Ep. 3- Berujung petaka

Suasana di dalam area taman hiburan perlahan mulai menyepi dari gelak tawa, berganti dengan keheningan yang menyesakkan di antara Rendra dan Ayu. Kebenaran yang selama ini tersimpan rapat akhirnya membentur dinding realita secara menghantam.

Ayu menatap Rendra dengan pandangan tegas namun sarat akan rasa bersalah. Ia memegang kedua lengan suaminya dan memaksa pria itu untuk menatap matanya.

"Aku pikir masalah ini bukan untuk ditunda berlama-lama, Mas," tegas Ayu. "Kita harus segera temui Mbak Kirana dan jelaskan semuanya. Makin lama Mas menundanya, makin dalam luka yang Mas goreskan di hati Mbak Kirana dan Keisya."

Rendra mengusap wajahnya yang kaku secara kasar. Rasa takut akan kehilangan Kirana berbenturan keras dengan rasa tanggung jawabnya pada Ayu. Namun, menatap keputusasaan di mata kedua istrinya, Rendra akhirnya mengangguk dengan pelan.

"Baik..." bisik Rendra pasrah. "Kita ke rumah sekarang."

Berkat bujukan dan nasihat Ayu, Rendra akhirnya melangkah menuju parkiran. Ia menggandeng jemari kecil Aura, sementara Ayu berjalan di sampingnya dengan dada yang berdegup kencang.

Brooommm!!

Mesin mobil meraung pelan saat keluar dari area parkir taman hiburan.

Di sepanjang perjalanan, kabin mobil terasa begitu hening. Ayu duduk di samping kursi kemudi sambil memeluk Aura yang mulai tertidur pulas karena kelelahan, sementara Rendra menyetir dengan pikiran yang berkecamuk hebat.

Bagaimana perasaan Kirana saat ini? Apa yang sedang dilakukan Keisya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menari-nari menembus kesadarannya. Bayangan wajah Kirana yang sembap, tatapan matanya yang dingin dan penuh kegetiran tadi di taman hiburan, terus membayangi pelupuk mata Rendra.

Bagaimana aku harus menghadapi mereka di rumah nanti? Dan... bagaimana jika Kirana tidak bisa memaafkanku? Bagaimana jika dia menuntut cerai, atau memintaku memutus hubungan dan berpisah dari Ayu?

Isi kepala Rendra bagai benang kusut yang tak terurai. Ketakutan, rasa bersalah, dan kepanikan berbaur menjadi satu, hingga membuat tumpuan kakinya pada pedal gas sesekali tak beraturan.

Pandangannya ke arah jalanan mulai kabur oleh bayangan-bayangan buruk yang ia ciptakan sendiri.

"Mas... Mas Rendra?" panggil Ayu cemas, saat menyadari laju mobil yang mulai tak stabil dan melenceng dari jalurnya. "Mas, pelankan jalannya. Mas fokus, ya..."

"Aku... aku bingung, Ayu. Aku tidak tau harus bicara apa pada Kirana," gumam Rendra dengan tatapan kosong menatap trek lurus di hadapannya.

"Mas, awas!" jerit Ayu tiba-tiba dengan suara yang melengking.

Rendra terperanjat kaget. Fokusnya buyar seketika. Di depan mereka, sebuah truk besar mendadak melintas memotong jalur dari arah berlawanan di tikungan tajam jalan perbukitan.

Dalam keadaan panik yang luar biasa, Rendra membanting stir secara mendadak ke arah kiri untuk menghindari tabrakan.

Sayangnya, kecepatan mobil terlalu tinggi. Ban mobil berdecit keras mencengkram aspal hingga kehilangan kendali penuh, dan oleng menghantam besi pembatas jalan dengan hantaman yang amat dahsyat!

BRAAAGGGHHH!

Suara benturan logam yang remuk bergema memecah sunyinya jalanan. Besi pembatas jalan tak sanggup menahan bobot kendaraan yang melaju dengan kencang.

Dalam hitungan detik, mobil hitam itu berguling beberapa kali menuruni jurang terjal di tepi jalan, meninggalkan keheningan yang mencekam bersama kepulan asap tipis di udara.

