One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly

​Hujan turun dengan deras malam itu, membasahi jalanan aspal kota yang memantulkan cahaya neon dari papan reklame. Di trotoar yang sepi, seorang remaja laki-laki berjalan dengan langkah tenang. Tangannya memegang sebuah kantong plastik berisi beberapa barang kebutuhan sehari-hari dan sebuah manga volume terbaru yang baru saja ia beli.

​Namanya adalah Muzan Kibutsi. Usianya tujuh belas tahun. Di mata orang lain, ia hanyalah seorang siswa SMA biasa yang cenderung pendiam dan jarang bergaul. Tidak ada yang spesial dari kehidupannya, selain dedikasinya yang cukup tinggi terhadap dunia fiksi, terutama anime dan manga. Di antara ribuan cerita yang pernah ia baca, One Piece selalu menempati posisi teratas di benaknya. Dunia bajak laut yang luas, penuh kebebasan, misteri, dan strategi selalu berhasil memicu imajinasinya.

​Namun, imajinasi itu terpaksa berhenti malam ini.

​Semuanya terjadi terlalu cepat, namun bagi Muzan, detik-detik itu terasa seperti ditarik dalam gerakan lambat. Saat ia menyeberang di persimpangan jalan, sebuah truk kargo berukuran besar melaju dengan kecepatan di luar batas wajar. Pengemudinya tampak tertidur. Lampu depan truk itu menyorot tajam, menyilaukan mata Muzan.

​Muzan tidak menjerit. Ia tidak menangis. Sifatnya yang selalu tenang dan rasional bahkan di saat-saat kritis membuat otaknya bekerja dengan dingin.

​Kecepatannya sekitar delapan puluh kilometer per jam. Jaraknya kurang dari lima meter. Otot kakiku tidak akan sempat merespons untuk melompat menghindar. Sudut benturan ada di sisi kiri tubuhku.

​Analisis itu adalah pikiran terakhirnya.

​Brak!

​Suara tulang yang remuk kalah oleh derit rem yang terlambat dan hantaman besi melawan daging. Rasa sakit yang luar biasa meledak sedetik, sebelum akhirnya kegelapan total menelannya. Kematian tidak datang dengan malaikat penyambut, melainkan hanya kekosongan yang dingin dan sunyi.

​Entah berapa lama waktu berlalu. Mungkin satu detik, mungkin ribuan tahun.

​Muzan mulai merasakan sesuatu. Itu bukan rasa sakit akibat hantaman truk, melainkan rasa perih di sekujur kulit, hembusan angin yang membawa aroma garam yang sangat pekat, dan suara deburan ombak yang membentur karang.

​Ia membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menyengat. Hal pertama yang ia lihat adalah langit biru yang sangat cerah, dihiasi burung-burung camar yang terbang berputar-putar.

​Muzan mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa sangat lemah dan ringan. Ia menunduk dan terdiam. Tangan yang ia lihat bukanlah tangannya. Tangan itu kecil, kurus, dipenuhi kotoran dan beberapa luka gores. Pakaiannya hanyalah kain compang-camping yang kebesaran, berbau apek, dan tidak layak disebut baju.

​Ia memejamkan mata, mengatur napasnya. Kepanikan adalah musuh terbesar dalam situasi yang tidak diketahui. Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya, lalu menghembuskannya perlahan.

​Aku ditabrak truk. Aku seharusnya sudah mati. Tulang rusuk kiriku hancur lebur. Tapi sekarang, aku bernapas. Tubuh ini milik seorang anak kecil, usianya mungkin sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Aku bereinkarnasi.

​Muzan tidak membuang waktu untuk meratapi nasib atau berteriak kebingungan. Ia segera berdiri, mengandalkan dinding kayu lapuk di sebelahnya untuk menopang tubuh kurusnya. Ia berada di sebuah gang sempit yang kotor, di antara dua bangunan berbahan kayu dan batu bata yang terlihat berarsitektur klasik, mirip dengan kota-kota pelabuhan di Eropa pada abad pertengahan.

​Ia melangkah keluar dari gang dengan hati-hati. Begitu sampai di jalan utama, pemandangan yang terhampar di hadapannya membuat pupil matanya sedikit melebar.

​Di ujung jalan setapak berbatu itu, terdapat pelabuhan yang ramai. Kapal-kapal kayu bersandar, namun bukan sekadar kapal biasa. Beberapa kapal memiliki layar besar dengan lambang tengkorak, sementara yang lain memiliki lambang burung camar biru memegang timbangan—lambang Angkatan Laut.

​Orang-orang berlalu-lalang. Ada yang membawa pedang di pinggang mereka, ada yang memanggul senapan laras panjang, dan ada pula pedagang yang berteriak menjajakan barang. Di sebuah papan pengumuman kayu yang tak jauh dari tempatnya berdiri, tertempel beberapa lembar kertas buronan.

​Ia berada di dunia One Piece. Dan melihat dari perahu-perahu kecil serta seragam Angkatan Laut berpangkat rendah yang berpatroli, ia yakin saat ini ia berada di salah satu pulau di East Blue. Mungkin Loguetown, atau mungkin pulau pelabuhan kecil lainnya yang menjadi tempat singgah para pelaut.

​Dan siapa dirinya saat ini? Muzan menatap pantulan dirinya di genangan air sisa hujan. Seorang anak yatim piatu yang kurus kering. Bukan bagian dari klan D, bukan anak naga langit, bukan pemakan buah iblis, bahkan mungkin ia belum makan selama dua hari penuh.

​"Menarik," gumam Muzan pelan. Suaranya serak dan parau.

​Tepat pada saat itu, ketika ia baru saja menerima realitas barunya, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi bergema di dalam kepalanya, bersamaan dengan munculnya sebuah panel holografik berwarna biru transparan tepat di depan matanya.

​«"Puppet System berhasil diaktifkan."»

​Muzan tidak terkejut. Ia hanya memundurkan wajahnya sedikit untuk membaca teks yang melayang di udara. Sistem tidak terlihat oleh siapa pun yang lalu lalang di sekitarnya. Orang-orang terus berjalan tanpa mempedulikan anak gembel yang sedang menatap kosong ke udara.

​«"Selamat datang di dunia One Piece, Host."»

