Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua

Nyala api dari sisa-sisa bangunan yang terbakar memantulkan cahaya merah berkelebat di atas permukaan genangan air di alun-alun Pulau Toroa. Asap tipis mengepul dari reruntuhan markas darurat, sementara para prajurit Angkatan Laut di bawah pimpinan Letnan Roka masih tertegun, menatap sosok raksasa Kapten Barts yang terkapar tak berdaya di tanah.

Namun, ketegangan itu tidak mereda. Udara justru semakin menipis, seolah tersedot oleh kehadiran seorang pemuda berambut hijau lumut yang berdiri dengan postur santai namun penuh ancaman di ujung jalan.

Roronoa Zoro. Sang Pemburu Bajak Laut.

Tiga bilah katana tersarung rapi di sisi kanan pinggangnya, terikat erat oleh *haramaki* hijau. Mata tajam bagaikan binatang buas miliknya menatap lurus ke arah Giyu Tomioka. Tidak ada rasa gentar melihat pemandangan mengerikan di sekelilingnya—hanya ada binar antusiasme yang membara di dalam diri seorang pendekar yang selalu haus akan pertarungan melawan yang kuat.

"Aku tidak peduli dengan bajak laut gendut itu," gumam Zoro pelan, suaranya terdengar berat dan tegas di tengah kesunyian malam. Ia melangkah maju perlahan, bunyi sepatu botnya beradu dengan batu jalanan terdengar ritmis. "Yang kutarik minatnya adalah tebasanmu tadi. Gerakan itu... bersih, tanpa keraguan, dan memiliki beban yang tidak biasa."

Zoro meletakkan tangan kanannya di atas gagang pedang utamanya, *Wado Ichimonji*, sementara dua tangan lainnya bersiap memegang sisa katana standar di pinggangnya. Aura tajam mulai terpancar dari tubuh pemuda berambut hijau itu, sebuah manifestasi dari tekad baja seorang pria yang bercita-cita menjadi pendekar pedang terkuat di dunia.

Di atas menara lonceng tua yang terletak di seberang alun-alun, tersembunyi dalam kegelapan dan bayang-bayang, Muzan Kibutsi mengawasi semuanya melalui sudut pandang *dual-vision* Giyu.

Muzan mengerutkan keningnya tipis. Sakit kepala akibat transfer kesadaran tingkat lanjut tadi masih menyisakan denyutan kecil di pelipisnya.

*Roronoa Zoro,* batin Muzan menganalisis dengan dingin. *Berdasarkan timeline canon, dia seharusnya sudah bergabung dengan kelompok Monkey D. Luffy. Kenapa dia ada di sini sendirian? Ah, kemungkinan besar mereka terpisah saat kekacauan di pelabuhan atau dia sedang berjalan-jalan sendiri untuk mencari makanan atau pedang baru. Apapun alasannya, pria ini adalah salah satu variabel berbahaya di East Blue.*

Secara kekuatan fisik dan teknik, Zoro pada tahap ini (setelah insiden Arlong Park) adalah salah satu manusia terkuat di lautan timur. Mengadunya dengan Giyu Tomioka akan menjadi tontonan spektakuler, namun Muzan bukanlah tipe orang yang mengambil risiko yang tidak perlu jika tidak ada keuntungan finansial atau strategis di baliknya.

Namun, tepat saat Muzan hendak membuat Giyu mundur atau menghindari konfrontasi yang tidak penting itu, sebuah notifikasi sistem berkedip terang di sudut pandang mentalnya.

«"DING!"»

«"Misi Tersembunyi Terpicu: Benturan Takdir Para Pendekar Pedang."»

«"Tujuan: Hadapi atau kalahkan Roronoa Zoro dalam duel pedang."»

«"Hadiah Penyelesaian Misi: 1 Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu), 100.000 Belly, dan Peningkatan Daya Tahan Boneka +10%."»

Mata hitam Muzan melebar sedetik. *Tiket Gacha Karakter Kuat.* Hadiah itu bernilai setara dengan tarikan 100.000 Belly di sistem. Di dunia di mana setiap sen sangat berharga untuk membangun pasukan, melewatkan kesempatan mendapatkan tiket tingkat tinggi secara cuma-cuma adalah sebuah kebodohan.

Terlebih lagi, sistem baru saja memberikannya peningkatan kapasitas: ia kini dapat mengendalikan **dua boneka secara bersamaan**.

Sebuah seringai tipis terukir di bibir pucat Muzan yang tersembunyi di dalam kegelapan menara.

"Kapasitas dua slot... dan aku masih menyimpan tiga Tiket Gacha Karakter Menengah dari misi sebelumnya di inventory," gumam Muzan pelan di dalam hatinya. "Mari kita uji batas sistem ini."

Ia memfokuskan pikirannya ke dalam tab **[Inventory]**. Di sana, tiga buah tiket berwarna hijau perak tersusun rapi.

"Sistem, gunakan satu Tiket Gacha Karakter Menengah sekarang."

Di dalam ruang mentalnya, roda roulette berputar cepat. Warna hijau dan biru berbaur, sebelum akhirnya jarum penunjuk berhenti dengan bunyi *klik* pada warna biru terang—tingkat Menengah Atas.