Tak lama,

Kepulan asap tebal keluar dari kap mobil yang hancur tak berbentuk di dasar jurang. Suara hening hutan perbukitan seketika pecah oleh bunyi sirine, keriuhan, dan riak langkah kaki warga sekitar yang berlarian menuruni tebing terjal untuk memberikan pertolongan.

"Cepat! Ada mobil jatuh ke jurang! Panggil ambulans dan polisi!" teriakan beberapa warga saling bersahutan di hari yang semakin sore.

Di dalam kabin mobil yang remuk terbalik, kondisi Rendra sangat kritis. Kepalanya terkulai di atas airbag yang pecah dengan darah segar yang terus mengalir membasahi wajah dan kemeja putihnya. Napasnya tersendat-sendat, amat lemah dan menyakitkan.

Sedangkan di sebelahnya, Ayu tergeletak tak bergerak. Hantaman keras pada bagian samping mobil membuat napasnya terhenti seketika. Ayu meninggal dunia di tempat kejadian, masih dengan sisa air mata yang mengering di sudut matanya.

Namun, di tengah keheningan maut itu, sebuah isak tangis kecil dan cadel terdengar menyeruak dari sela-sela kursi belakang yang hancur.

"Hawaa... Hawaa... Ibu... bangun... Hawaa..."

Aura, bocah kecil yang baru berusia dua tahun itu, secara ajaib selamat karena terlindung oleh lipatan kursi.

Dengan tubuh kecilnya yang gemetar dan pipi yang belepotan noda hitam serta sisa air mata, ia merangkak keluar dari sela-sela reruntuhan.

Bocah polos yang belum mengerti arti kematian itu duduk di samping jasad ibunya. Tangannya yang mungil mengguncang-guncang pelan lengan Ayu yang sudah dingin dan terkulai kaku.

"Ibu... gendong... Hwaaa... Ibu, Aura mau gendong..." tangis Aura makin pecah.

Ia menarik-narik ujung gaun Ayu, lalu menyandarkan kepalanya yang kecil di atas dada sang ibu yang tak lagi berdetak, seolah menunggu dengan setia agar ibunya mau terbangun dan memeluknya seperti biasa.

"Ya Tuhan! Ada anak kecil di dalam!" seru seorang warga yang berhasil menerobos masuk ke dalam bangku belakang melalui kaca pintu yang hancur.

Pria setengah baya itu merengkuh tubuh Aura dengan hati-hati. Aura menjerit dan meronta-ronta kecil, seraya matanya terus menatap ke arah jasad Ayu. "Ndak mau! Ndak mau! Mau sama Ibu... Ibuuu!"

"Sabar ya, Nak, sabar..." ucap warga itu dengan mata yang berkaca-kaca, karena merasa sangat iba menyaksikan kepolosan anak kecil yang tak tau bahwa ibunya telah pergi untuk selamanya.

Di sisi lain, beberapa warga berusaha keras mengeluarkan Rendra dari impitan kemudi.

Saat tubuhnya berhasil ditarik keluar dan dibaringkan di atas tandu darurat, kesadaran Rendra yang hampir padam mendadak terbuka sedikit. Matanya yang membengkak memandang samar-samar ke arah langit sore.

Di antara dentang nafasnya yang berat dan serak, bibir Rendra yang pecah bergerak-gerak lirih menuturkan satu nama.

"Ki... Kirana..." gumam Rendra sangat pelan, dan hampir tak terdengar di tengah kebisingan. "M-maaf... kan... aku..."

Petugas medis yang baru tiba langsung memasangkan masker oksigen dan melarikan Rendra serta Aura ke rumah sakit terdekat dengan raungan sirine ambulans yang membelah jalanan, meninggalkan lokasi kecelakaan yang menjadi saksi bisu hancurnya sebuah rahasia.

_______

___________

Gimana guys... suka nggak sama alur ceritanya sejauh ini? 😭💥

Boleh dong bisikin kesan-kesan kalian di kolom komentar! Menurut kalian, apa yang bakal Kirana lakukan setelah kecelakaan tragis ini? Apakah kalian tim yang kasihan sama Kirana, atau makin geregetan sama Rendra?

