Ep. 4- UGD

Dua jam berlalu sejak Kirana melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Keisya sudah tertidur pulas di kamarnya setelah lelah menangis dan masih dengan sepatu kets merah yang belum sempat terlepas dari kaki kecilnya.

Sementara di ruang keluarga, Kirana duduk membeku di tepi sofa. Lampu utama tidak ia nyalakan, hanya menyisakan temaram sinar lampu sudut yang menimpa wajahnya yang pucat dan sembap.

Hatinya hancur meliuk-liuk. Kenangan tujuh tahun pernikahan bersama Rendra berputar bagai rekaman ulang yang menyiksa. Senyum hangat suaminya setiap pagi, janji-janji manis yang selalu terucap, hingga momen-momen kecil saat Rendra memeluknya dengan penuh kasih.

"Semua itu palsu," bisik batin Kirana.

Setiap tawa Rendra kini terasa bagai ejekan, dan setiap belai kehangatannya terasa bagai racun yang perlahan membunuhnya dari dalam.

"Kenapa, Mas... Kenapa harus ada wanita lain? Kenapa harus ada anak lain?" gumam Kirana lirih, hingga air matanya kembali menetes membasahi jemarinya yang saling bertaut kaku.

Tiba-tiba...

TOK! TOK! TOK!

Ketukan keras di pintu depan memecah keheningan malam. Kirana terperanjat, dadanya berdegup kencang secara refleks.

Apakah itu Rendra? Apakah dia memberanikan diri datang untuk membuat kebohongan baru?

Dengan hati yang dipenuhi kemarahan dan luka yang menyala-nyala, Kirana bangkit berdiri. Ia mengusap air matanya secara kasar dan membulatkan tekad untuk tidak lagi luluh atau tertipu oleh Rendra.

Ia berjalan cepat menuju pintu utama sambil menghentikan art yang hendak membuka pintu, kemudian ia memutar gagangnya dengan sentakan.

"Sudah kukatakan, Mas, tidak ada lagi yang perlu—"

Kata-kata Kirana terhenti seketika di pangkal tenggorokannya.

Nyatanya bukan Rendra yang berdiri di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri dua orang petugas polisi berseragam lengkap dengan raut wajah yang amat serius dan prihatin.

Sedangkan di belakang mereka, lampu rotator mobil patroli memancarkan kilatan cahaya biru yang berpendar di halaman rumah.

"Selamat malam. Betul ini rumah Bapak Rendra?" tanya salah satu petugas polisi.

Kirana terpaku sejenak, firasat buruk mendadak menyergap hatinya. "I-iya, betul... Saya istrinya. Ada apa ya, Pak?"

Petugas polisi itu mengembuskan napas pelan lalu melanjutkan perkataannya, "Ibu, kami dari Kepolisian Sektor Perbatasan. Kami ingin menyampaikan kabar bahwa kendaraan atas nama Bapak Rendra baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas yang sangat berat di jalur perbukitan."

"K-kecelakaan...?"

"Benar, Bu. Mobil korban hilang kendali dan jatuh ke dalam jurang," lanjut petugas polisi tersebut. "Saat ini korban sudah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah dalam kondisi sangat kritis. Kami minta Ibu untuk segera ikut bersama kami ke rumah sakit."

Tubuh Kirana berguncang hebat. Lututnya mendadak lemas bagai tak bertulang hingga ia hampir tersungkur jika tak berpegangan pada daun pintu.

Kemarahan dan rasa benci yang baru saja berkobar di dadanya beberapa detik lalu, seketika tersapu bersih oleh rasa syok dan ketakutan yang luar biasa.

"Mas Rendra... Mas Rendra di rumah sakit?" bisik Kirana, suaranya hampir tak terdengar, tenggelam dalam sirine kebenaran pahit yang baru saja menghantam jalurnya.

"Mas Rendra..."

_____

________

Suara raungan sirine mobil patroli polisi membelah heningnya jalanan malam. Di kursi belakang, Kirana duduk membeku. Tatapannya kosong menatap pendar lampu jalan yang melintas cepat di balik kaca mobil yang basah oleh embun.

