Bab 4 — Orang yang Akan Pergi

"AKU BARU SAJA MENDAPATKAN DUA BAKPAO!"

Suara Chu Xuan menggema di seluruh jalan desa.

Tanpa menunggu siapa pun bereaksi, dia langsung berlari ke arah anak kecil yang terjatuh itu.

Sementara itu, kuda perang yang ditunggangi Tuan Muda Wang masih melaju tanpa melambat sedikit pun.

"Dasar rakyat jelata! Menyingkir dari jalanku!"

Penduduk desa menutup mata mereka.

Sudah terlambat.

Jarak antara kuku kuda dan anak itu tinggal selangkah.

Namun, tepat sebelum semua orang mengira tragedi akan terjadi, Chu Xuan menarik kerah pakaian anak kecil itu dan melemparkannya ke pinggir jalan.

BRUK!

"Aduh!"

Anak itu menangis lebih keras.

Chu Xuan menghela napas lega.

"Bagus, dia masih bisa menangis."

"Xiao Xuan!"

Pertapa Qingfeng segera menghampiri.

Di sisi lain, kuda Tuan Muda Wang akhirnya berhenti. Pemuda itu menatap Chu Xuan dengan wajah tidak senang.

"Kau berani menghalangi jalanku?"

Chu Xuan berkedip.

"Tidak."

"Lalu apa yang baru saja kau lakukan?"

"Aku sedang menyelamatkan sumber pendapatan Kuil Qingfeng."

"..."

Seluruh desa mendadak hening.

Bahkan Pertapa Qingfeng menoleh perlahan ke arah cucunya.

"Sumber pendapatan?"

Chu Xuan menunjuk ke arah anak kecil yang masih menangis.

"Kalau dia mati, semua orang akan sedih."

"Lalu?"

"Kalau semua orang sedih, tidak ada yang membeli kayu."

"..."

"Itu akan berdampak pada konsumsi telurku."

Penduduk desa saling berpandangan.

Entah kenapa...

...mereka merasa tersentuh sekaligus ingin memukul anak itu.

Tuan Muda Wang mendengus dingin.

"Anak gunung yang menarik."

Dia mengamati pakaian lusuh Chu Xuan sebelum melemparkan sekeping perak ke tanah.

"Ambil."

Chu Xuan menatap koin perak itu.

"Sekarang, minggir."

Chu Xuan masih menatap koin tersebut.

Untuk seseorang yang belum pernah memegang uang sebanyak itu, benda itu terlihat sangat berkilau.

Pertapa Qingfeng diam-diam menghela napas.

Selesai.

Harga diri cucunya mungkin tidak lebih mahal dari sekeping perak.

Benar saja.

Chu Xuan mengambil koin itu.

Kemudian memasukkannya ke dalam saku.

"Terima kasih."

"..."

Tuan Muda Wang tertawa kecil.

"Aku menyukai anak yang tahu posisinya."

Chu Xuan mengangguk setuju.

"Aku juga."

"Bagus."

"Posisiku saat ini adalah seseorang yang baru saja dibayar karena menyelamatkan hidup orang lain."

Senyum Tuan Muda Wang membeku.

"Sementara posisimu..."

Chu Xuan menatap pemuda itu dari ujung kepala hingga kaki.

"...adalah seseorang yang hampir membunuh anak kecil dan harus membayar untuk itu."

Keheningan menyelimuti desa.

Penduduk desa langsung pucat.

Pertapa Qingfeng menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Sudah terlambat.

Cucunya baru saja menghina Tuan Muda keluarga Wang di depan semua orang.

Namun, anehnya, Tuan Muda Wang tidak marah.

Sebaliknya, dia tertawa.

"Menarik."

Dia membalikkan tubuh kudanya.

"Anak gunung, siapa namamu?"

"Chu Xuan."

"Aku akan mengingatnya."

Setelah mengatakan itu, dia pergi bersama rombongannya.

Baru setelah sosok mereka menghilang di kejauhan, penduduk desa akhirnya menghela napas lega.

Malam itu, dalam perjalanan pulang menuju Kuil Qingfeng, Pertapa Qingfeng berjalan dalam diam.

Sementara Chu Xuan sibuk menghitung berapa banyak telur yang bisa dibeli dengan sekeping perak.

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Bagaimana jika suatu hari nanti kakek tidak bisa melindungimu?"

Chu Xuan memiringkan kepalanya.

