BAB 5: Hadiah Istimewa

Aira merasakan sakit yang luar biasa saat kaki kanannya terkena pecahan vas bunga. Tidak hanya satu atau dua tusukan, melainkan banyak serpihan kaca yang tertancap di telapak kaki Aira.

Dengan tangan gemetar, Aira berusaha mencabut pecahan kaca yang paling besar dan dalam. Namun sebelum sempat melakukannya, Ayah Niko, Ibu Nilta, dan Hanum keburu datang ke dapur karena mendengar suara pecahan.

"Astaga, Nak Aira!" pekik Bu Nilta khawatir, lalu bergegas menyuruh Hanum untuk segera memanggil Azam. "Hanum, cepat panggil Abangmu!"

"Ibu ..." Aira yang awal mulanya manja dan sebenarnya fobia darah itu seketika tidak sadarkan diri dan pingsan.

"Mas, cepat telepon ambulans!" perintah Bu Nilta kepada suaminya karena semakin khawatir.

Azam yang baru datang langsung panik melihat kondisi sang istri. Ia segera membawa tubuh mungil Aira ke sofa ruang tengah.

"Ini pasti karena kecerobohan kamu kan, Azam?!" bentak Bu Nilta marah besar. "Baru satu hari! Baru satu hari kamu jadi suami Aira, masa iya hal kayak gini bisa terjadi?!" Bu Nilta terus memarahi putranya.

"Bu, ambulansnya sudah datang!" teriak Hanum yang baru saja berlari dari teras.

Bu Nilta mengusap air matanya dengan cepat. "Cepat bawa Aira ke ambulans!" tegas Ayah Niko.

Azam yang masih linglung karena terkejut dan habis kena omelan ibunya hanya bisa terdiam dan menurut. Azam dan Bu Nilta ikut masuk ke dalam mobil ambulans, sedangkan Hanum dan Pak Niko naik mobil pribadi yang dikendarai oleh Pak Dadi.

Di dalam mobil, Pak Niko segera menghubungi Pak Fikri, ayah kandung Aira.

"Assalamualaikum, Pak," salam Pak Niko saat panggilan suaranya diterima oleh Pak Fikri.

"Waalaikumussalam, Pak Besan. Ada apa nih, tumben menghubungi saya?" tanya Pak Fikri dari seberang telepon.

Pak Niko menghela napas dalam. "Pak Fikri, Nak Aira baru saja dibawa ke Rumah Sakit Kinara."

"Apa?! Rumah sakit?!" kata Pak Fikri syok, lalu langsung mematikan sambungan teleponnya untuk bergegas bersiap.

Azam dan yang lain menunggu dengan cemas di luar ruangan IGD. Dokter tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk selama pemeriksaan medis sedang berlangsung. Tidak lama kemudian, Pak Fikri tiba di rumah sakit dengan napas terengah-engah.

"Bagaimana bisa putri saya seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi, Nak Azam?" tanya Pak Fikri menuntut penjelasan.

Azam menjelaskan semuanya dari awal tanpa ada yang ditutupi. Pak Fikri menghela napas berat, lalu duduk di kursi tunggu rumah sakit untuk menenangkan diri. Lima belas menit kemudian, pintu ruang IGD akhirnya dibuka dari dalam.

"Dok, gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Azam berjalan menghampiri dengan raut khawatir.

Dokter Veliya tersenyum ramah. "Masnya sudah boleh masuk ya. Mbaknya di dalam sudah sadar, kok. Luka di kakinya juga sudah diperban. Mungkin beberapa hari ini mbaknya harus pakai kursi roda ya sampai lukanya benar-benar kering," kata Dokter Veliya sebelum meninggalkan ruang IGD.

Azam dan pihak keluarga bergegas masuk ke dalam ruangan. Saat mereka sampai di depan brankar Aira, semua orang menghela napas lega karena melihat Aira yang ternyata sedang asyik mengobrol dengan seorang perempuan cantik berhijab.

"Oh, maaf Mas, Pak, Bu, saya Perawat Safira," kata perempuan berhijab itu ramah mengenalkan diri.

Azam hanya diam mengangguk, lalu bergegas menghampiri sang istri. "Sayang, apa masih ada yang sakit? Gimana kaki kamu? Apa masih nyeri?"

Aira menggeleng pelan. "Aku udah enggak apa-apa kok, Mas," jawab Aira santai.

Azam dan Aira masih sibuk mengobrol berdua hingga mengabaikan sekitar. Menyadari ada perawat yang ingin menjelaskan sesuatu namun terabaikan oleh sepasang pengantin baru itu, Pak Fikri dengan cepat meminta maaf. "Maaf ya, Sus. Maklum, namanya juga pengantin baru," kata Pak Fikri merasa tidak enak.

Perawat Safira tersenyum ramah lalu memberikan selembar kertas kepada Pak Fikri. "Tidak apa-apa, Pak, saya sangat mengerti. Oh ya, setelah ini Bapak bisa langsung ke bagian administrasi ya untuk melunasi biaya pengobatan Mbak Aira."

