Bab 2 — Bayi di Depan Kuil

Hujan turun dengan deras.

Petir sesekali menyambar langit Pegunungan Tianyun, menerangi jalan setapak yang sempit menuju sebuah kuil tua di puncak gunung.

Kuil Qingfeng.

Sebuah kuil kecil yang bahkan hampir dilupakan oleh dunia.

Atapnya bocor di sana-sini.

Dindingnya dipenuhi retakan.

Dan satu-satunya penghuni tempat itu hanyalah seorang pertapa tua yang telah tinggal sendirian selama puluhan tahun.

Malam itu, Pertapa Qingfeng sedang duduk di depan tungku api sambil merebus semangkuk bubur.

"Cuaca seperti ini..."

Dia melirik ke luar jendela yang diterpa hujan.

"...bahkan hantu pun mungkin malas keluar."

BOOM!

Petir menyambar tidak jauh dari kuil.

Namun, sesaat kemudian, di antara suara hujan dan gemuruh petir, Pertapa Qingfeng mendengar sesuatu.

Tangisan.

Tangisan seorang bayi.

Wajah tuanya yang tenang sedikit berubah.

"Mustahil."

Tidak ada penduduk yang tinggal di sekitar Pegunungan Tianyun. Bahkan para pemburu pun jarang berani mendaki gunung ini pada malam hari.

Tangisan itu terdengar lagi.

"Waaa... waaa..."

Pertapa Qingfeng terdiam selama beberapa saat sebelum perlahan berdiri.

"Jangan bilang..."

Dengan membawa lentera tua, dia membuka pintu kuil.

Angin dingin langsung menerpa wajahnya.

Di depan tangga batu yang telah ditelan lumut, sebuah keranjang bambu kecil terlihat terguncang oleh hujan.

Tangisan itu berasal dari sana.

Pertapa Qingfeng segera menghampiri dan mengangkat penutup keranjang tersebut.

Di dalamnya...

...terbaring seorang bayi laki-laki yang dibungkus kain lusuh.

Anehnya, meski hujan begitu deras, bayi itu sama sekali tidak menangis ketakutan. Setelah melihat wajah Pertapa Qingfeng, dia malah menguap kecil.

"Ah..."

Lalu tertidur lagi.

Pertapa Qingfeng terdiam.

"Anak ini..."

Dia mengamati bayi itu dengan saksama.

Tidak ada liontin.

Tidak ada surat.

Tidak ada petunjuk tentang asal-usulnya.

Hanya selembar kain yang sudah usang dan sebuah nama yang ditulis dengan tinta yang hampir memudar.

Chu Xuan.

Pertapa Qingfeng menghela napas panjang.

"Siapa orang tua yang tega membuang anaknya di tempat seperti ini?"

Hujan semakin deras.

Pertapa Qingfeng menatap bayi di pelukannya, lalu menatap kembali ke arah kuil yang sunyi.

Selama puluhan tahun, dia hidup seorang diri.

Dia makan seorang diri.

Berbicara seorang diri.

Dan menua seorang diri.

Dia sudah lama menerima bahwa dirinya mungkin akan menghabiskan sisa hidupnya dalam kesunyian.

Namun malam ini...

Takdir sepertinya memiliki rencana lain.

Bayi kecil itu tiba-tiba membuka matanya.

Sepasang mata hitam pekat menatap lurus ke arah Pertapa Qingfeng.

Kemudian, dengan suara yang sangat pelan, bayi itu bergumam dalam tidurnya.

"...tempat tidur..."

Pertapa Qingfeng membeku.

"Apa?"

"...aku mau tidur..."

Keheningan menyelimuti puncak gunung.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Pertapa Qingfeng merasakan sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Menarik."

Dia mengangkat bayi itu lebih tinggi.

"Baiklah, Chu Xuan."

"Mulai hari ini..."

"...Kuil Qingfeng akan menjadi rumahmu."

Di kejauhan, petir kembali menyambar langit.

Tidak ada yang tahu bahwa bayi yang tertidur lelap di pelukan seorang pertapa tua itu kelak akan menjadi eksistensi yang membuat seluruh dunia kultivasi gemetar.

