BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco

Azam yang baru saja dihubungi Aira untuk memasak nasi langsung gelisah kelas kakap.

"Gimana ini?" gumam Azam bingung.

Setelah menemukan tempat beras, Azam langsung mencucinya.

"Apa ini gak kebanyakan ya? Biarin aja lah, lagian kan tadi Aira nyuruh masak nasi yang banyak," gumam Azam lagi.

Ia mulai sibuk dengan rice cooker. Setelah semuanya beres, Azam kembali ke ruang keluarga yang mana sang ayah masih menerima telepon dari rekan kerjanya. Entah kenapa, Azam merasa gelisah memikirkan nasi yang dimasaknya.

"Kamu habis dari mana, Zam?" heran Ayah Niko setelah memutuskan panggilan suara.

"Dari belakang, Yah," jawab Azam gugup.

"Dapur? Tapi kenapa kamu keringatan?" tanya Ayah Niko sembari memperhatikan wajah sang putra.

"Ah, Ayah ini bisa aja. Mana ada Azam keringatan, Yah, di sini aja full AC," kata Azam setenang mungkin.

Pak Niko mengangguk percaya. "Oh ya, Zam, kamu mau izin cuti sampai kapan? Kamu ini sudah menjadi bos besar perusahaan, enggak bisa kamu tinggal terlalu lama," kata Ayah Niko tegas.

Azam mengangguk mengerti. "Minggu depan aja gimana, Yah? Libur seminggu enggak apa-apa kan, Yah, sekali-kali," cengir Azam.

Pak Niko menghela napas dalam. "Baiklah, untuk satu minggu ini biar Ayah yang gantikan posisi kamu. Tapi ingat, minggu depan kamu harus sudah masuk," kata Ayah Niko.

Azam nyengir mendengar keputusan bijak sang ayah. "Makasih, Yah," kata Azam senang.

Lima belas menit sudah berlalu, namun yang ditunggu-tunggu belum juga pulang.

"Kamu kenapa, Zam?" heran Ayah Niko lagi dan lagi.

Azam menggeleng.

"Ya sudah, Ayah salat magrib dulu. Kamu juga jangan lupa salat," tegas Ayah Niko lalu meninggalkan ruang keluarga.

Setelah kepergian sang ayah, Azam buru-buru berlari kencang menuju dapur. Setibanya di dapur, mata Azam memelotot hingga kedua matanya rasanya ingin keluar saat itu juga.

"Momo! Coco! Kalian ...!" geram Azam kesal setengah mati.

Ia melihat kedua kucing kesayangan sang istri memecahkan beberapa wadah yang berisikan gula, garam, susu, dan tempat beras. Azam mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Rasanya ingin sekali Azam mencabik-cabik dua kucing imut itu.

"Meowww ..."

"Meowwww ..."

Momo dan Coco menatap Azam seolah-olah mereka senang melihat raut wajah Azam yang sedang kesal setengah mati, namun tidak berani menghakimi mereka.

"Ada—" Kalimat Ayah Niko yang baru datang seketika terhenti karena syok.

"Kamu apakan dapur ini, Zam?! Buruan bereskan sebelum istrimu datang, atau kamu akan menyesal!" kata Ayah Niko ikutan panik.

"Iya, Yah, ayo bantu—" Ucapan Azam terhenti saat mendengar suara klakson mobil sang istri.

"Yah, gimana ini, Yah?" panik Azam.

Ayah Niko hanya menggeleng pasrah. "Buruan kamu bersihkan! Biar Ayah yang cegah mereka di depan, cepat!" kata Ayah Niko lalu mendorong tubuh sang putra.

"Iya, Yah," kata Azam cepat.

"Meowww ..."

"Meowww ..."

BRAKKK!

"Aduh, kucing kam—" Azam menghentikan kalimatnya saat mencium bau amis.

Beberapa telur yang tertata rapi di kotaknya terjatuh karena ulah Momo yang berusaha lari mengejar Coco. Kepala Azam dipenuhi pecahan telur, tepung, gula, susu bubuk, dan beras yang berserakan di lantai, kini ditambahi pecahan telur baru.

"AAAAA!" teriak Azam yang sudah tidak bisa menahan emosi.

Ayah Niko yang sedang berusaha mencegah istri, anak, dan menantunya masuk malah semakin kesulitan saat mendengar teriakan Azam.

"Awas, Mas!" kesal Bu Nilta karena suaminya selalu saja menghalangi mereka untuk masuk, padahal sudah jelas bawaan mereka begitu banyak. Mau tidak mau, Ayah Niko membiarkan mereka semua masuk.