"Baik, Sus. Saya akan segera melunasinya sekarang juga," kata Pak Fikri lalu mengikuti langkah Perawat Safira keluar ruangan.

***

Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian mendebarkan di dapur itu. Akhirnya, luka di kaki Aira sudah benar-benar sembuh dan kering total.

"Asyikkk! Akhirnya aku bisa pakai high heels lagi!" kata Aira kegirangan.

Azam yang sedang merapikan jas kerjanya di depan cermin tersenyum manis ke arah sang istri. "Sayang, nanti siang ada Bibi Nia yang datang. Beliau yang akan memasak dan bersih-bersih rumah hari ini. Oh ya, karena hari ini Hanum libur sekolah, dia juga bakal main ke sini buat menemani kamu biar kamu gak kesepian sendirian di rumah," kata Azam lembut.

Aira yang masih heboh menari-nari dengan high heels barunya langsung menoleh ke arah Azam, lalu berjalan menghampiri suaminya. "Mas, menunduk sini sebentar deh," pinta Aira saat sudah berdiri tegak di depan Azam.

"Kenapa, Sayang? Apa rambutku kurang rapi?" tanya Azam bingung, namun ia tetap menuruti perintah istrinya dan mendekatkan wajahnya.

CUP!

Aira mengecup sekilas pipi Azam. "Enggak kok, hehe," cengir Aira tanpa dosa.

Azam merasakan debaran lembut nan hangat di dadanya. Laki-laki tampan itu benar-benar dibuat salah tingkah oleh perbuatan manis sang istri.

"Semangat ya, Sayang, kerjanya. Awas aja ya kalau sampai ketahuan nakal atau lirik-lirik cewek lain di luar!" kata Aira lembut, namun ada nada penekanan yang tegas di akhir kalimatnya.

"Dasar kamu ya. Sini biar aku cubit hidung pesek kamu," kata Azam gemas.

Aira langsung cemberut dan bersedekap dada. "Ihh, pesek dari mana sih! Orang mancung gini kok dikatain pesek," omel Aira kesal.

Azam terkekeh kecil melihat ekspresi menggemaskan itu, lalu merogoh saku jas kerjanya. "Aku punya hadiah kecil buat kamu," kata Azam sembari memegang tangan mungil Aira dan meminta istrinya mengambil benda mini di telapak tangannya.

"Apaan nih?" tanya Aira heboh, lalu bergegas melihat barang kecil itu. "Ihhh, imut banget kayak aku!" pekik Aira kegirangan.

Itu adalah sebuah gelang permata berukuran sangat elegan berwarna merah muda, di mana terdapat ukiran nama mereka berdua yang menyatu dengan indah.

"Ini harganya pasti mahal banget kan, Mas?" tanya Aira tiba-kira curiga.

Azam menggeleng pelan. "Di dunia ini enggak ada yang lebih istimewa dari kamu, Sayang. Jadi berapapun harga barang ini, itu tidak ada apa-apanya dibanding kehadiran kamu di hidup aku," bisik Azam tulus dan lembut.

Aira tersenyum malu dengan pipi merona. "Memangnya berapa sih harganya, Mas?" desak Aira kepo.

Azam berjalan ke arah meja kecil yang tak jauh dari jendela kamar mereka. "Kamu bisa lihat sendiri nota pembeliannya, Sayang. Tapi ingat ya, jangan pernah menolak barang yang sudah aku kasih ke kamu," kata Azam yang langsung dibalas anggukan mantap oleh Aira.

"Iya, Mas, siap! Aku janji enggak akan menolak barang apa pun pemberian dari kamu," janji Aira bersemangat.

Azam menyodorkan kertas nota tersebut ke arah Aira dan langsung diterima oleh perempuan cantik itu. Mata bulat Aira seketika terbuka lebar saat membaca nominal yang tertera untuk gelang kecil di tangannya.

"A ... apa?! Dua ratus juta?!" kata Aira dengan susah payah menelan salivanya karena syok.

Azam mengangguk santai lalu mengacak-acak rambut Aira gemas hingga berantakan. "Ya sudah, Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Kamu baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa, kamu harus langsung hubungi aku," kata Azam lembut.

Setelah keberangkatan Azam, Aira langsung memakai gelang dengan mata permata berkilauan itu di pergelangan tangannya. "Ihh, cantik banget!" heboh Aira kegirangan sendirian.

Tak lama kemudian, Hanum datang dengan membawa pizza, burger, jus alpukat, dan jus mangga pesanan Aira. Mereka pun mulai menikmati hari libur itu dengan makan-makan seru sambil menonton drama Korea kesukaan Aira.

