Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng

Pada usia lima belas tahun, Chu Xuan akhirnya menyadari sesuatu yang selama ini dia abaikan:

Orang tua juga bisa menjadi tua.

Musim semi tiba menggantikan musim dingin.

Salju di Pegunungan Tianyun mulai mencair, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, halaman Kuil Qingfeng dipenuhi sinar matahari.

Namun, Pertapa Qingfeng semakin jarang meninggalkan kamarnya.

"Batuk! Batuk!"

Suara batuk itu kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Kuil Qingfeng.

Chu Xuan yang sedang menyapu halaman berhenti sejenak.

"Kakek."

"Hm?"

"Batukmu semakin buruk."

"Itu hanya batuk."

"Itu yang Kakek katakan tiga bulan lalu."

Pertapa Qingfeng tersenyum pahit.

Anak ini mungkin malas, tetapi dia lebih peka daripada yang terlihat.

"Aku akan baik-baik saja."

"Itu juga yang Kakek katakan bulan lalu."

"..."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Pertapa Qingfeng kalah dalam perdebatan.

Hari itu, Chu Xuan turun gunung seorang diri untuk membeli obat dari tabib desa menggunakan seluruh tabungan mereka.

Hasilnya?

"Tidak ada obat."

Chu Xuan mengernyit.

"Kenapa?"

Tabib tua itu menghela napas.

"Karena gurumu tidak sakit."

"Itu kakekku."

"Bagiku sama saja."

"..."

Tabib tua itu terdiam cukup lama sebelum melanjutkan.

"Anak muda, ada hal yang tidak bisa disembuhkan oleh obat."

Chu Xuan tidak menyukai jawaban itu.

Sangat tidak menyukai.

"Kalau begitu, buat obat yang bisa menyembuhkannya."

"Jika aku bisa membuatnya, aku sudah menjadi dewa."

Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya.

Untuk pertama kalinya, Chu Xuan berharap jalan menuju Kuil Qingfeng tidak secepat ini.

Namun, seberapa lambat pun dia berjalan...

...dia tetap akan sampai di rumah.

Sesampainya di kuil, dia mendapati Pertapa Qingfeng sedang duduk di bawah pohon tua di halaman.

"Kau kembali."

"Hm."

"Bagaimana hasilnya?"

Chu Xuan terdiam selama beberapa saat.

"Tabib itu bodoh."

Pertapa Qingfeng tertawa kecil.

"Itu berarti dia mengatakan sesuatu yang tidak ingin kau dengar."

"...Dia bilang tidak ada obat."

Angin musim semi bertiup pelan.

Daun-daun berguguran di halaman kuil yang sunyi.

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Apa kau masih ingat malam ketika kita pertama kali bertemu?"

"Tidak."

"Kau bahkan tidak perlu berpikir sebelum menjawab?"

"Aku masih bayi."

"Itu juga benar."

Untuk sesaat, keduanya tertawa kecil.

"Lima belas tahun berlalu begitu cepat."

"Bagi Kakek mungkin."

"Lalu bagimu?"

Chu Xuan berpikir cukup lama.

"Kurasa... juga cepat."

Itu adalah pertama kalinya Pertapa Qingfeng mendengar Chu Xuan mengatakan sesuatu seperti itu.

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Jika suatu hari nanti kau bertemu dengan orang-orang yang lebih kuat darimu..."

"Aku akan lari."

"..."

"Kalau mereka lebih cepat dariku, aku akan bersembunyi."

"..."

"Kalau mereka menemukanku—"

"Aku mengerti."

Pertapa Qingfeng tertawa hingga kembali batuk.

Namun kali ini, Chu Xuan tidak ikut tertawa.

Karena dia melihat bercak merah samar pada kain yang digunakan kakeknya untuk menutupi mulut.

Darah.

Tangannya perlahan mengepal.

"Kakek."

"Hm?"

"Jangan tinggalkan aku."

Angin yang bertiup di halaman Kuil Qingfeng seakan berhenti sesaat.

Pertapa Qingfeng menatap cucunya yang telah dia besarkan selama lima belas tahun.

Anak yang dahulu ditemukan dalam keranjang bambu itu kini sudah hampir setinggi dirinya.

Namun, di matanya...

...Chu Xuan tetaplah anak kecil yang meminta tempat tidur pada malam hujan itu.

"Aku sudah tua, Xiao Xuan."

"Itu bukan alasan."

"Semua orang harus pergi pada waktunya."

"Aku tidak suka aturan itu."

Pertapa Qingfeng tersenyum.

"Kalau begitu, jadilah cukup kuat untuk mengubahnya."

