Ep. 5- di Balik Tirai

Ep. 5- di Balik Tirai

Gerakan Kirana terhenti seketika saat suara tangis polos itu menembus ingar-bingar lorong rumah sakit. Isakan kecil bernada ketakutan itu seolah memanggil naluri keibuannya, namun sekaligus membawa kembali luka yang baru saja tergores beberapa jam lalu.

Srettt...

Seorang perawat berseragam biru muda memutar dan menggeser tirai pembatas UGD. Di atas brankar kecil, tengah duduk seorang anak perempuan berusia dua tahun dengan wajah berantakan oleh noda hitam dan bekas air mata yang mengering. Tubuh kecilnya berguncang oleh isak tangis yang tiada henti.

"Aura atut... Ibu ana... hwaaa..." cicit anak kecil itu, jemari mungilnya menepuk-nepuk kasur busa brankar sambil mencari keberadaan ibunya.

Mata Kirana membelalak. Tatapannya mendadak menajam, dingin, dan dipenuhi gejolak amarah yang mendadak bangkit kembali.

Bayangan di taman hiburan kembali berputar dalam sekejap. Anak kecil inilah yang tadi digendong dan dicium dengan begitu hangat oleh Rendra, suaminya. Anak yang lahir dari wanita lain yang telah menghancurkan rumah tangganya.

Rasa sakit hati yang sempat mereda oleh ketakutan akan kondisi Rendra, kini mencengkram dada Kirana kembali dengan lebih menyengat.

Perawat yang baru saja merapikan peralatan medis membalas tatapan Kirana dengan raut wajah yang iba. Mengira Kirana adalah pengunjung biasa yang prihatin, hingga perawat itu mengembuskan napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

"Anak ini sangat beruntung... Dia secara ajaib selamat tanpa luka dalam yang serius," ujar perawat itu sambil mengusap rambut Aura yang berantakan. "Namun... ibunya tidak seberuntung itu. Beliau meninggal di tempat saat kejadian."

BAGGG!

Kata-kata perawat itu serasa menghantam kepala Kirana bagai godam raksasa. Hatinya yang tadi dipenuhi rasa benci mendadak tersentak hebat. Kirana menoleh cepat dan menatap perawat itu dengan mata yang melebar tak percaya.

"B-benarkah, Suster?" suara Kirana bergetar hebat. "Ibunya... ibunya meninggal?"

Perawat itu mengangguk prihatin. "Benar, Ibu. Korban wanita yang bersama pasien Pak Rendra menghembuskan napas terakhir di lokasi kejadian karena hantaman keras. Jasadnya saat ini sudah berada di ruang jenazah."

Wusshhhh...

Lutut Kirana lemas seketika. Ia mundur satu langkah dan bersandar pada dinding lorong yang dingin untuk menopang tubuhnya yang mendadak kehilangan tenaga.

"Perempuan itu... meninggal?"

Kirana memandang kembali ke arah brankar. Anak kecil itu kini menatap Kirana dengan mata bulatnya yang sembap dan dibasahi air mata.

Anak polos itu sama sekali tidak mengerti bahwa wanita yang melahirkannya telah pergi untuk selamanya, meninggalkan dirinya sebatang kara di tengah dunia yang asing.

"Ibu... ana..." bisik Aura lirih sambil mengulurkan kedua tangan mungilnya ke arah Kirana yang mengira sosok wanita di hadapannya itu adalah tempatnya berlindung.

Dilema besar menggelegar di dalam hati Kirana. Di satu sisi, anak itu adalah bukti nyata pengkhianatan Rendra dan Ayu.

Namun di sisi lain, kepolosan dan kerapuhan anak piatu yang baru saja kehilangan ibunya itu menghancurkan sisa-sisa kebencian di dalam hati Kirana. Untuk saat ini.

Kirana menutup mulutnya dengan satu tangannya seolah menguatkan dirinya. Ia membayangkan kondisi Rendra, membayangkan wajah Keisya dan membayangkan segala kemungkinan yang terjadi.

Kejutan ini terasa seperti surprise yang serentak. Hingga Kirana berpikir, dosa apa yang telah ia perbuat hingga di perlakukan seperti ini oleh dunia.

"Dunia mempermainkanku...," batin Kirana.

Bau antiseptik yang menyengat menembus indra penciuman Kirana hingga terasa begitu menusuk dan melapisi paru-parunya dengan kepedihan yang dingin.