Untuk saat ini...

...dia hanyalah seorang bayi yang sangat ingin tidur.

Hujan masih turun ketika Pertapa Qingfeng membawa keranjang bambu itu masuk ke dalam kuil.

Pintu kayu tua ditutup perlahan, menghalau angin dingin dari luar.

Pertapa Qingfeng meletakkan bayi itu di dekat tungku api yang menyala redup.

"Kau beruntung."

Katanya pelan sambil mengaduk bubur yang hampir matang.

"Jika aku terlambat membukakan pintu, kau mungkin tidak akan melihat matahari esok hari."

Bayi itu tidak menjawab.

Dia hanya tertidur pulas dengan kedua tangan kecil terangkat ke atas, seolah-olah tidak peduli terhadap nasibnya sendiri.

"..."

Pertapa Qingfeng mengamati wajah bayi itu cukup lama.

Sudah puluhan tahun sejak kuil ini mendengar suara selain miliknya sendiri.

Terkadang, dia bahkan lupa seperti apa rasanya berbicara dengan orang lain.

Dia hidup terlalu lama.

Melihat terlalu banyak perpisahan.

Dan mengubur terlalu banyak nama.

"Takdir benar-benar suka bercanda."

Dia mengambil mangkuk kayu dan mulai meniup bubur agar tidak terlalu panas.

Di sudut aula utama Kuil Qingfeng, puluhan papan nama leluhur tersusun rapi. Cahaya api yang redup membuat bayangan mereka menari-nari di dinding.

Tatapan Pertapa Qingfeng sempat tertuju ke arah salah satu papan nama yang paling tua.

Sudah sangat lama...

...sejak seseorang berhasil mencapai puncak Pegunungan Tianyun.

Namun malam ini, seorang bayi berhasil melakukannya.

"Tidak."

Pertapa Qingfeng menggeleng pelan.

"Lebih tepatnya, seseorang membawamu ke sini."

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, mata tuanya yang keruh memancarkan sedikit cahaya.

Dia pernah mengamati pergerakan bintang.

Dia pernah membaca pertanda langit.

Tetapi takdir bayi ini...

...tidak dapat dilihat.

Hal itu seharusnya mustahil.

"Hm."

Pada saat itu, bayi Chu Xuan sedikit mengernyit dalam tidurnya.

Kemudian, dengan suara yang nyaris tak terdengar, dia bergumam:

"...jangan lembur..."

Tangan Pertapa Qingfeng yang sedang memegang mangkuk langsung berhenti.

"Apa?"

"...hari libur..."

"...aku mau pulang..."

Keheningan menyelimuti aula utama.

Pertapa Qingfeng mulai meragukan pendengarannya.

"Apakah semua bayi zaman sekarang seperti ini?"

Tidak ada yang menjawabnya.

Pada akhirnya, dia hanya menghela napas dan menggelengkan kepala.

"Sepertinya aku benar-benar terlalu tua."

Dia lalu mengambil sesendok kecil bubur dan dengan hati-hati menyuapkannya kepada Chu Xuan.

Anehnya, bayi itu membuka mulutnya secara refleks tanpa membuka mata.

Bahkan setelah selesai makan...

...dia tetap tidak bangun.

"Anak yang aneh."

Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Pertapa Qingfeng tersenyum.

Malam semakin larut.

Hujan mulai mereda.

Sebelum memadamkan lampu minyak, Pertapa Qingfeng melirik ke arah keranjang bambu di samping tungku.

"Chu Xuan..."

Dia mengeja nama itu perlahan.

"Mulai hari ini, kau adalah cucuku."

"Dan selama aku masih hidup..."

"...tidak seorang pun akan membuatmu kelaparan."

Di luar kuil, angin malam kembali bertiup.

Tidak ada yang menyadari bahwa janji sederhana yang diucapkan seorang pertapa tua pada malam hujan itu akan menjadi satu-satunya alasan seorang anak bernama Chu Xuan tetap menganggap Kuil Qingfeng sebagai rumahnya.

Bertahun-tahun kemudian, bahkan setelah seluruh dunia kultivasi gemetar di bawah namanya...