Chu Xuan terdiam.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

...dia membenci kenyataan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa.

Tiga hari berlalu sejak percakapan di bawah pohon tua itu.

Pertapa Qingfeng tidak lagi keluar dari kamarnya.

Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, Kuil Qingfeng terasa begitu sunyi.

Tidak ada suara sapu yang menyapu halaman.

Tidak ada suara batuk yang terdengar dari kejauhan.

Bahkan atap yang bocor pun seolah memilih untuk diam.

Chu Xuan duduk di depan pintu kamar sambil membawa semangkuk bubur hangat.

"Kakek."

"Hm?"

"Sudah waktunya makan."

"Taruh saja di sana."

"Kalau Kakek tidak makan, aku akan memakannya."

"Kalau begitu, aku akan makan."

Chu Xuan mengangguk puas.

Bagus.

Setidaknya ancaman itu masih berhasil.

Dia membuka pintu perlahan.

Kamarnya sederhana.

Sebuah tempat tidur kayu.

Sebuah meja tua.

Dan seorang pertapa tua yang kini tampak jauh lebih rapuh daripada yang dia ingat.

"Kakek."

"Hm?"

"Kapan Kakek menjadi setua ini?"

Pertapa Qingfeng tertawa pelan.

"Mungkin saat kau sibuk tidur."

"Itu tidak lucu."

"Bagi kakek, itu cukup lucu."

Chu Xuan meletakkan mangkuk bubur di atas meja.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Akhirnya, Pertapa Qingfeng membuka mulutnya.

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Masih ingat apa impianmu?"

"Tentu."

"Apa itu?"

"Makan daging setiap hari."

"Lalu?"

"Menambahkan telur."

Pertapa Qingfeng tertawa kecil.

"Lalu?"

Chu Xuan terdiam sejenak.

"Memperbaiki atap."

"Lalu?"

"Membeli tempat tidur yang lebih nyaman."

"Lalu?"

Chu Xuan menghela napas.

"Kapan Kakek mulai banyak bicara?"

"Jawab saja."

Untuk pertama kalinya, Chu Xuan berpikir cukup lama.

"Aku ingin Kuil Qingfeng tetap ada."

Ruangan itu mendadak sunyi.

"Aku ingin ketika orang-orang melihat gunung ini seratus tahun dari sekarang..."

Dia berhenti sejenak.

"...mereka masih bisa melihat kuil bodoh ini berdiri di sini."

Pertapa Qingfeng tidak mengatakan apa pun.

Namun, senyum di wajahnya terasa jauh lebih hangat daripada biasanya.

"Itu impian yang bagus."

"Aku tahu."

"Dan bagaimana kau akan melakukannya?"

Chu Xuan mengangkat bahu.

"Aku belum memikirkannya."

"Itu juga sangat sepertimu."

Malam perlahan tiba.

Setelah memaksa Pertapa Qingfeng menghabiskan buburnya, Chu Xuan bangkit untuk pergi.

Namun, tepat sebelum dia keluar dari kamar—

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Terima kasih."

Langkah Chu Xuan terhenti.

"Untuk apa?"

"Karena telah datang ke Kuil Qingfeng."

Chu Xuan mengernyit.

"Itu bukan pilihanku."

"Aku tahu."

"Lagipula, bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu?"

Pertapa Qingfeng tersenyum.

"Kalau begitu, anggap saja kita impas."

Chu Xuan mendengus pelan.

"Kalau begitu, cepat sembuh."

"Aku akan berusaha."

"Itu tidak cukup."

Pertapa Qingfeng tertawa lagi.

"Itu kalimat favoritmu akhir-akhir ini."

Malam itu, Chu Xuan duduk di depan kamar sang kakek hingga larut malam.

Dia tidak tahu kenapa.

Dia hanya merasa...

...jika dia pergi tidur malam ini, sesuatu yang penting akan terjadi.

Sayangnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

Intuisinya benar.

Keesokan paginya, sinar matahari perlahan menyinari Kuil Qingfeng.

Chu Xuan membuka matanya lebih awal dari biasanya.

Anehnya, dia tidak mendengar suara batuk.

"Kakek?"

Tidak ada jawaban.

"Kakek, atapnya bocor lagi."

Tidak ada jawaban.

"Kakek, aku lapar."

Tetap tidak ada jawaban.

Entah kenapa, jantung Chu Xuan mulai berdetak lebih cepat.

Dia segera berdiri dan mendorong pintu kamar.

Berderit.

Pintu kayu tua itu terbuka.

Pertapa Qingfeng masih berbaring di tempat tidurnya, sama seperti malam sebelumnya.

Ekspresinya damai.

Seolah-olah...