"Aira, Ibu bantu kamu di dapur ya, Nak," kata Ibu Nilta lalu melangkah ke arah dapur yang langsung diikuti oleh Aira.

"Astagfirullah, Azam!" pekik Bu Nilta syok.

Aira yang melihatnya langsung ikut syok. Kakinya terasa lemas seolah-olah tak bertulang.

"Maaf, Sayang, ini ulah si Momo sama Coco, bukan—"

"Ya Allah, Azam, kamu ini ya! Baru satu hari jadi suami udah bikin istri kamu kesal aja. Bersihkan! Nanti baru boleh makan," omel Ibu Nilta lalu meninggalkan dapur. Di saat yang bersamaan, Hanum datang.

"Abang, ih, jorok, wekk!" ejek Hanum yang tak tahan dengan bau amis telur.

Azam terdiam bukan karena ibu atau adiknya, melainkan karena tatapan mata Aira yang begitu tajam.

"Sana gih mandi, biar aku aja yang bersihin," kata Aira datar.

Hanum yang menyadari raut wajah Aira berubah drastis langsung pergi begitu saja meninggalkan dapur.

"Ih, serem juga ya Mbak Aira kalau lagi marah, hiiiy," batin Hanum bergidik ngeri.

Azam perlahan berdiri. Tanpa semua orang ketahui, sebenarnya yang membuat Aira kesal setengah mati adalah dia takut jika Azam tidak memasak nasi. Sebab saat keluar tadi, Ibu Nilta dan Hanum tidak jadi makan di luar.

"Sayang ...?"

"Mandi sana, biar aku aja yang bersihin," kata Aira pelan.

Azam mengangguk lalu berjalan ke arah pintu dapur. Namun, ia tidak sengaja menyenggol vas bunga yang ada di meja dapur hingga pecah berserakan.

PYAR!

Aira melotot, namun masih berdiri angkuh di tempatnya.

"Cepetan mandi, Azam, atau aku marah!" kesal Aira. Dengan cepat, Azam langsung meninggalkan dapur.

Aira menghela napas berat.

"Oh ya, Mas," kata Aira cepat saat Azam sudah berdiri di ambang pintu.

"I ... iya, Sayang, ada apa?" tanya Azam gemetar.

Aira menoleh lalu menatap dalam manik mata Azam. "Kamu udah masak nasi?" tanya Aira.

Sambil melangkah memasuki dapur, dengan cepat Azam mengangguk. "Udah, Sayang, aku udah ...."

Aira begitu antusias mendengar jawaban Azam. "Hufffft, syukurlah, Mas. Aku kira kamu belum masak," cengir Aira lalu meletakkan barang-barang belanjaannya di dapur.

Azam menggaruk bagian belakang kepalanya heran. "Ya sudah, Sayang, aku mandi dulu ya," kata Azam lalu benar-benar meninggalkan dapur.

Dengan semangat yang membara, Aira menata lauk-pauk yang dibelinya tadi lalu membawanya ke meja makan yang ada di ruang makan keluarga.

"Silakan Ayah, Ibu, Hanum, dimakan ya buah-buahannya. Aira ambilkan nasinya dulu," kata Aira merasa tidak enak.

Hanum hanya nyengir. "Iya, Nak," kata Ibu Nilta lembut, sedangkan Ayah Niko hanya diam karena habis kena omel istri tercintanya.

Setelah kepergian Aira, Hanum mulai berbisik-bisik. "Yah, Bu, ternyata Mbak Aira serem juga ya kalau marah, hiiiii," bisik Hanum serius.

"Soalnya kamu belum tahu gimana rasanya punya pasangan yang suka—" Kalimat Bu Nilta terhenti saat tiba-tiba mendengar rintihan Aira dari arah dapur.