"Kakek pernah melindungiku?"

"..."

Pertapa Qingfeng hampir tersedak.

"Apa maksudmu dengan itu?"

"Aku hanya belum pernah melihat Kakek bertarung."

Untuk sesaat, Pertapa Qingfeng tidak tahu harus tertawa atau merasa sedih.

Angin sore bertiup pelan melewati jalan setapak pegunungan.

Kemudian, dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar, Pertapa Qingfeng berkata:

"Aku harap... kau tidak perlu melihatnya."

Chu Xuan tidak menjawab.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

...dia melihat punggung kakeknya tampak jauh lebih kecil daripada biasanya.

Waktu terus berlalu...

Musim dingin datang lebih cepat tahun itu.

Salju tipis mulai menyelimuti Pegunungan Tianyun, mengubah jalan setapak menuju Kuil Qingfeng menjadi hamparan putih yang sunyi.

Chu Xuan yang kini berusia lima belas tahun sedang berdiri di atas bangku kayu sambil berusaha menambal atap kuil.

Tiga kali.

Atap itu sudah bocor tiga kali bulan ini.

"Suatu hari nanti..."

Dia mengencangkan jerami di tangannya.

"...aku akan membeli atap baru."

Pertapa Qingfeng yang sedang menyapu halaman tersenyum kecil.

"Kau mengatakan hal yang sama setiap tahun."

"Karena setiap tahun atapnya tetap bocor."

"Itu juga benar."

Lima tahun telah berlalu sejak kejadian di desa.

Selama lima tahun itu, tidak banyak yang berubah.

Chu Xuan masih malas.

Pertapa Qingfeng masih miskin.

Dan Kuil Qingfeng masih menolak untuk roboh, seolah memiliki harga diri yang aneh.

Namun, ada satu hal yang mulai berubah.

Pertapa Qingfeng mulai lebih sering batuk.

Awalnya, Chu Xuan tidak terlalu memikirkannya.

Bagaimanapun, kakeknya sudah tua.

Orang tua memang suka batuk.

Setidaknya, itulah yang dia pikirkan.

Sampai suatu malam...

"Batuk! Batuk!"

Chu Xuan terbangun dari tidurnya.

Dia mengucek matanya sebelum berjalan menuju halaman belakang.

Di bawah cahaya bulan, dia melihat Pertapa Qingfeng sedang duduk sendirian sambil menutupi mulutnya dengan kain.

"Kakek?"

Pertapa Qingfeng sedikit terkejut.

"Kenapa kau belum tidur?"

"Aku mendengar suara orang yang mencoba membangunkanku."

"Itu hanya batuk."

"Batukmu terlalu berisik."

Chu Xuan duduk di sampingnya.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

Angin malam bertiup pelan.

Di kejauhan, suara serangga malam terdengar samar.

"Kakek."

"Hm?"

"Orang tua bisa hidup sampai berapa lama?"

Pertapa Qingfeng tersenyum.

"Itu tergantung."

"Kalau Kakek?"

"Entahlah."

Chu Xuan mengernyit.

"Itu bukan jawaban."

"Lalu jawaban seperti apa yang ingin kau dengar?"

Chu Xuan berpikir sejenak.

"Cukup lama untuk melihatku menjadi kaya."

Pertapa Qingfeng tertawa pelan.

"Itu mungkin akan memakan waktu yang sangat lama."

"Itu artinya Kakek harus hidup lebih lama."

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Untuk pertama kalinya, Chu Xuan menyadari sesuatu.

Rambut kakeknya tampak lebih putih daripada tahun lalu.

Punggungnya sedikit lebih bungkuk.

Dan tangan yang dulu mampu mengangkat dua ember air sekaligus kini terkadang bergetar saat memegang mangkuk.

Sejak kapan?

Chu Xuan tidak tahu.

Dia hanya tahu bahwa orang yang selalu ada di sampingnya perlahan mulai menua.

"Kakek."

"Hm?"

"Jangan mati."

Pertapa Qingfeng terdiam.

Nada bicara Chu Xuan tetap datar seperti biasanya.

Namun, justru karena itulah kalimat itu terdengar jauh lebih tulus.

"Aku akan berusaha."

"Itu tidak cukup."

"Lalu?"

Chu Xuan menundukkan kepalanya.

"Kalau Kakek mati..."

Dia berhenti sejenak.

"...siapa yang akan membuat bubur?"