«"DING!"»

«"Gacha Selesai. Selamat, Host mendapatkan Boneka Tingkat Menengah (Tier Biru)!"»

«"Mengekstrak data karakter... Menyesuaikan dengan hukum fisika dunia One Piece..."»

«"Ekstraksi selesai."»

Sebuah kartu holografik melayang di hadapan kesadaran Muzan. Di atas kartu itu tergambar seorang pemuda berambut kuning cerah dengan garis merah, mengenakan seragam pemburu iblis berwarna cokelat gelap, serta *haori* segitiga berwarna kuning terang. Di pinggangnya tersarung sebuah pedang bermata nichirin dengan pola petir.

«"Boneka Diperoleh: Zenitsu Agatsuma"»

«"Asal Dunia: Demon Slayer (Kimetsu no Yaiba)"»

«"Afiliasi Asli: Demon Slayer Corps"»

«"Gaya Bertarung: Thunder Breathing (Pernapasan Petir - Bentuk Pertama: Thunderclap and Flash)"»

«"Status Boneka: Tersimpan di [Puppet Storage]"»

Muzan sedikit tertegun, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh perhitungan. *Zenitsu Agatsuma. Pendekar yang hanya menguasai satu bentuk pernapasan, namun bentuk pertama itu memiliki kecepatan setara kilat yang melampaui batas mata manusia normal jika ia berada dalam kondisi tidak sadar—atau dalam kasus ini, dikendalikan secara mutlak oleh sistem.*

Dengan dua boneka di tangannya—Giyu yang memiliki fleksibilitas pertahanan dan serangan menyeluruh, serta Zenitsu yang memiliki kecepatan ledakan tunggal yang mengerikan—Muzan memiliki kombinasi taktis yang sempurna.

"Keluarkan Zenitsu Agatsuma," perintah Muzan dalam hati.

Di samping tubuh asli Muzan yang duduk di lantai menara lonceng, partikel cahaya biru berkumpul, membentuk sosok pemuda berambut kuning yang tertidur lelap dengan posisi berdiri. Ya, Zenitsu dipanggil dalam kondisi tertidur (kondisi di mana potensi sejatinya aktif), dan karena dikendalikan oleh Muzan, ia tidak akan rewel atau menangis ketakutan seperti sifat aslinya di anime. Ia adalah boneka patuh yang siap meledak dalam kecepatan cahaya kapan saja.

Muzan membagi kesadarannya menjadi tiga bagian: 5% untuk menjaga tubuh aslinya, 45% untuk mengendalikan Giyu di alun-alun, dan 50% untuk mengendalikan Zenitsu yang berada di dekatnya. Sensasi pusing sempat menghantam kepalanya, namun dengan ketahanan mentalnya yang tinggi, ia berhasil mengatasinya.

Kembali ke alun-alun Pulau Toroa.

Zoro berdiri hanya berjarak lima meter dari Giyu Tomioka. Angin malam meniup rambut hijau lumutnya.

"Kau tidak berniat mencabut pedangmu?" tanya Zoro menyipitkan mata, merasa sedikit tersinggung karena Giyu tetap membiarkan tangan kanannya bersandar santai di dekat gagang pedang tanpa berniat mengambil sikap bertarung yang serius.

Melalui kendali Muzan, Giyu membuka mulutnya. Suaranya datar dan dingin menusuk udara malam.

"Jika kau ingin melihatnya, cabut tiga pedangmu dan tunjukkan padaku apa yang bisa kau lakukan."

Seringai di wajah Zoro melebar hingga memperlihatkan deretan giginya. "Sombong sekali... Aku suka itu!"

*SRAATT!*

Zoro menarik ketiga pedangnya sekaligus dalam satu gerakan fluid yang sangat terlatih. *Wado Ichimonji* digigit di antara giginya, sementara dua katana standar di tangan kanan dan kirinya diangkat membentuk posisi diagonal yang khas. Tiga gaya pedang—*Santoryu*.

Tekanan udara di sekitar mereka mendadak berubah berat. Letnan Roka dan para prajurit Angkatan Laut yang menonton dari pinggir lapangan harus mundur beberapa langkah karena tidak tahan dengan aura tekanan psikologis yang dipancarkan oleh dua pendekar pedang tersebut.

"Jangan berkedip," bisik Zoro pada dirinya sendiri.

**"Santoryu Ogi: San-zen Sekai (Three Thousand Worlds)!"**

Zoro melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Kakinya menghantam tanah hingga batu-batu kecil berhamburan ke udara. Tiga bilah pedangnya berputar cepat bagaikan baling-baling helikopter, menciptakan bilah angin tajam yang mengarah langsung untuk merobek tubuh Giyu menjadi serpihan kecil.

Di mata orang biasa, serangan itu tidak terlihat selain kilatan cahaya perak yang menyilaukan.

Namun di mata Muzan yang mengendalikan Giyu, gerakan itu terpetik jelas dalam bingkai demi bingkai.

*Kecepatan tinggi, momentum putaran yang sempurna, memanfaatkan kekuatan otot dada dan bahu secara maksimal,* analisis Muzan dalam sepersekian detik. *Tapi sudut serangannya memiliki sedikit celah di sisi kiri bawah.*

"Giyu," perintah Muzan dalam benaknya.

