Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi

Langit malam di atas Pulau Toroa yang tadinya tenang kini diwarnai warna jingga kemerahan akibat kobaran api. Asap tebal membumbung tinggi, menutupi cahaya bintang dan bulan sabit yang menggantung di ufuk timur. Jeritan kepanikan warga, suara ledakan mesiu, dan derit bangunan kayu yang runtuh berpadu menjadi

simfoni kehancuran yang memekakkan telinga.

Di tengah arus manusia yang berlarian menjauhi pelabuhan, Muzan Kibutsi berdiri tak bergeming. Mata hitamnya yang dalam memantulkan kilatan api dari kejauhan. Otaknya, yang terbiasa memproses informasi dengan kecepatan dan rasionalitas tinggi, langsung memetakan situasi.

*Kapten Barts memiliki nilai buronan 2.200.000 Belly. Dia membawa seluruh krunya. Mereka bersenjata lengkap dan sedang mengamuk. Sementara itu, markas Angkatan Laut cabang ke-77 hanya memiliki prajurit berpangkat rendah yang dipimpin oleh seorang Letnan.*

Muzan menunduk, menatap tubuhnya sendiri. Tangan yang memegang koper kulit berisi 650.000 Belly itu kurus dan gemetar ringan—bukan karena takut, melainkan karena batas fisik seorang anak berusia empat belas tahun yang kekurangan gizi. Kekuatan fisiknya hanya berada di angka 4. Satu peluru nyasar dari senapan *flintlock* atau serpihan kayu akibat ledakan meriam sudah cukup untuk mengakhiri kehidupan keduanya ini bahkan sebelum benar-benar dimulai.

"Aku tidak bisa membawa tubuh asliku ke medan pertempuran," gumam Muzan dalam hati. "Ini adalah kelemahan terbesar dari *Puppet System*. Tidak peduli sekuat apa pun boneka yang kumiliki, jika tubuh asliku hancur, semuanya selesai."

Ia menoleh ke arah bangunan-bangunan di sekitarnya. Matanya tertuju pada sebuah gereja tua yang terbuat dari batu bata abu-abu kokoh, berjarak sekitar lima ratus meter dari pusat pelabuhan. Gereja itu memiliki menara lonceng yang menjulang tinggi, memberikan titik pantau strategis yang sempurna untuk melihat seluruh kota tanpa terdeteksi.

"Kita bergerak ke menara itu," perintah Muzan secara mental kepada Giyu Tomioka yang berdiri setia di sampingnya.

Tanpa menarik perhatian warga yang sedang panik, Muzan berlari menuju gereja tersebut, diikuti oleh Giyu yang bergerak bagaikan bayangan. Sesampainya di gereja yang telah ditinggalkan oleh pendeta dan jemaatnya itu, Muzan segera menaiki tangga spiral kayu yang sempit dan berdebu menuju puncak menara lonceng.

Dari atas sana, angin laut berhembus kencang, membawa aroma belerang dan darah. Muzan meletakkan koper kulitnya di lantai kayu yang berderit. Ia duduk bersandar pada dinding lonceng perunggu raksasa, menyembunyikan dirinya sepenuhnya dalam bayang-bayang.

Muzan meletakkan tangannya di atas koper. "Sistem, serap semua mata uang fisik ini."

«"Mengonversi mata uang fisik ke dalam Belly Counter..."»

«"Total dikonversi: 650.000 Belly."»

«"Saldo Belly saat ini: 669.850 Belly."»

Koper itu kini kosong. Muzan menghela napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Ia menutup matanya dan memfokuskan seluruh kesadarannya pada *Sistem*.

"Mulai sekarang, aku akan mentransfer sembilan puluh persen kesadaranku ke dalam tubuh Giyu Tomioka. Sisakan sepuluh persen untuk menjaga insting bertahan hidup tubuh asliku," perintah Muzan.

«"Sinkronisasi Kesadaran Tingkat Lanjut diaktifkan."»

«"Peringatan: Mentransfer 90% kesadaran ke dalam Boneka akan membuat Host merasakan setiap sensasi yang dialami Boneka, termasuk benturan fisik, meskipun Boneka tidak bisa merasakan sakit secara biologis. Kelelahan mental akan meningkat secara signifikan."»

"Lakukan."

Dalam sekejap mata, persepsi Muzan berpindah. Kegelapan di menara lonceng tergantikan oleh pemandangan pelabuhan yang terbakar. Ia kini tidak lagi melihat melalui mata anak kecil yang rabun dan lelah, melainkan melalui sepasang mata biru gelap milik seorang Hashira—mata yang mampu melihat debu menari di udara, mata yang bisa membaca pergerakan otot musuh sebelum mereka menyerang.

Muzan menggerakkan jari-jemari tangan kanannya yang kini terbungkus seragam pemburu iblis.

Kekuatan, kelincahan, dan stamina yang meluap-luap mengalir di setiap pembuluh darah boneka ini. Ini adalah kekuatan puncak manusia yang telah dilatih hingga menembus batas neraka.

Ia menatap ke bawah, ke arah pelabuhan yang telah berubah menjadi medan pembantaian.

Dari atas menara, Muzan bisa melihat dengan jelas sang antagonis utama malam ini. Kapten Barts "Rahang Besi". Pria itu adalah raksasa setinggi dua setengah meter dengan otot yang menonjol seperti bongkahan batu. Sesuai julukannya, rahang bawah pria itu digantikan oleh pelat baja tebal berwarna perak kotor yang dipasang dengan baut-baut kasar menembus dagingnya. Di tangan kanannya, Barts memegang sebuah jangkar kapal raksasa berantai besi yang ia ayunkan layaknya mainan anak-anak.

Di sekeliling Barts, puluhan bajak laut bawahannya sedang menjarah dan membakar toko-toko.

Pasukan Angkatan Laut yang dipimpin oleh Letnan Roka telah tiba di lokasi, namun formasi mereka hancur berantakan. Senapan musket yang mereka tembakkan tidak mampu menembus otot tebal Barts, dan setiap kali Barts mengayunkan jangkarnya, tiga hingga empat prajurit Angkatan Laut terlempar ke udara dengan tulang yang remuk.

"Tembak! Terus tembak! Jangan biarkan dia maju ke alun-alun kota!" teriak Letnan Roka, wajahnya berlumuran darah dan jelaga. Ia mengangkat pedang kavalerinya, mencoba mencari celah untuk menyerang, namun raungan tawa Barts menggetarkan nyalinya.