Episodes
1 BAB 1 Hari Istimewa
2 Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
3 Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
4 BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco
5 BAB 5: Hadiah Istimewa
6 BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
7 BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
8 Bab 8: Pertemuan dan Gelisah
9 BAB 9: Trauma Aira
10 BAB 10: Luka Yang Masih Basah
11 BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
12 BAB 12: Perasaan yang Membingungkan
13 BAB 13: Sambutan Hangat
14 BAB 14: Fakta yang Menyakitkan
15 BAB 15: Kebenaran yang Dibawa Pergi
16 BAB 16: Firasat Seorang Adik Perempuan
17 BAB 17: Tawa yang Kembali
18 BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya
19 BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
20 BAB 20 Ajakan Misterius Azam.
21 BAB 21 Anniversary
22 BAB 22 Vila untuk Aira
23 BAB 23: Kembali ke Jakarta
24 Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
25 Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
26 Bab 26 Aira dalam Bahaya
27 Bab 27: Sandiwara Sang Kembaran
28 Bab 28 Dendam yang Tertahan
29 Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
30 Bab 30 Trauma dan Rahasia Kelam
31 Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
32 Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
33 Bab 33 Batas Kesabaran (
34 Bab 34 Liburan yang Terganggu
35 Bab 35 Tak Sangup Membawa Luka
36 Bab 36 Dekapan Hangat di Udara.
37 Bab 37 Azam yang Posesif
38 Bab 38 Vario Cinta untuk Azam
39 Bab 39 Di Bawah Derasnya Hujan Bersamamu
40 Bab 40 Alergi Suami Sendiri
41 Bab 41 Malam Yang Sepi
42 Bab 42 Tangis dan Durian Sate
43 Bab 43 Air Mata Haru dan Ngidam
44 Bab 44 Kebahagiaan yang Terusik
45 Bab 45 Anak Bos mau Ngiler
46 Bab 46 Bumil yang Merajuk
47 Bab 47 Rasa bersalah Aira
48 Bab 48 Terpuruk dalam.Rasa Bersalah
49 Bab 49 Wajah tampan yang Pucat
50 Bab 50 Akhirnya kembali Bertemu
51 Bab 51 Kejutan dan Pelukan Palsu
52 Bab 52 Jejak Miko di Rumah Sakit
53 Bab 53 Secarik Surat Misterius
54 Bab 54 Pelukan yang Menenagkan
55 Bab 55 Teror yang Belum Berakhir
56 Bab 56 Ketakutan Aira.
57 Bab 57 Dalang di Balik Teror
58 Bab 58 Liburan dan Pesan Misterius
59 Bab 59 Satu malam Tiga Nyawa
Episodes

Updated 59 Episodes

1
BAB 1 Hari Istimewa
2
Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
3
Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
4
BAB 4: Drama Azam serta Momo dan Coco
5
BAB 5: Hadiah Istimewa
6
BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
7
BAB 7: Apa Benar Aira Hamil?
8
Bab 8: Pertemuan dan Gelisah
9
BAB 9: Trauma Aira
10
BAB 10: Luka Yang Masih Basah
11
BAB 11: Kedatangan Kinan, Seno, dan Ardi
12
BAB 12: Perasaan yang Membingungkan
13
BAB 13: Sambutan Hangat
14
BAB 14: Fakta yang Menyakitkan
15
BAB 15: Kebenaran yang Dibawa Pergi
16
BAB 16: Firasat Seorang Adik Perempuan
17
BAB 17: Tawa yang Kembali
18
BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya
19
BAB 19: Jalan-Jalan di Kota Surabaya
20
BAB 20 Ajakan Misterius Azam.
21
BAB 21 Anniversary
22
BAB 22 Vila untuk Aira
23
BAB 23: Kembali ke Jakarta
24
Bab 24: Sekretaris Pribadi Suami
25
Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
26
Bab 26 Aira dalam Bahaya
27
Bab 27: Sandiwara Sang Kembaran
28
Bab 28 Dendam yang Tertahan
29
Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
30
Bab 30 Trauma dan Rahasia Kelam
31
Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
32
Bab 32 Ketulusan Hati Aira.
33
Bab 33 Batas Kesabaran (
34
Bab 34 Liburan yang Terganggu
35
Bab 35 Tak Sangup Membawa Luka
36
Bab 36 Dekapan Hangat di Udara.
37
Bab 37 Azam yang Posesif
38
Bab 38 Vario Cinta untuk Azam
39
Bab 39 Di Bawah Derasnya Hujan Bersamamu
40
Bab 40 Alergi Suami Sendiri
41
Bab 41 Malam Yang Sepi
42
Bab 42 Tangis dan Durian Sate
43
Bab 43 Air Mata Haru dan Ngidam
44
Bab 44 Kebahagiaan yang Terusik
45
Bab 45 Anak Bos mau Ngiler
46
Bab 46 Bumil yang Merajuk
47
Bab 47 Rasa bersalah Aira
48
Bab 48 Terpuruk dalam.Rasa Bersalah
49
Bab 49 Wajah tampan yang Pucat
50
Bab 50 Akhirnya kembali Bertemu
51
Bab 51 Kejutan dan Pelukan Palsu
52
Bab 52 Jejak Miko di Rumah Sakit
53
Bab 53 Secarik Surat Misterius
54
Bab 54 Pelukan yang Menenagkan
55
Bab 55 Teror yang Belum Berakhir
56
Bab 56 Ketakutan Aira.
57
Bab 57 Dalang di Balik Teror
58
Bab 58 Liburan dan Pesan Misterius
59
Bab 59 Satu malam Tiga Nyawa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!