Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Ep. 1- Kepergok

Halo, Teman-Teman Pembaca Kesayangan! ✨

Senang sekali akhirnya novel terbaru karya Aurora.playgame, yang berjudul "Mengasuh Anak dari Maduku", resmi rilis di NovelToon!

Kisah ini lahir dari perenungan mendalam tentang ketabahan, luka, dan besarnya arti pengampunan seorang wanita. Lewat perjalanan Kirana, kita akan diajak menyelami dilema batin yang luar biasa antara rasa terluka karena pengkhianatan dan naluri ketulusan seorang ibu.

Selamat menyelami emosi Kirana, Keisya, dan Aura. Semoga kisah ini bisa menyentuh hati dan memberi pesan bermakna untuk kita semua. Pastikan untuk membaca ceritanya sampai bab terakhir, ya! Karena akan ada banyak kejutan dan kehangatan yang menunggu di ujung perjalanan mereka.

Selamat membaca dan terima kasih banyak atas dukungannya! ❤️

✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨

Ep. 1- Kepergok

Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis kamar utama, membiaskan cahaya hangat di atas ranjang. Di depan cermin rias, Rendra tengah mematut diri dengan merapikan dasi abu-abu yang melingkar di lehernya.

Dari arah pintu, Kirana melangkah mendekat. Senyum manis terukir di wajah cantiknya, meski ada binar kelelahan yang samar di balik matanya.

"Mas, hari ini jadi ke taman bermain, 'kan? Keisya sudah menantikan ini sejak minggu lalu, lho. Dari semalam dia bahkan sudah menyiapkan baju kesayangannya," ujar Kirana.

Jemarinya yang lentik bergerak sigap merapikan lipatan kemeja putih sang suami, untuk memastikan Rendra tampil sempurna seperti biasa.

Namun, gerakan tangan Rendra mendadak terhenti. Untuk sepersekian detik, ada kilat kecanggungan yang melintas di matanya. Ia mengembuskan napas halus, lalu meraih kedua pergelangan tangan Kirana dan memegang bahunya dengan erat.

"Sayang..." kilah Rendra dengan nada penuh penyesalan yang dibuat sehalus mungkin. "Aku... aku benar-benar minta maaf. Hari ini tiba-tiba ada klien penting dari luar kota yang minta bertemu dadakan. Proyek ini besar sekali, Kirana. Sepertinya kita harus menunda liburan kali ini. Bagaimana? Tidak apa-apa, 'kan?"

Seketika jemari Kirana terkulai di dada Rendra. Bibirnya merapat, lalu memanyun kecewa. Raut wajahnya yang tadinya cerah kini berubah menjadi redup.

Bukannya ia ingin bersikap kekanak-kanakan, tetapi ini bukan kali pertama. Sudah hampir tiga akhir pekan berturut-turut Rendra selalu membatalkan rencana keluarga dengan alasan yang persis sama, klien penting dan urusan pekerjaan yang mendesak.

"Mas... ini sudah minggu ketiga," tutur Kirana, suaranya bergetar menahan selaksa rasa kecewa yang mulai menumpuk di dadanya. "Keisya itu masih empat tahun. Dia belum paham arti 'klien penting'. Yang dia tau, papanya janji mau mengantarnya naik komedi putar hari ini."

"Aku tau, Kirana, aku tau," potong Rendra. Ia lalu menarik Kirana ke dalam pelukannya dan mengusap punggung istrinya itu dengan lembut. Sebuah gestur penenang yang selalu berhasil meluluhkan hati Kirana selama tujuh tahun pernikahan mereka.

"Aku janji, setelah proyek ini selesai, kita liburan penuh selama seminggu. Ke mana pun kamu dan Keisya mau. Tolong mengerti ya, Sayang? Ini demi masa depan kita juga."

Aroma parfum Rendra yang asing tercium samar saat hidung Kirana menyentuh kerah kemeja Rendra. Namun, Kirana langsung menepis prasangka itu jauh-jauh. Mungkin aroma pengharum mobil atau sabun di kantor, pikirnya naif.