"BAHAHAHA! Hanya ini kekuatan Angkatan Laut Cabang 77?!" Barts tertawa meremehkan. Suaranya terdengar seperti logam yang saling bergesekan. Ia menarik rantai jangkarnya, memutar senjata seberat ratusan kilogram itu di atas kepalanya menciptakan angin puyuh kecil, lalu menghantamkannya ke arah barisan prajurit Roka.

*BOOOM!*

Batu-batu jalanan hancur berkeping-keping. Letnan Roka nyaris tidak berhasil melompat menghindar, namun gelombang kejutnya membuat tubuh perwira itu terpelanting menghantam laras meriam yang hancur. Roka memuntahkan darah segar, pandangannya berkunang-kunang.

"Letnan!" teriak beberapa prajurit yang tersisa.

Barts berjalan mendekati Roka yang terkapar. Rahang besinya berderit saat ia menyeringai. "Katakan padaku, Letnan sampah. Di mana tiga anak buahku yang kau tangkap? Jika kau menyerahkan mereka kembali padaku beserta seluruh uang di brankasmu, aku mungkin akan menyisakan kepala di lehermu."

"M-Mimpi saja, kau bajingan..." Roka mendesis, mencoba berdiri meski kakinya gemetar. Sebagai prajurit, ia tidak akan memohon ampun pada bajak laut.

Barts mendengus kasar. "Kalau begitu, matilah!" Raksasa itu mengangkat jangkarnya tinggi-tinggi, bersiap meremukkan tubuh Letnan Roka menjadi daging giling.

Namun, sebelum jangkar besi itu sempat turun menjemput nyawa sang Letnan, sebuah suara yang sangat datar, dingin, dan tenang memotong riuhnya medan pertempuran. Suara itu tidak keras, namun entah bagaimana, ia menembus hiruk-pikuk api dan teriakan.

"Kau berisik sekali."

Barts menghentikan gerakannya. Matanya yang liar mencari sumber suara. Letnan Roka, yang mengira ajalnya sudah tiba, perlahan membuka mata dan menoleh ke arah tumpukan reruntuhan atap kayu di sebelah kanannya.

Di atas reruntuhan kayu yang terbakar itu, berjongkok sesosok pemuda dengan haori dua warna yang khas. Tangan kirinya beristirahat santai di atas lututnya, sementara tangan kanannya memegang gagang pedang yang belum dicabut dari sarungnya. Angin malam meniup rambut hitamnya yang diikat acak. Matanya yang berwarna biru gelap menatap lurus ke arah Barts, memancarkan ketiadaan emosi yang membuat bulu kuduk berdiri.

Itu adalah Giyu Tomioka, yang sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan Kibutsi.

Letnan Roka melebarkan matanya. "K-Kau... Pendekar Pedang Tomioka! Apa yang kau lakukan di sini? Menyingkirlah, dia monster!"

Muzan, melalui tubuh Giyu, sama sekali tidak mempedulikan peringatan Roka. Ia berdiri perlahan. Pandangannya tetap terkunci pada sosok raksasa di depannya. Dalam benaknya, kalkulasi matematis tentang pertarungan telah dimulai. *Tinggi musuh 2,5 meter. Berat diperkirakan 250 kilogram. Senjata: Jangkar besi berantai, jangkauan serang sekitar 4 meter. Titik buta: Kecepatan rotasi tubuh bagian bawahnya lambat. Titik vital yang terlindungi: Rahang bawah dan kemungkinan sebagian leher depan oleh pelat baja.*

"Siapa kau, bocah sialan?" geram Barts. Rahang besinya bergemeletuk. "Jangan ikut campur urusan Bajak Laut Taring Berdarah jika kau tidak ingin mati muda!"

Muzan tidak menjawab. Sebagai seorang perencana yang pragmatis, ia tahu penjahat sering mati karena terlalu banyak bicara. Ia tidak akan mengulangi klise kebodohan itu.

Giyu Tomioka mengambil napas dalam-dalam. Oksigen mengisi paru-parunya hingga kapasitas maksimal, mempercepat aliran darah yang membawa energi ke setiap serat ototnya. Ini adalah fondasi dari Ilmu Pernapasan (Total Concentration Breathing). Udara di sekitar Giyu tiba-tiba terasa lebih lembab dan dingin.

Tanpa sepatah kata pun, Giyu melompat dari reruntuhan bangunan itu. Alih-alih jatuh dengan berat ke tanah, kakinya menyentuh tanah berbatu dengan seringan bulu, dan dalam seperseribu detik kemudian, tanah di bawah kakinya retak.

Sosok Giyu menghilang dari pandangan Barts dan Letnan Roka.

"Cepat sekali!" batin Roka terkejut.

Barts, yang mengandalkan insting hewaninya untuk bertahan hidup di lautan, merasakan hawa dingin yang mematikan mendekat dari arah depan. Dengan panik, ia mengayunkan jangkarnya secara horizontal untuk menyapu apa pun yang mendekat.

Namun, ayunan itu hanya membelah udara kosong.

Muzan, dengan presisi luar biasa yang diwariskan oleh memori otot sang Hashira, telah memprediksi arah serangan itu berdasarkan pergerakan bahu Barts. Giyu merunduk di bawah ayunan jangkar besi seberat ratusan kilogram itu dengan jarak hanya selisih beberapa sentimeter dari ujung rambutnya.

Dalam posisi merunduk dan terus meluncur ke depan, tangan kanan Giyu mencabut pedang *Nichirin* dari sarungnya.

Suara *SRAATTT!* terdengar nyaring diiringi kilatan cahaya biru tua yang indah. Bilah pedang yang kini terekspos memancarkan aura dingin yang mengembunkan udara di sekitarnya.

**"Pernapasan Air, Bentuk Keempat: Pasang Surut Menyerang (Striking Tide)."**

Muzan mengarahkan pedang itu untuk melakukan serangkaian tebasan beruntun yang mengalir tanpa henti layaknya gelombang pasang surut. Sasarannya bukanlah bagian vital yang sulit dijangkau, melainkan titik-titik persendian musuh.

Tebasan pertama menyasar pergelangan tangan kanan Barts yang memegang jangkar.

Tebasan kedua mengarah ke tendon Achilles di kaki kiri Barts.