Untuk beberapa detik, Pertapa Qingfeng hanya menatap cucunya dalam diam.

Kemudian, dia tertawa.

Tertawa begitu keras hingga air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Aku kira kau akan mengatakan sesuatu yang menyentuh."

"Itu sangat menyentuh."

"Bagian mana?"

"Aku tidak ingin makan rumput liar."

Pertapa Qingfeng menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Anak bodoh."

Malam itu, mereka duduk bersama di bawah cahaya bulan untuk waktu yang sangat lama.

Tidak ada yang menyadari bahwa bagi salah satu dari mereka...

...waktu yang tersisa sudah tidak banyak lagi.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun kehidupannya, Chu Xuan mulai takut.

Takut bahwa suatu hari nanti, dia akan bangun dan mendapati Kuil Qingfeng kembali sunyi seperti sebelum dirinya datang.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

baru baca novel MC nya polos dan bikin kesel kata2nya🤣🤣👍

2026-08-23

0

iNodz´道

iNodz´道

Tersentuh sekaligus ingin memukul 🤣

2026-08-01

0

BOIEL-POINT .........

BOIEL-POINT .........

very niCe Thor ..........

2026-08-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi
2 Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
3 Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
4 Bab 4 — Orang yang Akan Pergi
5 Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng
6 Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian
7 Bab 7 — Sistem Diaktifkan
8 Bab 8 — Nama yang Menggemparkan
9 Bab 9 — Perampokan Terang Terangan
10 Bab 10 — Langkah Pertama
11 Bab 11 — Hampir Diterkam
12 Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
13 Bab 13 — Mata yang Mengincar
14 Bab 14 — Murid Pertama
15 Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan
16 Bab 16 — Cari Masalah
17 Bab 17 — Pria Bermata Emas
18 Bab 18 — Murka Keluarga Han
19 Bab 19 — Bayangan yang Bergerak
20 Bab 20 — Kembali ke Kuil
21 Bab 21 — Murid Kedua
22 Bab 22 — Seorang Tabib?
23 Bab 23 — Permintaan Sang Senior
24 Bab 24 — Keluar dari Kota
25 Bab 25 — Pertarungan
26 Bab 26 — Jalan Menuju Kepunahan
27 Bab 27 — Satu Tinju Mengguncang Dua Alam
28 Bab 28 — Kembali ke Kuil Qingfeng
29 Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng
30 Bab 30 — Teknik Pertama
31 Bab 31 — Guru yang Malas
32 Bab 32 — Riak di Alam Abadi
33 Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis
34 Bab 34 — Hadiah Tersembunyi
35 Bab 35 — Hadiah Tersembunyi Kedua
36 Bab 36 — Mata Dao Abadi
37 Bab 37 — Burung Roh yang Terluka
38 Bab 38 — Tamu yang Mencari Kematian
39 Bab 39 — Kehendak Sang Penguasa Domain
40 Bab 40 — Darah Pertama Sang Murid
41 Bab 41 — Bayangan yang Gemetar
42 Bab 42 — Mi Roh Ayam Bawang Sebelum Takdir Berubah
43 Bab 43 — Rumah yang Bernama Kuil Qingfeng
44 Bab 44 — Semangkuk Mi untuk Sang Pertapa
45 Bab 45 — Wilayah yang Semakin Luas
46 Bab 46 — Legiun Serigala Hitam
47 Bab 47 — Keputusan yang Tidak Bisa Diubah
48 Bab 48 — Pedang yang Menolak Tuannya
49 Bab 49 — Pedang yang Berbalik
50 Bab 50 — Pasukan yang Berbalik Arah
51 Bab 51 — Hadiah Setelah Badai
52 Bab 52 — Nama yang Terkubur
53 Bab 53 — Murid Ketiga
54 Bab 54 — Warisan Untuk Murid Ketiga
55 Bab 55 — Tiga Murid, Satu Lompatan Besar
56 Bab 56 — Satu Langkah, Beberapa Kilometer
57 Bab 57 — Kunjungan ke Kediaman Penguasa Kota
58 Bab 58 — Sentuhan Kehidupan Sang Kaisar
59 Bab 59 — Dunia yang Terbentang di Balik Cakrawala