"Ya sudah..." bisik Kirana akhirnya, mengalah pada kehangatan semu yang diberikan suaminya. "Tapi Mas harus janji, jangan ingkar lagi minggu depan."

"Janji, Sayang. Terima kasih sudah selalu jadi istri yang pengertian," ucap Rendra sambil mengecup dahi Kirana cukup lama.

Namun, tugas terberat Kirana baru saja dimulai saat menghadapi putri kecil mereka.

Di ruang keluarga, Keisya sudah duduk manis di atas sofa sambil memangku tas ransel kecil bertema kartun kesukaannya. Sepatu kets merahnya sudah terpasang rapi di kedua kaki kecilnya.

Begitu melihat Kirana berjalan mendekat sendirian, binar bahagia di mata bocah itu pelan-pelan meredup.

"Mama... Papa mana? Kita berangkat sekarang, 'kan?" tanya Keisya polos sambil melongokkan kepalanya ke arah belakang Kirana.

Kirana lantas berlutut di hadapan putri semata pembawa bahagianya itu. Ia memegang kedua tangan kecil Keisya yang terasa dingin, dan mencoba menyunggingkan senyum terbaik meski hatinya sendiri terasa remuk.

"Sayang... dengarkan Mama ya," bisik Kirana, sambil mengusap pipi cabi Keisya. "Papa hari ini harus kerja sebentar. Ada urusan mendadak yang harus Papa selesaikan supaya Papa bisa belikan Keisya mainan baru nanti."

"Tapi Papa janji!" seru Keisya, matanya mulai berkaca-kaca, bahkan bibir kecilnya pun gemetar menahan tangis. "Papa bilang hari ini libur! Keisya gak mau mainan, Keisya mau naik komedi putar sama Papa dan Mama!"

"Keisya..." Kirana membawa putri kecilnya itu ke dalam pelukan hangatnya.

Hingga akhirnya tangis Keisya pecah di pundak Kirana dan menumpahkan kekecewaan seorang anak kecil yang merindukan sosok ayahnya.

"Mama tau Keisya sedih. Tapi Papa kerja keras buat kita. Bagaimana kalau hari ini Mama yang antar Keisya beli es krim dan jalan-jalan di taman dekat rumah? Nanti minggu depan, Papa janji akan bawa kita ke tempat yang lebih besar," bujuk Kirana.

Di saat yang sama, suara mesin mobil Rendra terdengar menyala di garasi luar dan perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah.

Kirana memejamkan matanya erat-erat sembari terus mengusap punggung Keisya yang terisak, hingga isak tangis Keisya perlahan mereda, digantikan oleh bibir kecil yang masih cemberut.

Meski Kirana sudah mencoba menghiburnya dengan membelikan es krim coklat kesukaannya di taman komplek, pandangan bocah itu tetap meratapi jalanan.

"Mama... tapi Papa janjinya ke taman hiburan yang ada komedi putar besarnya," cicit Keisya, sembari jemari kecilnya meremas ujung baju Kirana. "Keisya sudah bawa tas ransel... Keisya mau naik kuda-kudaan sama Papa..."

Melihat binar kecewa di mata putri semata wayangnya, dada Kirana mendadak sesak oleh rasa bersalah. Kenapa hanya karena janji Rendra yang teringkari, Keisya yang harus mengorbankan keceriaannya?

"Ya sudah," putus Kirana akhirnya sambil menyapu sisa air mata di pipi Keisya. "Hari ini Mama yang bakal gantiin Papa. Kita pergi ke taman hiburan sekarang!"

Mata Keisya seketika berbinar terang. "Beneran, Ma?! Yeay!"

Beberapa saat kemudian...

Suasana taman hiburan siang itu begitu riuh. Gelak tawa anak-anak, musik gembira dari speaker, serta aroma manis popcorn menyambut kedatangan mereka.

Rasa lelah Kirana menguap begitu saja setiap kali melihat Keisya berlarian riang, menjajal wahana cangkir berputar, menunjuk balon warna-warni, hingga tertawa lepas saat menaiki bianglala.

