Ep. 2- Berkhianat

Dentang musik komedi putar yang riang mendadak terdengar bagai melodi sumbang di telinga Kirana. Tatapan matanya terkunci rapat, tak mampu lepas dari sosok pria yang selama tujuh tahun ini dipujanya sebagai suami teladan.

Rendra yang saat itu tengah tertawa lepas sambil membetulkan posisi gendongan anak perempuan di tangannya, secara tidak sengaja mengedarkan pandangan ke arah kerumunan pengunjung hingga tatapan mereka bertemu.

Seketika, tawa Rendra terhenti. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak lebar, dan tubuhnya terlonjak kaget seolah baru saja dihantam petir di siang bolong.

"Ki... Kirana?" gumam Rendra. Bibirnya gemetar, nama istrinya tercekat di tenggorokannya.

Melihat perubahan raut wajah suaminya, Kirana tersadar dari kebekuannya. Rasa sakit yang menghantam dadanya begitu hebat, tetapi naluri seorang ibu dengan cepat mengambil alih. Ia tidak boleh membiarkan Keisya menyaksikan kehancuran ini.

Dengan cepat, Kirana setengah berlutut. Tangan kirinya yang gemetar langsung menutupi kedua mata Keisya hingga menghalangi pandangan putri kecilnya dari pemandangan Rendra yang sedang bersama wanita lain dan anak perempuan kecil.

"Mama? Kenapa mata Keisya ditutup? Itu Papa, 'kan, Ma?" tanya Keisya bingung, sementara jemari kecilnya memegang pergelangan tangan Kirana.

Kirana berusaha keras menahan tangis yang mendesak di pangkal tenggorokannya. Ia menarik napas panjang dan menelan bulat-bulat rasa pahit yang memenuhi mulutnya.

"Sayang... hari ini Mama tiba-tiba lelah sekali," bisik Kirana dengan suara yang bergetar. "Kita pulang sekarang, ya? Kita beli es krim yang banyak di dekat rumah."

"Tapi Papa—"

"Yuk, Nak." Kirana langsung menggenggam erat tangan Keisya, membalikkan badan, dan menuntun putrinya melangkah cepat meninggalkan area wahana tersebut.

Namun, belum sempat Kirana melangkah lebih dari lima pijakan, sebuah cengkraman kuat meremas pergelangan tangannya dari belakang hingga membuat langkahnya terhenti seketika.

"Kirana, tunggu dulu! Tolong, aku bisa jelaskan semuanya!" seru Rendra panik.

Namun Kirana tidak bergeming. Ia hanya berdiri membelakangi Rendra, sementara tubuhnya kaku bagaikan patung. Cengkeraman Rendra di tangannya terasa bagai besi panas yang membakar kulitnya.

Tak mau kehilangan kesempatan, Rendra bergerak cepat mengitari Kirana, sehingga berdiri tepat di hadapan istri pertamanya untuk menghalangi jalan.

Sementara di belakang Rendra, seorang wanita cantik bernapas memburu, wanita yang tadi dirangkulnya, melangkah mendekat dengan raut wajah yang serba salah, sembari menggandeng anak perempuan kecil yang menatap mereka dengan bingung.

"Kirana, maafkan aku... Maaf karena aku belum sempat memberi tau kamu soal ini. Tolong dengarkan aku dulu, aku bisa jelaskan semuanya," pinta Rendra dengan mata yang berkaca-kaca.

Tanpa ragu, Rendra meraih lengan wanita itu dan menariknya maju. "Ini Ayu... dan ini Aura."

Kirana perlahan mendongak. Tatapan matanya yang dingin melirik ke arah Ayu, wanita yang tampak anggun namun menyimpan rahasia besar bersama suaminya, lalu beralih pada Aura, anak kecil berwajah polos yang tidak tau apa-apa.

Setelah itu sebuah senyum tipis terukir di bibir Kirana. Senyuman yang begitu getir, penuh kepedihan dan penghinaan atas harga dirinya yang baru saja diinjak-injak.

"Menjelaskan apa, Mas?" tanya Kirana pelan, namun setiap katanya sarat akan emosi yang siap meledak. "Menjelaskan kalau 'klien penting' yang kamu maksud tadi pagi adalah istri kedua dan anak kamu?"

"Kirana, bukan begitu maksudku—"

"Tidak perlu!" potong Kirana, suaranya menusuk tajam hingga membuat Rendra bungkam. "Semuanya sudah sangat jelas. Sangat, sangat jelas."