Tebasan ketiga membelah urat bisep di lengan kiri sang kapten raksasa.

Ketiga tebasan itu terjadi dalam waktu kurang dari dua detik. Begitu mulus, begitu elegan, namun sangat destruktif. Bilah *Nichirin* milik Giyu menebas daging dan otot musuh layaknya memotong mentega panas, diiringi ilusi aliran air biru yang mengikuti jejak lintasan pedang.

"AAARRRGGGGHHHH!!!!"

Raungan penderitaan yang luar biasa meledak dari tenggorokan Barts. Jari-jarinya kehilangan tenaga, membuat jangkar besinya terlepas dan menghantam tanah dengan suara dentuman keras. Ia terhuyung mundur, darah segar menyembur dari tiga luka sayatan yang sangat dalam. Otot-otot yang mengendalikan pergerakan utamanya telah diputus.

Para kru bajak laut yang tadinya sedang sibuk menjarah tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka. Mereka menoleh dan membeku melihat kapten mereka yang tak terkalahkan menjerit kesakitan, terhuyung mundur di hadapan seorang pemuda kurus yang pedangnya bahkan tidak memiliki noda darah di atasnya.

"K-Kapten!" teriak salah satu kru.

"Bunuh bocah itu! Cepat bunuh dia!" teriak bawahan lainnya yang panik.

Lebih dari belasan bajak laut mencabut pedang, tombak, dan senapan mereka, lalu berlari mengeroyok Giyu dari berbagai arah.

Di atas menara lonceng, sudut bibir Muzan sedikit terangkat membentuk seringai tipis. Pertarungan kelompok adalah tempat di mana Teknik Pernapasan Air bersinar paling terang. Fleksibilitas dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan aliran musuh tidak tertandingi.

Muzan tidak membuat Giyu mundur. Sebaliknya, ia melangkah maju ke tengah kepungan belasan orang tersebut.

"Tembak!" perintah salah satu bajak laut. Tiga orang penembak jitu mengarahkan senapan laras panjang mereka dan menarik pelatuk. Tiga butir peluru timah melesat dengan kecepatan tinggi ke arah tubuh Giyu.

**"Pernapasan Air, Bentuk Kesebelas: Ketenangan Mati (Lull)."**

Ini adalah teknik orisinal ciptaan Giyu Tomioka sendiri, dan Muzan kini memegang kuncinya.

Seketika, lingkungan di sekitar Giyu seolah berhenti bergerak. Waktu terasa melambat. Semua suara hiruk pikuk pertempuran memudar, digantikan oleh keheningan mutlak dari sebuah danau yang sangat tenang tanpa riak sedikit pun.

Dengan pergerakan pedang yang sangat minim, halus, dan nyaris tak terlihat oleh mata telanjang, pedang *Nichirin* Giyu menangkis ketiga peluru timah tersebut dalam waktu bersamaan.

*Ting! Ting! Ting!*

Ketiga peluru itu terbelah menjadi dua dan jatuh tanpa bahaya di dekat kaki Giyu.

Para bajak laut ternganga. Mata mereka seolah keluar dari rongganya. Menangkis peluru dengan pedang bukanlah hal yang mustahil di Grand Line, tetapi melihatnya secara langsung di East Blue adalah pemandangan yang menghancurkan nalar dan mental mereka.

Ketenangan itu hanya berlangsung sedetik, sebelum Muzan mengubah ritmenya menjadi serangan mematikan.

**"Pernapasan Air, Bentuk Ketiga: Tarian Arus (Flowing Dance)."**

Giyu mulai bergerak. Kakinya melangkah dengan pola yang sangat tidak teratur, meliuk-liuk bagaikan aliran air sungai yang membelah bebatuan. Ia berayun melewati kerumunan bajak laut itu layaknya penari yang sedang melakukan pertunjukan mematikan.

Setiap kali Giyu melewati seorang bajak laut, kilatan pedang air birunya menyusul.

Muzan memastikan tidak ada gerakan yang sia-sia.

Ia tidak menargetkan leher untuk menghindari cipratan darah yang berlebihan, melainkan menargetkan urat nadi di pergelangan tangan, urat lutut, dan bagian punggung pedang untuk menghantam titik saraf di ulu hati. Ia ingin melumpuhkan, bukan sekadar membunuh tanpa alasan, karena orang-orang ini mungkin masih memiliki nilai buronan kecil.

Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, Tarian Arus itu berhenti. Giyu kembali berdiri dalam posisi netralnya, memunggungi kerumunan belasan bajak laut tersebut. Air ilusi dari pedangnya memercik pelan ke tanah.

Di belakangnya, belasan bajak laut itu serempak menjatuhkan senjata mereka. Beberapa detik kemudian, luka-luka sayatan meledak secara bersamaan, menyemburkan darah ke udara. Mereka berjatuhan ke tanah satu per satu bagaikan daun kering yang ditiup angin badai. Erangan kesakitan menggema memenuhi alun-alun.

Pasukan Angkatan Laut yang tersisa, termasuk Letnan Roka, hanya bisa menatap pemandangan itu dengan mulut menganga. Tidak ada yang berani bersuara. Mereka baru saja menyaksikan pembantaian artistik terindah dan paling menakutkan yang pernah mereka lihat seumur hidup mereka.

"M-Monster..." bisik Letnan Roka tak percaya. "Apakah dia pemakan Buah Iblis? Kemampuan berpedang macam apa itu..."

Namun, pertarungan belum sepenuhnya usai.

Di ujung jalan setapak, Barts "Rahang Besi" menggunakan lengan kanannya yang masih berfungsi sebagian untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Matanya memerah akibat kombinasi rasa sakit yang luar biasa dan kemarahan yang mendidih. Ia telah kehilangan anak buahnya, harga dirinya, dan separuh kemampuan geraknya dalam hitungan detik.

"Sialan... KAU SIALAAAAAANNN!" Barts meraung keras hingga pita suaranya nyaris robek. "TIDAK ADA YANG BISA MEMPERMALUKAN RAHANG BESI BARTS!"

Dengan sisa tenaga terakhir yang didorong oleh adrenalin, Barts mengabaikan luka di kakinya. Ia berlari menerjang ke arah Giyu dengan mulut terbuka lebar. Rahang besinya, yang dilapisi logam keras dengan deretan gigi bergerigi tajam, siap mengoyak leher pemuda itu.