**"Pernapasan Air, Bentuk Kelima: Musim Dingin

yang Berkah (Blessed Rain After the Drought)."**

Giyu bergerak. Gerakannya tidak lagi agresif seperti saat melawan Barts, melainkan berubah menjadi gerakan yang sangat anggun dan pasrah—sebuah tebasan pedang yang dirancang khusus untuk menghentikan pertarungan tanpa rasa sakit ketika musuh menyerah atau menyerang dengan niat murni.

Bilah *Nichirin* biru milik Giyu terayun lembut, membelah angin puting beliung dari teknik *San-zen Sekai* milik Zoro.

*CLANG! CLANG! CLANCING!*

Suara benturan logam bergemang nyaring memecah malam. Percikan bunga api menyembur liar di titik pertemuan pedang mereka.

Zoro melebarkan matanya. Saat tiga bilah pedangnya berbenturan dengan pedang tunggal milik Giyu, ia merasakan gelombang tenaga yang luar biasa besar dan padat, seolah-olah ia sedang mencoba menebas aliran air terjun yang kokoh. Setiap kali ia mencoba menekan lebih dalam, energi dari pedang Giyu memantulkan kembali tekanannya dengan presisi mutlak.

*Kekuatan apa ini?!* batin Zoro terkejut. *Dia hanya menggunakan satu pedang, tapi rasanya aku sedang melawan dinding besi yang mengalir!*

Mereka berdua saling dorong selama beberapa detik, menciptakan gelombang kejut kecil yang menyapu debu di sekeliling mereka.

"Kau lumayan juga, Pendekar Berhaori," geram Zoro dari balik giginya yang menggigit *Wado Ichimonji*.

"Kau juga tidak buruk," jawab Giyu datar, suaranya tetap tenang tanpa sedikit pun perubahan napas.

Muzan, yang mengawasi dari menara, menyadari satu hal. Jika pertarungan ini dibiarkan berlarut-larut secara seimbang, itu hanya akan membuang energi dan menarik perhatian lebih banyak orang dari Angkatan Laut atau bajak laut lain yang mungkin mendengar keributan ini. Ia harus mengakhiri tes ini dengan cepat, sekaligus menyelesaikan misi sistem.

Di sinilah kartu as keduanya masuk.

Di atas menara lonceng yang gelap, tubuh Zenitsu Agatsuma yang tadinya berdiri tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata madu itu tertutup rapat oleh bayangan rambut kuningnya, namun postur tubuhnya berubah kaku. Seluruh otot di kakinya menegang secara drastis, bersiap melepaskan energi potensial yang masif.

Muzan mengalihkan sebagian besar fokus mentalnya ke tubuh Zenitsu.

*Giyu akan memicu jarak. Zenitsu akan mengeksekusi penutup,* rancang Muzan dalam otaknya yang dingin.

Di alun-alun bawah, Giyu tiba-tiba melompat mundur sejauh tiga meter dengan gerakan melayang yang ringan, memutuskan kontak pedang dengan Zoro.

Zoro, yang kehilangan keseimbangan sejenak akibat dorongan mendadak itu, mengerutkan kening. "Mau lari?" teriaknya, bersiap mengejar.

Namun, sebelum kaki Zoro sempat melangkah maju, sebuah suara sambaran angin yang sangat aneh dan tajam terdengar dari arah kegelapan menara lonceng di atas gereja seberang.

Suara itu mirip dengan suara petir yang menyambar bumi di tengah badai, disertai kilatan cahaya kuning terang yang menyilaukan mata seluruh orang yang hadir di alun-alun.

*ZZZZTTTT—BAMMM!*

Belum sempat Zoro memproses apa yang terjadi, sebuah bayangan kuning telah melesat menembus udara dalam garis lurus sempurna dengan kecepatan yang melampaui akal sehat manusia. Itu bukan lagi kecepatan lari; itu adalah teleportasi berbasis momentum petir.

**"Pernapasan Petir, Bentuk Pertama: Petir Kilat dan Kilatan (Hekireki Issen)!"**

Zenitsu Agatsuma—yang sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan—melesat turun dari menara lonceng, melintasi jarak ratusan meter dalam waktu kurang dari satu detik, dan melintas tepat di sebelah Zoro.

Zoro merasakan hembusan angin yang begitu tajam hingga pipinya terasa tersayat. Insting bertahan hidupnya yang sangat tajam menjerit ketakutan. Tanpa sadar, Zoro memutar tubuhnya dan mengangkat *Wado Ichimonji* ke samping untuk menangkis bayangan kuning yang lewat.

*CLANG!*

Sebuah benturan keras terjadi. Zenitsu mendarat dengan mulus di tanah berjarak dua meter di belakang Zoro, pedangnya masih tersarung setengah di pinggangnya, sementara asap tipis mengepul dari bilahnya akibat gesekan kecepatan tinggi.

Zoro terdiam kaku di tempatnya. Ia berdiri mematung dengan posisi setengah berputar.

Beberapa detik kemudian, tali ikatan *haramaki* hijau di pinggang Zoro terpotong rapi menjadi dua, dan sehelai rambut hijau dari poninya terkelupas melayang jatuh ke tanah.

