Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar

Gang sempit yang pengap dan berbau pesing itu mendadak hening. Hujan rintik-rintik yang mulai turun kembali menyentuh genangan air kotor di tanah, menciptakan suara gemericik pelan yang berpadu dengan napas terengah-engah dari dua bajak laut yang tersisa.

​Di tanah, pria yang tangan kanannya baru saja terpotong masih berguling-guling, mengerang dalam penderitaan yang tak tertahankan. Darah segar bercampur dengan lumpur, menciptakan aroma besi berkarat yang menyengat hidung Muzan.

​Muzan Kibutsi berdiri di posisinya, bersandar pada dinding bata yang dingin dan berlumut. Ekspresi wajah anak berusia empat belas tahun itu tidak berubah sedikit pun. Mata hitamnya yang dalam mengamati pemandangan berdarah di depannya seolah ia sedang menonton sebuah pertunjukan teater yang membosankan. Tidak ada rasa mual, tidak ada getaran ketakutan. Mentalitasnya sebagai pria dewasa yang telah mengalami transmigrasi jiwa membuatnya mampu memproses kekerasan dengan rasionalitas yang dingin.

​Di depan sana, Giyu Tomioka berdiri mematung. Posturnya tegak lurus, sempurna tanpa celah. Ujung pedang Nichirin di tangannya diarahkan miring ke bawah, membiarkan sisa-sisa air dari teknik pernapasannya menetes jatuh. Mata birunya yang gelap dan kosong menatap lurus ke arah dua bajak laut yang tersisa, seolah mereka hanyalah kerikil yang tak pantas mendapatkan perhatian lebih.

​Pria berbadan besar yang memegang pentungan paku menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur dari pelipisnya. Otot-ototnya yang kekar tiba-tiba terasa kaku. Ia menatap temannya yang kehilangan tangan, lalu menatap Giyu dengan tatapan horor.

​"M-Monster..." bisik pria pemegang belati yang berdiri di belakang si pria besar. Kakinya gemetar hebat hingga lututnya saling beradu. "D-Dia bahkan tidak terlihat bergerak... Ilmu sihir apa itu tadi? Air? Kenapa ada air yang keluar dari pedangnya?!"

​Di dunia One Piece, fenomena aneh biasanya dikaitkan dengan Buah Iblis. Namun, mereka yang berada di East Blue—lautan terlemah dari keempat lautan—sangat jarang melihat pengguna Buah Iblis secara langsung. Bagi preman jalanan sekelas mereka, seorang pendekar pedang yang bisa memunculkan elemen air dari tebasannya adalah mimpi buruk yang melampaui akal sehat.

​Muzan, melalui ikatan telepati misterius yang disediakan oleh Puppet System, merasakan seluruh indera Giyu. Ini adalah sensasi yang luar biasa memabukkan. Ia bisa merasakan berat gagang pedang Nichirin di telapak tangannya, ia bisa merasakan aliran energi yang tenang di dalam paru-paru boneka tersebut, dan ia bisa melihat dunia dengan ketajaman visual yang jauh melampaui mata manusia normal.

​Jangan biarkan mereka berpikir, perintah Muzan dalam hatinya yang dingin. Selesaikan dengan cepat. Pria besar itu, pukul tengkuknya dengan punggung pedang. Pria berbelati, hantam ulu hatinya dengan gagang pedang. Jangan buat mereka berdarah lagi, nilai jual mereka bisa turun jika mereka mati.

​Begitu instruksi mental itu terkirim, tubuh Giyu merespons seketika tanpa delay sedikit pun. Sistem beroperasi dengan efisiensi absolut.

​Pria besar itu baru saja mengangkat pentungannya sambil berteriak histeris, "MATI KAU, BRENGSEK—!"

​Kata-katanya terputus di tenggorokan.

​Giyu Tomioka telah menghilang dari pandangannya. Bagi mata preman itu, Giyu hanya menyisakan bayangan kabur yang tersapu oleh angin. Namun bagi Muzan yang memegang kendali, ia melihat Giyu menggunakan teknik langkah kaki yang sangat cepat, meluncur di atas tanah basah seolah tidak ada gesekan.

​"Pernapasan Air, Bentuk Kedua: Roda Air," suara datar Giyu bergema, namun kali ini nadanya diatur sedemikian rupa oleh Muzan untuk mengintimidasi, dingin dan tanpa ampun.

​Alih-alih menebas secara vertikal menggunakan bilah tajam pedangnya, Giyu melompat ringan ke udara, memutar tubuhnya ke depan membentuk formasi roda, namun di detik terakhir, ia memutar pergelangan tangannya. Bilah tajam pedang Nichirin dialihkan ke atas, sementara punggung pedang yang tumpul menghantam tepat di bagian belakang leher pria berbadan besar itu dengan kekuatan yang diukur secara presisi.

​KRAK!

​Suara tulang yang bergeser terdengar mengerikan. Gelombang air biru yang mengikuti alur pedang Giyu menghantam tubuh raksasa itu, meredam sebagian dampak mematikan agar lehernya tidak patah sepenuhnya, namun cukup untuk menghentikan aliran darah ke otak secara instan.

​Mata pria besar itu memutih. Tubuhnya yang seberat lebih dari seratus kilogram ambruk ke depan, menghantam genangan air kotor dengan bunyi Bruk! yang keras. Ia pingsan sebelum wajahnya menyentuh tanah.

​Pria ketiga, si pemegang belati, menjerit ketakutan layaknya babi yang akan disembelih. Pemandangan itu telah menghancurkan kewarasannya. Ia membalikkan badan, bermaksud lari terbirit-birit keluar dari gang.

​Tahan dia, perintah Muzan, matanya tidak berkedip.

​Giyu mendarat dengan mulus dari putaran udaranya. Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, ia menggunakan momentum pendaratannya untuk melesat ke depan bagaikan panah yang lepas dari busurnya. Jarak tiga meter dipangkas hanya dalam satu tarikan napas.

​Saat pria berbelati itu baru mengambil dua langkah, sosok Giyu sudah berada tepat di hadapannya, menghalangi jalan keluarnya. Pria itu menatap wajah Giyu yang pucat dan tanpa ekspresi, merasa seolah ia sedang menatap wajah malaikat maut.

​Giyu tidak menggunakan teknik pernapasan kali ini. Ia hanya mengayunkan tangan kirinya yang memegang sarung pedang (saya), menghantamkannya dengan telak ke ulu hati pria tersebut.

​BUGH!

​Sebuah pukulan tumpul yang sangat padat. Udara di dalam paru-paru pria berbelati itu terlempar keluar dari mulutnya dalam bentuk semburan ludah. Matanya melotot hampir keluar dari rongganya. Sistem sarafnya lumpuh seketika akibat rasa sakit yang luar biasa di pusat saraf perutnya. Ia berlutut perlahan, lalu jatuh tertelungkup tak sadarkan diri, menyusul kapten regu kecilnya.

