Tak Terkalahkan Sejak Awal

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi

Gelap.

Tidak ada langit, tidak ada bumi, dan tidak ada suara.

Chu Xuan perlahan membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah aula kuno yang tak berujung. Pilar-pilar hitam menjulang tinggi, sementara ribuan lentera hijau menggantung di udara, menerangi tempat itu dengan cahaya yang suram.

Di ujung aula, seorang pria tua berjubah hitam sedang menatapnya dengan ekspresi aneh.

"Chu Xuan, umur 27 tahun. Meninggal karena tertabrak kendaraan setelah menyelamatkan seorang anak."

Chu Xuan terdiam sejenak sebelum mengangguk.

"Anak itu selamat?"

"Selamat."

"Bagus."

Pria tua itu tampak terkejut.

"Apakah itu satu-satunya hal yang ingin kau tanyakan?"

Chu Xuan berpikir sejenak.

"Besok seharusnya hari liburku."

"..."

Suasana di aula mendadak menjadi hening.

Pria tua berjubah hitam itu mengusap pelipisnya.

"Karena jasa baikmu, kau memenuhi syarat untuk bereinkarnasi ke dunia kultivasi."

"Dunia kultivasi?"

"Benar. Di sana, yang kuat dihormati. Kau bisa hidup selama ribuan bahkan jutaan tahun. Jika beruntung, kau bahkan bisa mencapai keabadian."

Chu Xuan mengernyit.

"Kedengarannya melelahkan."

"Apa?"

"Aku sudah lelah hidup sekali. Kenapa aku harus mengulanginya lagi?"

Pria tua itu membeku.

Selama puluhan ribu tahun menjadi utusan akhirat, ini adalah pertama kalinya dia mendengar seseorang mengeluhkan kesempatan untuk hidup kembali.

"Itu dunia kultivasi!"

"Lalu?"

"Kau bisa menjadi Kaisar Abadi!"

"Apakah Kaisar Abadi harus bekerja?"

"Tentu saja!"

"Kalau begitu, aku tidak tertarik."

Pria tua itu menarik napas dalam-dalam.

"Kau bisa memiliki kekayaan tak terbatas!"

"Aku harus menjaganya."

"Kau bisa memiliki pengikut di seluruh dunia!"

"Itu terdengar merepotkan."

"Kau bisa hidup selamanya!"

Chu Xuan terdiam beberapa saat sebelum menggeleng.

"Hidup dua puluh tujuh tahun saja sudah cukup melelahkan."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, utusan akhirat mulai meragukan dirinya sendiri.

Akhirnya, dia menatap Chu Xuan dengan wajah serius.

"Kalau begitu, apa yang kau inginkan?"

Chu Xuan menjawab tanpa ragu.

"Aku ingin tidur."

"..."

Di hari itu, Aula Reinkarnasi menyambut orang pertama dalam sejarah yang menolak untuk hidup kembali.

Utusan akhirat menatap Chu Xuan dalam diam.

Selama puluhan ribu tahun, dia telah melihat berbagai macam manusia. Ada yang menangis memohon kehidupan kedua, ada yang berlutut meminta kekuatan, dan ada pula yang rela melakukan apa pun demi memperpanjang umur.

Namun, orang di hadapannya...

...ingin tidur.

"Chu Xuan."

"Ada apa?"

"Apakah kau tahu berapa banyak orang yang menginginkan kesempatan ini?"

"Tidak."

"Tak terhitung!"

"Oh."

"Oh?! Hanya itu tanggapanmu?!"

Chu Xuan mengangguk pelan.

"Aku mengantuk."

Pembuluh darah di dahi utusan akhirat mulai terlihat.

"Baik! Mari kita bicara secara sederhana!"

Dia melambaikan tangannya.

WHOOSH!

Sebuah layar raksasa muncul di udara.

Di dalamnya tampak seorang kultivator berdiri di atas pedang terbang, diikuti ribuan pengikut yang berlutut di bawahnya.

"Lihat! Jika kau bereinkarnasi, kau bisa menjadi seperti itu!"

Chu Xuan mengamati layar itu selama beberapa detik.

"Dia terlihat sibuk."

"Apa?"

"Memiliki ribuan pengikut berarti harus mengingat ribuan nama."

"..."

Utusan akhirat mengganti layar.

Kini terlihat sebuah istana megah yang dipenuhi harta karun.

"Kekayaan! Kau bisa memiliki semua ini!"