Ini adalah serangan bunuh diri terakhir. Kecepatannya jauh melampaui gerakan Barts sebelumnya. Tubuh besarnya bertindak seperti peluru meriam berdaging yang melesat untuk menghancurkan apa pun di depannya.

Muzan, dari atas menara lonceng, menatap serangan itu dengan dingin.

*Fisik yang luar biasa,* analisis Muzan. *Dunia One Piece memang memiliki manusia-manusia dengan vitalitas tidak masuk akal. Ototnya terpotong, tapi dia masih bisa menggunakan kontraksi paksa untuk menerjang. Sayangnya, tindakan emosional adalah jalan tercepat menuju kematian.

Muzan tidak menyuruh Giyu menghindar. Jika ia menghindar, tubuh raksasa Barts akan terus melaju dan menghantam markas Angkatan Laut atau warga yang mungkin bersembunyi di baliknya. Ia harus menghentikannya dari depan.

Giyu mengangkat pedangnya ke atas kepala. Ia mengambil napas yang jauh lebih dalam dan lambat dari sebelumnya. Oksigen mengalir menekan paru-parunya, memompa energi besar ke lengannya.

Udara di sekitar Giyu seolah berubah menjadi lautan yang bergejolak. Suara gemuruh air terjun gaib mulai terdengar menenggelamkan raungan kapten Barts.

**"Pernapasan Air, Bentuk Kedelapan: Benturan Air Terjun (Waterfall Basin)."**

Barts berada kurang dari satu meter di depan Giyu, rahang besinya siap mengatup leher sang Hashira.

Pada saat yang bersamaan, Giyu mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah dengan kekuatan penuh. Tebasan vertikal ini tidak tajam seperti pisau yang menyayat, melainkan membawa massa yang sangat berat, seolah-olah ton berton-ton air terjun raksasa dijatuhkan dari langit langsung ke atas pedangnya.

*TRANGGGGG!!!!!*

Bilah pedang *Nichirin* menghantam telak bagian tengah rahang besi Barts.

Benturan antara baja kuat melawan baja pembasmi iblis yang dilapisi teknik pernapasan menghasilkan percikan api yang menyilaukan mata. Gelombang kejut dari hantaman itu meledak, menyapu debu dan sisa-sisa reruntuhan kayu di sekitar mereka dalam radius sepuluh meter. Angkatan Laut yang menonton harus menutupi wajah mereka dari badai angin yang tercipta.

Waktu seolah membeku sesaat.

Mata Barts melotot lebar, urat-urat merah pecah di matanya. Ia tidak percaya pada apa yang dirasakannya. Raksasa seberat 250 kilogram yang menerjang dengan kecepatan penuh itu dihentikan sepenuhnya oleh tebasan vertikal seorang pemuda kurus, tanpa membuat pemuda itu mundur satu sentimeter pun dari posisinya!

Kemudian, terdengar suara kecil yang mematahkan kebuntuan itu.

*Kret... Krak...*

Garis retakan halus muncul di rahang baja kebanggaan Kapten Barts, tepat di bawah titik di mana pedang Giyu menekan.

*KRAK! PRANGGGG!!!*

Logam tebal itu hancur berkeping-keping. Tebasan *Waterfall Basin* yang sangat berat itu menerobos pertahanan besi Barts, membelah rahang buatan tersebut, dan terus melaju meremukkan tulang selangka serta tulang dada raksasa itu sebelum akhirnya menghantam tanah berbatu.

Tanah alun-alun meledak terbuka, menciptakan kawah dangkal dengan retakan memanjang layaknya jaring laba-laba.

Barts menyemburkan darah segar dari mulutnya. Tubuh besarnya ambruk ke tanah, matanya memutih, kehilangan kesadaran sepenuhnya. Rahang besinya yang menakutkan kini hanyalah rongsokan logam yang berserakan di genangan darah.

Giyu Tomioka berdiri di atas tubuh raksasa yang tumbang itu. Ia perlahan mengangkat pedangnya, mengibasnya dengan gerakan menyamping yang elegan untuk membuang sisa-sisa darah yang menempel di bilah *Nichirin*, lalu menyarungkannya kembali ke pinggangnya dengan bunyi *KLIK!* yang tajam.

Medan pertempuran itu kembali sunyi. Hanya suara api yang berderak melahap sisa bangunan yang terdengar. Pasukan Angkatan Laut dan Letnan Roka menatap Giyu dengan rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan absolut.

Di atas menara lonceng yang tersembunyi dalam kegelapan, Muzan Kibutsi melepaskan kendali utamanya. Ia kembali bernapas dengan ritme normal. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Mentransfer kesadaran penuh untuk pertarungan intens menggunakan stamina mentalnya secara drastis, menyebabkan sakit kepala yang berdenyut hebat.

Namun, rasa sakit itu hilang seketika saat sebuah layar holografik biru menutupi pandangannya, memancarkan cahaya kemenangan.

«"DING!"»

«"MISI DARURAT SELESAI: KEMARAHAN SANG KAPTEN."»

«"Evaluasi: Pertunjukan Kekuatan Mutlak. Menyelesaikan konflik dengan dominasi total."»

«"Hadiah didistribusikan: 50.000 Belly, Tiket Gacha Karakter Menengah x3."»

«"PENGUMUMAN PENTING: Kapasitas Pengendalian Boneka meningkat! (+1 Slot)."»

«"Host kini dapat mengendalikan 2 Boneka secara bersamaan."»

Senyum kepuasan mengembang di wajah pucat Muzan. Namun, sebelum ia sempat memeriksa hadiah-hadiah barunya, sebuah suara langkah kaki yang sangat pelan—terlalu pelan untuk didengar oleh telinga manusia biasa, namun tertangkap jelas oleh pendengaran sisa Giyu di alun-alun bawah—mendekat dari arah gang gelap di sebelah timur markas Angkatan Laut.

Di alun-alun, Giyu Tomioka tiba-tiba menoleh ke arah gang gelap tersebut. Tangan kirinya kembali mencengkeram gagang pedangnya.

Letnan Roka menyadari perubahan postur sang pendekar, dan segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk bersiaga.

Dari dalam kegelapan gang yang tidak tersentuh cahaya api, keluarlah sosok seseorang. Hawa keberadaan orang ini sangat berbeda dengan gerombolan bajak laut rendahan yang baru saja disapu bersih oleh Giyu. Hawa ini tenang, tajam, dan mematikan.