​Pertarungan—jika bisa disebut pertarungan—itu selesai dalam waktu kurang dari lima belas detik.

​Muzan menghela napas panjang. Ia melepaskan sebagian fokus kendalinya dari Giyu. Sensasi dual-vision perlahan mereda. Giyu kembali ke posisi netralnya, berdiri diam layaknya patung penjaga yang tak bernyawa, sarung pedang kembali ke pinggangnya, dan napasnya kembali beraturan.

​Sebuah suara mekanis yang dingin berdenting di dalam benak Muzan.

​«"DING!"»

«"Misi Selesai: Basmi Ancaman Lokal."»

«"Evaluasi: Sempurna. Tidak ada kerusakan berlebih pada target buronan."»

«"Hadiah didistribusikan: 15.000 Belly, 10 Poin Pengalaman Sistem."»

​Muzan membuka panel sistemnya dan melihat tab [Belly Counter]. Angka 0 yang menyedihkan itu kini berubah menjadi 15.000 Belly.

​"Awal yang bagus," guman Muzan pelan. Ia berjalan perlahan, menyeret kaki kurusnya yang tidak beralas kaki mendekati ketiga tubuh yang tergeletak di tanah.

​Pria pertama yang tangannya terpotong kini sudah setengah pingsan karena syok dan kehabisan darah. Napasnya tersengal-sengal. Jika dibiarkan lebih lama lagi, ia pasti akan mati. Dan di dunia ini, buronan yang sudah mati terkadang nilainya dipotong hingga 30% oleh pihak Angkatan Laut karena mereka tidak bisa melakukan interogasi atau eksekusi publik. Muzan, sebagai seorang pragmatis yang sangat menghitung setiap sen keuntungannya, tidak akan membiarkan uangnya menguap begitu saja.

​Muzan memberi isyarat mental kepada Giyu.

​Boneka Giyu membungkuk, merobek paksa kain dari kemeja pria berbadan besar yang pingsan. Dengan gerakan yang sangat efisien dan cekatan (memori otot tentang pertolongan pertama yang dimiliki oleh seorang Hashira), Giyu mengikat erat pangkal lengan pria yang buntung itu untuk menghentikan pendarahan. Jeritan tertahan keluar dari mulut pria itu saat ikatan dikencangkan, membangunkannya sedikit dari kondisi setengah sadarnya.

​Muzan berjongkok di depan pria yang terluka itu. Wajah Muzan yang masih belia, kotor, dan kurus kering sangat kontras dengan aura dominasi dingin yang ia pancarkan.

​"Kau masih bisa mendengarku?" tanya Muzan dengan suaranya yang serak.

​Pria itu menatap Muzan, lalu menatap Giyu yang berdiri di belakang Muzan dengan tangan bersiap di gagang pedang. Ketakutan kembali menguasai matanya. Ia mengangguk lemah, air mata bercampur keringat mengalir di wajah kotornya. "T-Tolong... ampuni aku..."

​"Itu tergantung pada seberapa berguna informasi yang keluar dari mulutmu," jawab Muzan datar. "Siapa nama kelompok bajak laut kalian? Di pulau mana kita sekarang? Dan di mana kapten kalian berada?"

​Muzan sengaja bertanya tentang lokasi. Ia harus mengonfirmasi hipotesisnya. East Blue itu luas. Tanpa koordinat yang jelas, ia tidak bisa menyusun rencana jangka panjang.

​Pria itu terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. "K-Kami... Bajak Laut Taring Berdarah... K-Kami sedang berlabuh di... di Pulau Toroa... T-Tuan, tolong, biarkan aku hidup."

​Pulau Toroa, batin Muzan. Ia mencoba menggali ingatannya tentang lore One Piece. Toroa... Toroa... Ah, ia ingat. Pulau Toroa adalah sebuah pulau kecil yang memiliki kota pelabuhan yang cukup ramai, tempat di mana Zoro pernah mencari pedang baru dalam versi cerita lepas, atau setidaknya, itu adalah pulau persinggahan yang sering dikunjungi oleh pedagang dan bajak laut kelas teri sebelum menuju ke Loguetown. Letaknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk Grand Line, yang menjadikannya tempat yang strategis namun berbahaya.

​"Lanjutkan. Siapa kaptenmu dan di mana dia sekarang?" desak Muzan, matanya menatap tajam layaknya elang yang mengintai mangsa.

​"K-Kapten kami... 'Rahang Besi' Barts... D-Dia sedang minum-minum di bar di pusat kota pelabuhan... B-Bounty-nya... 2.200.000 Belly..." Pria itu merintih kesakitan, matanya perlahan menutup kembali karena kelelahan yang ekstrem. "Kami hanya disuruh... mencari budak baru..."

​"Rahang Besi Barts. 2,2 Juta Belly," Muzan mengangguk pelan. Itu adalah angka yang cukup besar untuk ukuran bajak laut kroco di East Blue, meski jika dibandingkan dengan nilai buronan Arlong (20 Juta Belly) atau Luffy (30 Juta Belly), angka itu hanyalah recehan. Namun bagi Muzan saat ini, uang 2,2 Juta Belly setara dengan dua kali putaran Gacha karakter tingkat Legenda atau dua puluh dua putaran tingkat Kuat. Itu adalah harta karun yang luar biasa.

​"Giyu," perintah Muzan. "Geledah kantong mereka. Ambil semua barang berharga yang mereka miliki."

​Giyu segera melaksanakan perintah tersebut. Tangan boneka itu dengan cepat menggeledah kantong celana dan baju ketiga preman tersebut. Ia menemukan beberapa keping koin emas, gulungan uang kertas yang basah, dan sebuah jam saku berlapis perak yang terlihat curian.

​Giyu menyerahkan semua barang itu kepada Muzan.

​Sistem segera memberikan notifikasi.

«"Menemukan mata uang fisik. Mengonversi ke dalam Belly Counter..."»

«"Total dikonversi: 4.850 Belly."»

«"Saldo Belly saat ini: 19.850 Belly."»

​Muzan mengantongi jam saku perak tersebut ke dalam saku celananya yang robek. Ia bisa menjualnya nanti. Sekarang, prioritas utamanya adalah mengubah ketiga mayat hidup ini menjadi uang tunai di markas Angkatan Laut terdekat.

​"Ikat mereka berdua. Kita akan pergi ke markas Angkatan Laut."

​Giyu menemukan seutas tali tambang yang kasar di tumpukan sampah di sudut gang. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, ia mengikat tangan dan kaki ketiga bajak laut itu, menyambungkan mereka layaknya rentengan ikan hasil tangkapan. Giyu lalu memegang ujung tali tersebut dengan satu tangan, sementara tangan kirinya bertumpu santai pada gagang pedangnya.