​«"Puppet System adalah sistem eksklusif yang memungkinkan Host untuk memanggil, menyimpan, dan mengendalikan entitas 'Boneka' dari berbagai dunia dimensi lain."»

​Muzan mengangkat tangannya, mencoba menyentuh layar biru itu. Jarinya menembus panel, tetapi pikirannya tampaknya bisa bernavigasi melaluinya. Dengan fokus mental, ia melihat menu utama dari sistem tersebut. Ada beberapa tab yang tersusun rapi:

​[Status]

​[Puppet Gacha]

​[Inventory]

​[Shop]

​[Mission]

​[Achievement]

​[Collection]

​[Puppet Storage]

​[Belly Counter]

​Sebagai seseorang yang sangat familiar dengan konsep seperti ini dari kehidupan sebelumnya, Muzan dengan tenang membuka tab [Status] terlebih dahulu. Ia harus mengetahui kapasitas tubuh barunya.

​[STATUS HOST]

Nama: Muzan Kibutsi

Usia: 14 Tahun

Afiliasi: Tidak Ada (Warga Biasa East Blue)

Kekuatan Fisik: 4 (Rata-rata orang dewasa normal adalah 10)

Kecepatan: 5

Ketahanan: 3

Kekuatan Mental: 85 (Tertinggi karena reinkarnasi jiwa dewasa)

Kapasitas Pengendalian Boneka: 1 (Maksimal jumlah boneka yang bisa dikendalikan secara bersamaan saat ini)

​Muzan menghela napas tipis. Seperti dugaannya, tubuh ini sangat lemah. Jika ia diserang oleh preman jalanan paling rendahan sekalipun, ia bisa mati konyol hari ini juga.

​Ia kemudian mengalihkan fokusnya ke fitur inti dari sistem ini: [Puppet System].

​Sebuah jendela penjelasan muncul.

​«"INFORMASI BONEKA (PUPPET):"»

«"1. Boneka adalah replika sempurna dari karakter berbagai dunia fiksi (anime, manga, dll)."»

«"2. Boneka memiliki penampilan, suara, cara berbicara, memori otot, kemampuan tempur, dan gaya bertarung persis seperti aslinya."»

«"3. PENTING: Boneka TIDAK memiliki kesadaran, emosi, atau kehendak sendiri. Mereka adalah cangkang kosong yang dikendalikan 100% oleh pikiran Host."»

«"4. Boneka akan bertindak sesuai kehendak Host. Host dapat membuat mereka berbicara, bertarung, dan bereaksi, di mana Sistem akan membantu menerjemahkan 'gaya asli' karakter tersebut secara otomatis agar tidak terlihat kaku, selama Host memberikan perintahnya."»

«"5. Boneka tidak bisa mengkhianati Host."»

«"6. Jika Boneka hancur, Host dapat memperbaikinya dengan biaya tertentu atau melakukan gacha untuk mendapatkan salinannya kembali."»

​Muzan menyipitkan matanya, menganalisis setiap kata. "Sistem boneka tanpa kesadaran... Ini adalah yang terbaik," batinnya.

​Sebagai orang yang tidak mudah percaya pada orang lain dan benci pengkhianatan, memiliki bawahan mutlak yang tidak punya emosi adalah aset yang tak ternilai. Ia tidak perlu khawatir soal kesetiaan, tidak perlu membangun ikatan emosional, dan tidak perlu repot mengurus drama bawahan. Mereka hanyalah alat. Alat yang sempurna. Jika ia memanggil pendekar pedang ahli, ia bisa membuat pendekar itu bertarung mati-matian melindunginya tanpa ada keraguan seperseribu detik pun.

​Ia beralih ke tab [Puppet Gacha].

​Layar berubah, menampilkan sebuah roda roulette besar dengan kilauan warna-warni mulai dari putih, hijau, biru, ungu, emas, hingga merah pekat. Di bawah roda itu, terdapat daftar harga yang membuat Muzan menghentikan napasnya sejenak.

​«"BIAYA GACHA:"»

​1.000 Belly → Gacha Tingkat Rendah (Karakter umum, prajurit biasa, kekuatan sangat rendah)

​10.000 Belly → Gacha Tingkat Menengah (Karakter dengan kekuatan tempur layak)

​100.000 Belly → Gacha Tingkat Kuat (Karakter ahli, letnan, pengguna kekuatan khusus)

​1.000.000 Belly → Gacha Tingkat Legenda (Karakter kelas atas, kapten, jenderal)

​10.000.000 Belly → Gacha Tingkat Mitos (Karakter puncak, dewa, entitas pemusnah)

​«"Mata uang yang digunakan terhubung langsung dengan harta duniawi yang dimiliki Host, yaitu Belly."»

​Mata Muzan terfokus pada tab di sudut kanan atas layarnya: [Belly Counter]. Ia mengarahkan pikirannya ke sana.

​«"Saldo Belly: 0"»

​Sebuah kesunyian yang ironis menyelimuti pikiran Muzan di tengah keramaian pelabuhan.

​"Tentu saja," gumamnya pelan, sudut bibirnya sedikit berkedut.

​Ia adalah gembel yang baru saja bereinkarnasi. Boro-boro sepuluh juta Belly, sepeser keping perunggu pun ia tak punya di sakunya. Bahkan untuk melakukan gacha paling ampas sekalipun seharga 1.000 Belly, ia tidak sanggup. Di dunia One Piece, harga koran yang diantar oleh News Coo saja sekitar 100 Belly. Ini berarti ia harus mencari uang. Bekerja, mencuri, berburu hadiah, atau berdagang.

​Muzan membuka tab [Mission].

​«"Tidak ada misi aktif. Jelajahi dunia untuk memicu misi."»

​Ia mencoba membuka tab [Shop].

​«"Fitur Shop terkunci. Akan terbuka setelah Host mencapai akumulasi kepemilikan 1.000.000 Belly."»

​Muzan bersandar kembali ke dinding bata di belakangnya. Perutnya berbunyi pelan. Kelaparan adalah masalah nyata saat ini. Jika ia tidak mendapatkan makanan dalam waktu dekat, sebelum ia sempat memikirkan strategi besar mengarungi dunia bajak laut, ia akan mati kelaparan di gang kotor ini.

​Ia nyaris mematikan sistem itu ketika pandangannya menangkap satu tab yang belum ia periksa: [Inventory].