Kalo kalian suka dan penasaran sama kelanjutan nasib mereka, jangan lupa untuk tetap setia baca cerita ini sampai bab terakhir, ya! Janji, bakal ada banyak adegan yang makin seru dan menyentuh hati di bab-bab berikutnya.

Dukungan kalian (like, subscribe, comment, & share) adalah energi terbesarku! Happy reading! 📖💖

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Soraya

Soraya

blum bisa komen thor lanjut

2026-07-27

2

Banu Tyroni

Banu Tyroni

Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄

2026-08-03

1

lihat semua
Episodes
1 Ep. 1- Kepergok
2 Ep. 2- Berkhianat
3 Ep. 3- Berujung petaka
4 Ep. 4- UGD
5 Ep. 5- di Balik Tirai
6 Ep. 6- Antara hidup dan mati
7 Ep. 7- Permainan takdir
8 Ep. 8- Wasiat Terakhir
9 Ep. 9- Tanggung jawab
10 Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga
11 Ep. 11- Keteguhan hati Kirana
12 Ep. 12- Adik kecil itu siapa?
13 Ep. 13- Pura-pura kuat
14 Ep. 14- Permintaan Polos
15 Ep. 15- Kehangatan yang Mencair
16 Ep. 16- Lembaran Wasiat
17 Ep. 17- Tersulut kembali
18 Ep. 18- Tangisan tengah malam
19 Ep. 19- Tetangga rese
20 Ep. 20- Rumor
21 Ep. 21- Langkah Baru
22 Ep. 22- Rumah baru
23 Ep. 23- Berbeda
24 Ep. 24- Singel mom
25 Ep. 25- Isyarat
26 Ep. 26- Kecelakaan
27 Ep. 27- Mbak Sri!!
28 Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
29 Ep. 29- Pelukan hangat
30 Ep. 30- Jadi pelindung
31 Ep. 31- Dua wanita asing
32 Ep. 32- Tidak segampang itu!!
33 Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
34 Ep. 34- Pengadilan
35 Ep. 35- Tiga tahun kemudian
36 Ep. 36- Tiga Srikandi dan Misi Pengawal Cilik
37 Ep. 37- Pagi Pertama
38 Ep. 38- Gerbang Merah Putih
39 Ep. 39- Janji
40 Ep. 40- Merajuk
41 Ep. 41- Janji jari kelingking
42 Ep. 42- Sibling rivalry
43 Ep. 43- Apakah aku sudah adil?
44 Ep. 44- Kedewasaan dini
45 Ep. 45- Pemberontakan
46 Ep. 46- Badai di Hati Kirana
47 Bab 47- Tragedi
48 Ep. 48- Aura hilang!!!
49 Ep. 49- Nggak ada rasa bersalahnya
50 Ep. 50- Dasar bocah!
51 Ep. 51- Psikolog
52 Ep. 52- GAK MAU!!!
53 Ep. 53- Rumah kedua
54 Ep. 54- Bentuk protes
55 Ep. 55- Hampir goyah
56 Ep. 56- Manipulasi
57 Ep. 57- Tiga koper besar
58 Ep. 58- Perpisahan
59 Ep. 59- Kunjungan pertama
60 Promo novel baru mampir yuk...
61 Ep. 60- Penolakan
62 Ep. 61- Pesantren Tunas Rabbani
63 Ep. 62- Transformasi
64 Ep. 63- Luluh
65 Ep. 64- "culture shock"
66 Ep. 65- Rindu Makan Bersama
67 Ep. 66- Keluarga utuh
68 Ep. 67- Dilema
69 Ep. 68- Adaptasi
70 Ep. 69- Suara Hati Seorang Kakak
71 Ep. 70- Saling menguatkan
72 Ep. 71- SMP & SMA
73 Ep. 72- Warna-Warni Sekolah
74 Ep. 73- Fighting Aura!
75 Ep. 74- Surat di Papan Pengumuman
76 Ep. 75- Panggung Nasional
77 Ep. 76- Tumbang
78 Ep. 77- Kedua anak Mama
