Satu Imam Dua Makmum

Satu Imam Dua Makmum

BAB 1 Hari Istimewa

Bab 1: Ikrar Suci dan Awal Baru

"Tampannya anak Ibu." Suara lembut yang selalu Azam rindukan kini terdengar begitu pelan. Seorang perempuan paruh baya dengan hijab biru muda berjalan memasuki kamar tidur Azam.

Azam menoleh lalu berjalan menghampiri sang ibu tercinta.

"Ibu," kata Azam lembut lalu membimbing sang ibu untuk duduk di sofa kamarnya.

Azam duduk di hadapan sang ibu, lalu mencium lembut punggung tangan perempuan yang telah melahirlannya itu.

"Ibu, terima kasih karena Ibu sudah menjadi ibu sekaligus rumah ternyaman untuk Azam," kata Azam lembut.

Antara bahagia, Azam juga merasakan sesak di dadanya saat melihat wajah teduh sang ibu.

"Nak, Ibu sangat bangga punya anak sepertimu. Kamu hebat, kamu kuat. Semoga kamu dan Aira sakinah, mawadah, warahmah. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian," kata Bu Nilta lembut.

Azam menatap wajah teduh sang ibu.

"Azam tidak akan mengecewakan Ibu dan Aira. Azam berharap Ibu juga bisa menerima Aira dan menyayangi Aira seperti Ibu menyayangi Azam dan Hanum," kata Azam lembut dan penuh harap.

Bu Nilta tersenyum lembut ke arah sang putra.

"Ibu sudah menganggap Aira seperti putri Ibu sendiri, makanya itu kamu jangan sakiti Aira, jangan zalimi Aira," kata Bu Nilta tegas.

Azam mengangguk mantap.

"Dengan senang hati, Bu," kata Azam mantap.

Tidak lama kemudian, Hanum datang.

"Ibu, Mas Azam, semuanya sudah siap. Semua orang sudah berkumpul di bawah," kata Hanum antusias.

Azam berdiri lalu mencubit hidung Hanum gemas.

"Kamu kelihatannya seneng banget, Dek," kata Azam meledek.

Hanum tertawa kecil.

"Iyalah, akhirnya Hanum punya teman, apalagi modelan Kak Aira, wuuuuhhh asyik dong!" kata Hanum heboh.

Bu Nilta tersenyum lembut lalu mengajak kedua anaknya untuk keluar kamar.

Azam berjalan tegap dan tegas. Di belakangnya ada Bu Nilta dan Hanum yang mendampingi.

"Kamu sudah siap, Azam?" tanya laki-laki paruh baya dengan setelan jasnya.

Azam menghentikan langkahnya lalu mencium punggung tangan sang ayah.

"Insyaallah Azam sudah siap, Yah. Doakan semoga lancar dan tidak ada halangan," kata Azam tegas.

Ayah Niko memeluk putranya bangga.

"Doa Ayah dan Ibu akan selalu ada untuk rumah tangga kalian," kata Ayah Niko sembari memukul lembut punggung sang putra.

***

Aira langsung menangkupkan kedua tangan di wajahnya, menyembunyikan air mata haru yang mengalir deras. Statusnya kini telah berubah.

Di sebelahnya, Azam mengembuskan napas lega yang amat panjang, pundaknya yang semula tegang seketika melentur.

"Silakan Mas Azam dan Mbak Aira saling berhadapan untuk pemasangan cincin dan penyerahan mahar," instruksi pak penghulu dengan senyum ramah.

Azam memutar tubuhnya menghadap Aira. Jantungnya kembali berdegup kencang, tapi kali ini karena rasa takjub.

Ia mengambil cincin emas dari kotak beludru, lalu dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyematkan cincin itu ke jari manis kanan Aira. Sentuhan kulit pertama mereka setelah sah mendatangkan sengatan hangat di dada Azam.

Aira bergantian memasangkan cincin ke jari manis Azam.

Setelah itu, dengan gerakan anggun dan penuh takzim, Aira meraih tangan kanan Azam. Ia membungkuk, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan khusyuk dan lama.