​Dengan sisa harapan, ia membuka tab tersebut. Layar menampilkan puluhan kotak kosong (slot penyimpanan). Namun, di kotak pertama ujung kiri atas, ada sebuah ikon berbentuk kotak hadiah berpita merah.

​Muzan memfokuskan pikirannya pada ikon tersebut.

​«"Item: Paket Hadiah Pemula."»

«"Apakah Host ingin membukanya?"»

​"Buka," perintah Muzan dalam hati.

​Kotak itu bersinar keemasan di dalam layar, lalu terbuka. Suara notifikasi yang menyenangkan berbunyi.

​«"Selamat! Host mendapatkan [Tiket Gacha Karakter Kuat] x1."»

«"Tiket ini setara dengan melakukan satu tarikan Gacha senilai 100.000 Belly, dijamin mendapatkan Boneka berperingkat Kuat (Tier Biru/Ungu)."»

​Mata hitam Muzan memancarkan kilau kepuasan. Sistem ini tidak membiarkannya mati di hari pertama tanpa senjata. Satu karakter setara tarikan 100.000 Belly sudah cukup sebagai modal awal untuk bertahan hidup dan mulai mengumpulkan kekayaan di East Blue. Tingkat kekuatan di East Blue adalah yang paling lemah dibanding lautan lainnya. Seorang karakter tingkat "Kuat" dari dunia anime lain mungkin setara dengan kapten bajak laut elit atau petarung Angkatan Laut berpangkat tinggi di wilayah ini.

​"Sistem, gunakan Tiket Gacha Karakter Kuat sekarang."

​Panel berubah. Sebuah tiket emas melayang ke arah roda roulette di layar Gacha. Roda itu mulai berputar dengan kecepatan gila. Warna putih, hijau, biru, ungu, dan emas berbaur menjadi pusaran cahaya.

​Muzan memperhatikan tanpa berkedip. Ia adalah orang yang tidak percaya pada keberuntungan belaka, namun saat ini, semuanya murni probabilitas.

​Putaran roda mulai melambat. Jarum penunjuk melewati warna hijau, meluncur pelan di atas warna biru, hampir berhenti di sana, namun terus bergeser secara dramatis hingga terdengar bunyi KLIK! yang keras.

​Jarum itu berhenti tepat di warna ungu gelap yang memancarkan aura dingin.

​«"DING!"»

«"Gacha Selesai. Selamat, Host mendapatkan Boneka Tingkat Kuat (Tier Ungu)!"»

«"Mengekstrak data karakter... Menyesuaikan dengan hukum fisika dunia One Piece..."»

«"Ekstraksi selesai."»

​Sebuah kartu perlahan muncul dari layar. Kartu itu bergambar seorang pemuda bertubuh tegap, mengenakan seragam pemburu berwarna hitam gelap dengan haori (mantel luar) yang terbagi menjadi dua pola berbeda: sisi kanannya berwarna merah tua polos, sedangkan sisi kirinya memiliki pola geometris hijau, kuning, dan oranye. Di pinggangnya tersarung sebuah pedang Nichirin dengan tsuba (pelindung tangan) berbentuk heksagonal.

​Ekspresi pemuda di kartu itu sangat datar, mata birunya terlihat sedingin dan sedalam lautan palung.

​Muzan membaca nama yang tertera di bawah kartu tersebut.

​«"Boneka Diperoleh: Giyu Tomioka"»

«"Asal Dunia: Demon Slayer (Kimetsu no Yaiba)"»

«"Afiliasi Asli: Demon Slayer Corps (Water Hashira)"»

«"Gaya Bertarung: Water Breathing (Pernapasan Air)"»

«"Status Boneka: Tersimpan di [Puppet Storage]"»

​Jantung Muzan berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena kegembiraan yang kekanak-kanakan, melainkan antisipasi taktis. Giyu Tomioka, sang Pilar Air. Seorang master pedang dengan kecepatan dan refleks manusia super, mampu membelah baja dan iblis dengan satu tebasan. Terlebih lagi, teknik Pernapasan Air-nya sangat cocok dengan dunia maritim One Piece.

​Di lautan terlemah seperti East Blue, kekuatan seorang Hashira sudah berada di batas atas pertarungan fisik. Giyu tidak memakan buah iblis, yang berarti ia tidak takut air laut, sebuah keuntungan luar biasa di dunia ini.

​"Keluarkan Giyu Tomioka," perintah Muzan dengan pikiran yang difokuskan pada tab [Puppet Storage].

​«"Memanggil Boneka: Giyu Tomioka..."»

​Di udara kosong di depan Muzan, partikel-partikel cahaya ungu mulai berkumpul, membentuk pusaran energi yang perlahan menyusun bentuk manusia. Dimulai dari ujung kaki yang mengenakan sandal zori dan kaus kaki tabi putih, seragam hitam, haori dua pola, hingga rambut hitamnya yang diikat ke belakang.

​Hanya butuh tiga detik sebelum partikel cahaya itu memudar. Di sana, di dalam gang yang kotor, berdiri sosok Giyu Tomioka dalam wujud fisik yang sempurna. Hembusan napasnya pelan, pedang Nichirin tersarung rapi di pinggang kirinya.

​Namun, yang membuat bulu kuduk Muzan sedikit meremang adalah mata Giyu. Mata biru gelap itu sepenuhnya kosong. Tidak ada kehangatan, tidak ada kehidupan, tidak ada jiwa di baliknya. Giyu hanya berdiri mematung layaknya manekin lilin kualitas tinggi. Ia bahkan tidak berkedip jika tidak diinstruksikan.

​«"Sinkronisasi Pikiran dimulai. Harap Host fokus untuk mengambil kendali Boneka."»

​Muzan menutup matanya. Tiba-tiba, ia merasakan sensasi ganjil yang luar biasa. Pikirannya seolah bercabang menjadi dua layar monitor. Ia bisa merasakan angin laut menerpa wajahnya sendiri (Muzan), namun secara bersamaan, ia juga bisa merasakan berat pedang di pinggang 'dirinya' yang lain (Giyu).

​Ia membuka matanya kembali. Dari sudut pandang Muzan, ia melihat Giyu berdiri di depannya. Tapi dari sudut pandang Giyu, ia melihat seorang anak kecil kurus berpakaian compang-camping menatap ke arahnya. Ini adalah sensasi multi-tasking yang absolut.