​Muzan menatap formasi mereka. Ia harus menentukan strategi penyamaran. Jika seorang anak kecil berusia 14 tahun yang mengenakan pakaian gembel terlihat menyeret tiga buronan berbahaya, itu akan menarik terlalu banyak perhatian yang tidak diinginkan. Organisasi bayangan atau perwira Angkatan Laut korup mungkin akan menculiknya untuk dijadikan bahan eksperimen atau budak peliharaan. Ia belum cukup kuat untuk melawan sistem kekuasaan dunia ini.

​"Mulai sekarang," gumam Muzan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Giyu, "Kau adalah Giyu Tomioka, seorang pendekar pedang bisu yang berkelana sebagai pemburu hadiah (Bounty Hunter). Aku hanyalah asistenmu, anak yatim piatu yang kau selamatkan dari jalanan dan kau pekerjakan untuk mengurus urusan administrasi dan memegang uangmu."

​Giyu, tentu saja, tidak menjawab. Wajahnya tetap datar. Namun sistem mencatat roleplay (peran) tersebut dan akan secara otomatis menyesuaikan mannerism (perilaku halus) Giyu saat berinteraksi pasif dengan orang lain, selama tidak bertentangan dengan kepribadian asli karakter Giyu.

​"Ayo jalan."

​Mereka berdua keluar dari gang sempit tersebut. Pemandangan Pulau Toroa menjelang sore mulai terlihat jelas. Hujan telah berhenti, menyisakan kabut tipis yang merayap di atas jalanan berbatu yang memantulkan cahaya jingga dari matahari yang mulai terbenam di ufuk barat.

​Kota pelabuhan itu cukup padat. Bangunan-bangunan kayu berlantai dua dengan atap genteng merah berjajar di sepanjang jalan utama. Kedai-kedai minuman mulai menyalakan lentera gas mereka, memancarkan cahaya hangat yang mengundang para pelaut dan pekerja pelabuhan untuk menghabiskan malam. Suara tawa kasar, dentingan gelas bir, dan musik akordeon terdengar bersahutan dari kejauhan.

​Namun, keramaian itu terhenti seketika ketika Giyu dan Muzan melangkah masuk ke jalan utama.

​Orang-orang yang berlalu lalang spontan menyingkir, membuka jalan bagaikan lautan yang terbelah. Mata mereka membelalak ngeri melihat pemandangan di hadapan mereka. Seorang pemuda tampan dengan haori aneh dua warna berjalan dengan wajah tanpa dosa, sementara satu tangannya dengan santai menyeret tiga pria dewasa yang bersimbah darah melintasi jalanan berbatu. Darah menetes membentuk jejak garis merah yang panjang.

​Di belakang pemuda itu, berjalan seorang anak kecil kurus yang menundukkan kepalanya, terlihat seperti pelayan yang ketakutan.

​Bisik-bisik mulai menyebar di antara kerumunan layaknya wabah.

​"H-Hei... bukankah itu si Jagal Kiri dari kelompok Taring Berdarah?" bisik seorang pedagang buah sambil menunjuk dengan tangan gemetar.

​"Ya Tuhan! Tangan kanannya putus! Dan itu Gorz Si Gada! Mereka berdua adalah buronan dengan nilai hadiah di atas ratusan ribu Belly!" balas seorang pelaut yang sedang memegang botol rum.

​"Siapa pendekar pedang itu? Apakah dia Roronoa Zoro si Pemburu Bajak Laut yang terkenal itu?"

​"Bodoh! Zoro menggunakan tiga pedang dan rambutnya hijau. Pria ini menggunakan pedang aneh dan auranya... auranya sedingin es. Aku tidak bisa merasakan emosi sedikit pun dari wajahnya. Dia benar-benar monster!"

​Muzan mendengarkan semua bisikan itu dengan saksama. Kepalanya tetap tertunduk, memainkan perannya sebagai asisten yang rendah hati, namun di dalam hatinya, ia tersenyum puas. Reputasi. Di dunia bajak laut, reputasi adalah mata uang kedua setelah Belly. Dengan membangun persona Giyu sebagai pemburu hadiah yang kejam dan tak kenal ampun, orang-orang akan berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengan mereka. Dan yang paling penting, tidak ada yang mencurigai bahwa dalang sebenarnya dari kekuatan mematikan itu adalah anak kecil kurus yang berjalan di belakangnya.

​Mereka menyusuri jalan utama selama sepuluh menit hingga akhirnya mereka melihat sebuah bangunan besar yang mendominasi pemandangan kota. Bangunan itu terbuat dari batu bata putih kokoh, dikelilingi oleh tembok tinggi dan meriam-meriam pertahanan di setiap sudutnya. Di atas gerbang utama yang terbuat dari besi tempa, terpampang bendera besar berwarna putih dengan lambang burung camar biru yang membentangkan sayap, memegang tulisan 'MARINE'.

​Markas Angkatan Laut Cabang ke-77.

​Di depan gerbang, dua orang prajurit Angkatan Laut yang sedang berjaga dengan senapan laras panjang tampak tegang. Mereka telah melihat kedatangan Giyu dari kejauhan, dan tangan mereka berkeringat memegang senapan.

​Ketika Giyu berhenti tepat dua meter di depan gerbang, kedua prajurit itu menyilangkan senapan mereka, membentuk barikade darurat.

​"B-Berhenti di sana!" teriak salah satu prajurit, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras terdengar berwibawa. "T-Tunjukkan identitasmu! Apa yang kau bawa itu?!"

​Melalui instruksi mental Muzan, Giyu melepaskan tali tambang di tangannya, membiarkan ketiga tubuh bajak laut itu teronggok di depan gerbang layaknya karung beras. Giyu tetap diam, menatap kedua prajurit itu dengan pandangan kosong.

​Kesunyian Giyu membuat suasana menjadi sangat canggung dan tegang. Kedua prajurit itu mulai berkeringat dingin di bawah tatapan mata biru gelap yang seolah menembus jiwa mereka.

​Di sinilah Muzan mengambil alih panggung.

​Ia melangkah maju dari balik punggung Giyu. Bahunya sedikit diturunkan, memberikan kesan rapuh. Ia menatap kedua prajurit itu dengan pandangan yang seolah penuh harap namun ketakutan.

​"M-Maafkan Tuan saya, Tuan-tuan Angkatan Laut yang terhormat," ucap Muzan dengan suara seraknya yang diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti anak kecil yang sopan. "Tuan Giyu adalah seorang yang tidak banyak bicara. Kami adalah pemburu hadiah yang sedang melintas. Kami membawa tiga anggota Bajak Laut Taring Berdarah yang mencoba menyerang kami di gang tadi. Kami ingin menukarkan mereka dengan nilai buronan yang dijanjikan."

​Kedua prajurit itu menghela napas lega secara bersamaan. Ternyata hanya pemburu hadiah, bukan psikopat gila yang ingin menyerang markas.

