Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang

Waktu berlalu dengan cepat di Pegunungan Tianyun.

Dalam sekejap mata, bayi yang dahulu hanya tahu tidur dan menangis kini telah tumbuh menjadi sedikit besar.

Atau setidaknya...

...dia masih sangat menyukai tidur.

"Xiao Xuan, bangun."

"Tidak."

"Matahari sudah terbit."

"Aku akan terbit nanti."

"..."

Pertapa Qingfeng memandang cucunya yang sedang membungkus dirinya dengan selimut lusuh hingga hanya menyisakan sepasang mata.

Chu Xuan mungkin adalah anak paling malas yang pernah dilahirkan oleh langit dan bumi.

"Jika kau terus tidur seperti ini, bagaimana kau akan menjadi seorang kultivator hebat?"

"Aku tidak mau."

"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"

Chu Xuan membuka satu matanya.

"Aku ingin pensiun."

"Kau bahkan belum mulai bekerja."

"Itulah bagian terbaiknya."

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Pertapa Qingfeng merasa bahwa dia mungkin sedang menerima hukuman dari langit.

Namun, meski sering mengeluh, Chu Xuan tetaplah anak yang baik.

Dia akan membantu mengambil air dari mata air.

Dia akan mengumpulkan kayu bakar.

Dan setiap kali Pertapa Qingfeng sakit, dia akan diam-diam berjaga semalaman di samping tempat tidur sang kakek.

Hanya saja...

...dia akan mengeluh sepanjang waktu.

"Kenapa manusia harus makan tiga kali sehari?"

"Karena jika tidak, manusia akan mati."

"Itu terdengar seperti desain yang buruk."

Pertapa Qingfeng tertawa kecil.

Kehidupan mereka sederhana.

Terlalu sederhana.

Mereka hidup dari hasil menjual kayu bakar dan sesekali menerima sedekah dari para peziarah yang tersesat.

Terkadang mereka makan bubur.

Terkadang mereka makan sayuran liar.

Dan di hari-hari yang sangat istimewa...

...mereka menambahkan sebutir telur ke dalam bubur.

Bagi Chu Xuan, itu adalah hari raya.

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Jika suatu hari kakek sudah tidak ada, apa yang akan kau lakukan?"

Tangan Chu Xuan yang sedang memegang mangkuk tiba-tiba berhenti.

Dia mengangkat kepalanya dan menatap Pertapa Qingfeng.

"Kakek akan pergi?"

"Suatu hari."

"Itu masih lama."

"Bagaimana jika tidak?"

Chu Xuan terdiam cukup lama.

Akhirnya, dia kembali menundukkan kepalanya.

"Kalau begitu, aku akan menjaga kuil."

"Dan?"

"Aku akan tidur."

Pertapa Qingfeng tertawa.

"Lalu?"

"Aku akan makan."

"Lalu?"

Chu Xuan berpikir cukup lama.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya terlihat serius.

"Aku akan menunggu Kakek pulang."

Senyum di wajah Pertapa Qingfeng perlahan menghilang.

Angin gunung bertiup pelan melewati halaman Kuil Qingfeng.

Pada akhirnya, dia hanya mengusap kepala Chu Xuan dengan lembut.

"Anak bodoh."

Chu Xuan tidak menjawab.

Dia hanya melanjutkan makannya dalam diam.

Karena di usianya yang baru sepuluh tahun, dia belum mengerti satu hal.

Ada orang yang pergi untuk bekerja.

Ada orang yang pergi untuk bepergian.

Dan ada pula orang yang pergi...

...tanpa pernah bisa kembali.

Di kejauhan, Pertapa Qingfeng menatap langit sore dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Sudah terlalu lama.

Tubuhnya yang tua perlahan mulai mencapai batasnya.

Namun sebelum hari itu tiba...

...dia hanya memiliki satu harapan.

Semoga anak yang menyebut Kuil Qingfeng sebagai rumahnya itu dapat terus tersenyum, bahkan setelah dirinya tiada.