Zoro menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya membasahi lehernya. Ia tidak melihat gerakan pemuda berambut kuning itu saat melompat dari menara. Ia hanya melihat kilatan petir, dan dalam sepersekian detik itu, lehernya atau perutnya sebenarnya bisa ditebas jika pemuda itu berniat membunuhnya.

Letnan Roka dan para prajurit Angkatan Laut di pinggir lapangan jatuh berlutut karena shock. Dua monster pendekar pedang dalam satu malam? Dari mana asal para pria aneh ini?!

Di atas menara lonceng, Muzan menghela napas lega. Sinkronisasi dua boneka sekaligus menguras kapasitas mentalnya, namun hasilnya sempurna.

Sebuah layar holografik biru terang langsung muncul di hadapan Muzan.

«"DING!"»

«"Misi Selesai: Benturan Takdir Para Pendekar Pedang."»

«"Evaluasi: Pertunjukan taktis yang luar biasa. Menggunakan dua boneka untuk mendominasi medan pertempuran."»

«"Hadiah didistribusikan: 1 Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu), 100.000 Belly, Peningkatan Daya Tahan Boneka +10%."»

Muzan menutup panel sistemnya sejenak. Ia melihat ke arah alun-alun bawah melalui mata Zenitsu dan Giyu.

Zoro perlahan menurunkan pedangnya, lalu menoleh ke belakang, menatap tajam ke arah Zenitsu yang berdiri kaku, dan kemudian beralih ke Giyu yang berdiri tenang di dekatnya. Seringai di wajah Zoro perlahan berubah menjadi senyuman tipis penuh rasa hormat dan penasaran yang membuncah.

"Kalian..." Zoro tertawa kecil, meski napasnya masih sedikit terengah-engah. "Kalian benar-benar kumpulan monster yang tidak masuk akal. Siapa sebenarnya master di balik kalian?"

Baik Giyu maupun Zenitsu tidak menjawab. Mereka tetap berdiri diam tanpa emosi, menunggu perintah selanjutnya dari dalang yang bersembunyi di dalam kegelapan menara.