​Dengan sebuah niatan, Muzan 'menggerakkan' boneka itu.

​Giyu Tomioka berkedip. Lalu, dengan gerakan halus yang mematikan, tangan kanan Giyu meraih gagang pedangnya, menariknya keluar sekitar satu inci. Suara gesekan logam yang tajam bergema di gang sempit itu.

​Muzan takjub. Otot-otot tubuh Giyu terasa begitu kuat, energinya terasa melimpah. Memori otot tentang teknik-teknik pedang Pernapasan Air ada di sana, siap diakses oleh Muzan kapan saja layaknya file di dalam komputer. Muzan tidak perlu tahu bagaimana cara berayun yang benar, karena tubuh boneka itu sudah diprogram untuk melakukannya secara sempurna. Muzan hanya perlu memberikan command (perintah).

​Sarungkan kembali, perintah Muzan.

​Klik. Giyu memasukkan kembali pedangnya dengan cepat dan mulus.

​Muzan tersenyum tipis, sebuah senyuman kalkulatif. "Dengan ini, aku tidak akan menjadi mangsa di dunia ini. Aku yang akan menjadi pemburu."

​Tiba-tiba, telinga Giyu yang jauh lebih peka daripada telinga Muzan menangkap suara langkah kaki berat mendekat dari arah ujung gang yang mengarah ke bagian dalam kota. Muzan segera merespons melalui pendengaran bonekanya.

​Tiga orang pria dewasa berjalan memasuki gang sempit tersebut. Mereka mengenakan pakaian bajak laut yang lusuh—kemeja tak dikancingkan, bandana kotor, dan celana longgar. Masing-masing dari mereka membawa senjata; satu orang membawa parang, satu membawa pisau belati, dan yang paling besar membawa pentungan kayu bertatahkan paku besi. Bau minuman keras yang murah menguar dari tubuh mereka.

​"Oi, oi, lihat apa yang kita temukan di sini," ucap pria yang membawa parang, matanya menatap liar ke arah tubuh kurus Muzan. "Seekor tikus kecil yang tersesat dari selokannya."

​Pria berbadan besar dengan pentungan tertawa kasar. "Kudengar rumah pelacuran milik Madame Kyla sedang mencari anak-anak baru untuk dijadikan pembantu atau... yah, mainan. Anak ini memang kotor, tapi kalau dimandikan, kita mungkin bisa dapat 5.000 Belly untuknya."

​Muzan tetap diam, berdiri bersandar di dinding. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Otaknya memproses informasi dengan cepat. Tiga pria bersenjata. Kemungkinan bajak laut kroco yang sedang singgah di pulau atau preman lokal. Nilai jualku 5.000 Belly. Mereka berniat menculik.

​"Tunggu, siapa pria di sebelahnya?" tanya pria pemegang belati, baru menyadari sosok Giyu yang berdiri diam dalam bayang-bayang gang. Haori aneh Giyu dan pedang di pinggangnya membuat mereka sedikit waspada.

​"Hanya orang asing yang kebetulan lewat," kata pria besar itu, meludah ke tanah. Ia mengangkat pentungannya, menunjuk ke arah Giyu. "Oi, samurai aneh! Serahkan bocah itu kepada kami dan pergilah. Kalau kau ikut campur, kami akan mengulitimu hidup-hidup. Kami ini bagian dari Bajak Laut Taring Berdarah!"

​Tentu saja, Giyu tidak merespons. Ia hanya menatap kosong ke arah ketiga preman itu.

​Bagi ketiga bajak laut itu, kebisuan Giyu dianggap sebagai penghinaan dan tantangan. Pria berparang itu menggeram marah. "Berani sekali kau meremehkan kami! Akan kupotong lidahmu!"

​Pria berparang itu berlari menerjang ke arah Giyu, mengangkat parangnya tinggi-tinggi untuk menebas leher pria berhaori aneh tersebut.

​Dari sudut pandangnya, Muzan hanya menonton. Detak jantungnya stabil. Jarak pria itu lima meter... empat meter... tiga meter...

​Terlalu lambat, pikir Muzan. Gerakan preman itu di mata Giyu terlihat seperti gerakan slow-motion yang penuh celah.

​Di saat parang itu hampir mencapai leher Giyu, Muzan akhirnya memberikan perintah pertamanya.

​Cabut pedangmu. Jangan bunuh dia. Putuskan tangan kanannya.

​Dalam sekejap mata, bahkan sebelum preman itu menyadari apa yang terjadi, sosok Giyu menghilang dari tempatnya berdiri.

​"Pernapasan Air, Bentuk Pertama: Tebasan Permukaan Air." (Muzan membiarkan sistem mengeluarkan suara Giyu yang datar dan dingin untuk intimidasi).

​SYAATT!!

​Sebuah kilatan cahaya biru berbentuk gelombang air yang indah membelah udara di gang gelap tersebut. Suara tebasan yang sangat jernih memotong keheningan.

​Preman berparang itu tiba-tiba berhenti. Matanya melotot. Ia melihat tangan kanannya yang masih memegang parang terbang ke udara, terpisah dari lengannya. Tiga detik kemudian, barulah rasa sakit yang mengerikan menjalar ke otaknya, diikuti oleh semburan darah merah pekat yang muncrat dari pangkal lengannya yang buntung.

​"AAAARRRGGGGHHHH!!!!"

​Jeritan melengking yang memekakkan telinga pecah. Pria itu jatuh berlutut, memegangi lengannya yang terpotong sambil berguling-guling di tanah yang basah.

​Dua bajak laut lainnya mematung. Wajah mereka pucat pasi. Pentungan kayu dan belati bergetar di tangan mereka. Mereka tidak melihat pria berhaori aneh itu mencabut pedangnya. Mereka hanya melihat kilatan air, dan tiba-tiba teman mereka kehilangan tangan.

​Giyu Tomioka berdiri di belakang preman yang jatuh itu. Pedang Nichirin-nya yang berwarna biru cerah tidak menyisakan setetes darah pun di bilahnya. Posisi berdirinya sempurna, tanpa celah, menatap dingin ke arah dua pria yang tersisa.

​Muzan, yang masih bersandar di dinding, menatap panel sistem di depannya dengan senyum tipis yang tak kentara.