"Mbak Kirana, tolong... ini semua bukan seperti yang Mbak bayangkan—" Ayu mencoba menyela dengan suara yang bergetar, namun Kirana mengibaskan tangannya, dan menolak mendengarkan sepatah kata pun dari mulut wanita itu.

"Jangan bicarakan apa pun di depan anakku!" tegur Kirana seraya menatap Ayu dengan tajam hingga membuat wanita itu refleks mundur satu langkah.

Kirana menarik tangannya dengan sentakan kuat hingga terlepas dari genggaman Rendra. Tanpa memberi Rendra kesempatan lagi untuk menyentuhnya atau menghalangi jalannya, Kirana merengkuh tubuh Keisya, menggendong putri kecilnya itu rapat-rapat ke dalam dekapan, dan melangkah lebar menerobos kerumunan orang.

"Kirana! Kirana, tunggu! Kirana!"

Teriakan Rendra yang berusaha mengejarnya bergema di antara keriuhan taman bermain, namun Kirana terus berjalan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes deras membasahi pipi, jatuh tepat di pundak Keisya yang kini memeluk leher mamanya dengan erat.

**

Di dalam kabin mobil yang tertutup rapat, suara mesin berpadu dengan isak tangis yang tertahan.

Jemari Kirana mencengkram lingkar kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Penglihatan Kirana kabur, tertutup oleh lapisan air mata yang terus meleleh membasahi pipinya.

"Huhuhu... 😭😭😭 Kenapa, Mas! Kenapa kau sangat tega padaku dan Keisya!" gumam Kirana liris di antara napasnya yang memburu.

Hatinya hancur berkeping-keping. Bayangan Rendra yang tersenyum penuh kasih pada wanita lain dan anak kecil itu terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Rasa sakit karena dikhianati bertahun-tahun menghantam dada Kirana tanpa ampun.

Sementara itu di kursi belakang, Keisya duduk terpaku. Kirana sengaja menempatkan putri kecilnya di sana agar Keisya tidak bisa melihat wajahnya yang sembap dan hancur. Kirana berusaha sekuat tenaga menahan suara tangisnya agar tidak meluncur terlalu keras.

"Mama... Mama kenapa menangis?" tanya Keisya polos dari balik sandaran kursi. "Mama sakit ya? Kita mau pulang ke rumah?"

Kirana menyapu air matanya cepat-cepat lewat kaca spion tengah, lalu mencoba menyunggingkan senyum meski tenggorokannya terasa tersumbat. "Eng-tidak, Sayang... Mama cuma... mata Mama cuma kemasukan debu tadi di luar. Keisya duduk yang manis ya, sebentar lagi kita sampai rumah."

Sementara itu, di sebuah bangku taman kayu di bawah rindangnya pohon area taman hiburan, suasana terasa begitu pekat dan tegang.

Keramaian pengunjung di sekitar mereka sama sekali tak mampu mencairkan pembawaan dingin di antara Rendra dan Ayu.

Aura, putri kecil mereka, tampak sibuk bermain dengan balon kelincinya di rumput yang tak jauh dari sana.

Ayu menatap Rendra dengan raut wajah yang serba salah dan cemas yang luar biasa.

"Mas... aku 'kan sudah bilang sejak dulu," ucap Ayu, suaranya bergetar karena menahan gejolak emosi. "Lebih baik beritaukan pernikahan kita sejak awal ke Mbak Kirana. Kalau caranya mendadak dan ketauan dengan cara seperti ini... Mbak Kirana pasti sangat terluka dan bersedih, Mas."

Rendra tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan kedua sikunya di atas paha dan menopangkan kedua tangan di bawah dagunya dengan tatapan kosong menatap lantai paving. Garis wajahnya jelas penuh tekanan.

"Aku tau sifat Kirana, Ayu," balas Rendra dengan nada berat dan dalam.

"Hufthhh..." Ia mengembuskan napas panjang yang terasa sesak. "Dia wanita yang sangat memegang teguh komitmen. Dia tidak akan pernah setuju atau mengizinkan kalau tau aku menikah lagi. Karena itulah... aku tidak punya pilihan selain tidak memberitaunya."

"Tapi ini tidak adil untuk Mbak Kirana, Mas! Dan tidak adil juga untukku yang terus bersalah!" seru Ayu pelan namun menekan.