Episodes
1 Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
2 Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
3 Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi
4 Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
5 Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya
6 Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental
7 Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir
8 Bab 8: Pencuri Takdir dan Manipulator Absolut
9 Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api
10 Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
11 Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
12 Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang
13 Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang
14 Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
15 Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
16 Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park
17 Bab 17: Runtuhnya Kerajaan Hiu dan Deklarasi Erebus
18 Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda
19 Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga
20 Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut
21 Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
22 Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian
23 Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
24 Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa
25 Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit
26 Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit
27 Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang
28 Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana
29 Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
30 Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan
31 Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
32 Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba
33 Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak
34 Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
35 Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca
36 Bab 36: Hujan di Sarang Buaya dan Mundurnya Sang Raja Pasir
37 Bab 37: Langit Alubarna yang Berdarah dan Langkah Sang Dalang
38 Bab 38: Kaca di Atas Pasir dan Benturan Dua Penguasa
39 Bab 39: Tetesan Air dan Pergeseran Papan Catur
40 Bab 40: Tangan Iblis dan Runtuhnya Sejarah
41 Bab 41: Pukulan Mutlak dan Keruntuhan Makam Kerajaan
42 Bab 42: Tirai Terakhir Sang Buaya Pasir
43 Bab 43: Hujan Manipulasi dan Panggilan Sang Joker
44 Bab 44: Sinyal dari Dunia Bawah dan Tiket Emas Menuju Takdir
45 Bab 45: Raksasa di Balik Kabut dan Monster Berekspresi Kosong
46 Bab 46: Bayangan Kegelapan dan Roti Ceri yang Menetes
47 Bab 47: Retakan di Hutan Belantara dan Ekspansi Sang Dalang
48 Bab 48: Bayangan Strategis dan Tiket Perak di Bawah Langit Jaya
49 Bab 49: Benturan Dua Kekuatan Mutlak: Amaterasu vs. Aokiji
50 Bab 50: Komet Emas di Tengah Pusaran dan Sang Dewa Gravitasi
51 Bab 51: Gaung Kehampaan dan Tuan Baru di Atas Awan
52 Bab 52: Suara Lonceng Emas dan Bayangan di Balik Daun
53 Bab 53: Bentrokan Petir dan Kilau Cermin Suci
54 Bab 54: Melodi dari Masa Lalu dan Cetak Biru Dewa
55 Bab 55: Seniman Keabadian dan Guncangan di Keadilan Absolut
56 Bab 56: Bayangan Sang Singa Emas dan Panggung Kehancuran
57 Bab 57: Musim Dingin di Atas Langit dan Runtuhnya Era Keemasan
58 Bab 58: Ilusi Sempurna dan Tirai Kaca Realitas
59 Bab 59: Cermin Retak di Atas Awan
60 Bab 60: Gelombang di Bawah Cakrawala dan Bayangan Rambut Merah
61 Bab 61: Benturan di Atas Permukaan Laut dan Senyuman Sang Kaisar
62 Bab 62: Tarian Benang Merah di Bawah Langit Senja
63 Bab 63: Ruang Bedah Kematian dan Kedinginan Bintang Kutub
64 Bab 64: Metropolis Air dan Ujian Sang Revolusioner
65 Bab 65: Jarum di Bawah Air dan Bayangan Agen Pembunuh
66 Bab 66: Jejak Kacamata Bulat di Kota Air
67 Bab 67: Pisau Bedah Chakra dan Panggung yang Disiapkan
68 Bab 68: Bayangan Jatuh di Pulau Tanpa Malam dan Lahirnya Baja Kematian
69 Bab 69: Mendidihnya Lautan Keadilan dan Runtuhnya Langit Pengadilan
70 Bab 70: Tiga Kutub Keadilan dan Runtuhnya Gerbang Neraka
71 Bab 71: Kabut Segitiga Kematian dan Bangkitnya Sistem Tahap Dua
72 Bab 72: Bayangan Suci di Atas Kabut Hitam
73 Bab 73: Ilusi Sang Ksatria dan Tirai Dimensi yang Terkoyak
74 Bab 74: Takhta Bayangan yang Runtuh dan Bergemanya Nama Sang Musuh Dunia
75 Bab 75: Tolakan Absolut dan Terbukanya Gerbang Kamui
76 Bab 76: Labirin Ruang di Atas Lautan Beku dan Fondasi Pohon Dunia
77 Bab 77: Hujan Energi di Atas Kayu Lapuk dan Tawa Sang Penguasa Kegelapan
78 Bab 78: Kilau Emas di Balik Kabut dan Senyuman Sang Pembuat Ilusi
79 Bab 79: Pertemuan Dua Jenius dan Meriam Kiamat yang Terbangun
80 Bab 80: Kiamat Plasma dan Turunnya Raja Segala Pahlawan