​«"Misi Baru Terpicu: Basmi Ancaman Lokal."»

«"Tujuan: Kalahkan tiga anggota Bajak Laut Taring Berdarah."»

«"Hadiah: 15.000 Belly, 10 Poin Pengalaman Sistem."»

​Mata Muzan berkilat. Ini bukan sekadar ajang bertahan hidup. Ini adalah sumber pendapatannya yang pertama.

​"Giyu," ucap Muzan dengan suaranya yang serak dan parau, berperan sebagai 'tuan' yang misterius di hadapan para musuh.

​Boneka Giyu tidak menoleh, namun pedangnya diangkat perlahan, mengarah pada preman bertubuh besar.

​"Habisi mereka. Tapi jangan merusak wajah mereka. Kita harus memastikan mereka punya harga buronan untuk ditukar."

​Satu perintah diberikan, dan malam di East Blue itu akan menjadi panggung pertama dari seorang dalang bayangan yang kelak akan mengguncang lautan dengan pasukan bonekanya. Perjalanan panjang mengumpulkan Belly demi supremasi baru saja dimulai

Terpopuler

Comments

Casa

Casa

ohh Belly ya, berarti selama ini aku salah yak, seingetku Berry, kena Mandala effect kah, kaga terlalu ngikutin One Piece sih...