Sebelum berangkat tadi, Kirana sempat membangunkan Mbok Darmi, asisten rumah tangganya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Kirana memeluk Mbok Darmi erat sambil menahan tangis, dan menitipkan Keisya yang masih tertidur pulas agar tidak terbangun dan kebingungan mencari kedua orang tuanya.

Kini, di dalam mobil yang melaju kencang, pikiran Kirana melayang tak tentu arah. Hatinya seperti dicabik oleh dua perasaan yang bertolak belakang secara ekstrem.

Di satu sisi, luka pengkhianatan Rendra baru saja menganga beberapa jam yang lalu. Rasa sakit itu masih terasa nyata, seperti sembilu yang menusuk tepat di dadanya.

Namun di sisi lain, bayangan Rendra yang kini terbaring antara hidup dan mati membuat rasa benci itu terkikis oleh ketakutan yang mencekam.

"Tuhan... tolong selamatkan Mas Rendra," bisik Kirana dalam hatinya, jemarinya meremas kuat gaun yang dikenakannya hingga kusut. "Aku membenci perbuatannya, tapi tolong... jangan ambil dia sekarang. Keisya masih sangat kecil, dia masih butuh sosok ayahnya..."

Kirana memejamkan matanya rapat-rapat hingga air matanya menetes dengan pelan. Bagaimanapun sakitnya hati Kirana, ia tau betapa Keisya sangat memuja Rendra. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya dunia putri kecilnya jika Rendra harus pergi untuk selamanya saat ini.

**

Setibanya di Rumah Sakit Umum Daerah, bau khas karbol dan obat-obatan yang tajam menyengat hidung. Suasana koridor Unit Gawat Darurat (UGD) tampak begitu tegang dan riuh.

Petugas polisi menuntun langkah Kirana yang gemetar menyusuri lorong berlantai putih yang terasa begitu dingin.

"Ibu Kirana, suami Ibu saat ini sedang ditangani secara intensif oleh tim dokter di dalam UGD," jelas petugas polisi tersebut sambil menghentikan langkah di depan pintu kaca tebal bertuliskan RUANG CRITICAL CARE.

Saat Kirana berdiri terpaku di depan pintu kaca tersebut, seorang dokter pria berseragam hijau operasi keluar dari ruangan dengan raut wajah yang amat letih dan penuh ketegangan.

"Dokter! Bagaimanakah keadaan suami saya?" Kirana buru-buru mendekat dan bertanya dengan suara yang parau dan bergetar hebat.

Dokter tersebut menghela napas panjang, lalu menatap Kirana dengan pandangan prihatin. "Apakah Ibu keluarga dari pasien bernama Bapak Rendra?"

"Saya istrinya, Dok! Bagaimana keadaannya? Suami saya selamat, 'kan?" tanya Kirana mendesak, matanya berkaca-kaca menatap Dokter dengan penuh keputusasaan.

"Kondisi Pak Rendra sangat kritis akibat benturan keras di bagian kepala dan dada," tutur dokter itu hati-hati dan berusaha menyampaikan kenyataan dengan sehalus mungkin. "Saat ini kami sedang berusaha sekuat tenaga untuk menstabilkan tanda-tanda vitalnya. Namun, pendarahan dalam yang dialaminya cukup parah. Kami butuh persetujuan Ibu untuk melakukan tindakan operasi darurat sekarang juga."

Deg!!

Dada Kirana serasa dihantam beban berat berton-ton. Tubuhnya oleng ke samping, tapi beruntung petugas polisi di dekatnya dengan sigap menahan lengannya.

"Lakukan apa saja, Dok... Saya mohon, lakukan apa saja asal suami saya bisa selamat!"

😭😭😭😭😭😭😭😭😭

Tangis Kirana akhirnya pecah di lorong rumah sakit yang dingin itu. Ia lalu menandatangani lembar persetujuan medis dengan tangan yang begitu gemetar.