Ia lalu menggenggam jemari Rendra yang terasa dingin dan melanjutkan perkataannya. "Mas, lebih baik kita susul Mbak Kirana ke rumah sekarang. Kita jelaskan semuanya baik-baik. Aku juga mau minta maaf langsung pada Mbak Kirana... hatiku benar-benar tidak tenang melihat pandangan matanya tadi."

Rendra mendongak dan menatap mata istri mudanya itu dengan lekat, lalu menggeleng pelan. Ia meremas balik jemari Ayu dan berusaha meneguhkan posisinya.

"Ini semua bukan salahmu, Ayu. Kamu tidak perlu merasa bersalah," tegas Rendra dengan nada membela diri. "Pernikahan kita sah, dan kehadiran Aura adalah anugerah. Pernikahan kita tidak salah."

"Tapi cara Mas menyembunyikannya yang salah!" potong Ayu dengan mata yang berkaca-kaca. "Mbak Kirana itu istri pertama Mas, dia berhak tau!"

Rendra terdiam. Kata-kata Ayu menusuk logikanya, namun ketakutan akan kehilangan Kirana dan kehancuran rumah tangga utamanya membuat Rendra kehilangan arah.

Ia tau betul, begitu ia menginjakkan kaki di rumah nanti, badai besar yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bersambung...