Hingga akhirnya, mereka tiba di depan wahana paling populer di tengah area permainan, sebuah komedi putar raksasa bernuansa klasik dengan lampu-lampu emas yang berkilauan dan dentang musik kotak musik yang nyaring.

"Mama! Kuda-kudaannya berputar! Keisya mau naik yang itu!" seru Keisya antusias, sambil menunjuk ke arah komedi putar yang sedang bergerak lambat menyelesaikan putarannya.

"Antri dulu ya, Sayang. Sebentar lagi wahananya berhenti," ujar Kirana sambil menggenggam erat jemari Keisya.

Namun, di tengah keriuhan antrian dan dentang musik yang keras, Keisya mendadak menarik-narik ujung kemeja Kirana dengan kuat. Wajah bocah itu berkerut penuh rasa penasaran.

"Ma... itu Papa, 'kan?" tunjuk Keisya lurus ke arah salah satu kuda kayu berukir emas di bagian dalam wahana.

Deg!

Jantung Kirana serasa berhenti berdetak dengan serentak. Ia menghentikan langkahnya dan refleks mengikuti arah telunjuk putrinya.

Namun, komedi putar itu bergerak cukup cepat hingga menutupi pandangannya dengan susunan kuda kayu lain dan kerumunan pengunjung di dalamnya.

Kirana mengembuskan napasnya dan mencoba menenangkan debar dadanya yang mendadak tidak beraturan. Ia pun terkekeh pelan sambil mengusap kepala Keisya.

"Sayang... Papa mana mungkin ada di sini. Dia sedang rapat penting sama kliennya, Nak. Mungkin Keisya cuma salah lihat karena kangen sama Papa," bisik Kirana, yang mencoba merasionalkan penglihatannya.

"Bukan, Ma! Itu beneran Papa! Itu baju Papa yang tadi pagi Papa pakai!" tegas Keisya tak mau kalah.

Lalu, tangannya kembali menunjuk tajam saat wahana permainan itu mulai memelankan putarannya untuk berhenti. "Lihat itu, Ma! Itu Papa!"

Sikap gigih Keisya membuat Kirana mendongakkan kepalanya. Kali ini, matanya menyapu setiap sudut komedi putar secara saksama saat wahana itu akhirnya benar-benar berhenti berputar.

Lalu, di sanalah dunia Kirana serasa runtuh dan hancur berkeping-keping.

Tepat beberapa meter di hadapannya, tengah berdiri seorang pria berjanggut rapi dengan kemeja putih, kemeja yang sama persis yang jemarinya rapikan tadi pagi.

Pria itu adalah Rendra.

Namun, Rendra tidak sedang bersama klien bisnisnya. Melainkan, pria itu sedang tertawa lepas seraya merangkul mesra pinggang seorang wanita berparas manis yang mengenakan gaun santai.

Sementara di tangan kirinya, Rendra menggendong seorang anak perempuan kecil berusia sekitar dua tahun yang tertawa riang sambil memegang balon berbentuk kelinci.

Rendra mengecup pipi anak kecil itu dengan begitu penuh kasih sayang, sebuah pemandangan hangat dari keluarga kecil yang sempurna.

Dag Dig dug DUARRRRR!!!

Darah Kirana terasa mendidih seketika, disusul oleh rasa dingin yang menjalar gila-gilaan dari telapak kaki hingga ke ujung kepalanya.

Lidahnya kelu. Tatapannya terkunci rapat pada pemandangan yang menghancurkan seluruh kepercayaannya selama tujuh tahun pernikahan.

Klien penting? Pekerjaan mendesak?

Suara-suara di sekitarnya mendadak senyap, tergantikan oleh dengungan bising di dalam kepalanya sendiri.

Kirana berdiri membeku di tengah kerumunan, menatap suaminya yang masih asyik bersenda gurau dengan "keluarga rahasianya" tanpa menyadari bahwa sang istri sah dan putri pertamanya sedang berdiri menatapnya dari jarak yang sangat dekat.

"Mas..."

Bersambung...