Orang itu berjalan keluar dari bayang-bayang. Ia adalah seorang pria bertubuh tegap, mengenakan kemeja tak dikancingkan, *haramaki* (sabuk perut tebal) berwarna hijau, dan celana gelap. Di pinggang kanannya, terselip tidak hanya satu, tidak dua,

melainkan tiga buah pedang katana bersarung rapi.

Rambut pria itu berwarna hijau lumut yang sangat mencolok.

Mata pria berambut hijau itu mengamati kehancuran di alun-alun, sebelum akhirnya tatapan tajam bagaikan pedang miliknya terkunci pada sosok Giyu Tomioka. Sudut bibirnya menyeringai antusias, memperlihatkan aura haus darah yang hanya dimiliki oleh mereka yang hidup di ujung mata pedang.

Di atas menara lonceng, mata Muzan menyipit tajam. Sakit kepalanya seolah menguap digantikan oleh lonjakan adrenalin baru.

*Roronoa Zoro,* batin Muzan.

Pemuda berambut hijau itu meletakkan tangan di gagang salah satu pedangnya. "Aku kebetulan sedang lewat karena mendengar ada bajak laut ber-bounty besar di kota ini," ucap Zoro dengan suara berat. Matanya menatap Giyu dengan tatapan menantang yang membakar. "Tapi sepertinya aku menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada uang. Hei, kau yang berhaori dua warna... Kau pengguna pedang, kan? Mau saling mengukur kekuatan denganku?"