​"P-Pemburu hadiah, ya? Tunggu sebentar. Aku akan memanggil Perwira Jaga." Salah satu prajurit segera berlari masuk ke dalam markas, sementara yang satu lagi tetap berjaga, matanya terus melirik ke arah Giyu dengan penuh kewaspadaan.

​Beberapa menit kemudian, prajurit itu kembali dengan seorang pria bertubuh tegap, mengenakan jas khas perwira Angkatan Laut berpangkat Letnan, lengkap dengan pedang kavaleri di pinggangnya. Letnan itu memiliki bekas luka sayatan di pipi kirinya dan mengisap sebatang cerutu.

​"Aku Letnan Roka," kata pria itu dengan suara berat bariton. Ia berjalan melewati gerbang dan berjongkok di dekat ketiga bajak laut yang tak berdaya itu. Matanya menyipit saat ia memeriksa wajah mereka satu per satu.

​"Gorz Si Gada... Dagger Pete... dan si Jagal Kiri," Letnan Roka bergumam, mengambil selembar kertas buronan kecil dari saku jasnya dan mencocokkannya. Ia bersiul pelan. "Luar biasa. Ketiga orang ini adalah eksekutif rendahan dari kelompok Taring Berdarah. Mereka sudah meneror pedagang di perairan sekitar selama dua bulan terakhir."

​Letnan Roka berdiri, mengembuskan asap cerutunya, dan menatap Giyu dengan pandangan menilai. Ia adalah seorang perwira yang telah melihat banyak pertumpahan darah, namun bahkan ia pun merasa terintimidasi oleh ketenangan absolut yang dipancarkan oleh pemuda berhaori itu. Tidak ada setetes darah pun di pakaiannya, dan pedangnya masih tersarung rapi. Bagaimana dia mengalahkan tiga monster kecil ini dengan begitu bersih?

​"Keterampilan yang luar biasa," puji Letnan Roka. "Kalian beruntung. Ketiganya memiliki total nilai buronan sebesar 650.000 Belly. Karena satu di antaranya cacat permanen namun masih hidup, kami tidak akan memotong nilainya."

​Mata Muzan sedikit berbinar di balik poni rambutnya yang kotor. 650.000 Belly. Angka itu melebihi ekspektasi awalnya. Tampaknya nilai buronan gabungan kru di East Blue cukup fluktuatif tergantung pada tingkat kerusakan yang mereka timbulkan belakangan ini.

​"Siapa namamu, Pendekar?" tanya Letnan Roka, berjalan mendekati Giyu.

​Muzan membuat Giyu menatap lurus ke mata Roka, lalu Giyu membuka mulutnya. Suara yang keluar sangat datar, dingin, dan berwibawa, sangat kontras dengan penampilannya yang relatif muda.

​"Giyu Tomioka."

​Itu adalah pertama kalinya warga lokal mendengar suara sang boneka. Dan hanya dua kata itu sudah cukup untuk membuat beberapa prajurit Angkatan Laut di sana merinding. Suara itu seolah tidak memiliki emosi manusiawi.

​"Tomioka..." Letnan Roka mengulang nama itu, mencoba menggali ingatannya. "Aku belum pernah mendengar nama itu di East Blue. Apa kau datang dari lautan lain? Dengan keahlian seperti ini, kau bisa dengan mudah menjadi Perwira menengah jika bergabung dengan Angkatan Laut. Apakah kau tertarik?"

​Penawaran rekrutmen. Hal yang wajar dilakukan oleh Angkatan Laut ketika melihat bakat yang menjanjikan, terutama setelah mereka kehilangan banyak moral akibat kekalahan beruntun markas-markas cabang oleh bajak laut baru yang bermunculan.

​Muzan mengontrol Giyu untuk menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak."

​Hanya itu. Singkat, padat, dan menolak ruang untuk diskusi lebih lanjut.

​Letnan Roka tersenyum kecut, memahami tipe-tipe pendekar pedang penyendiri yang keras kepala. "Baiklah. Kami tidak bisa memaksa. Prajurit! Bawa ketiga sampah ini ke sel isolasi. Dan siapkan uang hadiahnya sebesar 650.000 Belly dari brankas!"

​"Siap, Letnan!"

​Kurang dari sepuluh menit kemudian, seorang prajurit membawakan sebuah koper kulit kecil berwarna cokelat tua. Letnan Roka membukanya sebentar, memperlihatkan tumpukan uang kertas Belly yang diikat rapi, sebelum menyerahkannya kepada Giyu.

​Namun, sebelum Giyu mengambilnya, Muzan dengan sigap melangkah maju dan menerima koper itu dengan kedua tangannya yang kurus. Koper itu cukup berat bagi tubuhnya saat ini, namun sensasi memegang uang sungguhan di dunia baru ini memberinya kepuasan tersendiri.

​"T-Terima kasih, Tuan Letnan. Kami akan pamit undur diri," kata Muzan, membungkuk sopan seraya memeluk koper itu di dadanya.

​Ia tidak langsung menyerap uang itu ke dalam Sistem. Melakukan sihir menghilangkan koper di depan mata Angkatan Laut adalah tindakan bodoh yang akan mengundang interogasi. Ia akan menyerapnya nanti saat mereka berada di tempat yang aman.

​"Berhati-hatilah," pesan Letnan Roka sebelum memutar tubuhnya kembali ke pangkalan. "Kalian baru saja menangkap anak buah Kapten Barts. Pria itu adalah monster seberat dua ratus kilogram dengan rahang berlapis baja yang bisa menghancurkan tiang kapal. Jika dia tahu kalian yang menyerahkan anak buahnya, dia akan memburu kalian sampai ke ujung pulau."

​"Kami akan mengingatnya," balas Muzan sopan, sambil memberi isyarat mental kepada Giyu untuk membalikkan badan dan pergi.

​Mereka berdua berjalan menjauh dari markas Angkatan Laut, kembali menyusuri jalanan kota yang kini mulai tertutup kegelapan malam. Lampu-lampu jalan menyala terang. Muzan merasa sangat puas. Rencana tahap pertamanya berjalan sangat mulus. Dengan tambahan 650.000 Belly, total saldo sistemnya akan mencapai sekitar 669.850 Belly. Ini adalah fondasi yang sangat kuat. Ia bisa menyewa kamar penginapan mewah malam ini, membeli makanan enak, pakaian baru, dan mandi air hangat.

​Ia mulai merencanakan masa depan. Jika aku bisa mengumpulkan hingga 1 Juta Belly, aku bisa membuka fitur Shop dan mungkin melakukan Gacha tingkat Legenda. Boneka tingkat Legenda mungkin sekelas dengan para Komandan Yonko atau Shichibukai di dunia ini.

​Namun, takdir di dunia One Piece jarang sekali membiarkan seseorang merencanakan hari esok dengan tenang.