2026-08-12

0

Protocetus

Protocetus

jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden

2026-08-07

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
2 Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
3 Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi
4 Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
5 Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya
6 Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental
7 Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir
8 Bab 8: Pencuri Takdir dan Manipulator Absolut
9 Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api
10 Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
11 Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
12 Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang
13 Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang
14 Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
15 Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
16 Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park
17 Bab 17: Runtuhnya Kerajaan Hiu dan Deklarasi Erebus
18 Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda
19 Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga
20 Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut
21 Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
22 Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian
23 Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
24 Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa
25 Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit
26 Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit
27 Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang
28 Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana
29 Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
30 Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan
31 Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
32 Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba
33 Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak
34 Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
35 Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca
36 Bab 36: Hujan di Sarang Buaya dan Mundurnya Sang Raja Pasir
37 Bab 37: Langit Alubarna yang Berdarah dan Langkah Sang Dalang
38 Bab 38: Kaca di Atas Pasir dan Benturan Dua Penguasa
39 Bab 39: Tetesan Air dan Pergeseran Papan Catur
40 Bab 40: Tangan Iblis dan Runtuhnya Sejarah
41 Bab 41: Pukulan Mutlak dan Keruntuhan Makam Kerajaan
42 Bab 42: Tirai Terakhir Sang Buaya Pasir
43 Bab 43: Hujan Manipulasi dan Panggilan Sang Joker
44 Bab 44: Sinyal dari Dunia Bawah dan Tiket Emas Menuju Takdir
45 Bab 45: Raksasa di Balik Kabut dan Monster Berekspresi Kosong
46 Bab 46: Bayangan Kegelapan dan Roti Ceri yang Menetes
47 Bab 47: Retakan di Hutan Belantara dan Ekspansi Sang Dalang
48 Bab 48: Bayangan Strategis dan Tiket Perak di Bawah Langit Jaya
49 Bab 49: Benturan Dua Kekuatan Mutlak: Amaterasu vs. Aokiji
50 Bab 50: Komet Emas di Tengah Pusaran dan Sang Dewa Gravitasi
51 Bab 51: Gaung Kehampaan dan Tuan Baru di Atas Awan
52 Bab 52: Suara Lonceng Emas dan Bayangan di Balik Daun
53 Bab 53: Bentrokan Petir dan Kilau Cermin Suci
54 Bab 54: Melodi dari Masa Lalu dan Cetak Biru Dewa
55 Bab 55: Seniman Keabadian dan Guncangan di Keadilan Absolut
56 Bab 56: Bayangan Sang Singa Emas dan Panggung Kehancuran
57 Bab 57: Musim Dingin di Atas Langit dan Runtuhnya Era Keemasan
58 Bab 58: Ilusi Sempurna dan Tirai Kaca Realitas
59 Bab 59: Cermin Retak di Atas Awan
60 Bab 60: Gelombang di Bawah Cakrawala dan Bayangan Rambut Merah
61 Bab 61: Benturan di Atas Permukaan Laut dan Senyuman Sang Kaisar
62 Bab 62: Tarian Benang Merah di Bawah Langit Senja
63 Bab 63: Ruang Bedah Kematian dan Kedinginan Bintang Kutub
64 Bab 64: Metropolis Air dan Ujian Sang Revolusioner
65 Bab 65: Jarum di Bawah Air dan Bayangan Agen Pembunuh
66 Bab 66: Jejak Kacamata Bulat di Kota Air
67 Bab 67: Pisau Bedah Chakra dan Panggung yang Disiapkan
68 Bab 68: Bayangan Jatuh di Pulau Tanpa Malam dan Lahirnya Baja Kematian
69 Bab 69: Mendidihnya Lautan Keadilan dan Runtuhnya Langit Pengadilan
70 Bab 70: Tiga Kutub Keadilan dan Runtuhnya Gerbang Neraka
71 Bab 71: Kabut Segitiga Kematian dan Bangkitnya Sistem Tahap Dua
72 Bab 72: Bayangan Suci di Atas Kabut Hitam
73 Bab 73: Ilusi Sang Ksatria dan Tirai Dimensi yang Terkoyak
74 Bab 74: Takhta Bayangan yang Runtuh dan Bergemanya Nama Sang Musuh Dunia
75 Bab 75: Tolakan Absolut dan Terbukanya Gerbang Kamui
76 Bab 76: Labirin Ruang di Atas Lautan Beku dan Fondasi Pohon Dunia
77 Bab 77: Hujan Energi di Atas Kayu Lapuk dan Tawa Sang Penguasa Kegelapan
78 Bab 78: Kilau Emas di Balik Kabut dan Senyuman Sang Pembuat Ilusi
79 Bab 79: Pertemuan Dua Jenius dan Meriam Kiamat yang Terbangun
80 Bab 80: Kiamat Plasma dan Turunnya Raja Segala Pahlawan
81 Bab 81: Simfoni Emas di Kepulauan Mangrove
82 Bab 82: Kesombongan Raja dan Langit Sabaody yang Runtuh
83 Bab 83: Penjara Bawah Laut dan Terompet Pasukan Raja Penakluk
84 Bab 84: Benturan Kiamat Tiga Arah dan Bangkitnya Sang Penguasa Bayangan
85 Bab 85: Kiamat yang Menggema dan Matahari Siang yang Membakar Lautan Es
86 Bab 86: Neraka yang Terbagi dan Kebangkitan Sang Penguasa Mutlak
87 Bab 87: Hantu dari Era Lampau dan Lonceng Kematian di Tepi Senja
88 Bab 88: Siang Paling Terang dan Pencuri di Dalam Gelap
89 Bab 89: Senyum Sang Penakluk dan Lautan yang Membatu
90 Bab 90: Senyum Sang Matahari dan Detak Jantung Kiamat di Bawah Es
91 Bab 91: Sang Naga Kiamat dan Mahakarya Pasir Merah
92 Bab 92: Kehancuran Mental dan Sang Penguasa Kematian Absolut
93 Bab 93: Cahaya Surgawi di Palung Kelam dan Kebangkitan Sang Dewa Perang
94 Bab 94: Dua Meteor di Atas Badai Petir dan Ratapan Para Komandan Kaisar
95 Bab 95: Benteng Petir Abadi dan Kebangkitan Sang Senjata Kiamat
96 Bab 96: Tarian Para Dewa dan Kehancuran Aliansi Dua Kaisar
97 Bab 97: Takhta Kosmik dan Kiamat Dua Kaisar
98 Bab 98: Kebangkitan Sang Senjata Kiamat dan Mata Takdir yang Melihat Masa Depan
99 Bab 99: Pembangkangan Terhadap Hukum Waktu dan Dua Penguasa Ketiadaan
100 Bab 100: Fajar Terakhir di Ujung Lautan dan Kunci Takhta Kosmik
101 Bab 101: Benturan Konsep Kosmik dan Awal Mula Realitas Baru
102 Bab 102: Reboot Sistem dan Sistem Puppet Tingkat Dewa!