Episodes
1 Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
2 Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
3 Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi
4 Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
5 Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya
6 Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental
7 Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir
8 Bab 8: Pencuri Takdir dan Manipulator Absolut
9 Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api
10 Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
11 Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
12 Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang
13 Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang
14 Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
15 Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
16 Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park
17 Bab 17: Runtuhnya Kerajaan Hiu dan Deklarasi Erebus
18 Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda
19 Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga
20 Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut
21 Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
22 Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian
23 Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
24 Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa
25 Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit
26 Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit
27 Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang
28 Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana
29 Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
30 Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan
31 Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
32 Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba
33 Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak
34 Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
35 Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca
36 Bab 36: Hujan di Sarang Buaya dan Mundurnya Sang Raja Pasir
37 Bab 37: Langit Alubarna yang Berdarah dan Langkah Sang Dalang
38 Bab 38: Kaca di Atas Pasir dan Benturan Dua Penguasa
39 Bab 39: Tetesan Air dan Pergeseran Papan Catur
40 Bab 40: Tangan Iblis dan Runtuhnya Sejarah
41 Bab 41: Pukulan Mutlak dan Keruntuhan Makam Kerajaan
42 Bab 42: Tirai Terakhir Sang Buaya Pasir
43 Bab 43: Hujan Manipulasi dan Panggilan Sang Joker
44 Bab 44: Sinyal dari Dunia Bawah dan Tiket Emas Menuju Takdir
45 Bab 45: Raksasa di Balik Kabut dan Monster Berekspresi Kosong
46 Bab 46: Bayangan Kegelapan dan Roti Ceri yang Menetes
47 Bab 47: Retakan di Hutan Belantara dan Ekspansi Sang Dalang
48 Bab 48: Bayangan Strategis dan Tiket Perak di Bawah Langit Jaya
49 Bab 49: Benturan Dua Kekuatan Mutlak: Amaterasu vs. Aokiji
50 Bab 50: Komet Emas di Tengah Pusaran dan Sang Dewa Gravitasi
51 Bab 51: Gaung Kehampaan dan Tuan Baru di Atas Awan
52 Bab 52: Suara Lonceng Emas dan Bayangan di Balik Daun
53 Bab 53: Bentrokan Petir dan Kilau Cermin Suci
54 Bab 54: Melodi dari Masa Lalu dan Cetak Biru Dewa
55 Bab 55: Seniman Keabadian dan Guncangan di Keadilan Absolut
56 Bab 56: Bayangan Sang Singa Emas dan Panggung Kehancuran
57 Bab 57: Musim Dingin di Atas Langit dan Runtuhnya Era Keemasan
58 Bab 58: Ilusi Sempurna dan Tirai Kaca Realitas
59 Bab 59: Cermin Retak di Atas Awan
60 Bab 60: Gelombang di Bawah Cakrawala dan Bayangan Rambut Merah
61 Bab 61: Benturan di Atas Permukaan Laut dan Senyuman Sang Kaisar
62 Bab 62: Tarian Benang Merah di Bawah Langit Senja
63 Bab 63: Ruang Bedah Kematian dan Kedinginan Bintang Kutub
64 Bab 64: Metropolis Air dan Ujian Sang Revolusioner
65 Bab 65: Jarum di Bawah Air dan Bayangan Agen Pembunuh
66 Bab 66: Jejak Kacamata Bulat di Kota Air
67 Bab 67: Pisau Bedah Chakra dan Panggung yang Disiapkan
68 Bab 68: Bayangan Jatuh di Pulau Tanpa Malam dan Lahirnya Baja Kematian
69 Bab 69: Mendidihnya Lautan Keadilan dan Runtuhnya Langit Pengadilan
70 Bab 70: Tiga Kutub Keadilan dan Runtuhnya Gerbang Neraka
71 Bab 71: Kabut Segitiga Kematian dan Bangkitnya Sistem Tahap Dua
72 Bab 72: Bayangan Suci di Atas Kabut Hitam
73 Bab 73: Ilusi Sang Ksatria dan Tirai Dimensi yang Terkoyak
74 Bab 74: Takhta Bayangan yang Runtuh dan Bergemanya Nama Sang Musuh Dunia
75 Bab 75: Tolakan Absolut dan Terbukanya Gerbang Kamui
76 Bab 76: Labirin Ruang di Atas Lautan Beku dan Fondasi Pohon Dunia
77 Bab 77: Hujan Energi di Atas Kayu Lapuk dan Tawa Sang Penguasa Kegelapan
78 Bab 78: Kilau Emas di Balik Kabut dan Senyuman Sang Pembuat Ilusi
79 Bab 79: Pertemuan Dua Jenius dan Meriam Kiamat yang Terbangun
80 Bab 80: Kiamat Plasma dan Turunnya Raja Segala Pahlawan
81 Bab 81: Simfoni Emas di Kepulauan Mangrove
82 Bab 82: Kesombongan Raja dan Langit Sabaody yang Runtuh
83 Bab 83: Penjara Bawah Laut dan Terompet Pasukan Raja Penakluk
84 Bab 84: Benturan Kiamat Tiga Arah dan Bangkitnya Sang Penguasa Bayangan
85 Bab 85: Kiamat yang Menggema dan Matahari Siang yang Membakar Lautan Es
86 Bab 86: Neraka yang Terbagi dan Kebangkitan Sang Penguasa Mutlak
87 Bab 87: Hantu dari Era Lampau dan Lonceng Kematian di Tepi Senja
88 Bab 88: Siang Paling Terang dan Pencuri di Dalam Gelap
89 Bab 89: Senyum Sang Penakluk dan Lautan yang Membatu
90 Bab 90: Senyum Sang Matahari dan Detak Jantung Kiamat di Bawah Es
91 Bab 91: Sang Naga Kiamat dan Mahakarya Pasir Merah
92 Bab 92: Kehancuran Mental dan Sang Penguasa Kematian Absolut
93 Bab 93: Cahaya Surgawi di Palung Kelam dan Kebangkitan Sang Dewa Perang
94 Bab 94: Dua Meteor di Atas Badai Petir dan Ratapan Para Komandan Kaisar
95 Bab 95: Benteng Petir Abadi dan Kebangkitan Sang Senjata Kiamat
96 Bab 96: Tarian Para Dewa dan Kehancuran Aliansi Dua Kaisar
97 Bab 97: Takhta Kosmik dan Kiamat Dua Kaisar
98 Bab 98: Kebangkitan Sang Senjata Kiamat dan Mata Takdir yang Melihat Masa Depan
99 Bab 99: Pembangkangan Terhadap Hukum Waktu dan Dua Penguasa Ketiadaan
100 Bab 100: Fajar Terakhir di Ujung Lautan dan Kunci Takhta Kosmik
101 Bab 101: Benturan Konsep Kosmik dan Awal Mula Realitas Baru
102 Bab 102: Reboot Sistem dan Sistem Puppet Tingkat Dewa!
103 Bab 103: Puppet Kapten Byakuya Kuchiki! Awal Pesta Berdarah di Kotak Pasir Shino