Namun, di tengah keriuhan tim medis yang bersiap mendorong Rendra ke ruang operasi, perhatian Kirana mendadak teralih oleh suara isak tangis anak kecil yang terdengar begitu pilu dari balik tirai UGD sebelah.

"Ibu... Ibu angun... Aula atut..."

Bersambung...

Episodes
1 Ep. 1- Kepergok
2 Ep. 2- Berkhianat
3 Ep. 3- Berujung petaka
4 Ep. 4- UGD
5 Ep. 5- di Balik Tirai
6 Ep. 6- Antara hidup dan mati
7 Ep. 7- Permainan takdir
8 Ep. 8- Wasiat Terakhir
9 Ep. 9- Tanggung jawab
10 Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga
11 Ep. 11- Keteguhan hati Kirana
12 Ep. 12- Adik kecil itu siapa?
13 Ep. 13- Pura-pura kuat
14 Ep. 14- Permintaan Polos
15 Ep. 15- Kehangatan yang Mencair
16 Ep. 16- Lembaran Wasiat
17 Ep. 17- Tersulut kembali
18 Ep. 18- Tangisan tengah malam
19 Ep. 19- Tetangga rese
20 Ep. 20- Rumor
21 Ep. 21- Langkah Baru
22 Ep. 22- Rumah baru
23 Ep. 23- Berbeda
24 Ep. 24- Singel mom
25 Ep. 25- Isyarat
26 Ep. 26- Kecelakaan
27 Ep. 27- Mbak Sri!!
28 Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
29 Ep. 29- Pelukan hangat
30 Ep. 30- Jadi pelindung
31 Ep. 31- Dua wanita asing
32 Ep. 32- Tidak segampang itu!!
33 Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
34 Ep. 34- Pengadilan
35 Ep. 35- Tiga tahun kemudian
36 Ep. 36- Tiga Srikandi dan Misi Pengawal Cilik
37 Ep. 37- Pagi Pertama
38 Ep. 38- Gerbang Merah Putih
39 Ep. 39- Janji
40 Ep. 40- Merajuk
41 Ep. 41- Janji jari kelingking
42 Ep. 42- Sibling rivalry
43 Ep. 43- Apakah aku sudah adil?
44 Ep. 44- Kedewasaan dini
45 Ep. 45- Pemberontakan
46 Ep. 46- Badai di Hati Kirana
47 Bab 47- Tragedi
48 Ep. 48- Aura hilang!!!
49 Ep. 49- Nggak ada rasa bersalahnya
50 Ep. 50- Dasar bocah!
51 Ep. 51- Psikolog
52 Ep. 52- GAK MAU!!!
53 Ep. 53- Rumah kedua
54 Ep. 54- Bentuk protes
55 Ep. 55- Hampir goyah
56 Ep. 56- Manipulasi
57 Ep. 57- Tiga koper besar
58 Ep. 58- Perpisahan
59 Ep. 59- Kunjungan pertama
60 Promo novel baru mampir yuk...
61 Ep. 60- Penolakan
62 Ep. 61- Pesantren Tunas Rabbani
63 Ep. 62- Transformasi
64 Ep. 63- Luluh
65 Ep. 64- "culture shock"
66 Ep. 65- Rindu Makan Bersama
67 Ep. 66- Keluarga utuh
68 Ep. 67- Dilema
69 Ep. 68- Adaptasi
70 Ep. 69- Suara Hati Seorang Kakak
71 Ep. 70- Saling menguatkan
72 Ep. 71- SMP & SMA
73 Ep. 72- Warna-Warni Sekolah
74 Ep. 73- Fighting Aura!
75 Ep. 74- Surat di Papan Pengumuman
76 Ep. 75- Panggung Nasional
77 Ep. 76- Tumbang
78 Ep. 77- Kedua anak Mama
79 Ep. 78- "SELAMAT DATANG DI RUMAH, MAMA! AREA BEBAS STRES & BEBAS KERJA!"
80 Ep. 79- Tokoh baru
81 Ep. 80- Dokter Hendra
82 Ep. 81- Misi