81 Bab 81: Simfoni Emas di Kepulauan Mangrove
82 Bab 82: Kesombongan Raja dan Langit Sabaody yang Runtuh
83 Bab 83: Penjara Bawah Laut dan Terompet Pasukan Raja Penakluk
84 Bab 84: Benturan Kiamat Tiga Arah dan Bangkitnya Sang Penguasa Bayangan
85 Bab 85: Kiamat yang Menggema dan Matahari Siang yang Membakar Lautan Es
86 Bab 86: Neraka yang Terbagi dan Kebangkitan Sang Penguasa Mutlak
87 Bab 87: Hantu dari Era Lampau dan Lonceng Kematian di Tepi Senja
88 Bab 88: Siang Paling Terang dan Pencuri di Dalam Gelap
89 Bab 89: Senyum Sang Penakluk dan Lautan yang Membatu
90 Bab 90: Senyum Sang Matahari dan Detak Jantung Kiamat di Bawah Es
91 Bab 91: Sang Naga Kiamat dan Mahakarya Pasir Merah
92 Bab 92: Kehancuran Mental dan Sang Penguasa Kematian Absolut
93 Bab 93: Cahaya Surgawi di Palung Kelam dan Kebangkitan Sang Dewa Perang
94 Bab 94: Dua Meteor di Atas Badai Petir dan Ratapan Para Komandan Kaisar
95 Bab 95: Benteng Petir Abadi dan Kebangkitan Sang Senjata Kiamat
96 Bab 96: Tarian Para Dewa dan Kehancuran Aliansi Dua Kaisar
97 Bab 97: Takhta Kosmik dan Kiamat Dua Kaisar
98 Bab 98: Kebangkitan Sang Senjata Kiamat dan Mata Takdir yang Melihat Masa Depan
99 Bab 99: Pembangkangan Terhadap Hukum Waktu dan Dua Penguasa Ketiadaan
100 Bab 100: Fajar Terakhir di Ujung Lautan dan Kunci Takhta Kosmik
101 Bab 101: Benturan Konsep Kosmik dan Awal Mula Realitas Baru
102 Bab 102: Reboot Sistem dan Sistem Puppet Tingkat Dewa!
103 Bab 103: Puppet Kapten Byakuya Kuchiki! Awal Pesta Berdarah di Kotak Pasir Shino
104 Bab 104: Satu Orang Melawan Sepuluh Ribu Pasukan!
105 Bab 105: Berhamburan, Senbonzakura!
106 Bab 105: Reaksi Iwagakure dan Panen Poin Pertama!
107 Bab 107: Puppet Kelas S, Enel!
108 Bab 108: Menambal Cacat Boneka dan Target Baru, Desa Kusagakure!
109 Bab 109: Shichibukai, Enel!
110 Bab 110: Menghancurkan Ambisi dan Kehendak Sang Dewa Petir!
111 Bab 111: Satu Pukulan, Satu Desa Hancur!
112 Bab 112: Puppet Ketiga, Sang Iblis Bulan Atas Kokushibo!
113 Bab 113: Pencapaian Spesial, Asal Usul Iblis Sempurna!
114 Bab 114: Agatsuma Zenitsu dan Item SSS-Rank!
115 Bab 115: Kedatangan Namikaze Minato!
116 Bab 116: Petualangan Aneh Namikaze Minato!
117 Bab 117: Kokushibo vs Namikaze Minato!
118 Bab 118: Membuka Gerbang Dunia Baru!
119 Bab 119: Namikaze Minato: Di Mana Seireitei? Di Mana Grand Line?
120 Bab 120: Diskusi Petinggi Konoha!
121 Bab 121: Perang Dunia Shinobi Ketiga Meletus!
122 Bab 122: Iblis Bulan Bawah dan Target Ichibi!
123 Bab 123: Penggerebekan Kuil Diming dan Iblis Bulan Bawah Ketiga!
124 Bab 124: Kartu As yang Ditinggalkan Kazekage Kedua!
125 Bab 125: Enel vs Boneka Kazekage!
126 Bab 126: Ichibi Shukaku, Aku Ambil Ini!
127 Bab 127: Puppet Baru, Crocodile dan Zaraki Kenpachi!
128 Bab 128: Zaraki Kenpachi dan Reaktor Energi Abadi!
129 Bab 129: Tiga Desa Ninja Berunding Damai?!
130 Bab 130: Skenario yang Terdistorsi!
131 Bab 131: Kekacauan Tiga Desa Ninja Besar, Uchiha Madara!
132 Bab 132: Shichibukai, Sir Crocodile!
133 Bab 133: Akulah Uchiha Madara!
134 Bab 134: Uchiha Madara: Aku Telah Melihat Segala Strategimu!
135 Bab 135: Izanagi Uchiha Madara dan Kedatangan Tiga Kage!
136 Bab 136: Skenario yang Terdistorsi! Tiga Bayangan Hadir, Madara Menanti
137 Bab 137: Reaksi Para Kage dan Bentrokan Dua Faksi!
138 Bab 138: Reaksi Para Kage dan Tabrakan Dua Faksi Besar!
139 Bab 139: Tabrakan Dua Faksi Utama dan Pengepungan Tiga Kage!
140 Bab 140: Mode Chakra Gaya Petir!
141 Bab 141: Pelepasan Reiatsu, Raikage yang Tertindas!
142 Bab 142: Penguasa Seireitei? Reio (Raja Roh)!
143 Bab 143: Beban Informasi Terlalu Masif, Ketiga Kage Terguncang!
144 Bab 144: Seluruh Dunia Ninja Harus Bersatu!
145 Bab 145: Tubuh Asura?
146 Bab 146: Fisik Senju Hashirama? Aku Sama Sekali Tidak Puas!
147 Bab 147: Boneka Tingkat SS, Empat Kaisar Kaido!
148 Bab 148: Negeri Hujan, Organisasi Akatsuki!
149 Bab 149: Hanzo, Kau Salah Paham, Aku Tidak Tertarik Padamu!
150 Bab 150: Empat Kaisar, Kaido si Binatang Buas!
151 Bab 151: Kaido vs Hanzo!
152 Bab 152: Bunuh Hanzo
153 Bab 153: Kaido Berdiri di Bulan!
154 Bab 154: Target Utama, Tenseigan Raksasa!
155 Bab 155: Kebangkitan Otsutsuki Hamura!
156 Bab 156: Benturan Puncak! Kehancuran di Permukaan Bulan!
157 Bab 157: Daya Hancur Mengerikan dari Kebangkitan Buah Iblis!
158 Bab 158: Musuh Berasal Dari Dunia Shinobi!?
159 Bab 159: Penguatan Abadi, Tenseigan!
160 DraBab 160: Kekuatan Mengerikan dari Mata Tenseigan!
161 Bab 161: Fitur Baru Sistem! Toko Poin!
162 Bab 162: Domain Boneka, Gunung Natagumo!
163 Bab 163: Teman Namikaze Minato!
164 Bab 164: Rengoku Kyojuro! Sarang Iblis?
165 Bab 165: Penemuan, Gunung Natagumo!
166 Bab 166: Keputusan Sarutobi!