Terpopuler

Comments

RahmaYesi

RahmaYesi

Bodoh juga ya Rendra ini. Udah tau anaknya mau ke Taman bermain. Lah kalau pada akhirnya kamu ke taman bermain juga, kenapa gak sekalian bawa anak istrimu, bodoh....😡😡

2026-07-29

1

fans

fans

hmmm... setianya selingkuh tiada akhir

2026-07-29

1

Lisa

Lisa

Aku mampir Kak

2026-08-04

1

lihat semua
Episodes
1 Ep. 1- Kepergok
2 Ep. 2- Berkhianat
3 Ep. 3- Berujung petaka
4 Ep. 4- UGD
5 Ep. 5- di Balik Tirai
6 Ep. 6- Antara hidup dan mati
7 Ep. 7- Permainan takdir
8 Ep. 8- Wasiat Terakhir
9 Ep. 9- Tanggung jawab
10 Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga
11 Ep. 11- Keteguhan hati Kirana
12 Ep. 12- Adik kecil itu siapa?
13 Ep. 13- Pura-pura kuat
14 Ep. 14- Permintaan Polos
15 Ep. 15- Kehangatan yang Mencair
16 Ep. 16- Lembaran Wasiat
17 Ep. 17- Tersulut kembali
18 Ep. 18- Tangisan tengah malam
19 Ep. 19- Tetangga rese
20 Ep. 20- Rumor
21 Ep. 21- Langkah Baru
22 Ep. 22- Rumah baru
23 Ep. 23- Berbeda
24 Ep. 24- Singel mom
25 Ep. 25- Isyarat
26 Ep. 26- Kecelakaan
27 Ep. 27- Mbak Sri!!
28 Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
29 Ep. 29- Pelukan hangat
30 Ep. 30- Jadi pelindung
31 Ep. 31- Dua wanita asing
32 Ep. 32- Tidak segampang itu!!
33 Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
34 Ep. 34- Pengadilan
35 Ep. 35- Tiga tahun kemudian
36 Ep. 36- Tiga Srikandi dan Misi Pengawal Cilik
37 Ep. 37- Pagi Pertama
38 Ep. 38- Gerbang Merah Putih
39 Ep. 39- Janji
40 Ep. 40- Merajuk
41 Ep. 41- Janji jari kelingking
42 Ep. 42- Sibling rivalry
43 Ep. 43- Apakah aku sudah adil?
44 Ep. 44- Kedewasaan dini
45 Ep. 45- Pemberontakan
46 Ep. 46- Badai di Hati Kirana
47 Bab 47- Tragedi
48 Ep. 48- Aura hilang!!!
49 Ep. 49- Nggak ada rasa bersalahnya
50 Ep. 50- Dasar bocah!
51 Ep. 51- Psikolog
52 Ep. 52- GAK MAU!!!
53 Ep. 53- Rumah kedua
54 Ep. 54- Bentuk protes
55 Ep. 55- Hampir goyah
56 Ep. 56- Manipulasi
57 Ep. 57- Tiga koper besar
58 Ep. 58- Perpisahan
59 Ep. 59- Kunjungan pertama
60 Promo novel baru mampir yuk...
61 Ep. 60- Penolakan
62 Ep. 61- Pesantren Tunas Rabbani
63 Ep. 62- Transformasi
64 Ep. 63- Luluh
65 Ep. 64- "culture shock"
66 Ep. 65- Rindu Makan Bersama
67 Ep. 66- Keluarga utuh
68 Ep. 67- Dilema
69 Ep. 68- Adaptasi
70 Ep. 69- Suara Hati Seorang Kakak
71 Ep. 70- Saling menguatkan
72 Ep. 71- SMP & SMA
73 Ep. 72- Warna-Warni Sekolah
74 Ep. 73- Fighting Aura!
75 Ep. 74- Surat di Papan Pengumuman
76 Ep. 75- Panggung Nasional
77 Ep. 76- Tumbang
78 Ep. 77- Kedua anak Mama
79 Ep. 78- "SELAMAT DATANG DI RUMAH, MAMA! AREA BEBAS STRES & BEBAS KERJA!"
80 Ep. 79- Tokoh baru