Selama tujuh tahun terakhir, Pertapa Qingfeng telah mempelajari satu kebenaran yang tidak tertulis dalam kitab mana pun:

Membangunkan Chu Xuan jauh lebih sulit daripada membangunkan orang mati.

"Xiao Xuan."

"..."

"Bangun."

"..."

"Kakek membuat telur."

Sepasang mata langsung terbuka.

"Ada berapa?"

"Setengah."

"..."

Dan mata itu kembali tertutup.

Pertapa Qingfeng menghela napas panjang.

"Kadang-kadang aku bertanya-tanya, apakah kau benar-benar manusia?"

"Aku juga sering bertanya-tanya."

Pagi itu, seperti biasa, Chu Xuan dipaksa turun gunung untuk menjual kayu bakar.

Meskipun Kuil Qingfeng berada jauh dari peradaban, ada sebuah desa kecil di kaki Pegunungan Tianyun yang sesekali membeli kayu dari mereka.

Dengan langkah malas, Chu Xuan memanggul ikatan kayu yang hampir sebesar tubuhnya.

"Aku punya pertanyaan."

"Tanyakan."

"Kenapa kita tidak menjadi kaya saja?"

"..."

"Atau setidaknya sedikit kaya."

Pertapa Qingfeng tersenyum kecil.

"Karena menjadi kaya tidak semudah itu."

"Kalau begitu, dunia ini rusak."

Dalam perjalanan menuruni gunung, Chu Xuan sesekali melihat sosok-sosok berpakaian mewah melintas di langit menggunakan pedang terbang.

Mereka adalah kultivator.

Bagi penduduk desa, mereka adalah makhluk yang nyaris seperti dewa.

Namun, setiap kali melihat mereka, Chu Xuan hanya memiliki satu pemikiran.

"Mereka tidak takut jatuh?"

Pertapa Qingfeng hampir tersedak mendengarnya.

"Itu bukan hal yang seharusnya kau pikirkan."

"Tapi kalau jatuh dari setinggi itu pasti sakit."

"Itu benar."

Chu Xuan mengangguk puas.

"Nah, lihat. Kekhawatiranku masuk akal."

Sesampainya di desa, beberapa penduduk langsung menyapa mereka.

"Pertapa Qingfeng!"

"Xiao Xuan!"

"Datang menjual kayu lagi?"

Chu Xuan mengangguk lesu.

"Ya. Demi setengah telur."

Seluruh penduduk desa tertawa.

Seorang nenek tua bahkan diam-diam menyelipkan dua buah bakpao ke tangan Chu Xuan.

"Anak baik harus makan yang banyak."

Mata Chu Xuan membelalak.

"Ini untukku?"

"Tentu saja."

Untuk pertama kalinya hari itu, wajah Chu Xuan dipenuhi kebahagiaan yang tulus.

Pertapa Qingfeng yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum.

Anak ini mudah sekali merasa puas.

Sayangnya...

Kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung lama.

Ketika mereka hendak meninggalkan desa, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari kejauhan.

"Menyingkir! Menyingkir!"

Seekor kuda besar berlari kencang di jalan utama.

Di atasnya duduk seorang pemuda berpakaian mewah dengan ekspresi arogan.

Penduduk desa segera mundur dengan wajah pucat.

"Itu Tuan Muda keluarga Wang!"

"Kenapa dia datang ke sini?"

Pemuda itu sama sekali tidak memperlambat kudanya.

Tatapannya bahkan tidak tertuju pada orang-orang di sekitarnya.

Namun di tengah jalan...

...seorang anak kecil terjatuh.

Tangisan langsung pecah.

"Ibu!"

Waktu seolah melambat.

Semua orang membeku.

Jarak antara kuda itu dan anak kecil tersebut tinggal beberapa meter.

Pada saat itulah, sebuah suara malas terdengar.

"Kalau dia mati, semua orang pasti akan menangis. Merepotkan sekali."

Semua orang menoleh.

Chu Xuan menghela napas panjang sebelum meletakkan ikatan kayunya.

"Aku benci melakukan pekerjaan tambahan."

Dan untuk pertama kalinya...