Di sudut lorong Unit Gawat Darurat yang mencekam itu, Kirana berdiri mematung. Matanya masih tertuju pada sosok anak kecil bernama Aura yang duduk terisak di atas brankar.

Aura mengusap matanya yang sembap dengan punggung tangannya yang mungil. Anak berusia dua tahun itu menatap Kirana dengan pandangan polos tanpa dosa, seolah tidak memahami bahwa wanita yang dipanggilnya "Ibu" telah terbujur kaku di ruang jenazah, dan wanita di hadapannya adalah istri sah dari ayahnya.

Seorang wanita yang hatinya telah hancur berkeping-keping akibat keberadaan dirinya dan sang ibu.

Senyum getir kini terukir samar di bibir Kirana. Hatinya tercabik oleh badai emosi yang bertolak belakang.

"Anak ini... anak dari wanita yang merenggut kebahagiaanku," bisik batinnya. "Haruskah aku membencinya? Bisakah aku membencinya di saat ia tak lagi memiliki siapa-siapa di dunia ini?"

Belum sempat Kirana mengurai pergolakan batin yang berkecamuk di dalam dadanya, suasana tenang di lorong UGD mendadak pecah oleh kepanikan.

TIT... TIT... TIT... TIT... BEEEEEEEP!

Bersambung...