...dia hanya sedang tidur.

Chu Xuan berdiri di ambang pintu untuk waktu yang sangat lama.

Kemudian, dia berjalan mendekat dan mengguncang bahu sang kakek.

"Kakek."

Tidak ada jawaban.

"Kakek."

Tetap tidak ada jawaban.

Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, tidak ada seorang pun yang menjawab panggilannya.

Angin pagi bertiup pelan melewati jendela yang terbuka.

Di atas meja, mangkuk bubur dari malam sebelumnya telah kosong.

Tidak tersisa setetes pun.

Di bawah mangkuk, ada secarik kertas:

"Maaf, Xiao Xuan. Kakek tidak bisa membuatkan bubur lagi."

Pada saat itu, Chu Xuan akhirnya mengerti.

Orang yang memberinya rumah.

Orang yang membuatkan bubur untuknya.

Orang yang menemukannya pada malam hujan lima belas tahun lalu...

...telah pergi.

Namun anehnya, dia tidak menangis.

Dia hanya duduk di samping tempat tidur dan berkata dengan suara pelan:

"Kakek."

"Aku rasa..."

"...atap Kuil Qingfeng akan tetap bocor untuk waktu yang sangat lama."

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini—

Chu Xuan merasakan arti kehilangan.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

😭sedih Thor..siapa yang naroh bawang di chapter ini 😭😭

2026-08-23

0

BOIEL-POINT .........

BOIEL-POINT .........

very very niCe Thor ...........