Chu Xuan menghela napas.

"Aku harus membersihkannya."

Utusan akhirat terdiam.

Layar berubah lagi.

Seorang Kaisar Abadi sedang bertarung melawan naga raksasa di atas langit.

"Bagaimana dengan ini?!"

Chu Xuan mengamatinya cukup lama sebelum bertanya.

"Berapa lama pertarungan itu berlangsung?"

"Mungkin tiga hari tiga malam."

"Itu terlalu lama."

Retak.

Suara sesuatu yang pecah terdengar dari hati sang utusan akhirat.

Dia mulai mengerti.

Orang ini tidak takut mati.

Orang ini hanya terlalu malas untuk hidup.

Akhirnya, dia mengusap wajahnya dengan lelah.

"Baiklah, Chu Xuan. Katakan padaku, apa kehidupan idealmu?"

Chu Xuan berpikir sejenak.

"Sebuah rumah kecil."

"Lalu?"

"Tempat tidur yang nyaman."

"Lalu?"

"Makanan yang cukup."

"Lalu?"

"Tidak ada yang menggangguku."

Utusan akhirat terdiam.

Itu saja.

Tidak ada ambisi menjadi penguasa dunia.

Tidak ada keinginan untuk hidup abadi.

Tidak ada impian mencapai puncak Dao.

Hanya sebuah kehidupan yang tenang.

Sayangnya...

Utusan akhirat perlahan tersenyum.

"Kalau begitu, aku sudah memutuskan."

Chu Xuan tiba-tiba memiliki firasat buruk.

"Apa yang kau putuskan?"

"Aku akan mengirimmu ke dunia kultivasi."

"Aku menolak."

"Ditolak."

"Tunggu, bukankah aku yang seharusnya—"

"Dan aku akan memastikan kehidupanmu di sana sangat menyedihkan."

"..."

Senyum di wajah utusan akhirat semakin lebar.

"Karena ini adalah pertama kalinya seseorang berani menolak reinkarnasi di hadapanku."

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Aula Reinkarnasi, ekspresi Chu Xuan akhirnya berubah.

"Aku punya firasat buruk."

Di belakang utusan akhirat, sebuah roda raksasa perlahan mulai berputar.

Roda Reinkarnasi.

Roda Reinkarnasi perlahan berputar.

Ukurannya begitu besar hingga seolah mampu menopang langit dan bumi. Di permukaannya terukir jutaan nama yang terus muncul dan menghilang.

Chu Xuan memandang roda itu dengan tatapan datar.

"Aku masih punya hak untuk menolak."

"Tidak."

"Aku bisa mengajukan banding."

"Tidak."

"Aku ingin berbicara dengan atasanmu."

Utusan akhirat tersenyum dingin.

"Aku adalah atasanku sendiri."

"..."

Chu Xuan menghela napas.

"Hidup benar-benar tidak adil."

"Kau baru menyadarinya sekarang?"

Utusan akhirat mengangkat tangannya.

"Chu Xuan! Karena kau menolak anugerah Surga, maka dengarkan hukumanku!"

Suara itu menggema di seluruh Aula Reinkarnasi.

"Di kehidupan barumu, kau akan terlahir sebagai yatim piatu!"

"..."

"Kau tidak akan memiliki bakat kultivasi!"

"..."

"Kau akan hidup dalam kemiskinan!"

"..."

"Dan selama delapan belas tahun, hidupmu akan dipenuhi kesengsaraan!"

Akhirnya, Chu Xuan mengangkat kepalanya.

"Apakah setidaknya aku bisa makan dengan tenang?"

"TIDAK!"

"Itu keterlaluan."

Utusan akhirat menunjuk ke arah Roda Reinkarnasi.

"Pergilah! Dan renungkan kesalahanmu!"

"Kesalahanku apa?"

"TERLALU MALAS!"

Sebelum Chu Xuan sempat mengatakan apa pun, sebuah kekuatan tak terlihat langsung menyeret tubuhnya.

"Tunggu sebenta—"

WHOOSH!

Tubuhnya terhisap ke dalam Roda Reinkarnasi.

Di detik terakhir, dia masih bisa mendengar suara utusan akhirat.

"Dan satu hal lagi, Chu Xuan!"

"Apa?!"

"JANGAN PERNAH BERPIKIR UNTUK MENEMUKANKU LAGI!"

Chu Xuan terdiam beberapa saat sebelum berteriak dari dalam pusaran cahaya.