​Tepat ketika Muzan dan Giyu berada di tengah alun-alun kota, berniat mencari penginapan, sebuah suara ledakan yang sangat menggelegar memecah keheningan malam.

​BOOOMMM!!!

​Gelombang kejut yang kuat menyapu jalanan, memecahkan kaca-kaca jendela kedai dan menerbangkan debu tebal ke udara. Orang-orang menjerit histeris dan berlarian panik.

​Muzan menoleh dengan cepat ke arah sumber ledakan. Matanya menyipit, mencoba menembus kepulan asap hitam yang membumbung tinggi di langit malam.

​Arah ledakan itu berasal dari pelabuhan utama kota.

​Suara sirine bahaya dari markas Angkatan Laut tiba-tiba meraung-raung, suaranya melengking membelah malam. Di tengah kepanikan warga yang berlarian mencari tempat berlindung, Muzan bisa melihat siluet sebuah kapal raksasa bersandar secara paksa di pelabuhan, menghancurkan dermaga kayu. Bendera tengkorak dengan rahang besi tergambar di layarnya yang hitam.

​Dari arah asap ledakan, terdengar suara tawa yang begitu besar dan serak, seolah keluar dari tenggorokan seekor beruang raksasa.

​"ANGKATAN LAUT KEPARAT! KEMBALIKAN ANAK BUAHKU, ATAU AKU AKAN MERATAKAN KOTA INI MENJADI LAUTAN API!"

​Orang-orang di sekitar alun-alun menjerit semakin kencang.

​"I-Itu Kapten Barts! Rahang Besi Barts telah tiba!" teriak seorang warga yang ketakutan.

​Muzan berdiri diam di tengah arus manusia yang berlarian. Wajahnya yang kotor terpapar cahaya merah dari api yang mulai berkobar di kejauhan. Angin panas meniup rambutnya. Bukannya merasa takut, sudut bibir anak itu malah tertarik membentuk seringai tipis yang mengerikan.

​Sebuah panel biru transparan mendadak muncul di depan pandangannya, berkedip dengan warna merah peringatan.

​«"DING!"»

«"MISI DARURAT TERPICU: KEMARAHAN SANG KAPTEN."»

«"Kondisi: Kapten Barts (Bounty: 2.200.000 Belly) telah menyerang Pulau Toroa untuk mencari anak buahnya."»

«"Tujuan Utama: Lindungi kota Toroa ATAU Kalahkan Kapten Barts beserta krunya."»

«"Hadiah Penyelesaian Misi: Tiket Gacha Karakter Menengah x3, 50.000 Belly ekstra, dan Peningkatan Kapasitas Pengendalian Boneka (+1 Slot)!"»

​Napas Muzan tertahan sejenak saat matanya membaca kalimat terakhir dari daftar hadiah tersebut.

​Peningkatan Kapasitas Pengendalian Boneka (+1 Slot).

​Ini berarti, jika ia menyelesaikan misi ini, ia tidak hanya mendapatkan uang tunai lebih dari dua juta Belly dari bounty Barts, tetapi sistemnya akan berevolusi, memungkinkannya mengendalikan dua boneka sekaligus secara bersamaan. Itu adalah lompatan kekuatan yang eksponensial. Kombinasi dua karakter anime yang kuat dalam satu pertarungan akan membuka peluang strategi yang tak terbatas.

​Muzan menatap Giyu Tomioka yang masih berdiri diam di sampingnya, tangan kirinya siap di gagang pedang Nichirin, menunggu perintah mutlak dari tuannya.

​"Giyu," bisik Muzan, matanya berkilat di tengah cahaya kobaran api. "Malam ini kita lembur. Kita akan berburu beruang."