Episodes
1 Ep. 1- Kepergok
2 Ep. 2- Berkhianat
3 Ep. 3- Berujung petaka
4 Ep. 4- UGD
5 Ep. 5- di Balik Tirai
6 Ep. 6- Antara hidup dan mati
7 Ep. 7- Permainan takdir
8 Ep. 8- Wasiat Terakhir
9 Ep. 9- Tanggung jawab
10 Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga
11 Ep. 11- Keteguhan hati Kirana
12 Ep. 12- Adik kecil itu siapa?
13 Ep. 13- Pura-pura kuat
14 Ep. 14- Permintaan Polos
15 Ep. 15- Kehangatan yang Mencair
16 Ep. 16- Lembaran Wasiat
17 Ep. 17- Tersulut kembali
18 Ep. 18- Tangisan tengah malam
19 Ep. 19- Tetangga rese
20 Ep. 20- Rumor
21 Ep. 21- Langkah Baru
22 Ep. 22- Rumah baru
23 Ep. 23- Berbeda
24 Ep. 24- Singel mom
25 Ep. 25- Isyarat
26 Ep. 26- Kecelakaan
27 Ep. 27- Mbak Sri!!
28 Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
29 Ep. 29- Pelukan hangat
30 Ep. 30- Jadi pelindung
31 Ep. 31- Dua wanita asing
32 Ep. 32- Tidak segampang itu!!
33 Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
34 Ep. 34- Pengadilan
35 Ep. 35- Tiga tahun kemudian
36 Ep. 36- Tiga Srikandi dan Misi Pengawal Cilik
37 Ep. 37- Pagi Pertama
38 Ep. 38- Gerbang Merah Putih
39 Ep. 39- Janji
40 Ep. 40- Merajuk
41 Ep. 41- Janji jari kelingking
42 Ep. 42- Sibling rivalry
43 Ep. 43- Apakah aku sudah adil?
44 Ep. 44- Kedewasaan dini
45 Ep. 45- Pemberontakan
46 Ep. 46- Badai di Hati Kirana
47 Bab 47- Tragedi
48 Ep. 48- Aura hilang!!!
49 Ep. 49- Nggak ada rasa bersalahnya
50 Ep. 50- Dasar bocah!
51 Ep. 51- Psikolog
52 Ep. 52- GAK MAU!!!
53 Ep. 53- Rumah kedua
54 Ep. 54- Bentuk protes
55 Ep. 55- Hampir goyah
56 Ep. 56- Manipulasi
57 Ep. 57- Tiga koper besar
58 Ep. 58- Perpisahan
59 Ep. 59- Kunjungan pertama
60 Promo novel baru mampir yuk...
61 Ep. 60- Penolakan
62 Ep. 61- Pesantren Tunas Rabbani
63 Ep. 62- Transformasi
64 Ep. 63- Luluh
65 Ep. 64- "culture shock"
66 Ep. 65- Rindu Makan Bersama
67 Ep. 66- Keluarga utuh
68 Ep. 67- Dilema
69 Ep. 68- Adaptasi
70 Ep. 69- Suara Hati Seorang Kakak
71 Ep. 70- Saling menguatkan
72 Ep. 71- SMP & SMA
73 Ep. 72- Warna-Warni Sekolah
74 Ep. 73- Fighting Aura!
75 Ep. 74- Surat di Papan Pengumuman
76 Ep. 75- Panggung Nasional
77 Ep. 76- Tumbang
78 Ep. 77- Kedua anak Mama
79 Ep. 78- "SELAMAT DATANG DI RUMAH, MAMA! AREA BEBAS STRES & BEBAS KERJA!"
80 Ep. 79- Tokoh baru
81 Ep. 80- Dokter Hendra
82 Ep. 81- Misi
83 Ep. 82- Lembaran baru
84 Ep. 83- END
85 Pengantin pengganti (Seharusnya ipar)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Ep. 1- Kepergok
2
Ep. 2- Berkhianat
3
Ep. 3- Berujung petaka
4
Ep. 4- UGD
5
Ep. 5- di Balik Tirai
6
Ep. 6- Antara hidup dan mati
7
Ep. 7- Permainan takdir
8
Ep. 8- Wasiat Terakhir
9
Ep. 9- Tanggung jawab
10
Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga
11
Ep. 11- Keteguhan hati Kirana
12
Ep. 12- Adik kecil itu siapa?
13
Ep. 13- Pura-pura kuat
14
Ep. 14- Permintaan Polos
15
Ep. 15- Kehangatan yang Mencair
16
Ep. 16- Lembaran Wasiat
17
Ep. 17- Tersulut kembali
18
Ep. 18- Tangisan tengah malam
19
Ep. 19- Tetangga rese
20
Ep. 20- Rumor
21
Ep. 21- Langkah Baru
22
Ep. 22- Rumah baru
23
Ep. 23- Berbeda
24
Ep. 24- Singel mom
25
Ep. 25- Isyarat
26
Ep. 26- Kecelakaan
27
Ep. 27- Mbak Sri!!
28
Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
29
Ep. 29- Pelukan hangat
30
Ep. 30- Jadi pelindung
31
Ep. 31- Dua wanita asing
32
Ep. 32- Tidak segampang itu!!
33
Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
34
Ep. 34- Pengadilan
35
Ep. 35- Tiga tahun kemudian
36
Ep. 36- Tiga Srikandi dan Misi Pengawal Cilik
37
Ep. 37- Pagi Pertama
38
Ep. 38- Gerbang Merah Putih
39
Ep. 39- Janji
40
Ep. 40- Merajuk
41
Ep. 41- Janji jari kelingking
42
Ep. 42- Sibling rivalry
43
Ep. 43- Apakah aku sudah adil?
44
Ep. 44- Kedewasaan dini
45
Ep. 45- Pemberontakan
46
Ep. 46- Badai di Hati Kirana
47
Bab 47- Tragedi
48
Ep. 48- Aura hilang!!!
49
Ep. 49- Nggak ada rasa bersalahnya
50
Ep. 50- Dasar bocah!
51
Ep. 51- Psikolog
52
Ep. 52- GAK MAU!!!
53
Ep. 53- Rumah kedua
54
Ep. 54- Bentuk protes
55
Ep. 55- Hampir goyah
56
Ep. 56- Manipulasi
57
Ep. 57- Tiga koper besar
58
Ep. 58- Perpisahan
59
Ep. 59- Kunjungan pertama
60
Promo novel baru mampir yuk...
61
Ep. 60- Penolakan
62
Ep. 61- Pesantren Tunas Rabbani
63
Ep. 62- Transformasi
64
Ep. 63- Luluh
65
Ep. 64- "culture shock"
66
Ep. 65- Rindu Makan Bersama
67
Ep. 66- Keluarga utuh
68
Ep. 67- Dilema
69
Ep. 68- Adaptasi
70
Ep. 69- Suara Hati Seorang Kakak
71
Ep. 70- Saling menguatkan
72
Ep. 71- SMP & SMA
73
Ep. 72- Warna-Warni Sekolah
74
Ep. 73- Fighting Aura!
75
Ep. 74- Surat di Papan Pengumuman
76
Ep. 75- Panggung Nasional
77
Ep. 76- Tumbang
78
Ep. 77- Kedua anak Mama
79
Ep. 78- "SELAMAT DATANG DI RUMAH, MAMA! AREA BEBAS STRES & BEBAS KERJA!"
80
Ep. 79- Tokoh baru
81
Ep. 80- Dokter Hendra
82
Ep. 81- Misi
83
Ep. 82- Lembaran baru
84
Ep. 83- END
85
Pengantin pengganti (Seharusnya ipar)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!