingkah laku Aira yang begitu bucin. Begitu pun sebaliknya, ia tahu Azam juga tak kalah bucin dari Aira.

"Semoga kalian selalu bahagia, ya," batin Bu Nilta tulus.

Terpopuler

Comments

Tempat resep ide jajanan Sekolahan

Tempat resep ide jajanan Sekolahan

Mantap gw yg cowo aja ngakak bca nya 🤣😄

2026-08-02

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Hari Istimewa
2 Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
3 Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
4 BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco
5 BAB 5: Hadiah Istimewa
6 BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
7 BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
8 Bab 8: Pertemuan dan Gelisah
9 BAB 9: Trauma Aira
10 BAB 10: Luka Yang Masih Basah
11 BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
12 BAB 12: Perasaan yang Membingungkan
13 BAB 13: Sambutan Hangat
14 BAB 14: Fakta yang Menyakitkan
15 BAB 15: Kebenaran yang Dibawa Pergi
16 BAB 16: Firasat Seorang Adik Perempuan
17 BAB 17: Tawa yang Kembali
18 BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya
19 BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
20 BAB 20 Ajakan Misterius Azam.
21 BAB 21 Anniversary
22 BAB 22 Vila untuk Aira
23 BAB 23: Kembali ke Jakarta
24 Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
25 Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
26 Bab 26 Aira dalam Bahaya
27 Bab 27: Sandiwara Sang Kembaran
28 Bab 28 Dendam yang Tertahan
29 Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
30 Bab 30 Trauma dan Rahasia Kelam
31 Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
32 Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
33 Bab 33 Batas Kesabaran (
34 Bab 34 Liburan yang Terganggu
35 Bab 35 Tak Sangup Membawa Luka
36 Bab 36 Dekapan Hangat di Udara.
37 Bab 37 Azam yang Posesif
38 Bab 38 Vario Cinta untuk Azam
39 Bab 39 Di Bawah Derasnya Hujan Bersamamu
40 Bab 40 Alergi Suami Sendiri
41 Bab 41 Malam Yang Sepi
42 Bab 42 Tangis dan Durian Sate
43 Bab 43 Air Mata Haru dan Ngidam
44 Bab 44 Kebahagiaan yang Terusik
45 Bab 45 Anak Bos mau Ngiler
46 Bab 46 Bumil yang Merajuk
47 Bab 47 Rasa bersalah Aira
48 Bab 48 Terpuruk dalam.Rasa Bersalah
49 Bab 49 Wajah tampan yang Pucat
50 Bab 50 Akhirnya kembali Bertemu
51 Bab 51 Kejutan dan Pelukan Palsu
52 Bab 52 Jejak Miko di Rumah Sakit
53 Bab 53 Secarik Surat Misterius
54 Bab 54 Pelukan yang Menenagkan
55 Bab 55 Teror yang Belum Berakhir
56 Bab 56 Ketakutan Aira.
57 Bab 57 Dalang di Balik Teror
58 Bab 58 Liburan dan Pesan Misterius
59 Bab 59 Satu malam Tiga Nyawa
Episodes

Updated 59 Episodes

1
BAB 1 Hari Istimewa
2
Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
3
Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
4
BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco
5
BAB 5: Hadiah Istimewa
6
BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
7
BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
8
Bab 8: Pertemuan dan Gelisah
9
BAB 9: Trauma Aira
10
BAB 10: Luka Yang Masih Basah
11
BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
12
BAB 12: Perasaan yang Membingungkan
13
BAB 13: Sambutan Hangat
14
BAB 14: Fakta yang Menyakitkan
15
BAB 15: Kebenaran yang Dibawa Pergi
16
BAB 16: Firasat Seorang Adik Perempuan
17
BAB 17: Tawa yang Kembali
18
BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya
19
BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
20
BAB 20 Ajakan Misterius Azam.
21
BAB 21 Anniversary
22
BAB 22 Vila untuk Aira
23
BAB 23: Kembali ke Jakarta
24
Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
25
Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
26
Bab 26 Aira dalam Bahaya
27
Bab 27: Sandiwara Sang Kembaran
28
Bab 28 Dendam yang Tertahan
29
Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
30
Bab 30 Trauma dan Rahasia Kelam
31
Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
32
Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
33
Bab 33 Batas Kesabaran (
34
Bab 34 Liburan yang Terganggu
35
Bab 35 Tak Sangup Membawa Luka
36
Bab 36 Dekapan Hangat di Udara.
37
Bab 37 Azam yang Posesif
38
Bab 38 Vario Cinta untuk Azam
39
Bab 39 Di Bawah Derasnya Hujan Bersamamu
40
Bab 40 Alergi Suami Sendiri
41
Bab 41 Malam Yang Sepi
42
Bab 42 Tangis dan Durian Sate
43
Bab 43 Air Mata Haru dan Ngidam
44
Bab 44 Kebahagiaan yang Terusik
45
Bab 45 Anak Bos mau Ngiler
46
Bab 46 Bumil yang Merajuk
47
Bab 47 Rasa bersalah Aira
48
Bab 48 Terpuruk dalam.Rasa Bersalah
49
Bab 49 Wajah tampan yang Pucat
50
Bab 50 Akhirnya kembali Bertemu
51
Bab 51 Kejutan dan Pelukan Palsu
52
Bab 52 Jejak Miko di Rumah Sakit
53
Bab 53 Secarik Surat Misterius
54
Bab 54 Pelukan yang Menenagkan
55
Bab 55 Teror yang Belum Berakhir
56
Bab 56 Ketakutan Aira.
57
Bab 57 Dalang di Balik Teror
58
Bab 58 Liburan dan Pesan Misterius
59
Bab 59 Satu malam Tiga Nyawa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!