Terpopuler

Comments

Hadi Hadi

Hadi Hadi

up💪

2026-08-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
2 Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
3 Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi
4 Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
5 Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya
6 Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental
7 Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir
8 Bab 8: Pencuri Takdir dan Manipulator Absolut
9 Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api
10 Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
11 Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
12 Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang
13 Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang
14 Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
15 Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
16 Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park
17 Bab 17: Runtuhnya Kerajaan Hiu dan Deklarasi Erebus
18 Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda
19 Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga
20 Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut
21 Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
22 Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian
23 Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
24 Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa
25 Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit
26 Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit
27 Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang
28 Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana
29 Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
30 Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan
31 Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
32 Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba
33 Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak
34 Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
35 Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca
36 Bab 36: Hujan di Sarang Buaya dan Mundurnya Sang Raja Pasir
37 Bab 37: Langit Alubarna yang Berdarah dan Langkah Sang Dalang
38 Bab 38: Kaca di Atas Pasir dan Benturan Dua Penguasa
39 Bab 39: Tetesan Air dan Pergeseran Papan Catur
40 Bab 40: Tangan Iblis dan Runtuhnya Sejarah
41 Bab 41: Pukulan Mutlak dan Keruntuhan Makam Kerajaan
42 Bab 42: Tirai Terakhir Sang Buaya Pasir
43 Bab 43: Hujan Manipulasi dan Panggilan Sang Joker
44 Bab 44: Sinyal dari Dunia Bawah dan Tiket Emas Menuju Takdir
45 Bab 45: Raksasa di Balik Kabut dan Monster Berekspresi Kosong
46 Bab 46: Bayangan Kegelapan dan Roti Ceri yang Menetes
47 Bab 47: Retakan di Hutan Belantara dan Ekspansi Sang Dalang
48 Bab 48: Bayangan Strategis dan Tiket Perak di Bawah Langit Jaya
49 Bab 49: Benturan Dua Kekuatan Mutlak: Amaterasu vs. Aokiji
50 Bab 50: Komet Emas di Tengah Pusaran dan Sang Dewa Gravitasi
51 Bab 51: Gaung Kehampaan dan Tuan Baru di Atas Awan
52 Bab 52: Suara Lonceng Emas dan Bayangan di Balik Daun
53 Bab 53: Bentrokan Petir dan Kilau Cermin Suci
54 Bab 54: Melodi dari Masa Lalu dan Cetak Biru Dewa
55 Bab 55: Seniman Keabadian dan Guncangan di Keadilan Absolut
56 Bab 56: Bayangan Sang Singa Emas dan Panggung Kehancuran
57 Bab 57: Musim Dingin di Atas Langit dan Runtuhnya Era Keemasan
58 Bab 58: Ilusi Sempurna dan Tirai Kaca Realitas
59 Bab 59: Cermin Retak di Atas Awan
60 Bab 60: Gelombang di Bawah Cakrawala dan Bayangan Rambut Merah
61 Bab 61: Benturan di Atas Permukaan Laut dan Senyuman Sang Kaisar
62 Bab 62: Tarian Benang Merah di Bawah Langit Senja
63 Bab 63: Ruang Bedah Kematian dan Kedinginan Bintang Kutub
64 Bab 64: Metropolis Air dan Ujian Sang Revolusioner
65 Bab 65: Jarum di Bawah Air dan Bayangan Agen Pembunuh
66 Bab 66: Jejak Kacamata Bulat di Kota Air
67 Bab 67: Pisau Bedah Chakra dan Panggung yang Disiapkan
68 Bab 68: Bayangan Jatuh di Pulau Tanpa Malam dan Lahirnya Baja Kematian
69 Bab 69: Mendidihnya Lautan Keadilan dan Runtuhnya Langit Pengadilan
70 Bab 70: Tiga Kutub Keadilan dan Runtuhnya Gerbang Neraka
71 Bab 71: Kabut Segitiga Kematian dan Bangkitnya Sistem Tahap Dua
72 Bab 72: Bayangan Suci di Atas Kabut Hitam
73 Bab 73: Ilusi Sang Ksatria dan Tirai Dimensi yang Terkoyak
74 Bab 74: Takhta Bayangan yang Runtuh dan Bergemanya Nama Sang Musuh Dunia
75 Bab 75: Tolakan Absolut dan Terbukanya Gerbang Kamui
76 Bab 76: Labirin Ruang di Atas Lautan Beku dan Fondasi Pohon Dunia
77 Bab 77: Hujan Energi di Atas Kayu Lapuk dan Tawa Sang Penguasa Kegelapan
78 Bab 78: Kilau Emas di Balik Kabut dan Senyuman Sang Pembuat Ilusi
79 Bab 79: Pertemuan Dua Jenius dan Meriam Kiamat yang Terbangun
80 Bab 80: Kiamat Plasma dan Turunnya Raja Segala Pahlawan
81 Bab 81: Simfoni Emas di Kepulauan Mangrove
82 Bab 82: Kesombongan Raja dan Langit Sabaody yang Runtuh
83 Bab 83: Penjara Bawah Laut dan Terompet Pasukan Raja Penakluk
84 Bab 84: Benturan Kiamat Tiga Arah dan Bangkitnya Sang Penguasa Bayangan
85 Bab 85: Kiamat yang Menggema dan Matahari Siang yang Membakar Lautan Es
86 Bab 86: Neraka yang Terbagi dan Kebangkitan Sang Penguasa Mutlak
87 Bab 87: Hantu dari Era Lampau dan Lonceng Kematian di Tepi Senja
88 Bab 88: Siang Paling Terang dan Pencuri di Dalam Gelap
89 Bab 89: Senyum Sang Penakluk dan Lautan yang Membatu
90 Bab 90: Senyum Sang Matahari dan Detak Jantung Kiamat di Bawah Es
91 Bab 91: Sang Naga Kiamat dan Mahakarya Pasir Merah
92 Bab 92: Kehancuran Mental dan Sang Penguasa Kematian Absolut
93 Bab 93: Cahaya Surgawi di Palung Kelam dan Kebangkitan Sang Dewa Perang
94 Bab 94: Dua Meteor di Atas Badai Petir dan Ratapan Para Komandan Kaisar
95 Bab 95: Benteng Petir Abadi dan Kebangkitan Sang Senjata Kiamat
96 Bab 96: Tarian Para Dewa dan Kehancuran Aliansi Dua Kaisar
97 Bab 97: Takhta Kosmik dan Kiamat Dua Kaisar
98 Bab 98: Kebangkitan Sang Senjata Kiamat dan Mata Takdir yang Melihat Masa Depan
99 Bab 99: Pembangkangan Terhadap Hukum Waktu dan Dua Penguasa Ketiadaan
100 Bab 100: Fajar Terakhir di Ujung Lautan dan Kunci Takhta Kosmik
101 Bab 101: Benturan Konsep Kosmik dan Awal Mula Realitas Baru
102 Bab 102: Reboot Sistem dan Sistem Puppet Tingkat Dewa!
103 Bab 103: Puppet Kapten Byakuya Kuchiki! Awal Pesta Berdarah di Kotak Pasir Shino