103 Bab 103: Puppet Kapten Byakuya Kuchiki! Awal Pesta Berdarah di Kotak Pasir Shino
104 Bab 104: Satu Orang Melawan Sepuluh Ribu Pasukan!
105 Bab 105: Berhamburan, Senbonzakura!
106 Bab 105: Reaksi Iwagakure dan Panen Poin Pertama!
107 Bab 107: Puppet Kelas S, Enel!
108 Bab 108: Menambal Cacat Boneka dan Target Baru, Desa Kusagakure!
109 Bab 109: Shichibukai, Enel!
110 Bab 110: Menghancurkan Ambisi dan Kehendak Sang Dewa Petir!
111 Bab 111: Satu Pukulan, Satu Desa Hancur!
112 Bab 112: Puppet Ketiga, Sang Iblis Bulan Atas Kokushibo!
113 Bab 113: Pencapaian Spesial, Asal Usul Iblis Sempurna!
114 Bab 114: Agatsuma Zenitsu dan Item SSS-Rank!
115 Bab 115: Kedatangan Namikaze Minato!
116 Bab 116: Petualangan Aneh Namikaze Minato!
117 Bab 117: Kokushibo vs Namikaze Minato!
118 Bab 118: Membuka Gerbang Dunia Baru!
119 Bab 119: Namikaze Minato: Di Mana Seireitei? Di Mana Grand Line?
120 Bab 120: Diskusi Petinggi Konoha!
121 Bab 121: Perang Dunia Shinobi Ketiga Meletus!
122 Bab 122: Iblis Bulan Bawah dan Target Ichibi!
123 Bab 123: Penggerebekan Kuil Diming dan Iblis Bulan Bawah Ketiga!
124 Bab 124: Kartu As yang Ditinggalkan Kazekage Kedua!
125 Bab 125: Enel vs Boneka Kazekage!
126 Bab 126: Ichibi Shukaku, Aku Ambil Ini!
127 Bab 127: Puppet Baru, Crocodile dan Zaraki Kenpachi!
128 Bab 128: Zaraki Kenpachi dan Reaktor Energi Abadi!
129 Bab 129: Tiga Desa Ninja Berunding Damai?!
130 Bab 130: Skenario yang Terdistorsi!
131 Bab 131: Kekacauan Tiga Desa Ninja Besar, Uchiha Madara!
132 Bab 132: Shichibukai, Sir Crocodile!
133 Bab 133: Akulah Uchiha Madara!
134 Bab 134: Uchiha Madara: Aku Telah Melihat Segala Strategimu!
135 Bab 135: Izanagi Uchiha Madara dan Kedatangan Tiga Kage!
136 Bab 136: Skenario yang Terdistorsi! Tiga Bayangan Hadir, Madara Menanti
137 Bab 137: Reaksi Para Kage dan Bentrokan Dua Faksi!
138 Bab 138: Reaksi Para Kage dan Tabrakan Dua Faksi Besar!
139 Bab 139: Tabrakan Dua Faksi Utama dan Pengepungan Tiga Kage!
140 Bab 140: Mode Chakra Gaya Petir!
141 Bab 141: Pelepasan Reiatsu, Raikage yang Tertindas!
142 Bab 142: Penguasa Seireitei? Reio (Raja Roh)!
143 Bab 143: Beban Informasi Terlalu Masif, Ketiga Kage Terguncang!
144 Bab 144: Seluruh Dunia Ninja Harus Bersatu!
145 Bab 145: Tubuh Asura?
146 Bab 146: Fisik Senju Hashirama? Aku Sama Sekali Tidak Puas!
147 Bab 147: Boneka Tingkat SS, Empat Kaisar Kaido!
148 Bab 148: Negeri Hujan, Organisasi Akatsuki!
149 Bab 149: Hanzo, Kau Salah Paham, Aku Tidak Tertarik Padamu!
150 Bab 150: Empat Kaisar, Kaido si Binatang Buas!
151 Bab 151: Kaido vs Hanzo!
152 Bab 152: Bunuh Hanzo
153 Bab 153: Kaido Berdiri di Bulan!
154 Bab 154: Target Utama, Tenseigan Raksasa!
155 Bab 155: Kebangkitan Otsutsuki Hamura!
156 Bab 156: Benturan Puncak! Kehancuran di Permukaan Bulan!
157 Bab 157: Daya Hancur Mengerikan dari Kebangkitan Buah Iblis!
158 Bab 158: Musuh Berasal Dari Dunia Shinobi!?
159 Bab 159: Penguatan Abadi, Tenseigan!
160 DraBab 160: Kekuatan Mengerikan dari Mata Tenseigan!
161 Bab 161: Fitur Baru Sistem! Toko Poin!
162 Bab 162: Domain Boneka, Gunung Natagumo!
163 Bab 163: Teman Namikaze Minato!
164 Bab 164: Rengoku Kyojuro! Sarang Iblis?
165 Bab 165: Penemuan, Gunung Natagumo!
166 Bab 166: Keputusan Sarutobi!
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
2
Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
3
Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi
4
Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
5
Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya
6
Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental
7
Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir
8
Bab 8: Pencuri Takdir dan Manipulator Absolut
9
Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api
10
Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
11
Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
12
Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang
13
Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang
14
Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
15
Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
16
Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park
17
Bab 17: Runtuhnya Kerajaan Hiu dan Deklarasi Erebus
18
Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda
19
Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga
20
Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut
21
Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
22
Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian
23
Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
24
Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa
25
Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit
26
Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit
27
Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang
28
Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana
29
Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
30
Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan
31
Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
32
Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba
33
Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak
34
Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
35
Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca
36
Bab 36: Hujan di Sarang Buaya dan Mundurnya Sang Raja Pasir
37
Bab 37: Langit Alubarna yang Berdarah dan Langkah Sang Dalang
38
Bab 38: Kaca di Atas Pasir dan Benturan Dua Penguasa
39
Bab 39: Tetesan Air dan Pergeseran Papan Catur
40
Bab 40: Tangan Iblis dan Runtuhnya Sejarah
41
Bab 41: Pukulan Mutlak dan Keruntuhan Makam Kerajaan
42
Bab 42: Tirai Terakhir Sang Buaya Pasir
43
Bab 43: Hujan Manipulasi dan Panggilan Sang Joker
44
Bab 44: Sinyal dari Dunia Bawah dan Tiket Emas Menuju Takdir
45
Bab 45: Raksasa di Balik Kabut dan Monster Berekspresi Kosong
46
Bab 46: Bayangan Kegelapan dan Roti Ceri yang Menetes
47
Bab 47: Retakan di Hutan Belantara dan Ekspansi Sang Dalang
48
Bab 48: Bayangan Strategis dan Tiket Perak di Bawah Langit Jaya
49
Bab 49: Benturan Dua Kekuatan Mutlak: Amaterasu vs. Aokiji
50
Bab 50: Komet Emas di Tengah Pusaran dan Sang Dewa Gravitasi
51
Bab 51: Gaung Kehampaan dan Tuan Baru di Atas Awan
52
Bab 52: Suara Lonceng Emas dan Bayangan di Balik Daun
53
Bab 53: Bentrokan Petir dan Kilau Cermin Suci
54
Bab 54: Melodi dari Masa Lalu dan Cetak Biru Dewa