104 Bab 104: Satu Orang Melawan Sepuluh Ribu Pasukan!
105 Bab 105: Berhamburan, Senbonzakura!
106 Bab 105: Reaksi Iwagakure dan Panen Poin Pertama!
107 Bab 107: Puppet Kelas S, Enel!
108 Bab 108: Menambal Cacat Boneka dan Target Baru, Desa Kusagakure!
109 Bab 109: Shichibukai, Enel!
110 Bab 110: Menghancurkan Ambisi dan Kehendak Sang Dewa Petir!
111 Bab 111: Satu Pukulan, Satu Desa Hancur!
112 Bab 112: Puppet Ketiga, Sang Iblis Bulan Atas Kokushibo!
113 Bab 113: Pencapaian Spesial, Asal Usul Iblis Sempurna!
114 Bab 114: Agatsuma Zenitsu dan Item SSS-Rank!
115 Bab 115: Kedatangan Namikaze Minato!
116 Bab 116: Petualangan Aneh Namikaze Minato!
117 Bab 117: Kokushibo vs Namikaze Minato!
118 Bab 118: Membuka Gerbang Dunia Baru!
119 Bab 119: Namikaze Minato: Di Mana Seireitei? Di Mana Grand Line?
120 Bab 120: Diskusi Petinggi Konoha!
121 Bab 121: Perang Dunia Shinobi Ketiga Meletus!
122 Bab 122: Iblis Bulan Bawah dan Target Ichibi!
123 Bab 123: Penggerebekan Kuil Diming dan Iblis Bulan Bawah Ketiga!
124 Bab 124: Kartu As yang Ditinggalkan Kazekage Kedua!
125 Bab 125: Enel vs Boneka Kazekage!
126 Bab 126: Ichibi Shukaku, Aku Ambil Ini!
127 Bab 127: Puppet Baru, Crocodile dan Zaraki Kenpachi!
128 Bab 128: Zaraki Kenpachi dan Reaktor Energi Abadi!
129 Bab 129: Tiga Desa Ninja Berunding Damai?!
130 Bab 130: Skenario yang Terdistorsi!
131 Bab 131: Kekacauan Tiga Desa Ninja Besar, Uchiha Madara!
132 Bab 132: Shichibukai, Sir Crocodile!
133 Bab 133: Akulah Uchiha Madara!
134 Bab 134: Uchiha Madara: Aku Telah Melihat Segala Strategimu!
135 Bab 135: Izanagi Uchiha Madara dan Kedatangan Tiga Kage!
136 Bab 136: Skenario yang Terdistorsi! Tiga Bayangan Hadir, Madara Menanti
137 Bab 137: Reaksi Para Kage dan Bentrokan Dua Faksi!
138 Bab 138: Reaksi Para Kage dan Tabrakan Dua Faksi Besar!
139 Bab 139: Tabrakan Dua Faksi Utama dan Pengepungan Tiga Kage!
140 Bab 140: Mode Chakra Gaya Petir!
141 Bab 141: Pelepasan Reiatsu, Raikage yang Tertindas!
142 Bab 142: Penguasa Seireitei? Reio (Raja Roh)!
143 Bab 143: Beban Informasi Terlalu Masif, Ketiga Kage Terguncang!
144 Bab 144: Seluruh Dunia Ninja Harus Bersatu!
145 Bab 145: Tubuh Asura?
146 Bab 146: Fisik Senju Hashirama? Aku Sama Sekali Tidak Puas!
147 Bab 147: Boneka Tingkat SS, Empat Kaisar Kaido!
148 Bab 148: Negeri Hujan, Organisasi Akatsuki!
149 Bab 149: Hanzo, Kau Salah Paham, Aku Tidak Tertarik Padamu!
150 Bab 150: Empat Kaisar, Kaido si Binatang Buas!
151 Bab 151: Kaido vs Hanzo!
152 Bab 152: Bunuh Hanzo
153 Bab 153: Kaido Berdiri di Bulan!
154 Bab 154: Target Utama, Tenseigan Raksasa!
155 Bab 155: Kebangkitan Otsutsuki Hamura!
156 Bab 156: Benturan Puncak! Kehancuran di Permukaan Bulan!
157 Bab 157: Daya Hancur Mengerikan dari Kebangkitan Buah Iblis!
158 Bab 158: Musuh Berasal Dari Dunia Shinobi!?
159 Bab 159: Penguatan Abadi, Tenseigan!
160 DraBab 160: Kekuatan Mengerikan dari Mata Tenseigan!
161 Bab 161: Fitur Baru Sistem! Toko Poin!
162 Bab 162: Domain Boneka, Gunung Natagumo!
163 Bab 163: Teman Namikaze Minato!
164 Bab 164: Rengoku Kyojuro! Sarang Iblis?
165 Bab 165: Penemuan, Gunung Natagumo!
166 Bab 166: Keputusan Sarutobi!
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
2
Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
3
Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi
4
Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
5
Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya
6
Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental
7
Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir
8
Bab 8: Pencuri Takdir dan Manipulator Absolut
9
Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api
10
Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
11
Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
12
Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang
13
Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang
14
Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
15
Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
16
Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park
17
Bab 17: Runtuhnya Kerajaan Hiu dan Deklarasi Erebus
18
Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda
19
Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga
20
Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut
21
Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
22
Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian
23
Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
24
Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa
25
Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit
26
Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit
27
Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang
28
Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana
29
Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
30
Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan
31
Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
32
Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba
33
Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak
34
Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
35
Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca
36
Bab 36: Hujan di Sarang Buaya dan Mundurnya Sang Raja Pasir
37
Bab 37: Langit Alubarna yang Berdarah dan Langkah Sang Dalang
38
Bab 38: Kaca di Atas Pasir dan Benturan Dua Penguasa
39
Bab 39: Tetesan Air dan Pergeseran Papan Catur
40
Bab 40: Tangan Iblis dan Runtuhnya Sejarah
41
Bab 41: Pukulan Mutlak dan Keruntuhan Makam Kerajaan
42
Bab 42: Tirai Terakhir Sang Buaya Pasir
43
Bab 43: Hujan Manipulasi dan Panggilan Sang Joker
44
Bab 44: Sinyal dari Dunia Bawah dan Tiket Emas Menuju Takdir
45
Bab 45: Raksasa di Balik Kabut dan Monster Berekspresi Kosong
46
Bab 46: Bayangan Kegelapan dan Roti Ceri yang Menetes
47
Bab 47: Retakan di Hutan Belantara dan Ekspansi Sang Dalang
48
Bab 48: Bayangan Strategis dan Tiket Perak di Bawah Langit Jaya
49
Bab 49: Benturan Dua Kekuatan Mutlak: Amaterasu vs. Aokiji
50
Bab 50: Komet Emas di Tengah Pusaran dan Sang Dewa Gravitasi
51
Bab 51: Gaung Kehampaan dan Tuan Baru di Atas Awan
52
Bab 52: Suara Lonceng Emas dan Bayangan di Balik Daun
53
Bab 53: Bentrokan Petir dan Kilau Cermin Suci
54
Bab 54: Melodi dari Masa Lalu dan Cetak Biru Dewa
55