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
2
Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
3
Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi
4
Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
5
Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya
6
Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental
7
Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir
8
Bab 8: Pencuri Takdir dan Manipulator Absolut
9
Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api
10
Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
11
Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
12
Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang
13
Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang
14
Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
15
Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
16
Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park
17
Bab 17: Runtuhnya Kerajaan Hiu dan Deklarasi Erebus
18
Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda
19
Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga
20
Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut
21
Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
22
Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian
23
Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
24
Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa
25
Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit
26
Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit
27
Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang
28
Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana
29
Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
30
Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan
31
Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
32
Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba
33
Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak
34
Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
35
Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca
36
Bab 36: Hujan di Sarang Buaya dan Mundurnya Sang Raja Pasir
37
Bab 37: Langit Alubarna yang Berdarah dan Langkah Sang Dalang
38
Bab 38: Kaca di Atas Pasir dan Benturan Dua Penguasa
39
Bab 39: Tetesan Air dan Pergeseran Papan Catur
40
Bab 40: Tangan Iblis dan Runtuhnya Sejarah
41
Bab 41: Pukulan Mutlak dan Keruntuhan Makam Kerajaan
42
Bab 42: Tirai Terakhir Sang Buaya Pasir
43
Bab 43: Hujan Manipulasi dan Panggilan Sang Joker
44
Bab 44: Sinyal dari Dunia Bawah dan Tiket Emas Menuju Takdir
45
Bab 45: Raksasa di Balik Kabut dan Monster Berekspresi Kosong
46
Bab 46: Bayangan Kegelapan dan Roti Ceri yang Menetes
47
Bab 47: Retakan di Hutan Belantara dan Ekspansi Sang Dalang
48
Bab 48: Bayangan Strategis dan Tiket Perak di Bawah Langit Jaya
49
Bab 49: Benturan Dua Kekuatan Mutlak: Amaterasu vs. Aokiji
50
Bab 50: Komet Emas di Tengah Pusaran dan Sang Dewa Gravitasi
51
Bab 51: Gaung Kehampaan dan Tuan Baru di Atas Awan
52
Bab 52: Suara Lonceng Emas dan Bayangan di Balik Daun
53
Bab 53: Bentrokan Petir dan Kilau Cermin Suci
54
Bab 54: Melodi dari Masa Lalu dan Cetak Biru Dewa
55
Bab 55: Seniman Keabadian dan Guncangan di Keadilan Absolut
56
Bab 56: Bayangan Sang Singa Emas dan Panggung Kehancuran
57
Bab 57: Musim Dingin di Atas Langit dan Runtuhnya Era Keemasan
58
Bab 58: Ilusi Sempurna dan Tirai Kaca Realitas
59
Bab 59: Cermin Retak di Atas Awan
60
Bab 60: Gelombang di Bawah Cakrawala dan Bayangan Rambut Merah
61
Bab 61: Benturan di Atas Permukaan Laut dan Senyuman Sang Kaisar
62
Bab 62: Tarian Benang Merah di Bawah Langit Senja
63
Bab 63: Ruang Bedah Kematian dan Kedinginan Bintang Kutub
64
Bab 64: Metropolis Air dan Ujian Sang Revolusioner
65
Bab 65: Jarum di Bawah Air dan Bayangan Agen Pembunuh
66
Bab 66: Jejak Kacamata Bulat di Kota Air
67
Bab 67: Pisau Bedah Chakra dan Panggung yang Disiapkan
68
Bab 68: Bayangan Jatuh di Pulau Tanpa Malam dan Lahirnya Baja Kematian
69
Bab 69: Mendidihnya Lautan Keadilan dan Runtuhnya Langit Pengadilan
70
Bab 70: Tiga Kutub Keadilan dan Runtuhnya Gerbang Neraka
71
Bab 71: Kabut Segitiga Kematian dan Bangkitnya Sistem Tahap Dua
72
Bab 72: Bayangan Suci di Atas Kabut Hitam
73
Bab 73: Ilusi Sang Ksatria dan Tirai Dimensi yang Terkoyak
74
Bab 74: Takhta Bayangan yang Runtuh dan Bergemanya Nama Sang Musuh Dunia
75
Bab 75: Tolakan Absolut dan Terbukanya Gerbang Kamui
76
Bab 76: Labirin Ruang di Atas Lautan Beku dan Fondasi Pohon Dunia
77
Bab 77: Hujan Energi di Atas Kayu Lapuk dan Tawa Sang Penguasa Kegelapan
78
Bab 78: Kilau Emas di Balik Kabut dan Senyuman Sang Pembuat Ilusi
79
Bab 79: Pertemuan Dua Jenius dan Meriam Kiamat yang Terbangun
80
Bab 80: Kiamat Plasma dan Turunnya Raja Segala Pahlawan
81