...Chu Xuan masih akan mengingat malam ketika seorang kakek tua memberinya semangkuk bubur hangat dan sebuah tempat untuk pulang.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

iNodz´道

iNodz´道

Bayi zaman sekarang kaya gitu ketu kek memang 🤣

2026-08-01

0

BOIEL-POINT .........

BOIEL-POINT .........

very very niCe Thor ..........

2026-08-11

0

Hadi Hadi

Hadi Hadi

semangat💪💪

2026-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi
2 Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
3 Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
4 Bab 4 — Orang yang Akan Pergi
5 Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng
6 Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian
7 Bab 7 — Sistem Diaktifkan
8 Bab 8 — Nama yang Menggemparkan
9 Bab 9 — Perampokan Terang Terangan
10 Bab 10 — Langkah Pertama
11 Bab 11 — Hampir Diterkam
12 Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
13 Bab 13 — Mata yang Mengincar
14 Bab 14 — Murid Pertama
15 Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan
16 Bab 16 — Cari Masalah
17 Bab 17 — Pria Bermata Emas
18 Bab 18 — Murka Keluarga Han
19 Bab 19 — Bayangan yang Bergerak
20 Bab 20 — Kembali ke Kuil
21 Bab 21 — Murid Kedua
22 Bab 22 — Seorang Tabib?
23 Bab 23 — Permintaan Sang Senior
24 Bab 24 — Keluar dari Kota
25 Bab 25 — Pertarungan
26 Bab 26 — Jalan Menuju Kepunahan
27 Bab 27 — Satu Tinju Mengguncang Dua Alam
28 Bab 28 — Kembali ke Kuil Qingfeng
29 Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng
30 Bab 30 — Teknik Pertama
31 Bab 31 — Guru yang Malas
32 Bab 32 — Riak di Alam Abadi
33 Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis
34 Bab 34 — Hadiah Tersembunyi
35 Bab 35 — Hadiah Tersembunyi Kedua
36 Bab 36 — Mata Dao Abadi
37 Bab 37 — Burung Roh yang Terluka
38 Bab 38 — Tamu yang Mencari Kematian
39 Bab 39 — Kehendak Sang Penguasa Domain
40 Bab 40 — Darah Pertama Sang Murid
41 Bab 41 — Bayangan yang Gemetar
42 Bab 42 — Mi Roh Ayam Bawang Sebelum Takdir Berubah
43 Bab 43 — Rumah yang Bernama Kuil Qingfeng
44 Bab 44 — Semangkuk Mi untuk Sang Pertapa
45 Bab 45 — Wilayah yang Semakin Luas
46 Bab 46 — Legiun Serigala Hitam
47 Bab 47 — Keputusan yang Tidak Bisa Diubah
48 Bab 48 — Pedang yang Menolak Tuannya
49 Bab 49 — Pedang yang Berbalik
50 Bab 50 — Pasukan yang Berbalik Arah
51 Bab 51 — Hadiah Setelah Badai
52 Bab 52 — Nama yang Terkubur
53 Bab 53 — Murid Ketiga
54 Bab 54 — Warisan Untuk Murid Ketiga
55 Bab 55 — Tiga Murid, Satu Lompatan Besar
56 Bab 56 — Satu Langkah, Beberapa Kilometer
57 Bab 57 — Kunjungan ke Kediaman Penguasa Kota
58 Bab 58 — Sentuhan Kehidupan Sang Kaisar
59 Bab 59 — Dunia yang Terbentang di Balik Cakrawala
60 Bab 60 — Pil Pertama Sang Kaisar
61 Bab 61 — Tujuh Pil Sempurna
62 Bab 62 — Restoran Bulan Giok
63 Bab 63 — Hari Sebelum Pelelangan
64 Bab 64 — Pelelangan Besar Paviliun Seribu Harta
65 Bab 65 — Batu Dao Kuno
66 Bab 66 — Pil Pemulih Jiwa
67 Bab 67 — Token Paviliun Seribu Harta
68 Bab 68 — Khasiat Pil Pemulih Jiwa