83 Ep. 82- Lembaran baru
84 Ep. 83- END
85 Pengantin pengganti (Seharusnya ipar)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Ep. 1- Kepergok
2
Ep. 2- Berkhianat
3
Ep. 3- Berujung petaka
4
Ep. 4- UGD
5
Ep. 5- di Balik Tirai
6
Ep. 6- Antara hidup dan mati
7
Ep. 7- Permainan takdir
8
Ep. 8- Wasiat Terakhir
9
Ep. 9- Tanggung jawab
10
Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga
11
Ep. 11- Keteguhan hati Kirana
12
Ep. 12- Adik kecil itu siapa?
13
Ep. 13- Pura-pura kuat
14
Ep. 14- Permintaan Polos
15
Ep. 15- Kehangatan yang Mencair
16
Ep. 16- Lembaran Wasiat
17
Ep. 17- Tersulut kembali
18
Ep. 18- Tangisan tengah malam
19
Ep. 19- Tetangga rese
20
Ep. 20- Rumor
21
Ep. 21- Langkah Baru
22
Ep. 22- Rumah baru
23
Ep. 23- Berbeda
24
Ep. 24- Singel mom
25
Ep. 25- Isyarat
26
Ep. 26- Kecelakaan
27
Ep. 27- Mbak Sri!!
28
Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
29
Ep. 29- Pelukan hangat
30
Ep. 30- Jadi pelindung
31
Ep. 31- Dua wanita asing
32
Ep. 32- Tidak segampang itu!!
33
Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
34
Ep. 34- Pengadilan
35
Ep. 35- Tiga tahun kemudian
36
Ep. 36- Tiga Srikandi dan Misi Pengawal Cilik
37
Ep. 37- Pagi Pertama
38
Ep. 38- Gerbang Merah Putih
39
Ep. 39- Janji
40
Ep. 40- Merajuk
41
Ep. 41- Janji jari kelingking
42
Ep. 42- Sibling rivalry
43
Ep. 43- Apakah aku sudah adil?
44
Ep. 44- Kedewasaan dini
45
Ep. 45- Pemberontakan
46
Ep. 46- Badai di Hati Kirana
47
Bab 47- Tragedi
48
Ep. 48- Aura hilang!!!
49
Ep. 49- Nggak ada rasa bersalahnya
50
Ep. 50- Dasar bocah!
51
Ep. 51- Psikolog
52
Ep. 52- GAK MAU!!!
53
Ep. 53- Rumah kedua
54
Ep. 54- Bentuk protes
55
Ep. 55- Hampir goyah
56
Ep. 56- Manipulasi
57
Ep. 57- Tiga koper besar
58
Ep. 58- Perpisahan
59
Ep. 59- Kunjungan pertama
60
Promo novel baru mampir yuk...
61
Ep. 60- Penolakan
62
Ep. 61- Pesantren Tunas Rabbani
63
Ep. 62- Transformasi
64
Ep. 63- Luluh
65
Ep. 64- "culture shock"
66
Ep. 65- Rindu Makan Bersama
67
Ep. 66- Keluarga utuh
68
Ep. 67- Dilema
69
Ep. 68- Adaptasi
70
Ep. 69- Suara Hati Seorang Kakak
71
Ep. 70- Saling menguatkan
72
Ep. 71- SMP & SMA
73
Ep. 72- Warna-Warni Sekolah
74
Ep. 73- Fighting Aura!
75
Ep. 74- Surat di Papan Pengumuman
76
Ep. 75- Panggung Nasional
77
Ep. 76- Tumbang
78
Ep. 77- Kedua anak Mama
79
Ep. 78- "SELAMAT DATANG DI RUMAH, MAMA! AREA BEBAS STRES & BEBAS KERJA!"
80
Ep. 79- Tokoh baru
81
Ep. 80- Dokter Hendra
82
Ep. 81- Misi
83
Ep. 82- Lembaran baru
84
Ep. 83- END
85
Pengantin pengganti (Seharusnya ipar)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!