60 Bab 60 — Pil Pertama Sang Kaisar
61 Bab 61 — Tujuh Pil Sempurna
62 Bab 62 — Restoran Bulan Giok
63 Bab 63 — Hari Sebelum Pelelangan
64 Bab 64 — Pelelangan Besar Paviliun Seribu Harta
65 Bab 65 — Batu Dao Kuno
66 Bab 66 — Pil Pemulih Jiwa
67 Bab 67 — Token Paviliun Seribu Harta
68 Bab 68 — Khasiat Pil Pemulih Jiwa
69 Bab 69 — Dampak Sebuah Pil
70 Bab 70 — Tujuh Hari Sebelum Reruntuhan Terbuka
71 Bab 71 — Alkemis Berjubah Putih di Depan Reruntuhan
72 Bab 72 — Token Bukan Barang Dagangan
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi
2
Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
3
Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
4
Bab 4 — Orang yang Akan Pergi
5
Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng
6
Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian
7
Bab 7 — Sistem Diaktifkan
8
Bab 8 — Nama yang Menggemparkan
9
Bab 9 — Perampokan Terang Terangan
10
Bab 10 — Langkah Pertama
11
Bab 11 — Hampir Diterkam
12
Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
13
Bab 13 — Mata yang Mengincar
14
Bab 14 — Murid Pertama
15
Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan
16
Bab 16 — Cari Masalah
17
Bab 17 — Pria Bermata Emas
18
Bab 18 — Murka Keluarga Han
19
Bab 19 — Bayangan yang Bergerak
20
Bab 20 — Kembali ke Kuil
21
Bab 21 — Murid Kedua
22
Bab 22 — Seorang Tabib?
23
Bab 23 — Permintaan Sang Senior
24
Bab 24 — Keluar dari Kota
25
Bab 25 — Pertarungan
26
Bab 26 — Jalan Menuju Kepunahan
27
Bab 27 — Satu Tinju Mengguncang Dua Alam
28
Bab 28 — Kembali ke Kuil Qingfeng
29
Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng
30
Bab 30 — Teknik Pertama
31
Bab 31 — Guru yang Malas
32
Bab 32 — Riak di Alam Abadi
33
Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis
34
Bab 34 — Hadiah Tersembunyi
35
Bab 35 — Hadiah Tersembunyi Kedua
36
Bab 36 — Mata Dao Abadi
37
Bab 37 — Burung Roh yang Terluka
38
Bab 38 — Tamu yang Mencari Kematian
39
Bab 39 — Kehendak Sang Penguasa Domain
40
Bab 40 — Darah Pertama Sang Murid
41
Bab 41 — Bayangan yang Gemetar
42
Bab 42 — Mi Roh Ayam Bawang Sebelum Takdir Berubah
43
Bab 43 — Rumah yang Bernama Kuil Qingfeng
44
Bab 44 — Semangkuk Mi untuk Sang Pertapa
45
Bab 45 — Wilayah yang Semakin Luas
46
Bab 46 — Legiun Serigala Hitam
47
Bab 47 — Keputusan yang Tidak Bisa Diubah
48
Bab 48 — Pedang yang Menolak Tuannya
49
Bab 49 — Pedang yang Berbalik
50
Bab 50 — Pasukan yang Berbalik Arah
51
Bab 51 — Hadiah Setelah Badai
52
Bab 52 — Nama yang Terkubur
53
Bab 53 — Murid Ketiga
54
Bab 54 — Warisan Untuk Murid Ketiga
55
Bab 55 — Tiga Murid, Satu Lompatan Besar
56
Bab 56 — Satu Langkah, Beberapa Kilometer
57
Bab 57 — Kunjungan ke Kediaman Penguasa Kota
58
Bab 58 — Sentuhan Kehidupan Sang Kaisar
59
Bab 59 — Dunia yang Terbentang di Balik Cakrawala
60
Bab 60 — Pil Pertama Sang Kaisar
61
Bab 61 — Tujuh Pil Sempurna
62
Bab 62 — Restoran Bulan Giok
63
Bab 63 — Hari Sebelum Pelelangan
64
Bab 64 — Pelelangan Besar Paviliun Seribu Harta
65
Bab 65 — Batu Dao Kuno
66
Bab 66 — Pil Pemulih Jiwa
67
Bab 67 — Token Paviliun Seribu Harta
68
Bab 68 — Khasiat Pil Pemulih Jiwa
69
Bab 69 — Dampak Sebuah Pil
70
Bab 70 — Tujuh Hari Sebelum Reruntuhan Terbuka
71
Bab 71 — Alkemis Berjubah Putih di Depan Reruntuhan
72
Bab 72 — Token Bukan Barang Dagangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!