104 Bab 104: Satu Orang Melawan Sepuluh Ribu Pasukan!
105 Bab 105: Berhamburan, Senbonzakura!
106 Bab 105: Reaksi Iwagakure dan Panen Poin Pertama!
107 Bab 107: Puppet Kelas S, Enel!
108 Bab 108: Menambal Cacat Boneka dan Target Baru, Desa Kusagakure!
109 Bab 109: Shichibukai, Enel!
110 Bab 110: Menghancurkan Ambisi dan Kehendak Sang Dewa Petir!
111 Bab 111: Satu Pukulan, Satu Desa Hancur!
112 Bab 112: Puppet Ketiga, Sang Iblis Bulan Atas Kokushibo!
113 Bab 113: Pencapaian Spesial, Asal Usul Iblis Sempurna!
114 Bab 114: Agatsuma Zenitsu dan Item SSS-Rank!
115 Bab 115: Kedatangan Namikaze Minato!
116 Bab 116: Petualangan Aneh Namikaze Minato!
117 Bab 117: Kokushibo vs Namikaze Minato!
118 Bab 118: Membuka Gerbang Dunia Baru!
119 Bab 119: Namikaze Minato: Di Mana Seireitei? Di Mana Grand Line?
120 Bab 120: Diskusi Petinggi Konoha!
121 Bab 121: Perang Dunia Shinobi Ketiga Meletus!
122 Bab 122: Iblis Bulan Bawah dan Target Ichibi!
123 Bab 123: Penggerebekan Kuil Diming dan Iblis Bulan Bawah Ketiga!
124 Bab 124: Kartu As yang Ditinggalkan Kazekage Kedua!
125 Bab 125: Enel vs Boneka Kazekage!
126 Bab 126: Ichibi Shukaku, Aku Ambil Ini!
127 Bab 127: Puppet Baru, Crocodile dan Zaraki Kenpachi!
128 Bab 128: Zaraki Kenpachi dan Reaktor Energi Abadi!
129 Bab 129: Tiga Desa Ninja Berunding Damai?!
130 Bab 130: Skenario yang Terdistorsi!
131 Bab 131: Kekacauan Tiga Desa Ninja Besar, Uchiha Madara!
132 Bab 132: Shichibukai, Sir Crocodile!
133 Bab 133: Akulah Uchiha Madara!
134 Bab 134: Uchiha Madara: Aku Telah Melihat Segala Strategimu!
135 Bab 135: Izanagi Uchiha Madara dan Kedatangan Tiga Kage!
136 Bab 136: Skenario yang Terdistorsi! Tiga Bayangan Hadir, Madara Menanti
137 Bab 137: Reaksi Para Kage dan Bentrokan Dua Faksi!
138 Bab 138: Reaksi Para Kage dan Tabrakan Dua Faksi Besar!
139 Bab 139: Tabrakan Dua Faksi Utama dan Pengepungan Tiga Kage!
140 Bab 140: Mode Chakra Gaya Petir!
141 Bab 141: Pelepasan Reiatsu, Raikage yang Tertindas!
142 Bab 142: Penguasa Seireitei? Reio (Raja Roh)!
143 Bab 143: Beban Informasi Terlalu Masif, Ketiga Kage Terguncang!
144 Bab 144: Seluruh Dunia Ninja Harus Bersatu!
145 Bab 145: Tubuh Asura?
146 Bab 146: Fisik Senju Hashirama? Aku Sama Sekali Tidak Puas!
147 Bab 147: Boneka Tingkat SS, Empat Kaisar Kaido!
148 Bab 148: Negeri Hujan, Organisasi Akatsuki!
149 Bab 149: Hanzo, Kau Salah Paham, Aku Tidak Tertarik Padamu!
150 Bab 150: Empat Kaisar, Kaido si Binatang Buas!
151 Bab 151: Kaido vs Hanzo!
152 Bab 152: Bunuh Hanzo
153 Bab 153: Kaido Berdiri di Bulan!
154 Bab 154: Target Utama, Tenseigan Raksasa!
155 Bab 155: Kebangkitan Otsutsuki Hamura!
156 Bab 156: Benturan Puncak! Kehancuran di Permukaan Bulan!
157 Bab 157: Daya Hancur Mengerikan dari Kebangkitan Buah Iblis!
158 Bab 158: Musuh Berasal Dari Dunia Shinobi!?
159 Bab 159: Penguatan Abadi, Tenseigan!
160 DraBab 160: Kekuatan Mengerikan dari Mata Tenseigan!
161 Bab 161: Fitur Baru Sistem! Toko Poin!
162 Bab 162: Domain Boneka, Gunung Natagumo!
163 Bab 163: Teman Namikaze Minato!
164 Bab 164: Rengoku Kyojuro! Sarang Iblis?
165 Bab 165: Penemuan, Gunung Natagumo!
166 Bab 166: Keputusan Sarutobi!
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
2
Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
3
Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi
4
Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
5
Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya
6
Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental
7
Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir
8
Bab 8: Pencuri Takdir dan Manipulator Absolut
9
Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api
10
Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
11
Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
12
Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang
13
Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang
14
Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
15
Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
16
Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park
17
Bab 17: Runtuhnya Kerajaan Hiu dan Deklarasi Erebus
18
Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda
19
Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga
20
Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut
21
Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
22
Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian
23
Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
24
Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa
25
Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit
26
Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit
27
Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang
28
Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana
29
Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
30
Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan
31
Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
32
Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba
33
Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak
34
Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
35
Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca
36
Bab 36: Hujan di Sarang Buaya dan Mundurnya Sang Raja Pasir
37
Bab 37: Langit Alubarna yang Berdarah dan Langkah Sang Dalang
38
Bab 38: Kaca di Atas Pasir dan Benturan Dua Penguasa
39
Bab 39: Tetesan Air dan Pergeseran Papan Catur
40
Bab 40: Tangan Iblis dan Runtuhnya Sejarah
41
Bab 41: Pukulan Mutlak dan Keruntuhan Makam Kerajaan
42
Bab 42: Tirai Terakhir Sang Buaya Pasir
43
Bab 43: Hujan Manipulasi dan Panggilan Sang Joker
44
Bab 44: Sinyal dari Dunia Bawah dan Tiket Emas Menuju Takdir
45
Bab 45: Raksasa di Balik Kabut dan Monster Berekspresi Kosong
46
Bab 46: Bayangan Kegelapan dan Roti Ceri yang Menetes
47
Bab 47: Retakan di Hutan Belantara dan Ekspansi Sang Dalang
48
Bab 48: Bayangan Strategis dan Tiket Perak di Bawah Langit Jaya
49
Bab 49: Benturan Dua Kekuatan Mutlak: Amaterasu vs. Aokiji
50
Bab 50: Komet Emas di Tengah Pusaran dan Sang Dewa Gravitasi
51
Bab 51: Gaung Kehampaan dan Tuan Baru di Atas Awan
52
Bab 52: Suara Lonceng Emas dan Bayangan di Balik Daun
53
Bab 53: Bentrokan Petir dan Kilau Cermin Suci
54
Bab 54: Melodi dari Masa Lalu dan Cetak Biru Dewa
55