79 Ep. 78- "SELAMAT DATANG DI RUMAH, MAMA! AREA BEBAS STRES & BEBAS KERJA!"
80 Ep. 79- Tokoh baru
81 Ep. 80- Dokter Hendra
82 Ep. 81- Misi
83 Ep. 82- Lembaran baru
84 Ep. 83- END
85 Pengantin pengganti (Seharusnya ipar)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Ep. 1- Kepergok
2
Ep. 2- Berkhianat
3
Ep. 3- Berujung petaka
4
Ep. 4- UGD
5
Ep. 5- di Balik Tirai
6
Ep. 6- Antara hidup dan mati
7
Ep. 7- Permainan takdir
8
Ep. 8- Wasiat Terakhir
9
Ep. 9- Tanggung jawab
10
Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga
11
Ep. 11- Keteguhan hati Kirana
12
Ep. 12- Adik kecil itu siapa?
13
Ep. 13- Pura-pura kuat
14
Ep. 14- Permintaan Polos
15
Ep. 15- Kehangatan yang Mencair
16
Ep. 16- Lembaran Wasiat
17
Ep. 17- Tersulut kembali
18
Ep. 18- Tangisan tengah malam
19
Ep. 19- Tetangga rese
20
Ep. 20- Rumor
21
Ep. 21- Langkah Baru
22
Ep. 22- Rumah baru
23
Ep. 23- Berbeda
24
Ep. 24- Singel mom
25
Ep. 25- Isyarat
26
Ep. 26- Kecelakaan
27
Ep. 27- Mbak Sri!!
28
Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
29
Ep. 29- Pelukan hangat
30
Ep. 30- Jadi pelindung
31
Ep. 31- Dua wanita asing
32
Ep. 32- Tidak segampang itu!!
33
Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
34
Ep. 34- Pengadilan
35
Ep. 35- Tiga tahun kemudian
36
Ep. 36- Tiga Srikandi dan Misi Pengawal Cilik
37
Ep. 37- Pagi Pertama
38
Ep. 38- Gerbang Merah Putih
39
Ep. 39- Janji
40
Ep. 40- Merajuk
41
Ep. 41- Janji jari kelingking
42
Ep. 42- Sibling rivalry
43
Ep. 43- Apakah aku sudah adil?
44
Ep. 44- Kedewasaan dini
45
Ep. 45- Pemberontakan
46
Ep. 46- Badai di Hati Kirana
47
Bab 47- Tragedi
48
Ep. 48- Aura hilang!!!
49
Ep. 49- Nggak ada rasa bersalahnya
50
Ep. 50- Dasar bocah!
51
Ep. 51- Psikolog
52
Ep. 52- GAK MAU!!!
53
Ep. 53- Rumah kedua
54
Ep. 54- Bentuk protes
55
Ep. 55- Hampir goyah
56
Ep. 56- Manipulasi
57
Ep. 57- Tiga koper besar
58
Ep. 58- Perpisahan
59
Ep. 59- Kunjungan pertama
60
Promo novel baru mampir yuk...
61
Ep. 60- Penolakan
62
Ep. 61- Pesantren Tunas Rabbani
63
Ep. 62- Transformasi
64
Ep. 63- Luluh
65
Ep. 64- "culture shock"
66
Ep. 65- Rindu Makan Bersama
67
Ep. 66- Keluarga utuh
68
Ep. 67- Dilema
69
Ep. 68- Adaptasi
70
Ep. 69- Suara Hati Seorang Kakak
71
Ep. 70- Saling menguatkan
72
Ep. 71- SMP & SMA
73
Ep. 72- Warna-Warni Sekolah
74
Ep. 73- Fighting Aura!
75
Ep. 74- Surat di Papan Pengumuman
76
Ep. 75- Panggung Nasional
77
Ep. 76- Tumbang
78
Ep. 77- Kedua anak Mama
79
Ep. 78- "SELAMAT DATANG DI RUMAH, MAMA! AREA BEBAS STRES & BEBAS KERJA!"
80
Ep. 79- Tokoh baru
81
Ep. 80- Dokter Hendra
82
Ep. 81- Misi
83
Ep. 82- Lembaran baru
84
Ep. 83- END
85
Pengantin pengganti (Seharusnya ipar)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!