Azam menatap puncak kepala istri kecilnya itu dengan tatapan penuh perlindungan. Ia lalu mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap lembut rambut tergerai Aira, lalu mengecup kening Aira dengan penuh kelembutan.

"Cieeee! Halal mah bebas ya, Di!" seru Seno dari barisan belakang, memecah keheningan yang syahdu.

"Woi, Azam! Keningnya jangan ditiup, dicium aja! Ah elah gak asyik lo hahahah," timpal Ardi yang langsung disambut tawa renyah dari seluruh tamu undangan.

Wajah Aira seketika merona merah sehangat bunga sakura di kepalanya, sementara itu Azam hanya bisa berdecak sambil melemparkan tatapan tajam yang berpura-pura kesal kepada dua sahabat ajaibnya itu.

Bu Nilta dan Ayah Niko yang menyaksikan dari kursi saksi tampak menyeka sudut mata mereka yang basah karena bahagia. Begitu pula dengan Pak Hanif yang tersenyum lega, mengetahui putri tercintanya kini telah berada di tangan laki-laki yang tepat—laki-laki yang sejak dulu tumbuh bersamanya.

Setelah penandatanganan buku nikah, pak penghulu pun menutup acara.

"Alhamdulillah, seluruh prosesi akad nikah telah selesai. Selamat menempuh hidup baru untuk Mas Azam dan Mbak Aira," kata pak penghulu.

Azam berdiri, menuntun Aira yang masih sedikit gemetar untuk berdiri bersamanya, siap menjalani hari pertama mereka sebagai pasangan suami istri yang sah.

Banyak teman-teman Aira yang datang, begitu pun dengan Azam. Banyak rekan bisnisnya dan teman-teman kampusnya yang datang. Acara dilanjutkan dengan sangat meriah.

"Sayang," bisik Azam tepat di belakang telinga Aira.

Aira yang sedang menikmati es krim seketika menoleh.

"Apaan sih Zam, sayang-sayang, geli tau," kata Aira malu.

"Makasih ya, Aira Humairaku," bisik Azam lalu mencium sekilas pipi tembam Aira.

Tanpa mereka sadari, di belakang mereka ada Ardi dan Seno yang memperhatikan.

"Yang udah nikah mah bebas ye, Sen. Gue mah masih jomblo aja," gumam Ardi yang langsung dibalas anggukan pasrah oleh Seno.

Azam yang menyadarinya sontak menoleh ke belakang lalu memukul pelan kening Seno dan Ardi.

Hari ini adalah hari yang sangat istimewa untuk Azam Al Ghifari dan Aira Humaira.