"Kalau begitu jangan kirim aku ke tempat yang merepotkan!"

BOOM!

Roda Reinkarnasi memancarkan cahaya yang menyilaukan.

Aula Reinkarnasi kembali sunyi.

Utusan akhirat menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.

"Akhirnya pergi juga."

Namun, tepat pada saat itu, sebuah suara kuno tiba-tiba bergema dari kehampaan.

"Kesalahan terdeteksi."

Utusan akhirat membeku.

"Jiwa dengan kompatibilitas sempurna telah ditemukan."

"Mengaktifkan prosedur pewarisan."

"Sistem Kuil Tak Terkalahkan akan aktif dalam delapan belas tahun."

"Apa?"

Wajah utusan akhirat berubah drastis.

"Tunggu... SISTEM APA?!"

Sayangnya, tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

Di saat yang sama, jauh di sebuah dunia kultivasi yang tak dikenal, tangisan seorang bayi mulai terdengar di kaki Pegunungan Tianyun.

Dan takdir Yang Tak Terkalahkan pun resmi dimulai.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

BOIEL-POINT .........

BOIEL-POINT .........

very niCe Thor ...........

2026-08-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi
2 Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
3 Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
4 Bab 4 — Orang yang Akan Pergi
5 Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng
6 Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian
7 Bab 7 — Sistem Diaktifkan
8 Bab 8 — Nama yang Menggemparkan
9 Bab 9 — Perampokan Terang Terangan
10 Bab 10 — Langkah Pertama
11 Bab 11 — Hampir Diterkam
12 Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
13 Bab 13 — Mata yang Mengincar
14 Bab 14 — Murid Pertama
15 Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan
16 Bab 16 — Cari Masalah
17 Bab 17 — Pria Bermata Emas
18 Bab 18 — Murka Keluarga Han
19 Bab 19 — Bayangan yang Bergerak
20 Bab 20 — Kembali ke Kuil
21 Bab 21 — Murid Kedua
22 Bab 22 — Seorang Tabib?
23 Bab 23 — Permintaan Sang Senior
24 Bab 24 — Keluar dari Kota
25 Bab 25 — Pertarungan
26 Bab 26 — Jalan Menuju Kepunahan
27 Bab 27 — Satu Tinju Mengguncang Dua Alam
28 Bab 28 — Kembali ke Kuil Qingfeng
29 Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng
30 Bab 30 — Teknik Pertama
31 Bab 31 — Guru yang Malas
32 Bab 32 — Riak di Alam Abadi
33 Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis
34 Bab 34 — Hadiah Tersembunyi
35 Bab 35 — Hadiah Tersembunyi Kedua
36 Bab 36 — Mata Dao Abadi
37 Bab 37 — Burung Roh yang Terluka
38 Bab 38 — Tamu yang Mencari Kematian
39 Bab 39 — Kehendak Sang Penguasa Domain
40 Bab 40 — Darah Pertama Sang Murid
41 Bab 41 — Bayangan yang Gemetar
42 Bab 42 — Mi Roh Ayam Bawang Sebelum Takdir Berubah
43 Bab 43 — Rumah yang Bernama Kuil Qingfeng
44 Bab 44 — Semangkuk Mi untuk Sang Pertapa
45 Bab 45 — Wilayah yang Semakin Luas
46 Bab 46 — Legiun Serigala Hitam
47 Bab 47 — Keputusan yang Tidak Bisa Diubah
48 Bab 48 — Pedang yang Menolak Tuannya
49 Bab 49 — Pedang yang Berbalik
50 Bab 50 — Pasukan yang Berbalik Arah
51 Bab 51 — Hadiah Setelah Badai
52 Bab 52 — Nama yang Terkubur
53 Bab 53 — Murid Ketiga
54 Bab 54 — Warisan Untuk Murid Ketiga
55 Bab 55 — Tiga Murid, Satu Lompatan Besar
56 Bab 56 — Satu Langkah, Beberapa Kilometer
57 Bab 57 — Kunjungan ke Kediaman Penguasa Kota
58 Bab 58 — Sentuhan Kehidupan Sang Kaisar
59 Bab 59 — Dunia yang Terbentang di Balik Cakrawala