Bab 81: Simfoni Emas di Kepulauan Mangrove
82
Bab 82: Kesombongan Raja dan Langit Sabaody yang Runtuh
83
Bab 83: Penjara Bawah Laut dan Terompet Pasukan Raja Penakluk
84
Bab 84: Benturan Kiamat Tiga Arah dan Bangkitnya Sang Penguasa Bayangan
85
Bab 85: Kiamat yang Menggema dan Matahari Siang yang Membakar Lautan Es
86
Bab 86: Neraka yang Terbagi dan Kebangkitan Sang Penguasa Mutlak
87
Bab 87: Hantu dari Era Lampau dan Lonceng Kematian di Tepi Senja
88
Bab 88: Siang Paling Terang dan Pencuri di Dalam Gelap
89
Bab 89: Senyum Sang Penakluk dan Lautan yang Membatu
90
Bab 90: Senyum Sang Matahari dan Detak Jantung Kiamat di Bawah Es
91
Bab 91: Sang Naga Kiamat dan Mahakarya Pasir Merah
92
Bab 92: Kehancuran Mental dan Sang Penguasa Kematian Absolut
93
Bab 93: Cahaya Surgawi di Palung Kelam dan Kebangkitan Sang Dewa Perang
94
Bab 94: Dua Meteor di Atas Badai Petir dan Ratapan Para Komandan Kaisar
95
Bab 95: Benteng Petir Abadi dan Kebangkitan Sang Senjata Kiamat
96
Bab 96: Tarian Para Dewa dan Kehancuran Aliansi Dua Kaisar
97
Bab 97: Takhta Kosmik dan Kiamat Dua Kaisar
98
Bab 98: Kebangkitan Sang Senjata Kiamat dan Mata Takdir yang Melihat Masa Depan
99
Bab 99: Pembangkangan Terhadap Hukum Waktu dan Dua Penguasa Ketiadaan
100
Bab 100: Fajar Terakhir di Ujung Lautan dan Kunci Takhta Kosmik
101
Bab 101: Benturan Konsep Kosmik dan Awal Mula Realitas Baru
102
Bab 102: Reboot Sistem dan Sistem Puppet Tingkat Dewa!
103
Bab 103: Puppet Kapten Byakuya Kuchiki! Awal Pesta Berdarah di Kotak Pasir Shino
104
Bab 104: Satu Orang Melawan Sepuluh Ribu Pasukan!
105
Bab 105: Berhamburan, Senbonzakura!
106
Bab 105: Reaksi Iwagakure dan Panen Poin Pertama!
107
Bab 107: Puppet Kelas S, Enel!
108
Bab 108: Menambal Cacat Boneka dan Target Baru, Desa Kusagakure!
109
Bab 109: Shichibukai, Enel!
110
Bab 110: Menghancurkan Ambisi dan Kehendak Sang Dewa Petir!
111
Bab 111: Satu Pukulan, Satu Desa Hancur!
112
Bab 112: Puppet Ketiga, Sang Iblis Bulan Atas Kokushibo!
113
Bab 113: Pencapaian Spesial, Asal Usul Iblis Sempurna!
114
Bab 114: Agatsuma Zenitsu dan Item SSS-Rank!
115
Bab 115: Kedatangan Namikaze Minato!
116
Bab 116: Petualangan Aneh Namikaze Minato!
117
Bab 117: Kokushibo vs Namikaze Minato!
118
Bab 118: Membuka Gerbang Dunia Baru!
119
Bab 119: Namikaze Minato: Di Mana Seireitei? Di Mana Grand Line?
120
Bab 120: Diskusi Petinggi Konoha!
121
Bab 121: Perang Dunia Shinobi Ketiga Meletus!
122
Bab 122: Iblis Bulan Bawah dan Target Ichibi!
123
Bab 123: Penggerebekan Kuil Diming dan Iblis Bulan Bawah Ketiga!
124
Bab 124: Kartu As yang Ditinggalkan Kazekage Kedua!
125
Bab 125: Enel vs Boneka Kazekage!
126
Bab 126: Ichibi Shukaku, Aku Ambil Ini!
127
Bab 127: Puppet Baru, Crocodile dan Zaraki Kenpachi!
128
Bab 128: Zaraki Kenpachi dan Reaktor Energi Abadi!
129
Bab 129: Tiga Desa Ninja Berunding Damai?!
130
Bab 130: Skenario yang Terdistorsi!
131
Bab 131: Kekacauan Tiga Desa Ninja Besar, Uchiha Madara!
132
Bab 132: Shichibukai, Sir Crocodile!
133
Bab 133: Akulah Uchiha Madara!
134
Bab 134: Uchiha Madara: Aku Telah Melihat Segala Strategimu!
135
Bab 135: Izanagi Uchiha Madara dan Kedatangan Tiga Kage!
136
Bab 136: Skenario yang Terdistorsi! Tiga Bayangan Hadir, Madara Menanti
137
Bab 137: Reaksi Para Kage dan Bentrokan Dua Faksi!
138
Bab 138: Reaksi Para Kage dan Tabrakan Dua Faksi Besar!
139
Bab 139: Tabrakan Dua Faksi Utama dan Pengepungan Tiga Kage!
140
Bab 140: Mode Chakra Gaya Petir!
141
Bab 141: Pelepasan Reiatsu, Raikage yang Tertindas!
142
Bab 142: Penguasa Seireitei? Reio (Raja Roh)!
143
Bab 143: Beban Informasi Terlalu Masif, Ketiga Kage Terguncang!
144
Bab 144: Seluruh Dunia Ninja Harus Bersatu!
145
Bab 145: Tubuh Asura?
146
Bab 146: Fisik Senju Hashirama? Aku Sama Sekali Tidak Puas!
147
Bab 147: Boneka Tingkat SS, Empat Kaisar Kaido!
148
Bab 148: Negeri Hujan, Organisasi Akatsuki!
149
Bab 149: Hanzo, Kau Salah Paham, Aku Tidak Tertarik Padamu!
150
Bab 150: Empat Kaisar, Kaido si Binatang Buas!
151
Bab 151: Kaido vs Hanzo!
152
Bab 152: Bunuh Hanzo
153
Bab 153: Kaido Berdiri di Bulan!
154
Bab 154: Target Utama, Tenseigan Raksasa!
155
Bab 155: Kebangkitan Otsutsuki Hamura!
156
Bab 156: Benturan Puncak! Kehancuran di Permukaan Bulan!
157
Bab 157: Daya Hancur Mengerikan dari Kebangkitan Buah Iblis!
158
Bab 158: Musuh Berasal Dari Dunia Shinobi!?
159
Bab 159: Penguatan Abadi, Tenseigan!
160
DraBab 160: Kekuatan Mengerikan dari Mata Tenseigan!
161
Bab 161: Fitur Baru Sistem! Toko Poin!
162
Bab 162: Domain Boneka, Gunung Natagumo!
163
Bab 163: Teman Namikaze Minato!
164
Bab 164: Rengoku Kyojuro! Sarang Iblis?
165
Bab 165: Penemuan, Gunung Natagumo!
166
Bab 166: Keputusan Sarutobi!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!