Terpopuler

Comments

Rosdianah 🌷

Rosdianah 🌷

hallo kak ijin mampir yaa

2026-08-12

3

Waaaaaa_

Waaaaaa_

Hallo aku mampir nih,jangan lupa mampir novel ku juga👍🏻

2026-08-16

1

Saddam Husein

Saddam Husein

lanjut👍

2026-08-02

2

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Hari Istimewa
2 Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
3 Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
4 BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco
5 BAB 5: Hadiah Istimewa
6 BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
7 BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
8 Bab 8: Pertemuan dan Gelisah
9 BAB 9: Trauma Aira
10 BAB 10: Luka Yang Masih Basah
11 BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
12 BAB 12: Perasaan yang Membingungkan
13 BAB 13: Sambutan Hangat
14 BAB 14: Fakta yang Menyakitkan
15 BAB 15: Kebenaran yang Dibawa Pergi
16 BAB 16: Firasat Seorang Adik Perempuan
17 BAB 17: Tawa yang Kembali
18 BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya
19 BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
20 BAB 20 Ajakan Misterius Azam.
21 BAB 21 Anniversary
22 BAB 22 Vila untuk Aira
23 BAB 23: Kembali ke Jakarta
24 Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
25 Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
26 Bab 26 Aira dalam Bahaya
27 Bab 27: Sandiwara Sang Kembaran
28 Bab 28 Dendam yang Tertahan
29 Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
30 Bab 30 Trauma dan Rahasia Kelam
31 Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
32 Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
33 Bab 33 Batas Kesabaran (
34 Bab 34 Liburan yang Terganggu
35 Bab 35 Tak Sangup Membawa Luka
36 Bab 36 Dekapan Hangat di Udara.
37 Bab 37 Azam yang Posesif
38 Bab 38 Vario Cinta untuk Azam
39 Bab 39 Di Bawah Derasnya Hujan Bersamamu
40 Bab 40 Alergi Suami Sendiri
41 Bab 41 Malam Yang Sepi
42 Bab 42 Tangis dan Durian Sate
43 Bab 43 Air Mata Haru dan Ngidam
44 Bab 44 Kebahagiaan yang Terusik
45 Bab 45 Anak Bos mau Ngiler
46 Bab 46 Bumil yang Merajuk
47 Bab 47 Rasa bersalah Aira
48 Bab 48 Terpuruk dalam.Rasa Bersalah
49 Bab 49 Wajah tampan yang Pucat
50 Bab 50 Akhirnya kembali Bertemu
51 Bab 51 Kejutan dan Pelukan Palsu
52 Bab 52 Jejak Miko di Rumah Sakit
53 Bab 53 Secarik Surat Misterius
54 Bab 54 Pelukan yang Menenagkan
55 Bab 55 Teror yang Belum Berakhir
56 Bab 56 Ketakutan Aira.
57 Bab 57 Dalang di Balik Teror
58 Bab 58 Liburan dan Pesan Misterius
59 Bab 59 Satu malam Tiga Nyawa
Episodes

Updated 59 Episodes

1
BAB 1 Hari Istimewa
2
Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
3
Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
4
BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco
5
BAB 5: Hadiah Istimewa
6
BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
7
BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
8
Bab 8: Pertemuan dan Gelisah
9
BAB 9: Trauma Aira
10
BAB 10: Luka Yang Masih Basah
11
BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
12
BAB 12: Perasaan yang Membingungkan
13
BAB 13: Sambutan Hangat
14
BAB 14: Fakta yang Menyakitkan
15
BAB 15: Kebenaran yang Dibawa Pergi
16
BAB 16: Firasat Seorang Adik Perempuan
17
BAB 17: Tawa yang Kembali
18
BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya
19
BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
20
BAB 20 Ajakan Misterius Azam.
21
BAB 21 Anniversary
22
BAB 22 Vila untuk Aira
23
BAB 23: Kembali ke Jakarta
24
Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
25
Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
26
Bab 26 Aira dalam Bahaya
27
Bab 27: Sandiwara Sang Kembaran
28
Bab 28 Dendam yang Tertahan
29
Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
30
Bab 30 Trauma dan Rahasia Kelam
31
Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
32
Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
33
Bab 33 Batas Kesabaran (
34
Bab 34 Liburan yang Terganggu
35
Bab 35 Tak Sangup Membawa Luka
36
Bab 36 Dekapan Hangat di Udara.
37
Bab 37 Azam yang Posesif
38
Bab 38 Vario Cinta untuk Azam
39
Bab 39 Di Bawah Derasnya Hujan Bersamamu
40
Bab 40 Alergi Suami Sendiri
41
Bab 41 Malam Yang Sepi
42
Bab 42 Tangis dan Durian Sate
43
Bab 43 Air Mata Haru dan Ngidam
44
Bab 44 Kebahagiaan yang Terusik
45
Bab 45 Anak Bos mau Ngiler
46
Bab 46 Bumil yang Merajuk
47
Bab 47 Rasa bersalah Aira
48
Bab 48 Terpuruk dalam.Rasa Bersalah
49
Bab 49 Wajah tampan yang Pucat
50
Bab 50 Akhirnya kembali Bertemu
51
Bab 51 Kejutan dan Pelukan Palsu
52
Bab 52 Jejak Miko di Rumah Sakit
53
Bab 53 Secarik Surat Misterius
54
Bab 54 Pelukan yang Menenagkan
55
Bab 55 Teror yang Belum Berakhir
56
Bab 56 Ketakutan Aira.
57
Bab 57 Dalang di Balik Teror
58
Bab 58 Liburan dan Pesan Misterius
59
Bab 59 Satu malam Tiga Nyawa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!