55
Bab 55: Seniman Keabadian dan Guncangan di Keadilan Absolut
56
Bab 56: Bayangan Sang Singa Emas dan Panggung Kehancuran
57
Bab 57: Musim Dingin di Atas Langit dan Runtuhnya Era Keemasan
58
Bab 58: Ilusi Sempurna dan Tirai Kaca Realitas
59
Bab 59: Cermin Retak di Atas Awan
60
Bab 60: Gelombang di Bawah Cakrawala dan Bayangan Rambut Merah
61
Bab 61: Benturan di Atas Permukaan Laut dan Senyuman Sang Kaisar
62
Bab 62: Tarian Benang Merah di Bawah Langit Senja
63
Bab 63: Ruang Bedah Kematian dan Kedinginan Bintang Kutub
64
Bab 64: Metropolis Air dan Ujian Sang Revolusioner
65
Bab 65: Jarum di Bawah Air dan Bayangan Agen Pembunuh
66
Bab 66: Jejak Kacamata Bulat di Kota Air
67
Bab 67: Pisau Bedah Chakra dan Panggung yang Disiapkan
68
Bab 68: Bayangan Jatuh di Pulau Tanpa Malam dan Lahirnya Baja Kematian
69
Bab 69: Mendidihnya Lautan Keadilan dan Runtuhnya Langit Pengadilan
70
Bab 70: Tiga Kutub Keadilan dan Runtuhnya Gerbang Neraka
71
Bab 71: Kabut Segitiga Kematian dan Bangkitnya Sistem Tahap Dua
72
Bab 72: Bayangan Suci di Atas Kabut Hitam
73
Bab 73: Ilusi Sang Ksatria dan Tirai Dimensi yang Terkoyak
74
Bab 74: Takhta Bayangan yang Runtuh dan Bergemanya Nama Sang Musuh Dunia
75
Bab 75: Tolakan Absolut dan Terbukanya Gerbang Kamui
76
Bab 76: Labirin Ruang di Atas Lautan Beku dan Fondasi Pohon Dunia
77
Bab 77: Hujan Energi di Atas Kayu Lapuk dan Tawa Sang Penguasa Kegelapan
78
Bab 78: Kilau Emas di Balik Kabut dan Senyuman Sang Pembuat Ilusi
79
Bab 79: Pertemuan Dua Jenius dan Meriam Kiamat yang Terbangun
80
Bab 80: Kiamat Plasma dan Turunnya Raja Segala Pahlawan
81
Bab 81: Simfoni Emas di Kepulauan Mangrove
82
Bab 82: Kesombongan Raja dan Langit Sabaody yang Runtuh
83
Bab 83: Penjara Bawah Laut dan Terompet Pasukan Raja Penakluk
84
Bab 84: Benturan Kiamat Tiga Arah dan Bangkitnya Sang Penguasa Bayangan
85
Bab 85: Kiamat yang Menggema dan Matahari Siang yang Membakar Lautan Es
86
Bab 86: Neraka yang Terbagi dan Kebangkitan Sang Penguasa Mutlak
87
Bab 87: Hantu dari Era Lampau dan Lonceng Kematian di Tepi Senja
88
Bab 88: Siang Paling Terang dan Pencuri di Dalam Gelap
89
Bab 89: Senyum Sang Penakluk dan Lautan yang Membatu
90
Bab 90: Senyum Sang Matahari dan Detak Jantung Kiamat di Bawah Es
91
Bab 91: Sang Naga Kiamat dan Mahakarya Pasir Merah
92
Bab 92: Kehancuran Mental dan Sang Penguasa Kematian Absolut
93
Bab 93: Cahaya Surgawi di Palung Kelam dan Kebangkitan Sang Dewa Perang
94
Bab 94: Dua Meteor di Atas Badai Petir dan Ratapan Para Komandan Kaisar
95
Bab 95: Benteng Petir Abadi dan Kebangkitan Sang Senjata Kiamat
96
Bab 96: Tarian Para Dewa dan Kehancuran Aliansi Dua Kaisar
97
Bab 97: Takhta Kosmik dan Kiamat Dua Kaisar
98
Bab 98: Kebangkitan Sang Senjata Kiamat dan Mata Takdir yang Melihat Masa Depan
99
Bab 99: Pembangkangan Terhadap Hukum Waktu dan Dua Penguasa Ketiadaan
100
Bab 100: Fajar Terakhir di Ujung Lautan dan Kunci Takhta Kosmik
101
Bab 101: Benturan Konsep Kosmik dan Awal Mula Realitas Baru
102
Bab 102: Reboot Sistem dan Sistem Puppet Tingkat Dewa!
103
Bab 103: Puppet Kapten Byakuya Kuchiki! Awal Pesta Berdarah di Kotak Pasir Shino
104
Bab 104: Satu Orang Melawan Sepuluh Ribu Pasukan!
105
Bab 105: Berhamburan, Senbonzakura!
106
Bab 105: Reaksi Iwagakure dan Panen Poin Pertama!
107
Bab 107: Puppet Kelas S, Enel!
108
Bab 108: Menambal Cacat Boneka dan Target Baru, Desa Kusagakure!
109
Bab 109: Shichibukai, Enel!
110
Bab 110: Menghancurkan Ambisi dan Kehendak Sang Dewa Petir!
111
Bab 111: Satu Pukulan, Satu Desa Hancur!
112
Bab 112: Puppet Ketiga, Sang Iblis Bulan Atas Kokushibo!
113
Bab 113: Pencapaian Spesial, Asal Usul Iblis Sempurna!
114
Bab 114: Agatsuma Zenitsu dan Item SSS-Rank!
115
Bab 115: Kedatangan Namikaze Minato!
116
Bab 116: Petualangan Aneh Namikaze Minato!
117
Bab 117: Kokushibo vs Namikaze Minato!
118
Bab 118: Membuka Gerbang Dunia Baru!
119
Bab 119: Namikaze Minato: Di Mana Seireitei? Di Mana Grand Line?
120
Bab 120: Diskusi Petinggi Konoha!
121
Bab 121: Perang Dunia Shinobi Ketiga Meletus!
122
Bab 122: Iblis Bulan Bawah dan Target Ichibi!
123
Bab 123: Penggerebekan Kuil Diming dan Iblis Bulan Bawah Ketiga!
124
Bab 124: Kartu As yang Ditinggalkan Kazekage Kedua!
125
Bab 125: Enel vs Boneka Kazekage!
126
Bab 126: Ichibi Shukaku, Aku Ambil Ini!
127
Bab 127: Puppet Baru, Crocodile dan Zaraki Kenpachi!
128
Bab 128: Zaraki Kenpachi dan Reaktor Energi Abadi!
129
Bab 129: Tiga Desa Ninja Berunding Damai?!
130
Bab 130: Skenario yang Terdistorsi!
131
Bab 131: Kekacauan Tiga Desa Ninja Besar, Uchiha Madara!
132
Bab 132: Shichibukai, Sir Crocodile!
133
Bab 133: Akulah Uchiha Madara!
134
Bab 134: Uchiha Madara: Aku Telah Melihat Segala Strategimu!
135
Bab 135: Izanagi Uchiha Madara dan Kedatangan Tiga Kage!
136
Bab 136: Skenario yang Terdistorsi! Tiga Bayangan Hadir, Madara Menanti
137
Bab 137: Reaksi Para Kage dan Bentrokan Dua Faksi!
138
Bab 138: Reaksi Para Kage dan Tabrakan Dua Faksi Besar!
139
Bab 139: Tabrakan Dua Faksi Utama dan Pengepungan Tiga Kage!
140
Bab 140: Mode Chakra Gaya Petir!
141
Bab 141: Pelepasan Reiatsu, Raikage yang Tertindas!
142
Bab 142: Penguasa Seireitei? Reio (Raja Roh)!
143
Bab 143: Beban Informasi Terlalu Masif, Ketiga Kage Terguncang!
144
Bab 144: Seluruh Dunia Ninja Harus Bersatu!
145
Bab 145: Tubuh Asura?
146
Bab 146: Fisik Senju Hashirama? Aku Sama Sekali Tidak Puas!
147
Bab 147: Boneka Tingkat SS, Empat Kaisar Kaido!
148
Bab 148: Negeri Hujan, Organisasi Akatsuki!
149
Bab 149: Hanzo, Kau Salah Paham, Aku Tidak Tertarik Padamu!
150
Bab 150: Empat Kaisar, Kaido si Binatang Buas!
151
Bab 151: Kaido vs Hanzo!
152
Bab 152: Bunuh Hanzo
153
Bab 153: Kaido Berdiri di Bulan!
154
Bab 154: Target Utama, Tenseigan Raksasa!
155
Bab 155: Kebangkitan Otsutsuki Hamura!
156
Bab 156: Benturan Puncak! Kehancuran di Permukaan Bulan!
157
Bab 157: Daya Hancur Mengerikan dari Kebangkitan Buah Iblis!
158
Bab 158: Musuh Berasal Dari Dunia Shinobi!?
159
Bab 159: Penguatan Abadi, Tenseigan!
160
DraBab 160: Kekuatan Mengerikan dari Mata Tenseigan!
161
Bab 161: Fitur Baru Sistem! Toko Poin!
162
Bab 162: Domain Boneka, Gunung Natagumo!
163
Bab 163: Teman Namikaze Minato!
164
Bab 164: Rengoku Kyojuro! Sarang Iblis?
165
Bab 165: Penemuan, Gunung Natagumo!
166
Bab 166: Keputusan Sarutobi!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!