81 Ep. 80- Dokter Hendra
82 Ep. 81- Misi
83 Ep. 82- Lembaran baru
84 Ep. 83- END
85 Pengantin pengganti (Seharusnya ipar)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Ep. 1- Kepergok
2
Ep. 2- Berkhianat
3
Ep. 3- Berujung petaka
4
Ep. 4- UGD
5
Ep. 5- di Balik Tirai
6
Ep. 6- Antara hidup dan mati
7
Ep. 7- Permainan takdir
8
Ep. 8- Wasiat Terakhir
9
Ep. 9- Tanggung jawab
10
Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga
11
Ep. 11- Keteguhan hati Kirana
12
Ep. 12- Adik kecil itu siapa?
13
Ep. 13- Pura-pura kuat
14
Ep. 14- Permintaan Polos
15
Ep. 15- Kehangatan yang Mencair
16
Ep. 16- Lembaran Wasiat
17
Ep. 17- Tersulut kembali
18
Ep. 18- Tangisan tengah malam
19
Ep. 19- Tetangga rese
20
Ep. 20- Rumor
21
Ep. 21- Langkah Baru
22
Ep. 22- Rumah baru
23
Ep. 23- Berbeda
24
Ep. 24- Singel mom
25
Ep. 25- Isyarat
26
Ep. 26- Kecelakaan
27
Ep. 27- Mbak Sri!!
28
Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
29
Ep. 29- Pelukan hangat
30
Ep. 30- Jadi pelindung
31
Ep. 31- Dua wanita asing
32
Ep. 32- Tidak segampang itu!!
33
Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
34
Ep. 34- Pengadilan
35
Ep. 35- Tiga tahun kemudian
36
Ep. 36- Tiga Srikandi dan Misi Pengawal Cilik
37
Ep. 37- Pagi Pertama
38
Ep. 38- Gerbang Merah Putih
39
Ep. 39- Janji
40
Ep. 40- Merajuk
41
Ep. 41- Janji jari kelingking
42
Ep. 42- Sibling rivalry
43
Ep. 43- Apakah aku sudah adil?
44
Ep. 44- Kedewasaan dini
45
Ep. 45- Pemberontakan
46
Ep. 46- Badai di Hati Kirana
47
Bab 47- Tragedi
48
Ep. 48- Aura hilang!!!
49
Ep. 49- Nggak ada rasa bersalahnya
50
Ep. 50- Dasar bocah!
51
Ep. 51- Psikolog
52
Ep. 52- GAK MAU!!!
53
Ep. 53- Rumah kedua
54
Ep. 54- Bentuk protes
55
Ep. 55- Hampir goyah
56
Ep. 56- Manipulasi
57
Ep. 57- Tiga koper besar
58
Ep. 58- Perpisahan
59
Ep. 59- Kunjungan pertama
60
Promo novel baru mampir yuk...
61
Ep. 60- Penolakan
62
Ep. 61- Pesantren Tunas Rabbani
63
Ep. 62- Transformasi
64
Ep. 63- Luluh
65
Ep. 64- "culture shock"
66
Ep. 65- Rindu Makan Bersama
67
Ep. 66- Keluarga utuh
68
Ep. 67- Dilema
69
Ep. 68- Adaptasi
70
Ep. 69- Suara Hati Seorang Kakak
71
Ep. 70- Saling menguatkan
72
Ep. 71- SMP & SMA
73
Ep. 72- Warna-Warni Sekolah
74
Ep. 73- Fighting Aura!
75
Ep. 74- Surat di Papan Pengumuman
76
Ep. 75- Panggung Nasional
77
Ep. 76- Tumbang
78
Ep. 77- Kedua anak Mama
79
Ep. 78- "SELAMAT DATANG DI RUMAH, MAMA! AREA BEBAS STRES & BEBAS KERJA!"
80
Ep. 79- Tokoh baru
81
Ep. 80- Dokter Hendra
82
Ep. 81- Misi
83
Ep. 82- Lembaran baru
84
Ep. 83- END
85
Pengantin pengganti (Seharusnya ipar)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!