2026-08-11

0

Hadi Hadi

Hadi Hadi

is good💪💪

2026-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi
2 Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
3 Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
4 Bab 4 — Orang yang Akan Pergi
5 Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng
6 Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian
7 Bab 7 — Sistem Diaktifkan
8 Bab 8 — Nama yang Menggemparkan
9 Bab 9 — Perampokan Terang Terangan
10 Bab 10 — Langkah Pertama
11 Bab 11 — Hampir Diterkam
12 Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
13 Bab 13 — Mata yang Mengincar
14 Bab 14 — Murid Pertama
15 Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan
16 Bab 16 — Cari Masalah
17 Bab 17 — Pria Bermata Emas
18 Bab 18 — Murka Keluarga Han
19 Bab 19 — Bayangan yang Bergerak
20 Bab 20 — Kembali ke Kuil
21 Bab 21 — Murid Kedua
22 Bab 22 — Seorang Tabib?
23 Bab 23 — Permintaan Sang Senior
24 Bab 24 — Keluar dari Kota
25 Bab 25 — Pertarungan
26 Bab 26 — Jalan Menuju Kepunahan
27 Bab 27 — Satu Tinju Mengguncang Dua Alam
28 Bab 28 — Kembali ke Kuil Qingfeng
29 Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng
30 Bab 30 — Teknik Pertama
31 Bab 31 — Guru yang Malas
32 Bab 32 — Riak di Alam Abadi
33 Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis
34 Bab 34 — Hadiah Tersembunyi
35 Bab 35 — Hadiah Tersembunyi Kedua
36 Bab 36 — Mata Dao Abadi
37 Bab 37 — Burung Roh yang Terluka
38 Bab 38 — Tamu yang Mencari Kematian
39 Bab 39 — Kehendak Sang Penguasa Domain
40 Bab 40 — Darah Pertama Sang Murid
41 Bab 41 — Bayangan yang Gemetar
42 Bab 42 — Mi Roh Ayam Bawang Sebelum Takdir Berubah
43 Bab 43 — Rumah yang Bernama Kuil Qingfeng
44 Bab 44 — Semangkuk Mi untuk Sang Pertapa
45 Bab 45 — Wilayah yang Semakin Luas
46 Bab 46 — Legiun Serigala Hitam
47 Bab 47 — Keputusan yang Tidak Bisa Diubah
48 Bab 48 — Pedang yang Menolak Tuannya
49 Bab 49 — Pedang yang Berbalik
50 Bab 50 — Pasukan yang Berbalik Arah
51 Bab 51 — Hadiah Setelah Badai
52 Bab 52 — Nama yang Terkubur
53 Bab 53 — Murid Ketiga
54 Bab 54 — Warisan Untuk Murid Ketiga
55 Bab 55 — Tiga Murid, Satu Lompatan Besar
56 Bab 56 — Satu Langkah, Beberapa Kilometer
57 Bab 57 — Kunjungan ke Kediaman Penguasa Kota
58 Bab 58 — Sentuhan Kehidupan Sang Kaisar
59 Bab 59 — Dunia yang Terbentang di Balik Cakrawala
60 Bab 60 — Pil Pertama Sang Kaisar
61 Bab 61 — Tujuh Pil Sempurna
62 Bab 62 — Restoran Bulan Giok
63 Bab 63 — Hari Sebelum Pelelangan
64 Bab 64 — Pelelangan Besar Paviliun Seribu Harta
65 Bab 65 — Batu Dao Kuno
66 Bab 66 — Pil Pemulih Jiwa
67 Bab 67 — Token Paviliun Seribu Harta
68 Bab 68 — Khasiat Pil Pemulih Jiwa
69 Bab 69 — Dampak Sebuah Pil
70 Bab 70 — Tujuh Hari Sebelum Reruntuhan Terbuka
71 Bab 71 — Alkemis Berjubah Putih di Depan Reruntuhan
72 Bab 72 — Token Bukan Barang Dagangan
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi
2
Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
3
Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
4
Bab 4 — Orang yang Akan Pergi
5
Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng
6
Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian
7
Bab 7 — Sistem Diaktifkan
8
Bab 8 — Nama yang Menggemparkan
9
Bab 9 — Perampokan Terang Terangan
10
Bab 10 — Langkah Pertama
11
Bab 11 — Hampir Diterkam
12
Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
13
Bab 13 — Mata yang Mengincar
14
Bab 14 — Murid Pertama
15
Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan
16
Bab 16 — Cari Masalah
17
Bab 17 — Pria Bermata Emas
18
Bab 18 — Murka Keluarga Han
19
Bab 19 — Bayangan yang Bergerak
20
Bab 20 — Kembali ke Kuil
21
Bab 21 — Murid Kedua
22
Bab 22 — Seorang Tabib?
23
Bab 23 — Permintaan Sang Senior
24
Bab 24 — Keluar dari Kota
25
Bab 25 — Pertarungan
26
Bab 26 — Jalan Menuju Kepunahan
27
Bab 27 — Satu Tinju Mengguncang Dua Alam
28
Bab 28 — Kembali ke Kuil Qingfeng
29
Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng
30
Bab 30 — Teknik Pertama
31
Bab 31 — Guru yang Malas
32
Bab 32 — Riak di Alam Abadi
33
Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis
34
Bab 34 — Hadiah Tersembunyi
35
Bab 35 — Hadiah Tersembunyi Kedua
36
Bab 36 — Mata Dao Abadi
37
Bab 37 — Burung Roh yang Terluka
38
Bab 38 — Tamu yang Mencari Kematian
39
Bab 39 — Kehendak Sang Penguasa Domain
40
Bab 40 — Darah Pertama Sang Murid
41
Bab 41 — Bayangan yang Gemetar
42
Bab 42 — Mi Roh Ayam Bawang Sebelum Takdir Berubah
43
Bab 43 — Rumah yang Bernama Kuil Qingfeng
44
Bab 44 — Semangkuk Mi untuk Sang Pertapa
45
Bab 45 — Wilayah yang Semakin Luas
46
Bab 46 — Legiun Serigala Hitam
47
Bab 47 — Keputusan yang Tidak Bisa Diubah
48
Bab 48 — Pedang yang Menolak Tuannya
49
Bab 49 — Pedang yang Berbalik
50
Bab 50 — Pasukan yang Berbalik Arah
51
Bab 51 — Hadiah Setelah Badai
52
Bab 52 — Nama yang Terkubur
53
Bab 53 — Murid Ketiga
54
Bab 54 — Warisan Untuk Murid Ketiga
55
Bab 55 — Tiga Murid, Satu Lompatan Besar
56
Bab 56 — Satu Langkah, Beberapa Kilometer
57
Bab 57 — Kunjungan ke Kediaman Penguasa Kota
58
Bab 58 — Sentuhan Kehidupan Sang Kaisar
59
Bab 59 — Dunia yang Terbentang di Balik Cakrawala
60
Bab 60 — Pil Pertama Sang Kaisar
61
Bab 61 — Tujuh Pil Sempurna
62
Bab 62 — Restoran Bulan Giok
63
Bab 63 — Hari Sebelum Pelelangan
64
Bab 64 — Pelelangan Besar Paviliun Seribu Harta
65
Bab 65 — Batu Dao Kuno
66
Bab 66 — Pil Pemulih Jiwa
67
Bab 67 — Token Paviliun Seribu Harta
68
Bab 68 — Khasiat Pil Pemulih Jiwa
69
Bab 69 — Dampak Sebuah Pil
70
Bab 70 — Tujuh Hari Sebelum Reruntuhan Terbuka
71
Bab 71 — Alkemis Berjubah Putih di Depan Reruntuhan
72
Bab 72 — Token Bukan Barang Dagangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!