...anak yang kelak akan membuat seluruh dunia kultivasi gemetar itu melangkah maju.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

novel yang bagus alur ceritanya 👍👍😄

2026-08-23

0

iNodz´道

iNodz´道

baru juga dapat bakpao woi 😂

2026-08-01

0

BOIEL-POINT .........

BOIEL-POINT .........

very niCe Thor ............

2026-08-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi
2 Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
3 Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
4 Bab 4 — Orang yang Akan Pergi
5 Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng
6 Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian
7 Bab 7 — Sistem Diaktifkan
8 Bab 8 — Nama yang Menggemparkan
9 Bab 9 — Perampokan Terang Terangan
10 Bab 10 — Langkah Pertama
11 Bab 11 — Hampir Diterkam
12 Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
13 Bab 13 — Mata yang Mengincar
14 Bab 14 — Murid Pertama
15 Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan
16 Bab 16 — Cari Masalah
17 Bab 17 — Pria Bermata Emas
18 Bab 18 — Murka Keluarga Han
19 Bab 19 — Bayangan yang Bergerak
20 Bab 20 — Kembali ke Kuil
21 Bab 21 — Murid Kedua
22 Bab 22 — Seorang Tabib?
23 Bab 23 — Permintaan Sang Senior
24 Bab 24 — Keluar dari Kota
25 Bab 25 — Pertarungan
26 Bab 26 — Jalan Menuju Kepunahan
27 Bab 27 — Satu Tinju Mengguncang Dua Alam
28 Bab 28 — Kembali ke Kuil Qingfeng
29 Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng
30 Bab 30 — Teknik Pertama
31 Bab 31 — Guru yang Malas
32 Bab 32 — Riak di Alam Abadi
33 Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis
34 Bab 34 — Hadiah Tersembunyi
35 Bab 35 — Hadiah Tersembunyi Kedua
36 Bab 36 — Mata Dao Abadi
37 Bab 37 — Burung Roh yang Terluka
38 Bab 38 — Tamu yang Mencari Kematian
39 Bab 39 — Kehendak Sang Penguasa Domain
40 Bab 40 — Darah Pertama Sang Murid
41 Bab 41 — Bayangan yang Gemetar
42 Bab 42 — Mi Roh Ayam Bawang Sebelum Takdir Berubah
43 Bab 43 — Rumah yang Bernama Kuil Qingfeng
44 Bab 44 — Semangkuk Mi untuk Sang Pertapa
45 Bab 45 — Wilayah yang Semakin Luas
46 Bab 46 — Legiun Serigala Hitam
47 Bab 47 — Keputusan yang Tidak Bisa Diubah
48 Bab 48 — Pedang yang Menolak Tuannya
49 Bab 49 — Pedang yang Berbalik
50 Bab 50 — Pasukan yang Berbalik Arah
51 Bab 51 — Hadiah Setelah Badai
52 Bab 52 — Nama yang Terkubur
53 Bab 53 — Murid Ketiga
54 Bab 54 — Warisan Untuk Murid Ketiga
55 Bab 55 — Tiga Murid, Satu Lompatan Besar
56 Bab 56 — Satu Langkah, Beberapa Kilometer
57 Bab 57 — Kunjungan ke Kediaman Penguasa Kota
58 Bab 58 — Sentuhan Kehidupan Sang Kaisar
59 Bab 59 — Dunia yang Terbentang di Balik Cakrawala
60 Bab 60 — Pil Pertama Sang Kaisar
61 Bab 61 — Tujuh Pil Sempurna
62 Bab 62 — Restoran Bulan Giok
63 Bab 63 — Hari Sebelum Pelelangan
64 Bab 64 — Pelelangan Besar Paviliun Seribu Harta
65 Bab 65 — Batu Dao Kuno
66 Bab 66 — Pil Pemulih Jiwa
67 Bab 67 — Token Paviliun Seribu Harta
68 Bab 68 — Khasiat Pil Pemulih Jiwa
69 Bab 69 — Dampak Sebuah Pil