Bab 55: Seniman Keabadian dan Guncangan di Keadilan Absolut
56
Bab 56: Bayangan Sang Singa Emas dan Panggung Kehancuran
57
Bab 57: Musim Dingin di Atas Langit dan Runtuhnya Era Keemasan
58
Bab 58: Ilusi Sempurna dan Tirai Kaca Realitas
59
Bab 59: Cermin Retak di Atas Awan
60
Bab 60: Gelombang di Bawah Cakrawala dan Bayangan Rambut Merah
61
Bab 61: Benturan di Atas Permukaan Laut dan Senyuman Sang Kaisar
62
Bab 62: Tarian Benang Merah di Bawah Langit Senja
63
Bab 63: Ruang Bedah Kematian dan Kedinginan Bintang Kutub
64
Bab 64: Metropolis Air dan Ujian Sang Revolusioner
65
Bab 65: Jarum di Bawah Air dan Bayangan Agen Pembunuh
66
Bab 66: Jejak Kacamata Bulat di Kota Air
67
Bab 67: Pisau Bedah Chakra dan Panggung yang Disiapkan
68
Bab 68: Bayangan Jatuh di Pulau Tanpa Malam dan Lahirnya Baja Kematian
69
Bab 69: Mendidihnya Lautan Keadilan dan Runtuhnya Langit Pengadilan
70
Bab 70: Tiga Kutub Keadilan dan Runtuhnya Gerbang Neraka
71
Bab 71: Kabut Segitiga Kematian dan Bangkitnya Sistem Tahap Dua
72
Bab 72: Bayangan Suci di Atas Kabut Hitam
73
Bab 73: Ilusi Sang Ksatria dan Tirai Dimensi yang Terkoyak
74
Bab 74: Takhta Bayangan yang Runtuh dan Bergemanya Nama Sang Musuh Dunia
75
Bab 75: Tolakan Absolut dan Terbukanya Gerbang Kamui
76
Bab 76: Labirin Ruang di Atas Lautan Beku dan Fondasi Pohon Dunia
77
Bab 77: Hujan Energi di Atas Kayu Lapuk dan Tawa Sang Penguasa Kegelapan
78
Bab 78: Kilau Emas di Balik Kabut dan Senyuman Sang Pembuat Ilusi
79
Bab 79: Pertemuan Dua Jenius dan Meriam Kiamat yang Terbangun
80
Bab 80: Kiamat Plasma dan Turunnya Raja Segala Pahlawan
81
Bab 81: Simfoni Emas di Kepulauan Mangrove
82
Bab 82: Kesombongan Raja dan Langit Sabaody yang Runtuh
83
Bab 83: Penjara Bawah Laut dan Terompet Pasukan Raja Penakluk
84
Bab 84: Benturan Kiamat Tiga Arah dan Bangkitnya Sang Penguasa Bayangan
85
Bab 85: Kiamat yang Menggema dan Matahari Siang yang Membakar Lautan Es
86
Bab 86: Neraka yang Terbagi dan Kebangkitan Sang Penguasa Mutlak
87
Bab 87: Hantu dari Era Lampau dan Lonceng Kematian di Tepi Senja
88
Bab 88: Siang Paling Terang dan Pencuri di Dalam Gelap
89
Bab 89: Senyum Sang Penakluk dan Lautan yang Membatu
90
Bab 90: Senyum Sang Matahari dan Detak Jantung Kiamat di Bawah Es
91
Bab 91: Sang Naga Kiamat dan Mahakarya Pasir Merah
92
Bab 92: Kehancuran Mental dan Sang Penguasa Kematian Absolut
93
Bab 93: Cahaya Surgawi di Palung Kelam dan Kebangkitan Sang Dewa Perang
94
Bab 94: Dua Meteor di Atas Badai Petir dan Ratapan Para Komandan Kaisar
95
Bab 95: Benteng Petir Abadi dan Kebangkitan Sang Senjata Kiamat
96
Bab 96: Tarian Para Dewa dan Kehancuran Aliansi Dua Kaisar
97
Bab 97: Takhta Kosmik dan Kiamat Dua Kaisar
98
Bab 98: Kebangkitan Sang Senjata Kiamat dan Mata Takdir yang Melihat Masa Depan
99
Bab 99: Pembangkangan Terhadap Hukum Waktu dan Dua Penguasa Ketiadaan
100
Bab 100: Fajar Terakhir di Ujung Lautan dan Kunci Takhta Kosmik
101
Bab 101: Benturan Konsep Kosmik dan Awal Mula Realitas Baru
102
Bab 102: Reboot Sistem dan Sistem Puppet Tingkat Dewa!
103
Bab 103: Puppet Kapten Byakuya Kuchiki! Awal Pesta Berdarah di Kotak Pasir Shino
104
Bab 104: Satu Orang Melawan Sepuluh Ribu Pasukan!
105
Bab 105: Berhamburan, Senbonzakura!
106
Bab 105: Reaksi Iwagakure dan Panen Poin Pertama!
107
Bab 107: Puppet Kelas S, Enel!
108
Bab 108: Menambal Cacat Boneka dan Target Baru, Desa Kusagakure!
109
Bab 109: Shichibukai, Enel!
110
Bab 110: Menghancurkan Ambisi dan Kehendak Sang Dewa Petir!
111
Bab 111: Satu Pukulan, Satu Desa Hancur!
112
Bab 112: Puppet Ketiga, Sang Iblis Bulan Atas Kokushibo!
113
Bab 113: Pencapaian Spesial, Asal Usul Iblis Sempurna!
114
Bab 114: Agatsuma Zenitsu dan Item SSS-Rank!
115
Bab 115: Kedatangan Namikaze Minato!
116
Bab 116: Petualangan Aneh Namikaze Minato!
117
Bab 117: Kokushibo vs Namikaze Minato!
118
Bab 118: Membuka Gerbang Dunia Baru!
119
Bab 119: Namikaze Minato: Di Mana Seireitei? Di Mana Grand Line?
120
Bab 120: Diskusi Petinggi Konoha!
121
Bab 121: Perang Dunia Shinobi Ketiga Meletus!
122
Bab 122: Iblis Bulan Bawah dan Target Ichibi!
123
Bab 123: Penggerebekan Kuil Diming dan Iblis Bulan Bawah Ketiga!
124
Bab 124: Kartu As yang Ditinggalkan Kazekage Kedua!
125
Bab 125: Enel vs Boneka Kazekage!
126
Bab 126: Ichibi Shukaku, Aku Ambil Ini!
127
Bab 127: Puppet Baru, Crocodile dan Zaraki Kenpachi!
128
Bab 128: Zaraki Kenpachi dan Reaktor Energi Abadi!
129
Bab 129: Tiga Desa Ninja Berunding Damai?!
130
Bab 130: Skenario yang Terdistorsi!
131
Bab 131: Kekacauan Tiga Desa Ninja Besar, Uchiha Madara!
132
Bab 132: Shichibukai, Sir Crocodile!
133
Bab 133: Akulah Uchiha Madara!
134
Bab 134: Uchiha Madara: Aku Telah Melihat Segala Strategimu!
135
Bab 135: Izanagi Uchiha Madara dan Kedatangan Tiga Kage!
136
Bab 136: Skenario yang Terdistorsi! Tiga Bayangan Hadir, Madara Menanti
137
Bab 137: Reaksi Para Kage dan Bentrokan Dua Faksi!
138
Bab 138: Reaksi Para Kage dan Tabrakan Dua Faksi Besar!
139
Bab 139: Tabrakan Dua Faksi Utama dan Pengepungan Tiga Kage!
140
Bab 140: Mode Chakra Gaya Petir!
141
Bab 141: Pelepasan Reiatsu, Raikage yang Tertindas!
142
Bab 142: Penguasa Seireitei? Reio (Raja Roh)!
143
Bab 143: Beban Informasi Terlalu Masif, Ketiga Kage Terguncang!
144
Bab 144: Seluruh Dunia Ninja Harus Bersatu!
145
Bab 145: Tubuh Asura?
146
Bab 146: Fisik Senju Hashirama? Aku Sama Sekali Tidak Puas!
147
Bab 147: Boneka Tingkat SS, Empat Kaisar Kaido!
148
Bab 148: Negeri Hujan, Organisasi Akatsuki!
149
Bab 149: Hanzo, Kau Salah Paham, Aku Tidak Tertarik Padamu!
150
Bab 150: Empat Kaisar, Kaido si Binatang Buas!
151
Bab 151: Kaido vs Hanzo!
152
Bab 152: Bunuh Hanzo
153
Bab 153: Kaido Berdiri di Bulan!
154
Bab 154: Target Utama, Tenseigan Raksasa!
155
Bab 155: Kebangkitan Otsutsuki Hamura!
156
Bab 156: Benturan Puncak! Kehancuran di Permukaan Bulan!
157
Bab 157: Daya Hancur Mengerikan dari Kebangkitan Buah Iblis!
158
Bab 158: Musuh Berasal Dari Dunia Shinobi!?
159
Bab 159: Penguatan Abadi, Tenseigan!
160
DraBab 160: Kekuatan Mengerikan dari Mata Tenseigan!
161
Bab 161: Fitur Baru Sistem! Toko Poin!
162
Bab 162: Domain Boneka, Gunung Natagumo!
163
Bab 163: Teman Namikaze Minato!
164
Bab 164: Rengoku Kyojuro! Sarang Iblis?
165
Bab 165: Penemuan, Gunung Natagumo!
166
Bab 166: Keputusan Sarutobi!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!