60 Bab 60 — Pil Pertama Sang Kaisar
61 Bab 61 — Tujuh Pil Sempurna
62 Bab 62 — Restoran Bulan Giok
63 Bab 63 — Hari Sebelum Pelelangan
64 Bab 64 — Pelelangan Besar Paviliun Seribu Harta
65 Bab 65 — Batu Dao Kuno
66 Bab 66 — Pil Pemulih Jiwa
67 Bab 67 — Token Paviliun Seribu Harta
68 Bab 68 — Khasiat Pil Pemulih Jiwa
69 Bab 69 — Dampak Sebuah Pil
70 Bab 70 — Tujuh Hari Sebelum Reruntuhan Terbuka
71 Bab 71 — Alkemis Berjubah Putih di Depan Reruntuhan
72 Bab 72 — Token Bukan Barang Dagangan
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi
2
Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
3
Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
4
Bab 4 — Orang yang Akan Pergi
5
Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng
6
Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian
7
Bab 7 — Sistem Diaktifkan
8
Bab 8 — Nama yang Menggemparkan
9
Bab 9 — Perampokan Terang Terangan
10
Bab 10 — Langkah Pertama
11
Bab 11 — Hampir Diterkam
12
Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
13
Bab 13 — Mata yang Mengincar
14
Bab 14 — Murid Pertama
15
Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan
16
Bab 16 — Cari Masalah
17
Bab 17 — Pria Bermata Emas
18
Bab 18 — Murka Keluarga Han
19
Bab 19 — Bayangan yang Bergerak
20
Bab 20 — Kembali ke Kuil
21
Bab 21 — Murid Kedua
22
Bab 22 — Seorang Tabib?
23
Bab 23 — Permintaan Sang Senior
24
Bab 24 — Keluar dari Kota
25
Bab 25 — Pertarungan
26
Bab 26 — Jalan Menuju Kepunahan
27
Bab 27 — Satu Tinju Mengguncang Dua Alam
28
Bab 28 — Kembali ke Kuil Qingfeng
29
Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng
30
Bab 30 — Teknik Pertama
31
Bab 31 — Guru yang Malas
32
Bab 32 — Riak di Alam Abadi
33
Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis
34
Bab 34 — Hadiah Tersembunyi
35
Bab 35 — Hadiah Tersembunyi Kedua
36
Bab 36 — Mata Dao Abadi
37
Bab 37 — Burung Roh yang Terluka
38
Bab 38 — Tamu yang Mencari Kematian
39
Bab 39 — Kehendak Sang Penguasa Domain
40
Bab 40 — Darah Pertama Sang Murid
41
Bab 41 — Bayangan yang Gemetar
42
Bab 42 — Mi Roh Ayam Bawang Sebelum Takdir Berubah
43
Bab 43 — Rumah yang Bernama Kuil Qingfeng
44
Bab 44 — Semangkuk Mi untuk Sang Pertapa
45
Bab 45 — Wilayah yang Semakin Luas
46
Bab 46 — Legiun Serigala Hitam
47
Bab 47 — Keputusan yang Tidak Bisa Diubah
48
Bab 48 — Pedang yang Menolak Tuannya
49
Bab 49 — Pedang yang Berbalik
50
Bab 50 — Pasukan yang Berbalik Arah
51
Bab 51 — Hadiah Setelah Badai
52
Bab 52 — Nama yang Terkubur
53
Bab 53 — Murid Ketiga
54
Bab 54 — Warisan Untuk Murid Ketiga
55
Bab 55 — Tiga Murid, Satu Lompatan Besar
56
Bab 56 — Satu Langkah, Beberapa Kilometer
57
Bab 57 — Kunjungan ke Kediaman Penguasa Kota
58
Bab 58 — Sentuhan Kehidupan Sang Kaisar
59
Bab 59 — Dunia yang Terbentang di Balik Cakrawala
60
Bab 60 — Pil Pertama Sang Kaisar
61
Bab 61 — Tujuh Pil Sempurna
62
Bab 62 — Restoran Bulan Giok
63
Bab 63 — Hari Sebelum Pelelangan
64
Bab 64 — Pelelangan Besar Paviliun Seribu Harta
65
Bab 65 — Batu Dao Kuno
66
Bab 66 — Pil Pemulih Jiwa
67
Bab 67 — Token Paviliun Seribu Harta
68
Bab 68 — Khasiat Pil Pemulih Jiwa
69
Bab 69 — Dampak Sebuah Pil
70
Bab 70 — Tujuh Hari Sebelum Reruntuhan Terbuka
71
Bab 71 — Alkemis Berjubah Putih di Depan Reruntuhan
72
Bab 72 — Token Bukan Barang Dagangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!