70 Bab 70 — Tujuh Hari Sebelum Reruntuhan Terbuka
71 Bab 71 — Alkemis Berjubah Putih di Depan Reruntuhan
72 Bab 72 — Token Bukan Barang Dagangan
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi
2
Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
3
Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
4
Bab 4 — Orang yang Akan Pergi
5
Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng
6
Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian
7
Bab 7 — Sistem Diaktifkan
8
Bab 8 — Nama yang Menggemparkan
9
Bab 9 — Perampokan Terang Terangan
10
Bab 10 — Langkah Pertama
11
Bab 11 — Hampir Diterkam
12
Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
13
Bab 13 — Mata yang Mengincar
14
Bab 14 — Murid Pertama
15
Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan
16
Bab 16 — Cari Masalah
17
Bab 17 — Pria Bermata Emas
18
Bab 18 — Murka Keluarga Han
19
Bab 19 — Bayangan yang Bergerak
20
Bab 20 — Kembali ke Kuil
21
Bab 21 — Murid Kedua
22
Bab 22 — Seorang Tabib?
23
Bab 23 — Permintaan Sang Senior
24
Bab 24 — Keluar dari Kota
25
Bab 25 — Pertarungan
26
Bab 26 — Jalan Menuju Kepunahan
27
Bab 27 — Satu Tinju Mengguncang Dua Alam
28
Bab 28 — Kembali ke Kuil Qingfeng
29
Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng
30
Bab 30 — Teknik Pertama
31
Bab 31 — Guru yang Malas
32
Bab 32 — Riak di Alam Abadi
33
Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis
34
Bab 34 — Hadiah Tersembunyi
35
Bab 35 — Hadiah Tersembunyi Kedua
36
Bab 36 — Mata Dao Abadi
37
Bab 37 — Burung Roh yang Terluka
38
Bab 38 — Tamu yang Mencari Kematian
39
Bab 39 — Kehendak Sang Penguasa Domain
40
Bab 40 — Darah Pertama Sang Murid
41
Bab 41 — Bayangan yang Gemetar
42
Bab 42 — Mi Roh Ayam Bawang Sebelum Takdir Berubah
43
Bab 43 — Rumah yang Bernama Kuil Qingfeng
44
Bab 44 — Semangkuk Mi untuk Sang Pertapa
45
Bab 45 — Wilayah yang Semakin Luas
46
Bab 46 — Legiun Serigala Hitam
47
Bab 47 — Keputusan yang Tidak Bisa Diubah
48
Bab 48 — Pedang yang Menolak Tuannya
49
Bab 49 — Pedang yang Berbalik
50
Bab 50 — Pasukan yang Berbalik Arah
51
Bab 51 — Hadiah Setelah Badai
52
Bab 52 — Nama yang Terkubur
53
Bab 53 — Murid Ketiga
54
Bab 54 — Warisan Untuk Murid Ketiga
55
Bab 55 — Tiga Murid, Satu Lompatan Besar
56
Bab 56 — Satu Langkah, Beberapa Kilometer
57
Bab 57 — Kunjungan ke Kediaman Penguasa Kota
58
Bab 58 — Sentuhan Kehidupan Sang Kaisar
59
Bab 59 — Dunia yang Terbentang di Balik Cakrawala
60
Bab 60 — Pil Pertama Sang Kaisar
61
Bab 61 — Tujuh Pil Sempurna
62
Bab 62 — Restoran Bulan Giok
63
Bab 63 — Hari Sebelum Pelelangan
64
Bab 64 — Pelelangan Besar Paviliun Seribu Harta
65
Bab 65 — Batu Dao Kuno
66
Bab 66 — Pil Pemulih Jiwa
67
Bab 67 — Token Paviliun Seribu Harta
68
Bab 68 — Khasiat Pil Pemulih Jiwa
69
Bab 69 — Dampak Sebuah Pil
70
Bab 70 — Tujuh Hari Sebelum Reruntuhan Terbuka
71
Bab 71 — Alkemis Berjubah Putih di Depan Reruntuhan
72
Bab 72 — Token Bukan Barang Dagangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!