69 Bab 69 — Dampak Sebuah Pil
70 Bab 70 — Tujuh Hari Sebelum Reruntuhan Terbuka
71 Bab 71 — Alkemis Berjubah Putih di Depan Reruntuhan
72 Bab 72 — Token Bukan Barang Dagangan
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi
2
Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
3
Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
4
Bab 4 — Orang yang Akan Pergi
5
Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng
6
Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian
7
Bab 7 — Sistem Diaktifkan
8
Bab 8 — Nama yang Menggemparkan
9
Bab 9 — Perampokan Terang Terangan
10
Bab 10 — Langkah Pertama
11
Bab 11 — Hampir Diterkam
12
Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
13
Bab 13 — Mata yang Mengincar
14
Bab 14 — Murid Pertama
15
Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan
16
Bab 16 — Cari Masalah
17
Bab 17 — Pria Bermata Emas
18
Bab 18 — Murka Keluarga Han
19
Bab 19 — Bayangan yang Bergerak
20
Bab 20 — Kembali ke Kuil
21
Bab 21 — Murid Kedua
22
Bab 22 — Seorang Tabib?
23
Bab 23 — Permintaan Sang Senior
24
Bab 24 — Keluar dari Kota
25
Bab 25 — Pertarungan
26
Bab 26 — Jalan Menuju Kepunahan
27
Bab 27 — Satu Tinju Mengguncang Dua Alam
28
Bab 28 — Kembali ke Kuil Qingfeng
29
Bab 29 — Transformasi Kuil Qingfeng
30
Bab 30 — Teknik Pertama
31
Bab 31 — Guru yang Malas
32
Bab 32 — Riak di Alam Abadi
33
Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis
34
Bab 34 — Hadiah Tersembunyi
35
Bab 35 — Hadiah Tersembunyi Kedua
36
Bab 36 — Mata Dao Abadi
37
Bab 37 — Burung Roh yang Terluka
38
Bab 38 — Tamu yang Mencari Kematian
39
Bab 39 — Kehendak Sang Penguasa Domain
40
Bab 40 — Darah Pertama Sang Murid
41
Bab 41 — Bayangan yang Gemetar
42
Bab 42 — Mi Roh Ayam Bawang Sebelum Takdir Berubah
43
Bab 43 — Rumah yang Bernama Kuil Qingfeng
44
Bab 44 — Semangkuk Mi untuk Sang Pertapa
45
Bab 45 — Wilayah yang Semakin Luas
46
Bab 46 — Legiun Serigala Hitam
47
Bab 47 — Keputusan yang Tidak Bisa Diubah
48
Bab 48 — Pedang yang Menolak Tuannya
49
Bab 49 — Pedang yang Berbalik
50
Bab 50 — Pasukan yang Berbalik Arah
51
Bab 51 — Hadiah Setelah Badai
52
Bab 52 — Nama yang Terkubur
53
Bab 53 — Murid Ketiga
54
Bab 54 — Warisan Untuk Murid Ketiga
55
Bab 55 — Tiga Murid, Satu Lompatan Besar
56
Bab 56 — Satu Langkah, Beberapa Kilometer
57
Bab 57 — Kunjungan ke Kediaman Penguasa Kota
58
Bab 58 — Sentuhan Kehidupan Sang Kaisar
59
Bab 59 — Dunia yang Terbentang di Balik Cakrawala
60
Bab 60 — Pil Pertama Sang Kaisar
61
Bab 61 — Tujuh Pil Sempurna
62
Bab 62 — Restoran Bulan Giok
63
Bab 63 — Hari Sebelum Pelelangan
64
Bab 64 — Pelelangan Besar Paviliun Seribu Harta
65
Bab 65 — Batu Dao Kuno
66
Bab 66 — Pil Pemulih Jiwa
67
Bab 67 — Token Paviliun Seribu Harta
68
Bab 68 — Khasiat Pil Pemulih Jiwa
69
Bab 69 — Dampak Sebuah Pil
70
Bab 70 — Tujuh Hari Sebelum Reruntuhan Terbuka
71
Bab 71 — Alkemis Berjubah Putih di Depan Reruntuhan
72
Bab 72 — Token Bukan Barang Dagangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!