Terpopuler

Comments

Tempat resep ide jajanan Sekolahan

Tempat resep ide jajanan Sekolahan

Lanjut👍

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Hari Istimewa
2 Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
3 Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
4 BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco
5 BAB 5: Hadiah Istimewa
6 BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
7 BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
8 Bab 8: Pertemuan dan Gelisah
9 BAB 9: Trauma Aira
10 BAB 10: Luka Yang Masih Basah
11 BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
12 BAB 12: Perasaan yang Membingungkan
13 BAB 13: Sambutan Hangat
14 BAB 14: Fakta yang Menyakitkan
15 BAB 15: Kebenaran yang Dibawa Pergi
16 BAB 16: Firasat Seorang Adik Perempuan
17 BAB 17: Tawa yang Kembali
18 BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya
19 BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
20 BAB 20 Ajakan Misterius Azam.
21 BAB 21 Anniversary
22 BAB 22 Vila untuk Aira
23 BAB 23: Kembali ke Jakarta
24 Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
25 Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
26 Bab 26 Aira dalam Bahaya
27 Bab 27: Sandiwara Sang Kembaran
28 Bab 28 Dendam yang Tertahan
29 Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
30 Bab 30 Trauma dan Rahasia Kelam
31 Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
32 Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
33 Bab 33 Batas Kesabaran (
34 Bab 34 Liburan yang Terganggu
35 Bab 35 Tak Sangup Membawa Luka
36 Bab 36 Dekapan Hangat di Udara.
37 Bab 37 Azam yang Posesif
38 Bab 38 Vario Cinta untuk Azam
39 Bab 39 Di Bawah Derasnya Hujan Bersamamu
40 Bab 40 Alergi Suami Sendiri
41 Bab 41 Malam Yang Sepi
42 Bab 42 Tangis dan Durian Sate
43 Bab 43 Air Mata Haru dan Ngidam
44 Bab 44 Kebahagiaan yang Terusik
45 Bab 45 Anak Bos mau Ngiler
46 Bab 46 Bumil yang Merajuk
47 Bab 47 Rasa bersalah Aira
48 Bab 48 Terpuruk dalam.Rasa Bersalah
49 Bab 49 Wajah tampan yang Pucat
50 Bab 50 Akhirnya kembali Bertemu
51 Bab 51 Kejutan dan Pelukan Palsu
52 Bab 52 Jejak Miko di Rumah Sakit
53 Bab 53 Secarik Surat Misterius
54 Bab 54 Pelukan yang Menenagkan
55 Bab 55 Teror yang Belum Berakhir
56 Bab 56 Ketakutan Aira.
57 Bab 57 Dalang di Balik Teror
58 Bab 58 Liburan dan Pesan Misterius
59 Bab 59 Satu malam Tiga Nyawa
Episodes

Updated 59 Episodes

1
BAB 1 Hari Istimewa
2
Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
3
Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
4
BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco
5
BAB 5: Hadiah Istimewa
6
BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
7
BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
8
Bab 8: Pertemuan dan Gelisah
9
BAB 9: Trauma Aira
10
BAB 10: Luka Yang Masih Basah
11
BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
12
BAB 12: Perasaan yang Membingungkan
13
BAB 13: Sambutan Hangat
14
BAB 14: Fakta yang Menyakitkan
15
BAB 15: Kebenaran yang Dibawa Pergi
16
BAB 16: Firasat Seorang Adik Perempuan
17
BAB 17: Tawa yang Kembali
18
BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya
19
BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
20
BAB 20 Ajakan Misterius Azam.
21
BAB 21 Anniversary
22
BAB 22 Vila untuk Aira
23
BAB 23: Kembali ke Jakarta
24
Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
25
Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
26
Bab 26 Aira dalam Bahaya
27
Bab 27: Sandiwara Sang Kembaran
28
Bab 28 Dendam yang Tertahan
29
Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
30
Bab 30 Trauma dan Rahasia Kelam
31
Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
32
Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
33
Bab 33 Batas Kesabaran (
34
Bab 34 Liburan yang Terganggu
35
Bab 35 Tak Sangup Membawa Luka
36
Bab 36 Dekapan Hangat di Udara.
37
Bab 37 Azam yang Posesif
38
Bab 38 Vario Cinta untuk Azam
39
Bab 39 Di Bawah Derasnya Hujan Bersamamu
40
Bab 40 Alergi Suami Sendiri
41
Bab 41 Malam Yang Sepi
42
Bab 42 Tangis dan Durian Sate
43
Bab 43 Air Mata Haru dan Ngidam
44
Bab 44 Kebahagiaan yang Terusik
45
Bab 45 Anak Bos mau Ngiler
46
Bab 46 Bumil yang Merajuk
47
Bab 47 Rasa bersalah Aira
48
Bab 48 Terpuruk dalam.Rasa Bersalah
49
Bab 49 Wajah tampan yang Pucat
50
Bab 50 Akhirnya kembali Bertemu
51
Bab 51 Kejutan dan Pelukan Palsu
52
Bab 52 Jejak Miko di Rumah Sakit
53
Bab 53 Secarik Surat Misterius
54
Bab 54 Pelukan yang Menenagkan
55
Bab 55 Teror yang Belum Berakhir
56
Bab 56 Ketakutan Aira.
57
Bab 57 Dalang di Balik Teror
58
Bab 58 Liburan dan Pesan Misterius
59
Bab 59 Satu malam Tiga Nyawa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!