Bab 55: Seniman Keabadian dan Guncangan di Keadilan Absolut
56
Bab 56: Bayangan Sang Singa Emas dan Panggung Kehancuran
57
Bab 57: Musim Dingin di Atas Langit dan Runtuhnya Era Keemasan
58
Bab 58: Ilusi Sempurna dan Tirai Kaca Realitas
59
Bab 59: Cermin Retak di Atas Awan
60
Bab 60: Gelombang di Bawah Cakrawala dan Bayangan Rambut Merah
61
Bab 61: Benturan di Atas Permukaan Laut dan Senyuman Sang Kaisar
62
Bab 62: Tarian Benang Merah di Bawah Langit Senja
63
Bab 63: Ruang Bedah Kematian dan Kedinginan Bintang Kutub
64
Bab 64: Metropolis Air dan Ujian Sang Revolusioner
65
Bab 65: Jarum di Bawah Air dan Bayangan Agen Pembunuh
66
Bab 66: Jejak Kacamata Bulat di Kota Air
67
Bab 67: Pisau Bedah Chakra dan Panggung yang Disiapkan
68
Bab 68: Bayangan Jatuh di Pulau Tanpa Malam dan Lahirnya Baja Kematian
69
Bab 69: Mendidihnya Lautan Keadilan dan Runtuhnya Langit Pengadilan
70
Bab 70: Tiga Kutub Keadilan dan Runtuhnya Gerbang Neraka
71
Bab 71: Kabut Segitiga Kematian dan Bangkitnya Sistem Tahap Dua
72
Bab 72: Bayangan Suci di Atas Kabut Hitam
73
Bab 73: Ilusi Sang Ksatria dan Tirai Dimensi yang Terkoyak
74
Bab 74: Takhta Bayangan yang Runtuh dan Bergemanya Nama Sang Musuh Dunia
75
Bab 75: Tolakan Absolut dan Terbukanya Gerbang Kamui
76
Bab 76: Labirin Ruang di Atas Lautan Beku dan Fondasi Pohon Dunia
77
Bab 77: Hujan Energi di Atas Kayu Lapuk dan Tawa Sang Penguasa Kegelapan
78
Bab 78: Kilau Emas di Balik Kabut dan Senyuman Sang Pembuat Ilusi
79
Bab 79: Pertemuan Dua Jenius dan Meriam Kiamat yang Terbangun
80
Bab 80: Kiamat Plasma dan Turunnya Raja Segala Pahlawan
81
Bab 81: Simfoni Emas di Kepulauan Mangrove
82
Bab 82: Kesombongan Raja dan Langit Sabaody yang Runtuh
83
Bab 83: Penjara Bawah Laut dan Terompet Pasukan Raja Penakluk
84
Bab 84: Benturan Kiamat Tiga Arah dan Bangkitnya Sang Penguasa Bayangan
85
Bab 85: Kiamat yang Menggema dan Matahari Siang yang Membakar Lautan Es
86
Bab 86: Neraka yang Terbagi dan Kebangkitan Sang Penguasa Mutlak
87
Bab 87: Hantu dari Era Lampau dan Lonceng Kematian di Tepi Senja
88
Bab 88: Siang Paling Terang dan Pencuri di Dalam Gelap
89
Bab 89: Senyum Sang Penakluk dan Lautan yang Membatu
90
Bab 90: Senyum Sang Matahari dan Detak Jantung Kiamat di Bawah Es
91
Bab 91: Sang Naga Kiamat dan Mahakarya Pasir Merah
92
Bab 92: Kehancuran Mental dan Sang Penguasa Kematian Absolut
93
Bab 93: Cahaya Surgawi di Palung Kelam dan Kebangkitan Sang Dewa Perang
94
Bab 94: Dua Meteor di Atas Badai Petir dan Ratapan Para Komandan Kaisar
95
Bab 95: Benteng Petir Abadi dan Kebangkitan Sang Senjata Kiamat
96
Bab 96: Tarian Para Dewa dan Kehancuran Aliansi Dua Kaisar
97
Bab 97: Takhta Kosmik dan Kiamat Dua Kaisar
98
Bab 98: Kebangkitan Sang Senjata Kiamat dan Mata Takdir yang Melihat Masa Depan
99
Bab 99: Pembangkangan Terhadap Hukum Waktu dan Dua Penguasa Ketiadaan
100
Bab 100: Fajar Terakhir di Ujung Lautan dan Kunci Takhta Kosmik
101
Bab 101: Benturan Konsep Kosmik dan Awal Mula Realitas Baru
102
Bab 102: Reboot Sistem dan Sistem Puppet Tingkat Dewa!
103
Bab 103: Puppet Kapten Byakuya Kuchiki! Awal Pesta Berdarah di Kotak Pasir Shino
104
Bab 104: Satu Orang Melawan Sepuluh Ribu Pasukan!
105
Bab 105: Berhamburan, Senbonzakura!
106
Bab 105: Reaksi Iwagakure dan Panen Poin Pertama!
107
Bab 107: Puppet Kelas S, Enel!
108
Bab 108: Menambal Cacat Boneka dan Target Baru, Desa Kusagakure!
109
Bab 109: Shichibukai, Enel!
110
Bab 110: Menghancurkan Ambisi dan Kehendak Sang Dewa Petir!
111
Bab 111: Satu Pukulan, Satu Desa Hancur!
112
Bab 112: Puppet Ketiga, Sang Iblis Bulan Atas Kokushibo!
113
Bab 113: Pencapaian Spesial, Asal Usul Iblis Sempurna!
114
Bab 114: Agatsuma Zenitsu dan Item SSS-Rank!
115
Bab 115: Kedatangan Namikaze Minato!
116
Bab 116: Petualangan Aneh Namikaze Minato!
117
Bab 117: Kokushibo vs Namikaze Minato!
118
Bab 118: Membuka Gerbang Dunia Baru!
119
Bab 119: Namikaze Minato: Di Mana Seireitei? Di Mana Grand Line?
120
Bab 120: Diskusi Petinggi Konoha!
121
Bab 121: Perang Dunia Shinobi Ketiga Meletus!
122
Bab 122: Iblis Bulan Bawah dan Target Ichibi!
123
Bab 123: Penggerebekan Kuil Diming dan Iblis Bulan Bawah Ketiga!
124
Bab 124: Kartu As yang Ditinggalkan Kazekage Kedua!
125
Bab 125: Enel vs Boneka Kazekage!
126
Bab 126: Ichibi Shukaku, Aku Ambil Ini!
127
Bab 127: Puppet Baru, Crocodile dan Zaraki Kenpachi!
128
Bab 128: Zaraki Kenpachi dan Reaktor Energi Abadi!
129
Bab 129: Tiga Desa Ninja Berunding Damai?!
130
Bab 130: Skenario yang Terdistorsi!
131
Bab 131: Kekacauan Tiga Desa Ninja Besar, Uchiha Madara!
132
Bab 132: Shichibukai, Sir Crocodile!
133
Bab 133: Akulah Uchiha Madara!
134
Bab 134: Uchiha Madara: Aku Telah Melihat Segala Strategimu!
135
Bab 135: Izanagi Uchiha Madara dan Kedatangan Tiga Kage!
136
Bab 136: Skenario yang Terdistorsi! Tiga Bayangan Hadir, Madara Menanti
137
Bab 137: Reaksi Para Kage dan Bentrokan Dua Faksi!
138
Bab 138: Reaksi Para Kage dan Tabrakan Dua Faksi Besar!
139
Bab 139: Tabrakan Dua Faksi Utama dan Pengepungan Tiga Kage!
140
Bab 140: Mode Chakra Gaya Petir!
141
Bab 141: Pelepasan Reiatsu, Raikage yang Tertindas!
142
Bab 142: Penguasa Seireitei? Reio (Raja Roh)!
143
Bab 143: Beban Informasi Terlalu Masif, Ketiga Kage Terguncang!
144
Bab 144: Seluruh Dunia Ninja Harus Bersatu!
145
Bab 145: Tubuh Asura?
146
Bab 146: Fisik Senju Hashirama? Aku Sama Sekali Tidak Puas!
147
Bab 147: Boneka Tingkat SS, Empat Kaisar Kaido!
148
Bab 148: Negeri Hujan, Organisasi Akatsuki!
149
Bab 149: Hanzo, Kau Salah Paham, Aku Tidak Tertarik Padamu!
150
Bab 150: Empat Kaisar, Kaido si Binatang Buas!
151
Bab 151: Kaido vs Hanzo!
152
Bab 152: Bunuh Hanzo
153
Bab 153: Kaido Berdiri di Bulan!
154
Bab 154: Target Utama, Tenseigan Raksasa!
155
Bab 155: Kebangkitan Otsutsuki Hamura!
156
Bab 156: Benturan Puncak! Kehancuran di Permukaan Bulan!
157
Bab 157: Daya Hancur Mengerikan dari Kebangkitan Buah Iblis!
158
Bab 158: Musuh Berasal Dari Dunia Shinobi!?
159
Bab 159: Penguatan Abadi, Tenseigan!
160
DraBab 160: Kekuatan Mengerikan dari Mata Tenseigan!
161
Bab 161: Fitur Baru Sistem! Toko Poin!
162
Bab 162: Domain Boneka, Gunung Natagumo!
163
Bab 163: Teman Namikaze Minato!
164
Bab 164: Rengoku Kyojuro! Sarang Iblis?
165
Bab 165: Penemuan, Gunung Natagumo!
166
Bab 166: Keputusan Sarutobi!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!