Episodes
1 Ep. 1- Kepergok
2 Ep. 2- Berkhianat
3 Ep. 3- Berujung petaka
4 Ep. 4- UGD
5 Ep. 5- di Balik Tirai
6 Ep. 6- Antara hidup dan mati
7 Ep. 7- Permainan takdir
8 Ep. 8- Wasiat Terakhir
9 Ep. 9- Tanggung jawab
10 Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga
11 Ep. 11- Keteguhan hati Kirana
12 Ep. 12- Adik kecil itu siapa?
13 Ep. 13- Pura-pura kuat
14 Ep. 14- Permintaan Polos
15 Ep. 15- Kehangatan yang Mencair
16 Ep. 16- Lembaran Wasiat
17 Ep. 17- Tersulut kembali
18 Ep. 18- Tangisan tengah malam
19 Ep. 19- Tetangga rese
20 Ep. 20- Rumor
21 Ep. 21- Langkah Baru
22 Ep. 22- Rumah baru
23 Ep. 23- Berbeda
24 Ep. 24- Singel mom
25 Ep. 25- Isyarat
26 Ep. 26- Kecelakaan
27 Ep. 27- Mbak Sri!!
28 Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
29 Ep. 29- Pelukan hangat
30 Ep. 30- Jadi pelindung
31 Ep. 31- Dua wanita asing
32 Ep. 32- Tidak segampang itu!!
33 Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
34 Ep. 34- Pengadilan
35 Ep. 35- Tiga tahun kemudian
36 Ep. 36- Tiga Srikandi dan Misi Pengawal Cilik
37 Ep. 37- Pagi Pertama
38 Ep. 38- Gerbang Merah Putih
39 Ep. 39- Janji
40 Ep. 40- Merajuk
41 Ep. 41- Janji jari kelingking
42 Ep. 42- Sibling rivalry
43 Ep. 43- Apakah aku sudah adil?
44 Ep. 44- Kedewasaan dini
45 Ep. 45- Pemberontakan
46 Ep. 46- Badai di Hati Kirana
47 Bab 47- Tragedi
48 Ep. 48- Aura hilang!!!
49 Ep. 49- Nggak ada rasa bersalahnya
50 Ep. 50- Dasar bocah!
51 Ep. 51- Psikolog
52 Ep. 52- GAK MAU!!!
53 Ep. 53- Rumah kedua
54 Ep. 54- Bentuk protes
55 Ep. 55- Hampir goyah
56 Ep. 56- Manipulasi
57 Ep. 57- Tiga koper besar
58 Ep. 58- Perpisahan
59 Ep. 59- Kunjungan pertama
60 Promo novel baru mampir yuk...
61 Ep. 60- Penolakan
62 Ep. 61- Pesantren Tunas Rabbani
63 Ep. 62- Transformasi
64 Ep. 63- Luluh
65 Ep. 64- "culture shock"
66 Ep. 65- Rindu Makan Bersama
67 Ep. 66- Keluarga utuh
68 Ep. 67- Dilema
69 Ep. 68- Adaptasi
70 Ep. 69- Suara Hati Seorang Kakak
71 Ep. 70- Saling menguatkan
72 Ep. 71- SMP & SMA
73 Ep. 72- Warna-Warni Sekolah
74 Ep. 73- Fighting Aura!
75 Ep. 74- Surat di Papan Pengumuman
76 Ep. 75- Panggung Nasional
77 Ep. 76- Tumbang
78 Ep. 77- Kedua anak Mama
79 Ep. 78- "SELAMAT DATANG DI RUMAH, MAMA! AREA BEBAS STRES & BEBAS KERJA!"
80 Ep. 79- Tokoh baru
81 Ep. 80- Dokter Hendra
82 Ep. 81- Misi
83 Ep. 82- Lembaran baru
84 Ep. 83- END
85 Pengantin pengganti (Seharusnya ipar)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Ep. 1- Kepergok
2
Ep. 2- Berkhianat
3
Ep. 3- Berujung petaka
4
Ep. 4- UGD
5
Ep. 5- di Balik Tirai
6
Ep. 6- Antara hidup dan mati
7
Ep. 7- Permainan takdir
8
Ep. 8- Wasiat Terakhir
9
Ep. 9- Tanggung jawab
10
Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga
11
Ep. 11- Keteguhan hati Kirana
12
Ep. 12- Adik kecil itu siapa?
13
Ep. 13- Pura-pura kuat
14
Ep. 14- Permintaan Polos
15
Ep. 15- Kehangatan yang Mencair
16
Ep. 16- Lembaran Wasiat
17
Ep. 17- Tersulut kembali
18
Ep. 18- Tangisan tengah malam
19
Ep. 19- Tetangga rese
20
Ep. 20- Rumor
21
Ep. 21- Langkah Baru
22
Ep. 22- Rumah baru
23
Ep. 23- Berbeda
24
Ep. 24- Singel mom
25
Ep. 25- Isyarat
26
Ep. 26- Kecelakaan
27
Ep. 27- Mbak Sri!!
28
Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
29
Ep. 29- Pelukan hangat
30
Ep. 30- Jadi pelindung
31
Ep. 31- Dua wanita asing
32
Ep. 32- Tidak segampang itu!!
33
Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
34
Ep. 34- Pengadilan
35
Ep. 35- Tiga tahun kemudian
36
Ep. 36- Tiga Srikandi dan Misi Pengawal Cilik
37
Ep. 37- Pagi Pertama
38
Ep. 38- Gerbang Merah Putih
39
Ep. 39- Janji
40
Ep. 40- Merajuk
41
Ep. 41- Janji jari kelingking
42
Ep. 42- Sibling rivalry
43
Ep. 43- Apakah aku sudah adil?
44
Ep. 44- Kedewasaan dini
45
Ep. 45- Pemberontakan
46
Ep. 46- Badai di Hati Kirana
47
Bab 47- Tragedi
48
Ep. 48- Aura hilang!!!
49
Ep. 49- Nggak ada rasa bersalahnya
50
Ep. 50- Dasar bocah!
51
Ep. 51- Psikolog
52
Ep. 52- GAK MAU!!!
53
Ep. 53- Rumah kedua
54
Ep. 54- Bentuk protes
55
Ep. 55- Hampir goyah
56
Ep. 56- Manipulasi
57
Ep. 57- Tiga koper besar
58
Ep. 58- Perpisahan
59
Ep. 59- Kunjungan pertama
60
Promo novel baru mampir yuk...
61
Ep. 60- Penolakan
62
Ep. 61- Pesantren Tunas Rabbani
63
Ep. 62- Transformasi
64
Ep. 63- Luluh
65
Ep. 64- "culture shock"
66
Ep. 65- Rindu Makan Bersama
67
Ep. 66- Keluarga utuh
68
Ep. 67- Dilema
69
Ep. 68- Adaptasi
70
Ep. 69- Suara Hati Seorang Kakak
71
Ep. 70- Saling menguatkan
72
Ep. 71- SMP & SMA
73
Ep. 72- Warna-Warni Sekolah
74
Ep. 73- Fighting Aura!
75
Ep. 74- Surat di Papan Pengumuman
76
Ep. 75- Panggung Nasional
77
Ep. 76- Tumbang
78
Ep. 77- Kedua anak Mama
79
Ep. 78- "SELAMAT DATANG DI RUMAH, MAMA! AREA BEBAS STRES & BEBAS KERJA!"
80
Ep. 79- Tokoh baru
81
Ep. 80- Dokter Hendra
82
Ep. 81- Misi
83
Ep. 82- Lembaran baru
84
Ep. 83- END
85
Pengantin pengganti (Seharusnya ipar)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!